<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143</id><updated>2012-02-17T08:06:31.718+07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Budidaya'/><category term='Hama dan Penyakit Tanaman'/><category term='Ilmu Tanah'/><title type='text'>budidaya pertanian</title><subtitle type='html'>mari kita majukan pertanian Indonesia...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>26</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-7735843383507948801</id><published>2011-03-01T22:55:00.000+07:00</published><updated>2011-03-01T22:55:40.011+07:00</updated><title type='text'>SIFAT FISIK TANAH II</title><content type='html'>WARNA TANAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna adalah petunjuk untuk beberapa sifat tanah. Biasanya perbedaan warna permukaan tanah disebabkan oleh perbedaan kandungan bahan organik. Semakin gelap warna tanah semakin tinggi kandungan bahan organiknya. Warna tanah dilapisan bawah yang kandungan bahan organiknya rendah lebih banyak dipengaruhi oleh jumlah kandungan dan bentuk senyawa besi (Fe). Di daerah yang mempunyai sistem drainase (serapan air) buruk, warnah tanahnya abu-abu karena ion besi yang terdapat di dalam tanah berbentuk Fe2+.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-7735843383507948801?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/7735843383507948801/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=7735843383507948801' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/7735843383507948801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/7735843383507948801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2011/03/sifat-fisik-tanah-ii.html' title='SIFAT FISIK TANAH II'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-8859238427403155344</id><published>2011-03-01T22:53:00.000+07:00</published><updated>2011-03-01T22:53:17.003+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu Tanah'/><title type='text'>SIFAT FISIK TANAH I</title><content type='html'>PROFIL TANAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tanah digali sampai kedalaman tertentu, dari penampang vertikalnya dapat dilihat gradasi warna yang membentuk lapisan-lapisan (horison) atau biasa disebut profil tanah. Di tanah hutan yang sudah matang terdapat tiga horison penting yaitu horison A, B dan C&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horison A atau Top Soil adalah lapisan tanah paling atas yang paling sering dan paling mudah dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor biologis. Pada lapisan ini sebagian besar bahan organik terkumpul dan mengalami pembusukan. Horison B disebut juga dengan zona penumpukan (illuvation zone). Horison ini memiliki bahan organik yang lebih sedikit tetapi lebih banyak mengandung unsur yang tercuci daripada horizon A. Horison C adalah zona yang terdiri dari batuan terlapuk yang merupakan bagian dari batuan induk. Kegiatan pertanian umumnya berada pada horison A dan B karena mengandung banyak humus sehingga tergolong bagian tanah yang &lt;a href="http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2011/03/kesuburan-tanah_01.html"&gt;subur&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-8859238427403155344?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/8859238427403155344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=8859238427403155344' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/8859238427403155344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/8859238427403155344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2011/03/sifat-fisik-tanah-i.html' title='SIFAT FISIK TANAH I'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-4852112287707980381</id><published>2011-03-01T22:47:00.000+07:00</published><updated>2011-03-01T22:47:44.274+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ilmu Tanah'/><title type='text'>Kesuburan Tanah</title><content type='html'>Kesuburan tanah adalah mutu tanah untuk bercocok tanam, yang ditentukan oleh interaksisejumlah sifat fisika, kimia, dan biologi bagian tubuh tanah yang menjadi yang menjadi habitat akar-akar aktif tanaman. Ada dua pengertian kesuburan tanah yang harus dibedakan jelas. Yang satu adalah kesuburan tanah aktual, yaitu kesuburan tanah hakiki (asli, alamiah). Yang lain adalah kesuburan tanah potensialyaitu kesuburan tanah maksimum yang dapat dicapai dengan intervensi teknologi yang mengoptimupkan semua faktor. &lt;br /&gt;Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan : &lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&amp;nbsp;Faktor genetik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&amp;nbsp;Faktor lingkungan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bukan tanah : biotik, abiotik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tanah : solum, sifat tanah (fisika, kimia, biologi)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sifat tanah ditentukan oleh fraksi tanah dan bahan organik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-4852112287707980381?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/4852112287707980381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=4852112287707980381' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/4852112287707980381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/4852112287707980381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2011/03/kesuburan-tanah_01.html' title='Kesuburan Tanah'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-5453852561242809203</id><published>2010-04-20T12:57:00.000+07:00</published><updated>2010-04-20T13:00:37.881+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>PERTANIAN PEMBAWA KEJAYAAN NASIONAL</title><content type='html'>PERTANIAN PEMBAWA KEJAYAAN NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap orang tahu, Indonesia negara &lt;a href="http://dimasadityaperdana.blogspot.com/"&gt;agraris&lt;/a&gt;. Sejarah mencatat budaya agraria telah lama ada di Nusantara. Sampai saat ini sebagian besar penduduk Indonesia masih menggantungkan hidup pada bidang pertanian dan afiliasinya. Meskipun bukan sumber utama perekonomian negara, pendapatan dari sektor pertanian tidak dapat diabaikan begitu saja. Tak salah jika sebagian pihak mendudukkan pertanian sebagai salah satu komponen tulang punggung negara. Sayangnya, akhir-akhir ini minat siswa SMA untuk melanjutkan kuliah di fakultas pertanian semakin menurun. jangankan menjadikan pertanian sebagai pilihan pertama, sudah bukan rahasia lagi jika kebanyakan siswa SMA meletakkan fakultas pertanian hanya pada cadangan saja bahkan, banyak yang melirik pun tidak.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Hal seperti tersebut di atas bisa mengindikasikan bahwa pertanian telah menjadi bidang yang tidak menarik lagi. Ketidaktertarikan generasi muda terhadap bidang pertanian sebenarnya telah menjadi masalah global. Hanya banyak ahli negara maju mengatakan bahwa ketidaktertarikan tersebut seharusnya tidak perlu terjadi di negara agraris seperti Indonesia, mengingat negara industri yang kuat juga sangat memperhatikan pertanian. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian bersama mengingat pertanian masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Beberapa isu global mutakhir yaitu energi dan pangan rasanya menjadikan pertanian ke depan memiliki nilai strategis yang perlu menjadi pusat perhatian. Dalam konteks nasional, dengan pertimbangan letak geografis yang sangat strategis sebagai negara tropika, pertanian harus menjadi mesin lokomotif pembangunan nasional.&lt;br /&gt;Tentu saja fenomena seperti ini sangat disayangkan. Jika dikaji lebih cermat, setidaknya ada empat hal yang memengaruhi fenomena ini, yaitu pertama adalah masih banyaknya kesalahan paradigma dalam masyarakat yang menyatakan kuliah bergengsi itu di kedokteran atau hukum misalnya. Kedua, kurangnya sosialisasi mengenai fakultas pertanian dan prospeknya di dalam masyarakat sehingga wajar saja jika kesalahan paradigma masyarakat mengenai fakultas pertanian, terutama prospeknya, masih saja berkembang dengan minimnya upaya pembenaran. Ketiga, minimnya pemberitaan mengenai pertanian di media, baik cetak maupun elektronik. Keempat, keadaan di atas masih diperparah dengan minimnya kebijakan pemerintah dalam hal pertanian. Alih-alih mengembangkan pertanian, kebijakan yang dikeluarkan justru lebih sering merugikan petani. Di sini pemerintah mungkin bingung apakah akan menerapkan negara ini sebagai negara agraris, pariwisata atau industri mengingat bidang-bidang tersebut selain pertanian mempunyai peluang menguntungkan. Kebingungan ini tentu akan tertuju ke masyarakat dan para siswa SMA pada khususnya yang nantinya akan merasa bingung ketika akan memilih jurusan di jenjang perkuliahan.&lt;br /&gt;Keempat hal di atas memengaruhi minat siswa untuk berkuliah di &lt;a href="http://dimasadityaperdana.blogspot.com/"&gt;pertanian&lt;/a&gt;. Akan tetapi sebenarnya, benarkah demikian? Benarkah pertanian tidak prospektif? Coba kita lihat lagi. Bisa dibilang, pertanian merupakan bidang mata pencaharian yang paling umum ditemukan. Luasnya lapangan konsumen seharusnya cukup bisa menyadarkan bahwa tentu tenaga yang diperlukan tak sedikit. Sampai kapan pun pertanian akan dapat terus menerap tenaga kerja, apalagi jika dibandingkan pada tingginya laju pertambahan penduduk, yang dihadapkan pada kenyataan lambatnya pertambahan luasan areal pertanian, sudah tentu kebutuhan akan tenaga-tenaga ahli pertanian sangat diperlukan.&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kasus ini, sebenarnya mudah yaitu diperlukannya peran besar dari pemerintah dan universitas itu sendiri. Pemerintah harus memberikan suatu umpan agar siswa SMA nantinya berminat untuk masuk ke pertanian seperti pemberian beasiswa yang lebih banyak kepada mahasiswa pertanian. Minimnya peminat di Fakultas Pertanian dinilai karena ilmunya setelah tamat tidak terpakai sehingga lulusan fakultas pertanian tidak terserap oleh pasar kerja. Oleh karena itu pemerintah harus bertindak dengan membuat lapangan kerja yang luas di bidang pertanian. Sedangkan untuk universitas perlu adanya suatu pembaruan dalam bidang pembelajaran dan berpromosi agar para calon mahasiswa nantinya tertarik untuk bergabung ke pertanian. Pembelajaran atau kurikulum dalam perkuliahan dibuat tidak monoton di dalam kelas melainkan juga diadakannya praktikum-praktikum baik di lapangan maupun di laboratorium dengan rutin dan secara komprehensif agar nantinya setelah para mahasiswa lulus sudah mempunyai sedikit bekal untuk turun ke lapangan dan secara mandiri dapat merencanakan dan melaksanakan pembangunan pertanian yang sesuai dengan kepentingan petani, kondisi ekosistem, serta sistem sosial ekonomi dan budaya setempat. Selain itu pihak fakultas juga bisa mengadakan penelitian-penelitian yang hasilnya dapat diterapkan untuk kesejahteraan masyarakat sehingga hal ini akan bisa mengangkat nama pertanian di mata masyarakat.&lt;br /&gt;Dengan adanya kebijakan-kebijakan seperti inilah dapat diharapkan generasi muda bisa menjadi tertarik untuk kuliah di jurusan-jurusan &lt;a href="http://dimasadityaperdana.blogspot.com/"&gt;pertanian&lt;/a&gt;. Dengan ada banyak peluang-peluang yang terdapat di dalamnya generasi muda harus disadarkan bahwa pertanian akan dapat membawa kejayaan nasional asalkan ditekuni secara serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-5453852561242809203?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/' title='PERTANIAN PEMBAWA KEJAYAAN NASIONAL'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/5453852561242809203/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=5453852561242809203' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5453852561242809203'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5453852561242809203'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2010/04/pertanian-pembawa-kejayaan-nasional.html' title='PERTANIAN PEMBAWA KEJAYAAN NASIONAL'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-8292622799556001766</id><published>2010-04-15T01:04:00.004+07:00</published><updated>2010-04-15T01:10:40.335+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Hortikultura</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-family:times new roman;font-size:78%;"  &gt;&lt;h1&gt;Hortikultura, Potensi yang Masih Tak Berdaya&lt;/h1&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Produk hortikultura, terutama dari iklim tropis seperti Indonesia, seperti buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias, mempunyai pangsa pasar tersendiri. Produk hortikultura, baik yang segar maupun olahan, telah menjadi salah satu komoditas perdagangan internasional. Potensi tersebut tentu menjadi peluang ekspor produk hortikultura Indonesia, sekaligus memberikan sumbangan bagi Produk Domestik Bruto (PDB).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun di pasar Indonesia terlihat membanjirnya buah-buah impor, pemerintah masih melihat hal tersebut tidak perlu dikhawatirkan. Demikian juga tanaman hias dan sayur-sayuran memiliki potensi ekspor yang besar, baik di Asia-Pasifik maupun negara-negara Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE). Kendati demikian, tidak berarti potensi ekspor hortikultura tersebut tidak mempunyai hambatan di pasar internasional. Salah satu kesulitan terbesar adalah mutu produk yang sulit dipenuhi oleh produsen asal Indonesia. Peningkatan mutu tanaman hias dan sayur-sayuran merupakan faktor penting dalam bersaing dengan negara-negara lain. Hal ini penting mengingat berbagai standar mutu internasional menyulitkan produksi petani lokal dari negara berkembang untuk menembus pasar negara-negara maju. Dengan kata lain, ada kondisi yang "tidak adil" dari negara-negara maju yang bersembunyi dibalik payung World Trade Organization (WTO, Organisasi Perdagangan Dunia).&lt;br /&gt;Untuk Jepang pun buah-buahan segar, seperti jeruk, pisang, manggis, rambutan, nenas dan mangga dari Indonesia, masih sulit bersaing karena standar yang tidak sesuai dengan keinginan pasar. Konsumen di Jepang pada umumnya lebih menginginkan buah-buahan yang memiliki standar ukuran relatif sama besar, warna, rasa dan penampilan yang cukup menarik, serta pasokannya bisa dijamin secara berkelanjutan. Persaingan produk pun berasal dari Thailand, Vietnam dan Cina. Harus diakui bahwa serangan hama penyakit tanaman pada produk hortikultura masih cukup tinggi. Rata-rata dalam setahun serangan hama terhadap tanaman hortikultura di seluruh Indonesia saat ini mencapai 35 hingga 80 persen. Kondisi ini menyebabkan petani lokal cenderung memanfaatkan pestisida hingga melebihi batas ambang toleransi. Masih banyaknya kandungan residu pestisida yang berpotensi menjadi racun seharusnya diantisipasi dengan pemanfaatan teknologi yang sesuai. Kerugian ekonomis akibat serangan hama tersebut juga sangat tinggi.  Upaya fumigasi (penghilangan jamur - Red) yang dilakukan terhadap semua produk ekspor hortikultura tampaknya belum optimal dan masih ada penolakan dari beberapa negara importir terhadap sejumlah produk Indonesia.&lt;br /&gt;Beberapa waktu lalu, Taiwan sangat ketat memberikan persyaratan atas produk asal Indonesia. Tidak hanya mutu, penanganan produk pascapanen hortikultura pun masih menghadapi beberapa kendala sehingga menghambat ekspor buah ke pasar dunia. Padahal, permintaan dan harga akan terus meningkat seiring dengan perbaikan pada pascapanen. Transportasi, pengawetan dan menjaga kualitas produk hortikultura segar merupakan hambatan terbesar bagi Indonesia. Bahkan, kini sejumlah negara Uni Eropa mulai April 2003 akan menerapkan sistem konsinyasi selama sebulan untuk mengantisipasi produk buah-buahan segar tidak laku. Selama kurun waktu tersebut transaksi bisa saja dibatalkan dan risiko kerugian yang akan diderita eksportir dan produsen Indonesia akan semakin tinggi.&lt;br /&gt;Mutu dan penanganan pascapanen merupakan kendala tersendiri. Akan tetapi, pembenahan terhadap subsektor ini perlu strategi jangka panjang dari manajemen produksi, benih, permodalan, terbentuknya kelembagaan produsen yang kuat, restrukturisasi atas skala usaha yang kecil dan tersebar serta mempertahankan pasokan yang sesuai dengan permintaan pasar.&lt;br /&gt;Kendala di atas perlu dibenahi sehingga perhatian tidak saja terfokus pada penanganan pascapanen dan pemasaran. Pembenahan tersebut akan berdampak pada produsen lokal sehingga tidak saja pedagang, termasuk eksportir, yang mengambil keuntungan. Sebagaimana usaha agribisnis lainnya, tata niaga hortikultura juga memiliki mata rantai panjang sehingga perdagangan selalu dikuasai tengkulak, pedagang pengumpul, dan pemodal. Ini perlu diatasi untuk membaca potensi pasar domestik antardaerah (antarpulau) yang masih terjadi ketimpangan. Setidaknya, potensi pasar internasional yang masih menyimpan banyak kendala, pasar domestik pun bisa menjadi peluang tersendiri.  Pasar internasional dan domestik masih terbuka luas bagi produk hortikultura Indonesia. Akan tetapi dapatkah peningkatan produksi buah-buahan berdasarkan angka sementara Departemen Pertanian yang meningkat dari 9,4 juta ton pada 2001 menjadi 10,4 juta ton pada 2002 juga menunjukkan peningkatan pendapatan petani Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-8292622799556001766?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/search/label/Artikel' title='Hortikultura'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/8292622799556001766/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=8292622799556001766' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/8292622799556001766'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/8292622799556001766'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2010/04/hortikultura-potensi-yang-masih-tak.html' title='Hortikultura'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-1463173954664102250</id><published>2010-04-12T22:12:00.000+07:00</published><updated>2010-04-12T22:34:02.850+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>KLASIFIKASI GULMA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;KLASIFIKASI GULMA&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini merupakan beberapa nama-nama gulma (tumbuhan penggangu) pada &lt;a href="http://dimasadityaperdana.blogspot.com/search/label/Budidaya"&gt;budidaya&lt;/a&gt; tanaman pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.Klasifikasi berdasarkan siklus hidup&lt;br /&gt;   i. Annual Weeds (Gulma semusim)&lt;br /&gt;     - Kipait  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eupathorium adoratum&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Meniran  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Philantus minaru&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Lulangan  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paspalum cerobikulatur&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Bayam duri  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amarantus spinosus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Kremah  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Althermantera sensius&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  ii. Biennial Weeds (Gulma dwi musim)&lt;br /&gt;     - Verbaskum  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Verbascum thapsus&lt;/span&gt;  L.)&lt;br /&gt;     - Teki   (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus rotundrus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Daun sendok (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Plantago mayor&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Putri malu  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mimosa pudica&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Sunduk welut  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus difformis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; iii. Parennial Weeds (Gulma tahunan)&lt;br /&gt;     - Alang-alang  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imperata cylindric&lt;/span&gt;a)&lt;br /&gt;     - Teki   (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus rotundrus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Kawatan  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cynodon dactilon&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Putri malu  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mimosa pudica&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Wedusan  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agerathum conyzoides&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.Klasifikasi berdasarkan morfologi&lt;br /&gt;    i.Grasses (Rerumputan)&lt;br /&gt;     - Kumpai babulu  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Paspalidium punctatum&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Jajagoan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Echinochloa crus-galli&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Suket timunan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leptochloa chinensis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Alang-alang  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imperata cylindrica&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Banta  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lersia hexandra&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   ii.Sedges (Tekian)&lt;br /&gt;     - Teki  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus rotundus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Teki rawa (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus distan&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Papayungan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus halpan&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Sunduk welut (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus difformis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Rumput kenop (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus kyllingia&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  iii.Broadleaf (Daun lebar)&lt;br /&gt;     - Jukut carang (Polygonum barbatum)&lt;br /&gt;     - Kayambang (Salvinia cuculata)&lt;br /&gt;     - Wedusan  (Agerathum conyzoides)&lt;br /&gt;     - Kiapu  (Pistia stratiotes)&lt;br /&gt;     - Gagabusan (Hydrolea zeylaniea)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.Klasifikasi berdasarkan habitat&lt;br /&gt;    i.Terrestrial Weeds (Gulma darat)&lt;br /&gt;     - Ceplukan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Physaalis angulata&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Suket timunan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leptochloa chinensis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Bayam duri  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Amarantus spinosus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Meniran  (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Philantus minaru&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Teki   (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cyperus rotundrus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   ii.Aquatic Weeds (Gulma air)&lt;br /&gt;     - Eceng gondok (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Eichornia crassipes&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Bobontengan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leptochloa chinensis&lt;/span&gt;  L.)&lt;br /&gt;     - Kiambang (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salvinia molesta&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     - Kalamenta (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Leersia hexandra&lt;/span&gt;  Sw.)&lt;br /&gt;     - Wewehan        (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Monochoria vaginalis&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  iii.Aerial Weeds (Gulma menumpang pada tanaman)&lt;br /&gt;     - Tali putri (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cuscata&lt;/span&gt; sp.)&lt;br /&gt;     -   (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Loranthus petrondus&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     -   (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Drymoglossum heterophyllum&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;     -     (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cuscuta campestris&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-1463173954664102250?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/' title='KLASIFIKASI GULMA'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/1463173954664102250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=1463173954664102250' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/1463173954664102250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/1463173954664102250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2010/04/klasifikasi-gulma.html' title='KLASIFIKASI GULMA'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-232117891985848188</id><published>2010-04-09T01:33:00.003+07:00</published><updated>2010-04-09T01:35:57.957+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hama dan Penyakit Tanaman'/><title type='text'>PENGGOLONGAN PESTISIDA</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;PENGGOLONGAN PESTISIDA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pestisida yang dijual di pasaran sangat banyak macamnya. Persoalannya adalah bagaimana cara memilih pestisida yang ada di pasaran tersebut. Untuk memilih pestisida yang benar agar sesuai dengan yang diperlukan, perlu dipahami hal-hal yang berkaitan dengan sifat pestisida, jasad sasaran serta cara aplikasinya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Penamaan Pestisida&lt;br /&gt;Nama suatu pestisida dapat digunakan untuk mengetahui sifat yang mencirikannya. Setiap pestisida yang diperdagangkan terdiri dari tiga bagian utama, yaitu bahan aktif, bahan-bahan pembantu dan bahan pembawa. Bahan aktif adalah senyawa kimia yang mempunyai efek pestisida, yakni efek meracuni atau efek biologi lainnya. Misalnya sebagai penarik, pengusir dsb. Bahan pembantu merupakan senyawa-senyawa yang ditambahkan untuk menjadikan suspensi menjadi stabil, sehingga penggunaan bahan aktif pestisida menjadi lebih efektif ( contoh: agen dispersi , emulsifier ). Bahan pembawa merupakan senyawa pembawa bahan aktif ( contoh : pelarut organik, lempung mineral ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara penamaan pestisida dapat didasarkan dalam beberapa hal, yaitu : Nama umum bahan aktif, Nama perdagangan dalam bentuk formulasi, Nama struktur kimia dan Struktur rumus molekul bahan aktif&lt;br /&gt;Sebagai contoh pemberian nama terhadap Furadan. Nama umum bahan aktif CARBOFURAN. Nama perdagangan biasanya diberikan oleh  pabrik atau oleh formulator dalam hal ini ada yang memberi nama Furadan 3 G, Curater 3 G, Petrofur 3G, Dharmafur 3 G. Nama struktur kimianya adalah 2,3-dihidro-2,2- dimethyl-7-benzofuranyl methylcarbamate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengetahui kandungan bahan aktif suatu pestisida, maka kita tidak perlu terikat pada satu nama dagang, tetapi kita dapat memilih pestisida dari berbagai nama dagang yang ada. Demikian pula kalau dikehendaki untuk mencampur pestisida maka perlu dihindari pencampuran pestisida dari bahan aktif yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Berdasarkan Cara Penggunaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bidang pertanian , pestisida dapat digunakan dengan berbagai cara, diantaranya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.  Penyemprotan (Spraying )&lt;br /&gt;Penyemprotan adalah cara penggunaan pestisida yang paling banyak dipakai oleh petani. Diperkirakan 75 % penggunaak pestisida dilakukan dengan cara penyemprotan. Dalam penyemprotan larutan pestisida ( pestisida diatambah air ) dipecah oleh nozzel ( spuyer ) atau atomizer menjadi butiran semprot atau droplet. Bentuk sediaan ( formulasi ) yang digunakan  dengan cara penyemprotan meliputi E.C; W.P; WS atau SP. Sedangkan penyemprotan dengan volume ultra rendah  ( Ultra low volume ) digunakan formulasi ULV. Dengan menggunakan alat khusus yang disebut mikroner.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b.  Pengasapan atau Fogging.&lt;br /&gt;Pengasapan adalah penyemprotan pestisida dengan volume rendah dengan ukuran droplet yang halus. Perbedaannya dengan penyemprotan biasa adalah yang dibuat pencampur pestisida adalah minyak  solar dan bukan air. Campuran  tersebut kemudian dipanaskan sehingga menjadi semacam kabut  asap yang kemudian dihembuskan. Fogging banyak digunakan untuk mengendqlikan hama gudang, hama tanaman perkebunan serta vektor penyakit dilingkungan misalnya untuk mengendalikan nyamuk malaria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c.  Penghembusan (Dusting )&lt;br /&gt;Penghembusan merupakan cara penggunaan pestisida yang diformulasikan dalam bentuk tepung hembus ( D, dust) dengan menggunakan alat penghembus ( duster ). Jadi penggunaannya dalam bentuk kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d.  Penaburan ( broadcasting ) pestisida butiran ( Granuler )&lt;br /&gt;Penaburan pestisida butiran adalah cara penggunaan pestisida yang diformulasikan dalam bentuk butiran dengan cara ditaburkan. Penaburan dapat dilakukan dengan tanganlangsung atau dengan menggunakan alat penabur ( granule broadcaster ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Perawatan benih ( Seed dressing , Seed treatment, Seed coating )&lt;br /&gt;Perawatan benih adalah cara penggunaan pestisida  untuk melindung benih sebelum benih ditanam agar kecambah dan tanaman muda tidak diserang oleh hama atau penyakit.  Pestisida yang digunakan adalah formulasi SD atau ST.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;f.  Pencelupan (Dipping ).&lt;br /&gt;Pencelupan adalah penggunaan pestisida untuk melindung tanaman (bibit, cangkok, stek )agar terhindar dari serangan hama maupun penyakit. Pencelupan dilakukan dengan mencelupkan bibit atau stek ke dalam larutan pestisida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;g.  Fumigasi ( Fumigation )&lt;br /&gt;Fumigasi adalah aplikasi pestisida fumigan baik yang berbentuk padat, cair maupun gas dalam ruangan terttutup. Fumigasi umumnya digunakan untuk melindungi hasil panen dari kerusakan karena serangan hama atau penyakit ditempat penyimpanan. Fumigan dimasukkab ke dalam ruangan gudang yang selanjutnya akan berubah kedalam bentuk gas ( fumigan cair maupun padat ) yang beracun untuk membunuh OPT sasaran yang ada dalam ruangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;h.  Injeksi&lt;br /&gt;Injeksi adalah penggunaan pestisida dengan cara memasukkan  kedalam batang tanaman, baik dengan alat khusus  ( injeksi ataupun infus ) maupun dengan jalan mengebor tanaman. Pestisida yng diinjeksikan akan tersebar keseluruh tanaman bersamaan dengan aliran makanan dalam jaringan tanaman. Injeksi dapat juga digunakan untuk sterilisasi tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;i.  Penyiraman ( drenching, Pouring On ).&lt;br /&gt;Penyiraman adalah penggunaan pestisida dengan cara dituangkan disekitar akar tanaman untuk mengendalikan hama atau penyakit di daerah perakaran atau dituangkan pada sarang semut atau sarang rayap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Menurut OPT Sasarannya&lt;br /&gt;Pengetahuan tentang pengelompokan pestisida berdasarkan jasad sasaran sangat penting bagi petani ( pengguna ) sebagai pengetahuan dasar untuk memilih pestisida yang tepat. Tidak ada gunanya kita menggunakan insektisida untuk mengendalikan penyakit tanaman atau sebaliknya menggunakan fungisida untuk untuk mengendalikan hama tanaman. Hanya mungkin ada pestisida yang beefek ganda artinya bisa  digunakan untuk mengendalikan lebih darui satu jenis OPT, misalnya Karbofuran dan triazofos  yang lebih dikenal sebagai insektisida tetapi juga dapat digunakan sebagai nematisida.&lt;br /&gt;Penggolongan pestisida menurut OPT atau kelompok OPT sasarannya diberikan dalam Tabel 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabel 1 : Pengelompokan pestisida berdasarkanjenis OPT sasaran&lt;br /&gt;Pestisida Jasad sasaran contoh&lt;br /&gt;Insektisida insekta Sevin, Diazinon, Decis, Dipel&lt;br /&gt;Fungisida jamur (fungi) Dithane, Benlate, Antracol&lt;br /&gt;Herbisida gulma (herba) Gramoxon, Dalapon, Roundup&lt;br /&gt;Rodentisida tikus (rodent) Warfarin, Diphacin, Klerat&lt;br /&gt;Akarisida akarina Kelthane, Trition&lt;br /&gt;Nematisida nematoda Nemagon, Nemacur&lt;br /&gt;Molluskisida siput Morestan, Brestan 60&lt;br /&gt;Bakterisida bakteri Bacticine, Agrimycine&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggunaan pestisida pertanian umumnya didominasi oleh insektisida, fungsida dan herbisida. Oleh karena itu pembahasan dalam kuliah ini akan dititik beratkan pada ketiga kelompok pestisida tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.  Menurut Formulasi&lt;br /&gt;Bahan aktif pestisida tidak dijual begitu saja untuk penggunaan oleh petani. Kecuali harganya sangat mahal juga sangat berbahaya karena sangat beracub serta sulit digunakan di lapangan. Karena itu dalam perdagangan , bahan aktif perlu diformulasikan terlebih dahulu dengan dicampur bahan bahan pembantu atau bahan tambahan misalnya suatu solvent, emulsifier, diluent, carrier ataupun synergist.&lt;br /&gt;Formulasi pestisida sangat erat kaitannya dengan  cara penggunaannya. Formulasi Dust misalnya sepintas sangat mirip dengan WP tetapi cara penggunaannya sangat berbeda. Pada formulasi dust cara penggunaannya dengan dihembuskan , sedangkan cara penggunaan untuk formulasi WP adalh dengan disemprotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-232117891985848188?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/232117891985848188/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=232117891985848188' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/232117891985848188'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/232117891985848188'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2010/04/penggolongan-pestisida.html' title='PENGGOLONGAN PESTISIDA'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-6079505176669257005</id><published>2010-04-09T01:31:00.002+07:00</published><updated>2010-04-09T01:36:48.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hama dan Penyakit Tanaman'/><title type='text'>PENGENDALIAN HAYATI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;PENGENDALIAN HAYATI&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian hayati sebagai komponen utama PHT pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk mengendalikan populasi hama yang merugikan. Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami yang terdiri atas parasitoid, predator dan patogen merupakan pengendali alami utama hama yang bekerja secara "terkait kepadatan populasi" sehingga tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan perkembangbiakan hama. &lt;span class="fullpost"&gt;Adanya populasi hama yang meningkat sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi bagi petani disebabkan karena keadaan lingkungan yang kurang memberi kesempatan bagi musuh alami untuk menjalankan fungsi alaminya. Apabila musuh alami kita berikan kesempatan berfungsi antara lain dengan introduksi musuh alami, memperbanyak dan melepaskannya, serta mengurangi berbagai dampak negatif terhadap musuh alami, musuh alami dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar tidak timbul kerancuan lebih dahulu perlu dibedakan pengertian tentang pengendalian hayati (biological control) dan pengendalian alami (natural control) yang seringkali dibicarakan bersama. Pengendalian Hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau mengendalikan populasi hama. De Bach tahun 1979 mendefinisikan Pengendalian Hayati sebagai pengaturan populasi organisme dengan musuh-musuh alami sehingga kepadatan populasi organisme tersebut berada di bawah rata-ratanya dibandingkan bila tanpa pengendalian. Pengendalian Alami merupakan proses pengendalian yang berjalan sendiri tanpa ada kesengajaan yang dilakukan oleh manusia. Pengendalian alami terjadi tidak hanya oleh karena bekerjanya musuh alami, tetapi juga oleh komponen ekosistem lainnya seperti makanan, dan cuaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AGENS PENGENDALIAN HAYATI&lt;br /&gt;Sebagai bagian kompleks komunitas dalam ekosistem setiap spesies serangga termasuk serangga hama dapat diserang oleh atau menyerang organisme lain. Bagi serangga yang diserang organisme penyerang disebut "musuh alami". Secara ekologi istilah tersebut kurang tepat karena adanya musuh alami tidak tentu merugikan kehidupan serangga terserang. Hampir semua kelompok organisme dapat berfungsi sebagai musuh alami serangga hama termasuk kelompok vertebrata, nematoda, jasad renik, invertebrata di luar serangga. Kelompok musuh alami yang paling penting adalah dari golongan serangga sendiri. Dilihat dari fungsinya musuh alami atau agens pengendalian hayati dapat kita kelompokkan menjadi parasitoid, predator, dan patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Parasitoid&lt;br /&gt;Perlu sedikit penjelasan antara istilah parasitoid dan parasit. Parasitisme adalah hubungan antara dua spesies yang satu yaitu parasit, memperoleh keperluan zat-zat makanannya dari fisik tubuh yang lain, yaitu inang. Parasit hidup pada atau di dalam tubuh inang. Inang tidak menerima faedah apapun dari hubungan ini, meskipun biasanya tidak dibinasakan.  Misalnya kasus cacing pita pada manusia dan caplak pada binatang. Istilah parasit lebih sering digunakan dalam entomologi kesehatan. Serangga yang bersifat parasit yang pada akhirnya menyebabkan kematian inangnya tidak tepat bila dimasukkan ke dalam definisi parasit. Karena itu kemudian diberikan istilah baru yaitu parasitoid yang lebih banyak digunakan dalam entomologi pertanian.&lt;br /&gt;Parasitoid adalah binatang yang hidup di atas atau di dalam tubuh binatang lain yang lebih besar yang merupakan inangnya. Serangan parasit dapat melemahkan inang dan akhirnya dapat membunuh inangnya karena parasitoid makan atau mengisap cairan tubuh inangnya. Untuk dapat mencapai fase dewasa suatu parasitoid hanya memerlukan satu inang. Dengan demikian parasitoid adalah serangga yang hidup dan makan pada atau dalam serangga hidup lainnya sebagai inang. Inang akan mati jika perkembangan hidup parasitoid telah lengkap.&lt;br /&gt;Parasitoid merupakan serangga yang memarasit serangga atau binatang artropoda yang lain. Parasitoid bersifat parasitik pada fase pradewasanya sedangkan pada fase dewasa mereka hidup bebas tidak terikat pada inangnya. Umumnya parasitoid akhirnya dapat membunuh inangnya meskipun ada inang yang mampu melengkapi siklus hidupnya sebelum mati. Parasitoid dapat menyerang setiap instar serangga. Instar dewasa merupakan instar serangga yang paling jarang terparasit.&lt;br /&gt;Oleh induk parasitoid telur dapat diletakkan pada permukaan kulit inang atau dengan tusukan ovipositornya telur langsung dimasukkan dalam tubuh inang. Larva yang keluar dari telur menghisap cairan inangnya dan menyelesaikan perkembangannya dapat berada di luar tubuh inang (sebagai ektoparasitoid) atau sebagian besar dalam tubuh inang (sebagai endoparasitoid). Contoh ektoparasit adalah Campsomeris sp yang menyerang uret sedangkan Trichogramma sp yang memarasit telur penggerek batang tebu dan padi merupakan jenis endoparasit. Fase inang yang diserang pada umumnya adalah telur dan larva, beberapa parasitoid menyerang pupa dan sangat jarang yang menyerang imago. Larva parasitoid yang sudah siap menjadi pupa keluar dari tubuh larva inang yang sudah mati kemudian memintal kokon untuk memasuki fase pupa parasitoid. Imago parasitoid muncul dari kokon pada waktu yang tepat untuk kemudian meletakkan telur pada tubuh inang bagi perkembangan generasi berikutnya.&lt;br /&gt;Ada spesies parasitoid yang dapat melengkapi siklus hidupnya sampai fase dewasa pada satu inang. Parasitoid semacam ini disebut parasitoid soliter merupakan suatu spesies parasitoid yang perkembangan hidupnya terjadi pada satu tubuh inang. Satu inang diparasit oleh satu individu parasitoid. Contoh parasitoid soliter antara lain Charops sp (famili Ichneumonidae). Parasitoid gregarius adalah jenis parasitoid yang beberapa individu dapat hidup bersama-sama dalam tubuh satu inang. Contoh parasitoid gregarious adalah Tetrastichus schoenobii. Jumlah imago yang keluar dari satu tubuh inang dapat banyak sekali. Banyak jenis lebah Ichneumonid merupakan parasitoid soliter, dan banyak lebah Braconid dan Chalcidoid yang merupakan parasitoid gregarius.&lt;br /&gt;Keuntungan atau kekuatan pengendalian hama dengan parasitoid adalah:    &lt;br /&gt;a. Daya kelangsungan hidup  ("survival") parasitoid  tinggi.&lt;br /&gt;b. Parasitoid hanya memerlukan satu atau sedikit individu inang untuk melengkapi daur  hidupnya.&lt;br /&gt;c. Populasi parasitoid dapat tetap bertahan meskipun pada aras populasi  yang rendah.&lt;br /&gt;d. Sebagian besar parasitoid bersifat monofag atau oligofag sehingga memiliki kisaran inang sempit. Sifat ini mengakibatkan populasi parasitoid memiliki respons numerik yang baik terhadap perubahan populasi inangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kekuatan pengendalian dengan parasitoid beberapa kelemahan atau masalah yang biasanya dihadapi di lapangan dalam menggunakan parasitoid sebagai agens pengendalian hayati adalah:&lt;br /&gt;a. Daya cari parasitoid terhadap inang seringkali dipengaruhi oleh keadaan cuaca atau faktor lingkungan lainnya yang sering berubah.&lt;br /&gt;b. Serangga betina yang berperan utama karena mereka yang melakukan pencarian inang untuk peletakan telur.&lt;br /&gt;c. Parasitoid yang memiliki daya cari tinggi biasanya menghasilkan telur sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Predator&lt;br /&gt;Predator merupakan organisme yang hidup bebas dengan memakan, membunuh atau memangsa binatang lainnya. Apabila parasitoid memarasit inang, predator atau pemangsa memakan mangsa. Predator umumnya dibedakan dari parasitoid dengan ciri-ciri sebagai berikut :&lt;br /&gt;a. Parasitoid umumnya monofag atau oligofag,  predator pada umumnya mempunyai banyak inang atau bersifat polifag meskipun ada juga jenis predator yang monofag dan oligofag.&lt;br /&gt;b. Predator umumnya memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dibandingkan mangsanya. Namun ada beberapa predator yang memiliki ukuran tubuh yang tidak lebih besar daripada mangsanya, contohnya semut yang mampu membawa mangsa secar berkelompok.&lt;br /&gt;c. Predator memangsa dan membunuh mangsa secara langsung sehingga harus memiliki daya cari yang tinggi, memiliki kelebihan sifat fisik yang memungkinkan predator mampu membunuh mangsanya Beberapa predator dilengkapi dengan kemampuan bergerak cepat, taktik penangkapan mangsa yang lebih baik daripada taktik pertahanan mangsa, kekuatan yang lebih besar, memiliki daya jelajah yang jauh serta dilengkapi dengan organ tubuh yang berkembang dengan baik untuk menangkap mangsanya seperti kaki depan belalang sembah (Mantidae), mata besar (capung).&lt;br /&gt;d. Untuk memenuhi perkembangannya parasitoid memerlukan hanya satu inang umumnya fase pradewasa, tetapi predator memerlukan banyak mangsa baik fase pradewasa maupun fase dewasa.&lt;br /&gt;e. Parasitoid yang mencari inang adalah hanya serangga dewasa betina, tetapi predator betina dan jantan dan juga fase pradewasa semuanya dapat mencari dan memperoleh mangsa.&lt;br /&gt;f. Sebagian besar predator mempunyai banyak pilihan inang sedangkan parasitoid mempunyai sifat tergantung kepadatan yang tinggi. Predator memiliki daya tanggap rendah terhadap perubahan populasi mangsa sehingga fungsinya sebagai pengatur populasi hama umumnya kurang terutama untuk predator yang polifag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Patogen&lt;br /&gt;Serangga seperti juga binatang lainnya dalam hidupnya diserang oleh banyak patogen atau penyakit yang berupa virus, bakteri, protozoa, jamur, rikettsia dan nematoda. Beberapa penyakit dalam kondisi lingkungan tertentu dapat menjadi faktor mortalitas utama bagi populasi serangga, tetapi ada banyak penyakit yang pengaruhnya kecil terhadap gejolak populasi serangga. Serangga yang terkena penyakit menjadi terhambat pertumbuhan dan pembiakannya. Pada keadaan serangan penyakit yang parah serangga terserang akhirnya mati. Saat ini dikenal lebih dari 2000 jenis patogen yang menginfeksi serangga dan jumlah itu mungkin baru sebagian kecil dari jenis patogen serangga di muka bumi. Jenis-jenis patogen tersebut antara lain adalah virus, jamur, bakteri, protozoa, dan nematoda.&lt;br /&gt;CARA PENGGUNAAN PATOGEN SERANGGA DI LAPANGAN&lt;br /&gt;Mengingat kekuatan dan kelemahan yang dimiliki oleh patogen serangga maka dalam pemanfaatan patogen sebagai agens pengendalian hayati perlu diperhatikan beberapa faktor penting yang mempengaruhi tingkat keefektifan patogen terhadap serangga sasaran, antara lain:&lt;br /&gt;• Dosis.&lt;br /&gt;Dosis aplikasi minimum akan lebih baik daripada dosis aplikasi tinggi dalam peningkatan keefektifan patogen. Dosis tinggi menyebabkan persaingan pakan dan ruang antar patogen sejenis dan menghambat perkembangbiakan sehingga mampu menurunkan daya bunuh terhadap serangga sasaran.&lt;br /&gt;• Waktu aplikasi&lt;br /&gt;Kemapanan patogen yang merupakan makhluk hidup di lapangan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Dalam aplikasinya diharapkan patogen tidak terkena cahaya matahari secara langsung karena sinar ultraviolet menyebabkan patogen tidak aktif bahkan dapat membunuh patogen dalam waktu yang relatif cepat. Agens hayati sebaiknya diaplikasikan pagi atau sore hari. Kelembaban tinggi lebih meningkatkan keefektifan patogen.&lt;br /&gt;• Penyelimutan&lt;br /&gt;Patogen harus benar-benar melekat atau menempel atau menyelimuti bagian tanaman maupun serangga sasaran. Dengan demikian kontak antara patogen dengan serangga sasaran cepat terjadi. Serangga sasaran yang  mengkonsumsi patogen dengan cepat diharapkan mengalami kematian secara cepat juga.&lt;br /&gt;• Derajat kemasaman, pH&lt;br /&gt;Kondisi pH pada bahan pelarut sangat mempengaruhi keefektifan patogen. Pelarut dianjurkan memiliki derajat kemasaman yang normal (pH 7). Kondisi  basa menyebabkan delta endotoksin pada Bt  akan rusak dan efektifitasnya menurun.&lt;br /&gt;• Anti mikrobiosis&lt;br /&gt;Beberapa tanaman mampu menghasilkan senyawa-senyawa anti mikrobia yang dapat mengurangi keefektifan patogen. Senyawa nikotin yang dihasilkan oleh tanaman tembakau dapat menghambat pertumbuhan B. thuringiensis. Patogen tersebut juga terhambat pertumbuhannya karena adanya senyawa phenol dan terpenoid pada tanaman kapas. Senyawa alkaloid, tomatin dari tanaman tomat menghambat pembentukan koloni dan pertumbuhan jamur patogen B. bassiana. Asam klorogenik pada tanaman tomat dapat mengurangi efektifitas NPV dari Helicoverpa zea.&lt;br /&gt;• Hama sasaran&lt;br /&gt;Semakin muda umur serangga akan semakin rentan terhadap patogen. Hama sasaran dalam keadaan tertekan seperti sakit, kekurangan pakan, ketidakcocokan pakan, kepadatan yang terlalu tinggi menyebabkan tingkat kerentanannya semakin tinggi. Oleh karena itu sebelum aplikasi patogen di lapangan harus diketahui kondisi hama sasaran.&lt;br /&gt;• Kompatibilitas&lt;br /&gt;Patogen sebagai agens pengendalian hayati memiliki kemampuan dapat dipadukan dengan agens pengendalian yang lain sehingga daya bunuhnya lebih efektif dan hasilnya akan lebih memuaskan.&lt;br /&gt;• Ketahanan inang&lt;br /&gt;Spesies serangga tertentu yang rentan terhadap patogen dapat menjadi tahan dengan bertambahnya umur dan dipengaruhi oleh faktor genetik maupun lingkungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERANAN PENGENDALIAN HAYATI DALAM PHT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai dengan konsepsi dasar PHT pengendalian hayati memegang peranan yang menentukan karena semua usaha teknik pengendalian yang lain secara bersama ditujukan untuk mempertahankan dan memperkuat berfungsinya  musuh alami sehingga populasi hama tetap berada di bawah aras ekonomik. Dibandingkan dengan teknik-teknik pengendalian yang lain terutama pestisida kimia, pengendalian hayati memiliki tiga keuntungan utama yaitu permanen, aman, dan ekonomi.&lt;br /&gt;Arti permanen di sini karena apabila pengendalian hayati berhasil, musuh alami telah menjadi lebih mapan di ekosistem dan selanjutnya secara alami musuh alami akan mampu menjaga populasi hama dalam keadaan yang seimbang di bawah aras ekonomi dalam jangka waktu yang panjang.&lt;br /&gt;Pengendalian hayati aman bagi lingkungan karena tidak memiliki dampak samping terhadap lingkungan terutama terhadap serangga atau organisme bukan sasaran. Karena musuh alami biasanya adalah khas inang. Meskipun pernah dilaporkan kasus terjadinya ketahanan suatu jenis hama terhadap musuh alami antara lain dengan membentuk kapsul dalam tubuh inang, namun kejadian tersebut sangat langka.&lt;br /&gt;Pengendalian hayati juga relatif ekonomis karena begitu usaha tersebut berhasil petani tidak memerlukan lagi tambahan biaya khusus untuk pengendalian hama, petani kemudian hanya mengupayakan agar menghindari tindakan-tindakan yang merugikan perkembangan musuh alami.&lt;br /&gt;Kesulitan dan permasalahan utama dalam penerapan dan pengembangan pengendalian hayati adalah modal investasi permulaan yang besar yang harus dikeluarkan untuk kegiatan eksplorasi, penelitian, pengujian dan evaluasi terutama yang menyangkut berbagai aspek dasar baik untuk hama, musuh alami maupun tanaman. Aspek dasar dapat meliputi taksonomi, ekologi, biologi, siklus hidup, dinamika populasi, genetika, fisiologi, dll. Identifikasi yang tepat baik untuk jenis hama maupun musuh alaminya merupakan langkah permulaan yang sangat penting. Apabila identifikasi kurang benar kita akan memperoleh kesulitan dalam mempelajari sifat-sifat kehidupan musuh alami dan langkah-langkah kegiatan selanjutnya.&lt;br /&gt;Kecuali diperlukan modal, fasilitas yang lengkap juga diperlukan sumber daya manusia terutama para peneliti yang berkualitas dan berpendidikan khusus dan berdedikasi tinggi sesuai dengan yang diperlukan untuk pengembangan teknologi pengendalian hayati. Sampai saat ini tenaga-tenaga ahli dengan kualifikasi demikian masih sangat jarang tersedia di Indonesia. Meskipun ada beberapa ahli yang berpendapat bahwa untuk pengendalian hayati yang penting adalah adanya tenaga peneliti yang berpengalaman dan berdedikasi tinggi serta cukup memiliki rasa seni dan intuisi, namun bagaimanapun untuk keberhasilan pengendalian  hayati dalam kerangka PHT diperlukan juga dasar pengetahuan dan teknologi yang mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-6079505176669257005?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/6079505176669257005/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=6079505176669257005' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/6079505176669257005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/6079505176669257005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2010/04/pengendalian-hayati_09.html' title='PENGENDALIAN HAYATI'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-3498718305936184358</id><published>2009-07-02T00:01:00.001+07:00</published><updated>2009-07-02T00:08:00.723+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Durian</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;D U R I A N ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bombaceae&lt;/span&gt; sp. )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian merupakan tanaman buah berupa pohon. Sebutan durian diduga berasal dari istilah Melayu yaitu dari kata duri yang diberi akhiran -an sehingga menjadi durian. Kata ini terutama dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya berduri tajam. Tanaman durian berasal dari hutan Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan yang berupa tanaman liar. Penyebaran durian ke arah Barat adalah ke Thailand, Birma, India dan Pakistan. Buah durian sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad 7 M. Nama lain durian adalah duren (Jawa, Gayo), duriang (Manado), dulian (Toraja), rulen (Seram Timur). &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman durian termasuk famili Bombaceae sebangsa pohon kapuk-kapukan. Yang lazim disebut durian adalah tumbuhan dari marga (genus) Durio, Nesia, Lahia, Boschia dan Coelostegia. Ada puluhan durian yang diakui keunggulannya oleh Menteri Pertanian dan disebarluaskan kepada masyarakat untuk dikembangkan. Macam varietas durian tersebut adalah: durian sukun (Jawa Tengah), petruk (Jawa Tengah), sitokong (Betawi), simas (Bogor), sunan (Jepara), otong (Thailand), kani (Thailand), sidodol (Kalimantan Selatan), sijapang (Betawi) dan sihijau (Kalimantan Selatan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat durian selain sebagai makanan buah segar dan olahan lainnya, terdapat manfaat dari bagian lainnya, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tanamannya sebagai pencegah erosi di lahan-lahan yang miring.&lt;br /&gt;  2. Batangnya untuk bahan bangunan/perkakas rumah tangga. Kayu durian setaraf dengan kayu sengon sebab kayunya cenderung lurus.&lt;br /&gt;  3. Bijinya yang memiliki kandungan pati cukup tinggi, berpotensi sebagai alternatif pengganti makanan (dapat dibuat bubur yang dicampur daging buahnya).&lt;br /&gt;  4. Kulit dipakai sebagai bahan abu gosok yang bagus, dengan. cara dijemur sampai kering dan dibakar sampai hancur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, tanaman durian terdapat di seluruh pelosok Jawa dan Sumatra. Sedangkan di Kalimantan dan Irian Jaya umumnya hanya terdapat di hutan, di sepanjang aliran sungai. Di dunia, tanaman durian tersebar ke seluruh Asia Tenggara, dari Sri Langka, India Selatan hingga New Guenea. Khusus di Asia Tenggara, durian diusahakan dalam bentuk perkebunan yang dipelihara intensif oleh negara Thailand.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah produksi durian di Filipina adalah 16.700 ton (2.030 ha), di Malaysia 262.000 ton (42.000 ha) dan di Thailand 444.500 ton (84.700 ha) pada tahun 1987-1988. Di Indonesia pada tahun yang sama menghasilkan 199.361 ton (41.284 ha) dan pada tahun 1990 menghasilkan 275.717 ton (45.372 ha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SYARAT TUMBUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Curah hujan untuk tanaman durian maksimum 3000-3500 mm/tahun dan minimal 1500-3000 mm/tahun. Curah hujan merata sepanjang tahun, dengan kemarau 1-2 bulan sebelum berbunga lebih baik daripada hujan terus menerus.&lt;br /&gt;  2. Intensitas cahaya matahari yang dibutuhkan durian adalah 60-80%. Sewaktu masih kecil (baru ditanam di kebun), tanaman durian tidak tahan terik sinar matahari di musim kemarau, sehingga bibit harus dilindungi/dinaungi.&lt;br /&gt;  3. Tanaman durian cocok pada suhu rata-rata 20°C-30°C. Pada suhu 15°C durian dapat tumbuh tetapi pertumbuhan tidak optimal. Bila suhu mencapai 35°C daun akan terbakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tanaman durian menghendaki tanah yang subur (tanah yang kaya bahan organik). Partikel penyusunan tanah seimbang antara pasir liat dan debu sehingga mudah membentuk remah.&lt;br /&gt;  2. Tanah yang cocok untuk durian adalah jenis tanah grumosol dan ondosol. Tanah yang memiliki ciri-ciri warna hitam keabu-abuan kelam, struktur tanah lapisan atas bebutir-butir, sedangkan bagian bawah bergumpal, dan kemampuan mengikat air tinggi.&lt;br /&gt;  3. Derajat keasaman tanah yang dikehendaki tanaman durian adalah (pH) 5-7, dengan pH optimum 6-6,5.&lt;br /&gt;  4. Tanaman durian termasuk tanaman tahunan dengan perakaran dalam, maka membutuhkan kandungan air tanah dengan kedalam cukup, (50-150 cm) dan (150-200 cm). Jika kedalaman air tanah terlalu dangkal/ dalam, rasa buah tidak manis/tanaman akan kekeringan/akarnya busuk akibat selalu tergenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketinggian tempat untuk bertanam durian tidak boleh lebih dari 800 m dpl. Tetapi ada juga tanaman durian yang cocok ditanam diberbagai ketinggian. Tanah yang berbukit/yang kemiringannya kurang dari 15 kurang praktis daripada lahan yang datar rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persyaratan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji untuk bibit dipilih dari biji yang memenuhi persyaratan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Asli dari induknya.&lt;br /&gt;   * Segar dan sudah tua.&lt;br /&gt;   * Tidak kisut.&lt;br /&gt;   * Tidak terserang hama dan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiapan Benih dan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernanyakatan tanaman durian dapat dilakukan melalui cara generatif (dengan biji) atau vegetatif (okulasi, penyusuan atau cxangkokan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pengadaan benih dengan cara generatif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memilih biji-biji yang tulen/murni dilakukan dengan mencuci biji-biji dahulu agar daging buah yang menempel terlepas. Biji yang dipilih dikeringkan pada tempat terbuka, tidak terkena sinar matahari langsung. Penyimpanan diusahakan agar tidak berkecambah/rusak dan merosot daya tumbuhnya. Proses pemasakan biji dilakukan dengan baik (dengan cara diistirahatkan beberapa saat), dalam kurun waktu 2-3 minggu sesudah diambil dari buahnya. Setelah itu biji ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Pengadaan bibit dengan cara okulasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan biji durian yang akan diokulasi berasal dari biji yang sehat dan tua, dari tanaman induk yang sehat dan subur, sistem perakaran bagus dan produktif. Biji yang ditumbuhkan, dipilih yang pertumbuhannya sempurna. Setelah umur 8-10 bulan, dapat diokulasi, dengan cara:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Kulit batang bawah disayat, tepat di atas matanya (…. 1 cm). Dipilih mata tunas yang berjarak 20 cm dari permukaan tanah.&lt;br /&gt;  2. Sayatan dibuat melintang, kulit dikupas ke bawah sepanjang 2-3 cm sehingga mirip lidah.&lt;br /&gt;  3. Kulit yang mirip lidah dipotong menjadi 2/3-nya.&lt;br /&gt;  4. Sisipan “mata” yang diambil dari pohon induk untuk batang atas (disayat dibentuk perisai) diantara kulit. Setelah selesai dilakukan okulasi, 2 minggu kemudian di periksa apakah perisai mata tunas berwarna hijau atau tidak. Bila berwarna hijau, berarti okulasi berhasil, jika coklat, berarti okulasi gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Penyusuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Model tusuk/susuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Tanaman calon batang atas dibelah setengah bagian menuju kearah pucuk. Panjang belahan antara 1-1,5 cm diukur dari pucuk. Tanaman calon batang bawah sebaiknya memiliki diameter sama dengan batang atasnya. Tajuk calon batang bawah dipotong dan dibuang, kemudian disayat sampai runcing. Bagian yang runcing disisipkan kebelahan calon batang atas yang telah dipersiapkan. Supaya calon batang bawah tidak mudah lepas, sambungannya harus diikat kuat-kuat dengan tali rafia.&lt;br /&gt;   * Selama masa penyusuan batang yang disatukan tidak boleh bergeser. Sehingga, tanaman batang bawah harus disangga atau diikat pada tanaman induk (batang tanaman yang besar) supaya tidak goyah setelah dilakukan penyambungan. Susuan tersebut harus disiram agar tetap hidup. Biasanya, setelah 3-6 bulan tanaman tersebut bisa dipisahkan dari tanaman induknya, tergantung dari usia batang tanaman yang disusukan. Tanaman muda yang kayunya belum keras sudah bisa dipisahkan setelah 3 bulan. Penyambungan model tusuk atau susuk ini dapat lebih berhasil kalau diterapkan pada batang tanaman yang masih muda atau belum berkayu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Model sayatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   * Pilih calon batang bawah (bibit) dan calon batang atas dari pohon induk yang sudah berbuah dan besarnya sama.&lt;br /&gt;   * Kedua batang tersebut disayat sedikit sampai bagian kayunya. Sayatan pada kedua batang tersebut diupayakan agar bentuk dan besarnya sama.&lt;br /&gt;   * Setelah kedua batang tersebut disayat, kemudian kedua batang itu ditempel tepat pada sayatannya dan diikat sehingga keduanya akan tumbuh bersama-sama.&lt;br /&gt;   * Setelah 2-3 minggu, sambungan tadi dapat dilihat hasilnya kalau batang atas dan batang bawah ternyata bisa tumbuh bersama-sama berarti penyusuan tersebut berhasil.&lt;br /&gt;   * Kalau sambungan berhasil, pucuk batang bawah dipotong/dibuang, pucuk batang atas dibiarkan tumbuh subur. Kalau pertumbuhan pucuk batang atas sudah sempurna, pangkal batang atas juga dipotong.&lt;br /&gt;   * Maka akan terjadi bibit durian yang batang bawahnya adalah tanaman biji, sedangkan batang atas dari ranting/cabang pohon durian dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Cangkokan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang durian yang dicangkok harus dipilih dari cabang tanaman yang sehat, subur, cukup usia, pernah berbuah, memiliki susunan percabangan yang rimbun, besar cabang tidak lebih besar daripada ibu jari (diameter=2–2,5 cm), kulit masih hijau kecoklatan. Waktu mencangkok adalah awal musim hujan sehingga terhindar dari kekeringan, atau pada musim kering, tetapi harus disiram secara rutin (2 kali sehari), pagi dan sore hari. Adapun tata cara mencangkok adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pilih cabang durian sebesar ibu jari dan yang warna kulitnya masih hijau kecoklatan.&lt;br /&gt;  2. Sayap kulit cabang tersebut mengelilingi cabang sehingga kulitnya terlepas.&lt;br /&gt;  3. Bersihkan lendir dengan cara dikerok kemudian biarkan kering angin sampai dua hari.&lt;br /&gt;  4. Bagian bekas sayatan dibungkus dengan media cangkok (tanah, serabut gambut, mos). Jika menggunakan tanah tambahkan pupuk kandang/kompos perbandingan 1:1. Media cangkok dibungkus dengan plastik/sabut kelapa/bahan lain, kedua ujungnya diikat agar media tidak jatuh.&lt;br /&gt;  5. Sekitar 2-5 bulan, akar cangkokan akan keluar menembus pembungkus cangkokan. Jika akar sudah cukup banyak, cangkokan bisa dipotong dan ditanam di keranjang persemaian berisi media tanah yang subur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Teknik Penyemaian dan Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit durian sebaiknya tidak ditanam langsung di lapangan, tetapi disemaikan terlebih dahulu ditempat persemaian. Biji durian yang sudah dibersihkan dari daging buah dikering-anginkan sampai kering tidak ada air yang menempel. Biji dikecambahkan dahulu sebelum ditanam di persemaian atau langsung ditanam di polibag. Caranya biji dideder di plastik/anyaman bambu/kotak, dengan media tanah dan pasir perbandingan 1:1 yang diaduk merata. Ketebalan lapisan tanah sekitar 2 kali besar biji (6-8 cm), kemudian media tanam tadi disiram tetapi (tidak boleh terlalu basah), suhu media diupayakan cukup lembab (20°C-23°C). Biji ditanam dengan posisi miring tertelungkup (bagian calon akar tunggang menempel ke tanah), dan sebagian masih kelihatan di atas permukaan tanah (3/4 bagian masih harus kelihatan). Jarak antara biji satu dengan lainnya adalah 2 cm membujur dan 4-5 cm melintang. Setelah biji dibenamkan, kemudian disemprot dengan larutan fungisida, kemudian kotak sebelah atas ditutup plastik supaya kelembabannya stabil. Setelah 2-3 minggu biji akan mengeluarkan akar dengan tudung akar langsung masuk ke dalam media yang panjangnya ± 3-5 cm. Saat itu tutup plastik sudah bisa dibuka. Selanjutnya, biji-biji yang sudah besar siap dibesarkan di persemaian pembesar atau polibag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya sudah tumbuh setinggi 75-150 cm atau berumur 7 - 9 bulan setelah diokulasi, kondisinya sehat dan pertumbuhannya bagus. Hal ini tercermin dari pertumbuhan batang yang kokoh, perakarannya banyak dan kuat, juga adanya helaian daun dekat pucuk tanaman yang telah menebal dan warnanya hijau tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penanaman durian, perlu perencanaan yang cermat. Hal-hal yang perlu diperhatikan adalah pengukuran pH tanah, analisis tanah, penetapan waktu/jadwal tanam, pengairan, penetapan luas areal penanaman, pengaturan volume produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembersihan dan pengolahan lahan dilakukan beberapa minggu sebelum penanaman bibit berlangsung. Batu-batu besar, alang-alang, pokok-pokok batang pohon sisa penebangan disingkirkan. Perlu dibersihkan dari tanaman liar yang akan menganggu pertumbuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah untuk bedengan pembesaran harus dicangkul dulu sedalam 30 cm hingga menjadi gembur, kemudian dicampur dengan pasir dan kompos yang sudah jadi. Untuk ukuran bedengan lebar 1 m panjang 2 m, diberi 5 kg pasir dan 5 kg pupuk kompos. Setelah tanah, pasir dan kompos tercampur merata dan dibiarkan selama 1 minggu. Pada saat itu juga tanah disemprot Vapan/Basamid untuk mencegah serangan jamur/bakteri pembusuk jamur. Di sekeliling bedengan, perlu dibuatkan saluran untuk penampung air. Jika bedengan sudah siap, biji yang telah tumbuh akarnya tadi segera ditanam dengan jarak tanam 20 x 30 cm. Penanaman biji durian dilakukan dengan cara dibuatkan lubang tanam sebesar biji dan kedalamannya sesuai dengan panjang akar masing-masing. Setelah biji tertanam semua, bagian permukaan bedengan ditaburi pasir yang dicampur dengan tanah halus (hasil ayakan) setebal 5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pengapuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan tanah yang kurang subur, misalnya tanah podzolik (merah kuning) dan latosol (merah-coklat-kuning), yang cenderung memiliki pH 5 - 6 dan penyusunannya kurang seimbang antara kandungan pasir, liat dan debu, dapat diatasi dengan pengapuran. Sebaiknya dilakukan menjelang musim kemarau, dengan kapur pertanian yang memiliki kadar CaCO3 sampai 90%. Dua sampai 4 minggu sebelum pengapuran, sebaiknya tanah dipupuk dulu dan dilsiram 4-5 kali. Untuk mencegah kekurangan unsur Mg dalam tanah, sebaiknya dua minggu setelah pengapuran, segera ditambah dolomit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak tanam sangat tergantung pada jenis dan kesuburan tanah, kultivar durian, serta sistem budidaya yang diterapkan. Untuk kultivar durian berumur genjah, jarak tanam: 10 m x 10 m. Sedangkan kultivar durian berumur sedang dan dalam jarak tanam 12 m x 12 m. Intensifikasi kebun durian, terutama waktu bibit durian masih kecil (berumur kurang dari 6 tahun), dapat diupayakan dengan budidaya tumpangsari. Berbagai budidaya tumpangsari yang biasa dilakukan yakni dengan tanaman horti (lombok, tomat, terong dan tanaman pangan: padi gogo, kedelai, kacang tanah dan ubi jalar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan tanah terutama dilakukan di lubang yang akan digunakan untuk menanam bibit durian. Lubang tanam dipersiapkan 1 m x 1 m x 1 m. Saat menggali lubang, tanah galian dibagi menjadi dua. Sebelah atas dikumpulkan di kiri lubang, tanah galian sebelah bawah dikumpulkan di kanan lubang. Lubang tanam dibiarkan kering terangin-angin selama ± 1 minggu, lalu lubang tanam ditutup kembali. Tanah galian bagian atas lebih dahulu dimasukkan setelah dicampur pupuk kompos 35 kg/lubang, diikuti oleh tanah bagian bawah yang telah dicampur 35 kg pupuk kandang dan 1 kg fospat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari gangguan rayap, semut dan hama lainnya dapat dicampurkan insektisida butiran seperti Furadan 3 G. Selanjutnya lubang tanam diisi penuh sampai tampak membukit setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah. Tanah tidak perlu dipadatkan. Penutupan lubang sebaiknya dilakukan 7-15 hari sebelum penanaman bibit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Cara Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit yang akan ditanam di lapangan sebaiknya tumbuh 75-150 cm, kondisinya sehat, pertumbuhan bagus, yang tercermin dari batang yang kokoh dan perakaran yang banyak serta kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang tanam yang tertutup tanah digali kembali dengan ukuran yang lebih kecil, sebesar gumpalan tanah yang membungkus akar bibit durian. Setelah lubang tersedia, dilakukan penanaman dengan cara sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Polybag/pembungkus bibit dilepas (sisinya digunting/diiris hati-hati)&lt;br /&gt;  2. Bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam sampai batas leher&lt;br /&gt;  3. Lubang ditutup dengan tanah galian. Pada sisi tanaman diberi ajir agar pertumbuhan tanaman tegak ke atas sesuai arah ajir.&lt;br /&gt;  4. Pangkal bibit ditutup rumput/jerami kering sebagai mulsa, lalu disiram air.&lt;br /&gt;  5. Di atas bibit dapat dibangun naungan dari rumbia atau bahan lain. Naungan ini sebagai pelindung agar tanaman tidak layu atau kering tersengat sinar matahari secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarangan buah bertujuan untuk mencegah kematian durian agar tidak menghabiskan energinya untuk proses pembuahan. Penjarangan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup, rasa buah, ukuran buah dan frekuensi pembuahan setiap tahunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarangan dilakukan bersamaan dengan proses pengguguran bunga, begitu gugur bunga selesai, besoknya harus dilakukan penjarangan (tidak boleh ditunda-tunda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarangan dapat dilakukan dengan menyemprotkan hormon tertentu (Auxin A), pada saat bunga atau bakal buah baru berumur sebulan. Pada saat itu sebagian bunga sudah terbuka dan sudah dibuahi. Ketika hormon disemprotkan, bunga yang telah dibuahi akan tetap meneruskan pembuahannya sedangkan bunga yang belum sempat dibuahi akan mati dengan sendirinya. Jumlah buah durian yang dijarangkan ± 50-60% dari seluruh buah yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Penyiangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghindari persaingan antara tanaman dan rumput disekeliling selama pertumbuhan, perlu dilakukan penyiangan (…. diameter 1 m dari pohon durian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Pemangkasan/Perempelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Akar durian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemotongan akar akan menghambat pertumbuhan vegetatif tanaman sampai 40% selama ± 1 musim. Selama itu pula tanaman tidak dipangkas. Pemangkasan akar selain membuat tanaman menjadi cepat berbuah juga meningkatkan kualitas buah, menarik, buah lebih keras dan lebih tahan lama. Waktu pemotongan akar paling baik pada saat tanaman mulai berbunga, paling lambat 2 minggu setelah berbunga. Jika dilakukan melewati batas, hasil panen berkurang dan pertumbuhan terhambat. Cara pemotongan: kedua sisi barisan tanaman durian diiris sedalam 60-90 cm dan sejauh 1,5-2 meter dari pangkal batang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Peremajaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman yang sudah tua dan kurang produktif perlu diremajakan. Tanaman durian tidak harus dibongkar sampai ke akar-akarnya, tetapi cukup dilakukan pemangkasan. Luka pangkasan dibuat miring supaya air hujan tidak tertahan.Untuk mencegah terjadinya infeksi batang, bekas luka tersebut dapat diolesi meni atau ditempeli lilin parafin. Setelah 2-3 minggu dilakukan pemangkasan (di musim hujan) maka pada batang tersebut akan tumbuh tunas-tunas baru. Setelah tunas baru mencapai 2 bulan, tunas tersebut dapat diokulasi. Cara okulasi cabang sama dengan cara okulasi tanaman muda (bibit). Tinggi okulasi dari tanah ± 1 - 1,5 m atau 2 - 2,5 m tergantung pada pemotongan batang pokok. Pemotongan batang pokok tidak boleh terlalu dekat dengan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Pembentukan tanaman yang terlanjur tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahan-dahan yang akan dibentuk tidak usah dililiti kawat, tetapi cukup dibanduli atau ditarik dan dipaksa ke bawah agar pertumbuhan tanaman tidak mengarah ke atas. Cabang yang akan dibentuk dibalut dengan kalep agar dahan tersebut tidak terluka. Balutan kalep tadi diberi tali, kemudian ditarik dan diikat dengan pasak. Dengan demikian, dahan yang tadinya tumbuh tegak ke atas akan tumbuh ke bawah mengarah horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4) Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum melakukan pemupukan kita harus melihat keadaan tanah, kebutuhan tanaman akan pupuk dan unsur hara yang terkandung dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Cara memupuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap awal buatlah selokan melingkari tanaman. Garis tengah selokan disesuaikan dengan lebarnya tajuk pohon. Kedalaman selokan dibuat 20-30 cm. Tanah cangkulan disisihkan di pinggirnya. Sesudah pupuk disebarkan secara merata ke dalam selokan, tanah tadi dikembalikan untuk menutup selokan. Setelah itu tanah diratakan kembali, bila tanah dalam keadaan kering segera lakukan penyiraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Jenis dan dosis pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pupuk yang digunakan untuk memupuk durian adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau serta pupuk buatan. Pemupukan yang tepat dapat membuat tanaman tumbuh subur. Setelah tiga bulan ditanam, durian membutuhkan pemupukan susulan NPK (15:15:15) 200 gr perpohon. Selanjutnya, pemupukan susulan dengan NPK itu dilakukan rutin setiap empat bulan sekali sampai tanaman berumur tiga tahun. Setahun sekali tanaman dipupuk dengan pupuk organik kompos/pupuk kandang 60-100 kg per pohon pada musim kemarau. Pemupukan dilakukan dengan cara. menggali lubang mengelilingi batang bawah di bawah mahkota tajuk paling luar dari tanaman. Tanaman durian yang telah berumur =3 tahun biasanya mulai membentuk batang dan tajuk. Setelah itu, setiap tahun durian membutuhkan tambahan 20–25% pupuk NPK dari dosis sebelumnya. Apabila pada tahun ke-3, durian diberi pupuk 500 gram NPK per pohon maka pada tahun ke-4 dosisnya menjadi 600-625 gram NPK per pohon. Kebutuhan pupuk kandang juga meningkat, berkisar antara 120-200 kg/pohon menjelang berbunga durian membutuhkan NPK 10:30:10. Pupuk ini ditebarkan pada saat tanaman selesai membentuk tunas baru (menjelang tanaman akan berbunga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5) Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian membutuhkan banyak air pada pertumbuhannya, tapi tanah tidak boleh tergenang terlalu lama atau sampai terlalu basah. Bibit durian yang baru ditanam membutuhkan penyiraman satu kali sehari, terutama kalau bibit ditanam pada musim kemarau. Setelah tanaman berumur satu bulan, air tanaman dapat dikurangi sekitar tiga kali seminggu. Durian yang dikebunkan dengan skala luas mutlak membutuhkan tersedianya sumber air yang cukup. Dalam pengairan perlu dibuatkan saluran air drainase untuk menghindari air menggenangi bedengan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6) Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan pertumbuhan bibit tanaman yang baik, setiap 2 minggu sekali bibit disemprot zat pengatur tumbuh Atonik dengan dosis 1 cc/liter air dan ditambah dengan Metalik dengan dosis 0,5 cc/liter air. Hal ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tanaman agar lebih sempurna. Jenis insektisida yang digunakan adalah Basudin yang disemprot sesuai aturan yang ditetapkan dan berguna untuk pencegahan serangga. Untuk cendawan cukup melaburi batang dengan fungisida (contohnya Dithane atau Antracol) agar sehat. Lebih baik bila pada saat melakukan penanaman, batang durian dilaburi oleh fungisida tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7) Pemeliharan Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) berfungsi mempengaruhi jaringan-jaringan pada berbagai organ tanaman. Zat ini sama sekali tidak memberikan unsur tambahan hara pada tanaman. ZPT dapat membuat tanaman menjadi lemah sehingga penggunannya harus disesuaikan dengan petunjuk pemakaian yang tertera pada label yang ada dalam kemasan, sebab pemakaian ZPT ini hanya dicampurkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Penggerek buah (Jawa : Gala-gala)&lt;br /&gt;         * Ciri: telur diletakkan pada kulit buah dan dilindungi oleh jaring-jaring mirip rumah laba-laba. Larva yang telah menetas dari telur langsung menggerek dan melubangi dinding-dinding buah hingga masuk ke dalam. Larva tersebut tinggal di dalam buah sampai menjadi dewasa. Buah yang diserang kadang-kadang jatuh sebelum tua.&lt;br /&gt;         * Penyebaran: serangga penggerek buah menyebar dengan cara terbang dari pohon durian yang satu ke pohon lainnya. Serangga penggerek buah ini bertelur pada buah durian yang dihinggapinya. Kegiatan bertelur ini dilakukan secara periodik setiap menjelang musim kemarau.&lt;br /&gt;         * Pengendalian: dilakukan dengan insektisida, seperti Basudin, Sumithion 50 AC, Thiodan 35 EC, dengan dosis 2-3 cc/liter air.&lt;br /&gt;  2. Lebah mini&lt;br /&gt;         * Ciri: hama ini berukuran kecil, tubuhnya berwarna coklat kehitaman dan sayapnya bergaris putih lebar. Setelah lebah menjadi merah violet, ukuran panjangnya menjadi 3,5 cm. Pada fase ulat (larva), hama ini menyerang daun-daun durian muda. Selama hama tersebut mengalami masa istirahat (bentuk kepompong), mereka akan menempel erat pada kulit buah. Setelah menjadi lebah serangga ini mencari makan dengan cara menggerek ranting-ranting muda dan memakan daun-daun muda.&lt;br /&gt;         * Pengendalian: menggunakan parvasida, seperti Hostathion 40 EC (Triazofos 420 gram/liter), dan insektisida, seperti Supracide 40 EC dosis 420 gram/liter dan Temik 106 (Aldikarl 10%).&lt;br /&gt;  3. Ulat penggerek bunga (Prays citry)&lt;br /&gt;         * Ulat ini menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama bagian kuncup bunga dan calon buah.&lt;br /&gt;         * Ciri: ulat ini warna tubuhnya hijau dan kepalanya merah coklat, setelah menjadi kupu-kupu berwarna merah sawo agak kecoklatan, abu-abu dan bertubuh langsing.&lt;br /&gt;         * Gejala: kuncup bunga yang terserang akan rusak dan putiknya banyak yang berguguran. Demikian pula, benang sari dan tajuk bunganya pun rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah karena luka digerek ulat. Penularan ke tanaman lain dilakukan oleh kupu-kupu dari hama tersebut.&lt;br /&gt;         * Pengendalian: dengan menyemprotkan obat-obatan seperti Supracide 40 EC, nuvacrom SWC, Perfekthion 400 EC (Eimetoat 400 gram/liter).&lt;br /&gt;  4. Kutu loncat durian&lt;br /&gt;         * Ciri: serangga berwarna kecoklatan dan tubuhnya diselimuti benang-benang lilin putih hasil sekresi tubuhnya; bentuk tubuh, sayap dan tungkainya mirip dengan kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro.&lt;br /&gt;         * Gejala: kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dengan cara menghisap cairan pada tulang-tulang daun sehingga daun-daun akan kerdil dan pertumbuhannya terhambat; setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat rasanya manis dan merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.&lt;br /&gt;         * Pengendalian: daun dan ranting-ranting yang terserang dipangkas untuk dimusnahkan. Pengendalian secara kimia dapat dilakukan dengan menyemprotkan insektisida Supracide 40 EC dosis 100-150 gram/5 liter air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Phytopthora parasitica dan Pythium complectens&lt;br /&gt;         * Penyebab: Pythium complectens, yang menyerang bagian tanaman seperti daun, akar dan percabangan.&lt;br /&gt;         * Penularan dan penyebab: penyakit ini menular dengan ke pohon lain yang berdekatan. Penularan terjadi bila ada akar yang terluka. Penularan terjadi bersama-sama dengan larutnya tanah atau bahan organik yang terangkut air.&lt;br /&gt;         * Gejala: daun durian yang terserang menguning dan gugur mulai dari daun yang tua, cabang pohon kelihatan sakit dan ujung-ujungnya mati, diikuti dengan berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya. Kulit di atas permukaan tanah menjadi coklat dan membusuk. Pembusukan pada akar hanya terbatas pada akar-akar sebelah bawah, tetapi dapat meluas dari ujung akar lateral sampai ke akar tunggang. Jika dilihat dari luar akar yang sakit tampak normal, tetapi jaringan kulitnya menjadi colat tua dan jaringan pembuluh menjadi merah jambu.&lt;br /&gt;         * Pengendalian:&lt;br /&gt;              1. upayakan drainase yang baik agar tanah tidak terlalu basah dan air tidak mengalir ke permukaan tanah pada waktu hujan;&lt;br /&gt;              2. pohon yang sakit dibongkar sampai ke akarnya dan dibakar;&lt;br /&gt;              3. pilih bibit durian kerikil untuk batang bawah karena jenis ini lebioh tahan terhadap serangan jamur sehingga dapat terhindar dari serangan penyakit busuk.&lt;br /&gt;  2. Kanker bercak&lt;br /&gt;         * Penyebab: Pythium palvimora, terutama menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebaran oleh spora sembara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air. Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 12-35°C.&lt;br /&gt;         * Gejala: kulit batang durian yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap; jaringan kulit berubah menjadi merah kelam, coklat tua atau hitam; bagian yang sakit dapat meluas ke dalam sampai ke kayu; daun-daun rontok dan ranting-ranting muda dari ujung mulai mati.&lt;br /&gt;         * Pengendalian: (1) perbaikan drainase agar air hujan tidak mengalir dipermukaan tanah dan untuk batang yang sakit; (5) dilakukan dengan cara memotong kulit yang sakit sampai ke kayunya yang sehat dan potongan tanaman yang sakit harus dibakar, sedangkan bagian yang terluka diolesi fungisida, misalnya difolatan 4 F 3%.&lt;br /&gt;  3. Jamur upas&lt;br /&gt;         * Gejala: pada cabang-cabang dan kulit kayu terdapat benang-benang jamur mengkilat seperti sarang laba-laba pada cabang-cabang. Jamur berkembang menjadi kerak berwarna merah jambu dan masuk ke dalam kulit dan kayu sehingga menyebabkan matinya cabang.&lt;br /&gt;         * Pengendalian:&lt;br /&gt;              1. serangan jamur yang masih pada tingkat sarang laba-laba dapat dikendalikan dengan cara melumasi cabang yang terserang degan fungisida, misalnya calizin RM;&lt;br /&gt;              2. jika jamur sudah membentuk kerak merah jambu, sebaiknya dilakukan pemotongan cabang kira-kira lebih 30 cm ke bawah bagian yang berjamur;&lt;br /&gt;              3. dengan menyemprotkan Antrocol 70 WP (propineb 70,5%), dosis 100-200 gram/liter air atau 1-1,5 kg/ha aplikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. PANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada umur sekitar 8 tahun, tanaman durian sudah mulai berbunga. Musim berbunga jatuh pada waktu kemarau, yakni bulan Juni-September sehingga bulan Oktober-Februari buah sudah dewasa dan siap dipetik. Panen durian diusahakan sebelum musim hujan tiba karena air hujan dapat merusak kualitas buah. Warna durian yang hampir masak agak berbeda-beda tergantung pada kultivarnya. Buah yang sudah masak umumnya ditandai dengan bau harum yang menyengat. Pada durian yang sudah masak bila diketuk duri atau buahnya akan terdengar dentang udara antara isi dan kulitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah durian yang sudah matang akan jatuh sendiri. Untuk menjaga agar buah tidak langsung jatuh, kira-kira sebulan sebelum matang buah dapat diikat dengan tali plastik. Tujuan pengikatan tersebut agar tangkai buah yang terlepas dari batang atau ranting pohon tetap menggantung pada tali sehingga buah durian tersebut dapat diambil dalam keadaan utuh. Buah durian dari pohon rendah dapat dipetik dengan menggunakan pisau tajam. Tangkai buah dipotong mulai dari bagian paling atas, ± 1,5 cm dari dahan. Pemotongan sebaiknya dilakukan dengan hati-hati karena di tempat ini terdapat bahan tunas yang akan berbunga pada musim berikutnya. Buah durian yang terletak pada bagian pohon yang tinggi sebaiknya dipetik dengan menggunakan alat bantu yang sesuai agar tidak jatuh ke tanah. Durian yang jatuh ke tanah biasanya retak, daging buahnya menjadi asam/pahit karena terjadi fermentasi pembentukan alkohol dan asam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah durian yang dapat dipanen dalam satu pohon adalah 60-70 butir perpohon pertahun dengan bobot rata-rata 2,7 kg. Apabila diinginkan jumlah buah yang lebih banyak lagi maka bobot buah akan turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PASCAPANEN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat pengumpulan setiap tangkai durian diberi label khusus atau dicat dengan warna tertentu untuk menunjukkan kebun asal durian. Bila kualitasnya kurang baik dapat diperbaiki pada tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil panen dikumpulkan, diseleksi dan dipilah-pilah berdasarkan ukuran. Seleksi perlu dilakukan agar tidak ada buah cacat yang ikut terkirim, terutama bila buah ini akan dijual atau diekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Durian yang sudah terpilih dicuci dan disemprot dengan air agar kotoran yang menempel pada kulitnya menjadi bersih. Selanjutnya buah dicelupkan ke dalam air yang telah diberi fungisida Aliette 800 WP yang berbahan aktif Aluminium tris (Oethy/phosphonate) 22 cc/liter. Tujuan pencelupan ini adalah untuk menghindari serangan busuk buah yang disebabkan oleh jamur Phytophtora sp selama pemeraman dan transportasi. Lalu buah dikeringanginkan. Durian beserta petinya dimasukkan ke dalam gudang yang cukup mendatangkan penerangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah durian yang akan diekspor diberi perlakuan: setelah buah kering, buah dibungkus kantong plastik dan diikat dengan tali rafia Setiap kantung plastik berisi satu butir buah durian. Buah yang sudah dibungkus kantung plastik dibungkus lagi dengan kantung kertas semen. Setelah itu, dimasukkan ke dalam kotak karton setebal 3 mm. Setiap ungkus berisi 5-6 butir durian sehingga setiap kotak karton berisi 10-15 kg durian. Kotak ini dilekat dengan lakban (perekat plastik) tebal yang tidak mudah robek jika terkena gesekan. Teknologi pengemasan ini memperhatikan adanya lubang udara agar ada sirkulasi udara, tetapi juga ada lapisan plastik luar untuk menahan keluarnya bau, sehingga tidak ada kontak antar udara di dalam kotak pengepakan dengan udara luar maka jika di dalam ada durian yang matang baunya tidak tercium menyengat sampai keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.5. Penanganan Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila ingin menghasilkan durian beku untuk dipasarkan ke tempat yang jauh, maka dapat dilakukan cara pengepakan fakum udara, cara ini banyak dipakai oleh petani Thailand. Setelah dikupas kulitnya, durian dimasukkan ke dalam alat fakum udara selama 35-40 menit dengan suhu 40°C di bawah nol. Setelah itu, buah durian dimasukkan ke dalam plastik berukuran 300 gram dan diletakkan dalam kamar pendingin dengan suhu 18°C di bawah nol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan analisis usaha tani tanaman durian seluas 1 ha pada tahun 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Biaya produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tanah 1 ha @ m 2 x Rp. 15.000,- Rp. 15.000.000,-&lt;br /&gt;  2. Bibit :150 pohon @ Rp. 50.000,- Rp. 7.500.000,-&lt;br /&gt;  3. Pupuk&lt;br /&gt;         * Pupuk kandang: 9500 kg @ Rp. 60,- Rp. 570.000,-&lt;br /&gt;         * UREA: 1400 kg @ Rp. 1.600,- Rp. 2.240.000,-&lt;br /&gt;         * TSP: 1400 kg @ Rp. 1.500,- Rp. 2.100.000,-&lt;br /&gt;         * KCl: 1400 kg @ Rp. 1.600,- Rp. 2.240.000,-&lt;br /&gt;         * NPK: 1400 kg @ Rp. 2.800,- Rp. 3.920.000,-&lt;br /&gt;         * Hormon/mineral: 70 liter @ Rp. 3.500,- Rp. 245.000,-&lt;br /&gt;  4. Obat dan pestisida&lt;br /&gt;         * Insektisida: 150 liter @ Rp. 5.000,- Rp. 750.000,-&lt;br /&gt;         * Fungisida: 150 liter @ Rp. 5.000,- Rp. 750.000,-&lt;br /&gt;  5. Alat dan bangunan&lt;br /&gt;         * Bangunan dan sumur Rp. 2.500.000,-&lt;br /&gt;         * Alat semprot: 2 unit @ Rp. 75.000,- Rp. 150.000,-&lt;br /&gt;         * Cangkul: 2 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;         * Sabit: 2 buah @ Rp. 3.500,- Rp. 7.000,-&lt;br /&gt;         * Garpu: 2 buah @ Rp. 3.000,- Rp. 6.000,-&lt;br /&gt;         * Golok: 2 buah @ Rp. 7.500,- Rp. 15.000,-&lt;br /&gt;         * Gunting pangkas: 3 buah @ Rp. 5.000,- Rp. 15.000,-&lt;br /&gt;         * Gergaji pangkas: 2 buah @ Rp. 6.000,- Rp. 12.000,-&lt;br /&gt;         * Ember: 5 buah @ Rp. 3.000,- Rp. 15.000,-&lt;br /&gt;  6. Tenaga kerja tetap&lt;br /&gt;         * Upah 5 bok 12 x 2 orang x Rp. 30.000,- Rp. 3.600.000,-&lt;br /&gt;         * Pakaian 5 x Rp. 45.000,- Rp. 225.000,-&lt;br /&gt;         * THR 5 x Rp. 25.000,- Rp. 125.000,-&lt;br /&gt;  7. Tenaga kerja lepas&lt;br /&gt;         * Membuat lubang tanam 15 OH @ Rp. 3.000,- Rp. 45.000,-&lt;br /&gt;         * Memupuk dan menanam 25 OH @ Rp. 3.000,- Rp. 75.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi Rp. 42.115.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2) Pendapatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tahun ke-5 produk ke 1 = 25/100 x 150 x 30 x Rp. 30.000= Rp. 33.750.000,-= Rp. 33.750.000 – Rp. 42.115.000 - Rp. 8.365.000,-&lt;br /&gt;  2. Tahun ke-6 produk ke 2 =25/100 x 150 x 60 x Rp. 30.000= Rp. 67.500.000,-= Rp. 67.500.000 – (Rp.8.365.000 + Rp. 16.765.000) - Rp. 42.370.000&lt;br /&gt;  3. Pada tahun ke-7 keuntungan sudah dapat menutupi investasi yang dikeluarkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3) Investasi rata-rata/pohon: Rp. 175.096,66&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluang bisnis durian sangat bagus. Untuk pasar luar negeri pada tahun 1983-1987 dikirim ke negara Taiwan, Singapura, Malaysia dan Hongkong. Dan pada tahun 1989 permintaan meningkat ke negara Prancis, Belanda, Brunei, australia, Saudi Arabia dan Jepang. Bahkan pada tahun 1999 di Jepang harga durian dapat mencapai 10.000 yen (Rp 700.000,-). Peluang pasar di Indonesia juga sangat bagus, harga durian berkualitas dapat mencapai Rp 30.000,-/kg. Sedangkan untuk buah durian dipasaran dan kualitasnya biasa-bisa saja mencapai Rp. 15.000,-/buah. Selama ini perdagangan durian lebih dikuasai oleh negara Thailand, hal ini disebabkan oleh mutu buah yang bagus. Padahal Indonesia dapat melakukan hal yang sama apabila mutu ditingkatkan. Bahkan Indonesia memiliki varietas yang beragam dan berbuah sepanjang tahun. Dengan penanganan yang profesional dan dibantu oleh kemudahan-kemudahan dari pemerintah durian Indonesia mampu menguasai pasar dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar produksi ini meliputi: klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, pengemasan dan syarat penandaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.2. Diskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Standar mutu buah durian di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-4482-1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah durian diklasifikasikan dalam 3 jenis mutu, yaitu Mutu I, Mutu II dan Mutu III.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Kerusakan: mutu I=tidak ada (bebas penyakit dan serangga); mutu II=tidak ada (bebas penyakit dan serangga); mutu III=tidak ada (bebas penyakit dan serangga).&lt;br /&gt;  2. Cacat: mutu I=tidak ada; mutu II=ada; mutu III=ada.&lt;br /&gt;  3. Rasa dan aroma: mutu I=baik sesuai kultivar; mutu II=baik sesuai kultivar; mutu III=baik sesuai kultivar.&lt;br /&gt;  4. Kekerasan daging: mutu I=keras/sedang; mutu II=keras/sedang; mutu III=keras/sedang.&lt;br /&gt;  5. Kesegaran buah: mutu I=segar; mutu II=segar; mutu III=segar.&lt;br /&gt;  6. Warna daging buah: mutu I=sesuai kultivar/kuning; mutu II=sesuai kultivar/kuning; mutu III=sesuai kultivar/kuning.&lt;br /&gt;  7. Kesegaman Kultivar: mutu I=seragam; mutu II=seragam; mutu III=seragam.&lt;br /&gt;  8. Perbandingan berat dengan biji: mutu I &gt;2; mutu II &gt;1; mutu III=boleh &lt;&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-3498718305936184358?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/3498718305936184358/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=3498718305936184358' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/3498718305936184358'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/3498718305936184358'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/07/budidaya-durian.html' title='Budidaya Durian'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-5937073017877397022</id><published>2009-06-17T17:13:00.000+07:00</published><updated>2009-06-17T17:15:48.988+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Salak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;S A L A K&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Salacca edulis&lt;/span&gt; )&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;1. SEJARAH SINGKAT&lt;br /&gt;Tanaman salak merupakan salah satu tanaman buah yang disukai dan mempunyai prospek baik untuk diusahakan. Daerah asal nya tidak jelas, tetapi diduga dari Thailand, Malaysia dan Indonesia. Ada pula yang mengatakan bahwa tanaman salak (Salacca edulis) berasal dari Pulau Jawa. Pada masa penjajahan biji-biji salak dibawa oleh para saudagar hingga menyebar ke seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Filipina, Malaysia, Brunei dan Muangthai.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. JENIS TANAMAN&lt;br /&gt;Di dunia ini dikenal salak liar, seperti Salacca dransfieldiana JP Mo-gea; S. magnifera JP Mogea; S. minuta; S. multiflora dan S. romosiana. Selain salak liar itu, masih dikenal salak liar lainnya seperti Salacca rumphili Wallich ex. Blume yang juga disebut S. wallichiana, C. Martus yang disebut rakum/kumbar (populer di Thailand) sebagai pembuat masam segar pada masakan. Kumbar ini tidak berduri, bunganya berumah 2 (dioeciious). Salak termasuk famili: Palmae (palem-paleman),monokotil, daun-daunnya panjang dengan urat utama kuat seperti pada kelapa yang disebut lidi. Seluruh bagian daunnya berduri tajam Batangnya pendek, lamakelamaan meninggi sampai 3 m atau lebih, akhirnya roboh tidak mampu membawa beban mahkota daun terlalu berat (tidak sebanding dengan batangnya yang kecil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak varietas salak yang bisa tumbuh di Indonesi. Ada yang masih muda sudah terasa manis, Varietas unggul yang telah dilepas oleh pemerintah untuk dikembangkan ialah: salak pondoh, swaru, nglumut, enrekang, gula batu (Bali), dan lain-lain. Sebenarnya jenis salak yang ada di Indonesia ada 3 perbedaan yang menyolok, yakni: salak Jawa Salacca zalacca (Gaertner) Voss yang berbiji 2-3 butir, salak Bali Slacca amboinensis (Becc) Mogea yang berbiji 1- 2 butir, dan salak Padang Sidempuan Salacca sumatrana (Becc) yang berdaging merah. Jenis salak itu mempunyai nilai komersial yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. MANFAAT TANAMAN&lt;br /&gt;Buah salak hanya dimakan segar atau dibuat manisan dan asinan. Pada saat ini manisan salak dibuat beserta kulitnya, tanpa dikupas. Batangnya tidak dapat digunakan untuk bahan bangunan atau kayu bakar. Buah matang disajikan sebagai buah meja. Buah segar yang diperdagangkan biasanya masih dalam tandan atau telah dilepas (petilan). Buah salak yang dipetik pada bulan ke 4 atau ke 5 biasanya untuk dibuat manisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SENTRA PENANAMAN&lt;br /&gt;Tanaman salak banyak terdapat di DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I. Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, Maluku, Bali, NTB dan Kalimantan Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. SYARAT PETUMBUHAN&lt;br /&gt;5.1. Iklim&lt;br /&gt;1. Tanaman ssalak sesuai bila ditanam di daerah berzona iklim Aa bcd, Babc dan Cbc. A berarti jumlah bulan basah tinggi (11-12 bulan/tahun), B: 8-10 bulan/tahun dan C : 5-7 bulan/tahun.&lt;br /&gt;2. Salak akan tumbuh dengan baik di daerah dengan curah hujan rata-rata per tahun 200-400 mm/bulan. Curah hujan rata-rata bulanan lebih dari 100 mm sudah tergolong dalam bulan basah. Berarti salak membutuhkan tingkat kebasahan atau kelembaban yang tinggi.&lt;br /&gt;3. Tanaman salak tidak tahan terhadap sinar matahari penuh (100%), tetapi cukup 50-70%, karena itu diperlukan adanya tanaman peneduh.&lt;br /&gt;4. Suhu yang paling baik antara 20-30°C. Salak membutuhkan kelembaban tinggi, tetapi tidak tahan genangan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Tanah&lt;br /&gt;1. Tanaman salak menyukai tanah yang subur, gembur dan lembab.&lt;br /&gt;2. Derajat keasaman tanah (pH) yang cocok untuk budidaya salak adalah 4,5 - 7,5. Kebun salak tidak tahan dengan genangan air. Untuk pertumbuhannya membutuhkan kelembaban tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Tanaman salak tumbuh pada ketinggian tempat 100-500 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. PEDOMAN BUDIDAYA&lt;br /&gt;6.1. Pembibitan&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam mengusahakan tanaman salak adalah penggunaan bibit unggul dan bermutu. Tanaman salak merupakan tanaman tahunan, karena itu kesalahan dalam pemakaian bibit akan berakibat buruk dalam pengusahaannya, walaupun diberi perlakuan kultur teknis yang baik tidak akan memberikan hasil yang diinginkan, sehingga modal yang dikeluarkan tidak akan kembali karena adanya kerugian dalam usaha tani. Untuk menghindari masalah tersebut, perlu dilakukan cara pembibitan salak yang baik. Pembibitan salak dapat berasal dari biji (generatif) atau dari anakan (vegetatif).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembibitan secara generatif adalah pembibitan dengan menggunakan biji yang baik diperoleh dari pohon induk yang mempunyai sifat-sifat baik, yaitu: cepat berbuah, berbuah sepanjang tahun, hasil buah banyak dan seragam, pertumbuhan tanaman baik, tahan terhadap serangan hama dan penyakit serta pengaruh lingkungan yang kurang menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan perbanyakan bibit secara generatif:&lt;br /&gt;a) dapat dikerjakan dengan mudah dan murah&lt;br /&gt;b) diperoleh bibit yang banyak&lt;br /&gt;c) tanaman yang dihasilkan tumbuh lebih sehat dan hidup lebih lama&lt;br /&gt;d) untuk transportasi biji dan penyimpanan benih lebih mudah&lt;br /&gt;e) tanaman yang dihasilkan mempunyai perakaran kuat sehingga tahan rebah dan kekeringan&lt;br /&gt;f) memungkinkan diadakan perbaikan sifat dalam bentuk persilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekurangan perbanyakan secara generatif:&lt;br /&gt;a) kualitas buah yang dihasilkan tidak persis sama dengan pohon induk karena mungkin terjadi penyerbukan silang&lt;br /&gt;b) agak sulit diketahui apakah bibit yang dihasilkan jantan atau betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) Persyaratan Bibit&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan bibit yang baik harus dilakukan seleksi terhadap biji yang akan dijadikan benih. Syarat-syarat biji yang akan dijadikan benih :&lt;br /&gt;a) Biji berasal dari pohon induk yang memenuhi syarat.&lt;br /&gt;b) Buah yang akan diambil bijinya harus di petik pada waktu cukup umur.&lt;br /&gt;c) Mempunyai daya tumbuh minimal 85 %.&lt;br /&gt;d) Besar ukuran biji seragam dan tidak cacat.&lt;br /&gt;e) Biji sehat tidak terserang hama dan penyakit.&lt;br /&gt;f) Benih murni dan tidak tercampur dengan kotoran lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2)Penyiapan Bibit&lt;br /&gt;a) Bibit dari Biji:&lt;br /&gt;1. Biji salak dibersihkan dari sisa-sisa daging buah yang masih melekat.&lt;br /&gt;2. Rendam dalam air bersih selama 24 jam, kemudian dicuci.&lt;br /&gt;b) Bibit dari Anakan&lt;br /&gt;1. Pilih anakan yang baik dan berasal dari induk yang baik&lt;br /&gt;2. Siapkan potongan bambu, kemudian diisi dengan media tanah&lt;br /&gt;3) Teknik Penyemaian Bibit&lt;br /&gt;a) Bibit dari Biji&lt;br /&gt;1. Biji salak yang telah direndam dan dicuci, masukkan kedalam kantong plastik yang sudah dilubangi (karung goni basah), lalu diletakkan di tempat teduh dan lembab sampai kecambah berumur 20-30 hari&lt;br /&gt;2. Satu bulan kemudian diberi pupuk Urea, TSP dan KCl, masing-masing 5 gram, tiap 2-3 minggu sekali&lt;br /&gt;3. Agar kelembabannya terjaga, lakukan penyiraman setiap hari&lt;br /&gt;b) Bibit dari Anakan dengan pesemaian bak kayu:&lt;br /&gt;1. Buat bak kayu dengan ukuran tinggi 25 cm, lebar dan panjang disesuaikan dengan kebutuhan&lt;br /&gt;2. Diisi dengan tanah subur dan gembur setebal 15-20 cm&lt;br /&gt;3. Diatas tanah diiisi pasir setebal 5-10 cm&lt;br /&gt;4. Arah pesemaian Utara Selatan dan diberi naungan menghadap ke Timur&lt;br /&gt;5. Benih direndam dalam larutan hormon seperti Atonik selama 1 jam, konsentrasi larutan 0,01-0,02 cc/liter air&lt;br /&gt;6. Tanam biji pada bak pesemaian dengan jarak 10 x 10 cm&lt;br /&gt;7. Arah biji dibenamkan dengan posisi tegak, miring/rebah dengan mata tunas berada dibawah.&lt;br /&gt;Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;Untuk pembibitan dari biji, media pembibitan adalah polybag dengan ukuran 20 x 25 cm yang diisi dengan tanah campur pupuk kandang dengan perbandingan 2:1. Setelah bibit atau kecambah berumur 20-30 hari baru bibit dipindahkan ke polibag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembibitan dengan sistem anakan, bambu diletakkan tepat di bawah anakan salak, kemudian disiram setiap hari. Setelah 1 bulan akar telah tumbuh dan anakan dipisahkan dari induknya, kemudian ditanam dalam polybag. Pupuk Urea, TSP, KCl diberikan 1 bulan sekali sebanyak 1 sendok&lt;br /&gt;5) Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;Untuk bibit dari biji, setelah bibit salak berumur 4 bulan baru dipindahkan ke lahan pertanian. Untuk persemaian dari anakan, setelah 6 bulan bibit baru bisa dipindahkan ke lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengolahan Lahan&lt;br /&gt;1) Persiapan&lt;br /&gt;Penetapan areal untuk perkebunan salak harus memperhatikan faktor kemudahan transportasi dan sumber air.&lt;br /&gt;2) Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;a) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.&lt;br /&gt;b) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;1) Pembuatan Lubang Taman&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 1 x 4 m; 2 x 2 m atau 1,5 x 2,5 m. Ukuran lubang dapat juga dibuat 50 x 50 x 40 cm, dengan jarak antar 2 x 4 m atau 3 x 4 m. Setiap lubang diberi pupuk kandang yang telah jadi sebanyak 10 kg.&lt;br /&gt;2) Cara Penanaman&lt;br /&gt;Biji ditanam langsung dalam lubang sebanyak 3- 4 biji per lubang. Sebulan kemudian biji mulai tumbuh&lt;br /&gt;3) Lain-lain&lt;br /&gt;Untuk menghindari sinar matahari penuh, tanaman salak ditanam di bawah tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya. Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh disesuaikan menurut ukuran luas tajuk misalnya kelapa ditanam dengan jarak 10 x 10 m, durian 12 x 12 m dan lamtoro 12 x 12 m.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;Untuk menghindari sinar matahari penuh, tanaman salak ditanam di bawah tanaman peneduh seperti tanaman kelapa, durian, lamptoro dan sebagainya. Apabila lahan masih belum ada tanaman peneduh, dapat ditanam tanaman peneduh sementara seperti tanaman pisang. Jarak tanam pohon peneduh disesuaikan menurut ukuran luas tajuk misalnya kelapa ditanam dengan jarak 10 x 10 m, durian 12 x 12 m dan lamtoro 12 x 12 m.&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;Untuk memperoleh buah yang berukuran besar, maka bila tandan sudah mulai rapat perlu dilakukan penjarangan. Biasanya penjarangan dilakukan pada bulan ke 4 atau ke 5.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyulaman dilakukan pada tanaman muda atau yang baru ditanam, tetapi mati atau pertumbuhannya kurang bagus atau kerdil, atau misalnya terlalu banyak tanaman betinanya. Untuk keperluan penyulaman kita perlu tanaman cadangan (biasanya perlu disediakan 10%) dari jumlah keseluruhan, yang seumur dengan tanaman lainnya. Awal musim hujan sangat tepat untuk melakukan penyulaman. Tanaman cadangan dipindahkan dengan cara putaran, yaitu mengikutsertakan sebagian tanah yang menutupi daerah perakarannya. Sewaktu membongkar tanaman, bagian pangkal serta tanahnya kita bungkus dengan plastik agar aka-akar di bagian dalam terlindung dari kerusakan, dilakukan dengan hati-hati.&lt;br /&gt;2. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan adalah membuang dan memebersihan rumput-rumput atau tanaman pengganggu lainnya yang tumbuh di kebun salak. Tanaman pengganggu yang lazim di sebut gulma ini bila tidak diberantas akan menjadi pesaing bagi tanaman salak dalam memperebutkan unsur hara dan air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan setelah bibit ditanam, penyiangan berikutnya dilakukan tiap 3 bulan sekali sampai tanaman berumur setahun. Setelah itu penyiangan cukup dilakukan setiap 6 bulan sekali atau 2 kali dalam satu tahun, dilakukan pada awal dan akhir musim penghujan.&lt;br /&gt;3. Pembubunan&lt;br /&gt;Sambil melakukan penyiangan, dilakukan pula penggemburan dan pembumbunan tanah ke pokok tanaman salak. Hal ini dilakukan untuk menghemat ongkos kerja juga untuk efisiensi perawatan. Tanah yang digemburkan dicangkul membentuk gundukan atau bumbunan yang berfungsi untuk menguatkan akar dan batang tanaman salak pada tempatnya. Bumbunan jangan sampai merusak parit yang ada.&lt;br /&gt;4. Perempalan/Pemangkasan&lt;br /&gt;Daun-daun yang sudah tua dan tidak bermanfaat harus dipangkas. Juga daun yang terlalu rimbun atau rusak diserang hama. Tunas-tunas yang terlalu banyak harus dijarangkan, terutama mendekati saat-saat tanaman berbuah (perempalan). Dengan pemangkasan, rumpun tanaman salak tidak terlalu rimbun sehingga kebun yang lembab serta pengap akibat sirkulasi udara yang kurang lancar diperbaiki. Pemangkasan juga membantu penyebaran makanan agar tidak hanya ke daun atau bagian vegetatif saja, melainkan juga ke bunga, buah atau bagian generatif secara seimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan dilakukan setiap 2 bulan sekali, tetapi pada saat mendekati masa berbunga atau berbuah pemangkasan kita lakukan lebih sering, yaitu 1 bulan 1 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila dalam rumpun salak terdapat beberapa anakan, lakukanlah pengurangan anakan menjelang tanaman berbuah. Satu rumpun salak cukup kita sisakan 1 atau 2 anakan. Jumlah anakan maksimal 3-4 buah pada 1 rumpun. Bila lebih dari itu anakan akan mengganggu produktivitas tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan daun salak sebaiknya sampai pada pangkal pelepahnya. Jangan hanya memotong setengah atau sebagian daun, sebab bagian yang disisakan sebenarnya sudah tidak ada gunanya bagi tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemangkasan pada saat lewat panen harus tetap dilakuakan. Alat pangkas sebaiknya menggunakan golok atau gergaji yang tajam. Pemangkasan yang dilaksanakan pada waktu dan cara yang tepat akan membantu tanaman tumbuh baik dan optimal.&lt;br /&gt;5. Pemupukan&lt;br /&gt;Semua bahan yang diberikan pada tanaman dengan tujuan memberi tambahan unsur hara untuk memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman disebut pupuk. Ada pupuk yang diberikan melalui daerah perakaran tanaman (pupuk akar). Pupuk yang diberikan dengan cara penyemprotan lewat daun tanaman (pupuk daun). Jenis pupuk ada 2 macam: pupuk organik dan anorganik. Pupuk organik adalah pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, abu tanaman, tepung darah dan sebagainya. Pupuk anorganik adalah: Ure, TSP, Kcl, ZA, NPK Hidrasil, Gandasil, Super Fosfat, Bay folan, Green Zit, dan sebagainya. Pupuk organik yang sering diberikan ke tanaman salak adalah pupuk kandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur tanaman :&lt;br /&gt;a) 0-12 bulan (1 x sebulan): Pupuk kandang 1000, Urea 5 gram, TSP 5 gram, KCl 5 gram.&lt;br /&gt;b) 12-24 bulan (1 x 2 bulan): Urea 10 gram, TSP 10 gram, KCl 10 gram.&lt;br /&gt;c) 24-36 bulan (1 x 3 bulan): Urea 15 gram, TSP 15 gram, KCl 15 gram.&lt;br /&gt;d) 36–dst (1 x 6 bulan): Urea 20 gram, TSP 20 gram, KCl 20 gram.&lt;br /&gt;6. Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;Air hujan adalah siraman alami bagi tanaman, tetapi sulit untuk mengatur air hujan agar sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Air hujan sebagian besar akan hilang lewat penguapan, perkolasi dan aliran permukaan. Sebagian kecil saja yang tertahan di daerah perakaran, air yang tersisa ini sering tidak memenuhi kebutuhan tanaman. Dalam budidaya salak, selama pertumbuhan, kebutuhan akan air harus tercukupi, untuk itu kita perlu memberi air dengan waktu, cara dan jumlah yang sesuai.&lt;br /&gt;7. Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;Setelah ditanam di kebun kita buatkan penopang dari bambu atau kayu untuk menjaga agar tanaman tidak roboh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. HAMA DAN PENYAKIT&lt;br /&gt;7.1. Hama&lt;br /&gt;1. Kutu wol /putih (Cerataphis sp.)&lt;br /&gt;Hama ini bersembunyi di sela-sela buah.&lt;br /&gt;2. Kumbang penggerek tunas (Omotemnus sp..)&lt;br /&gt;3. Kumbang penggerek batang&lt;br /&gt;Menyerang ujung daun yang masih muda (paling muda), kemudian akan masuk ke dalam batang. Hal ini tidak menyebabkan kematian tanaman, tetapi akan tumbuh anakan yang banyak di dalam batang tersebut.&lt;br /&gt;Pengendalian: dimatikan atau dengan cara meneteskan larutan insektisida (Diazenon) dengan dosis 2 cc per liter pada ujung daun yang terserang atau dengan cara menyemprot. Dalam hal ini diusahakan insektisida dapat masuk ke dalam bekas lubang yang digerek.&lt;br /&gt;Memasukkan kawat yang ujungnya lancip ke dalam lubang yang dibuat kumbang hingga mengenai hama.&lt;br /&gt;4. Babi hutan, tupai, tikus dan luwak&lt;br /&gt;Pengendalian: (1) untuk memberantas babi hutan, dilaksanakan dengan penembakan khusus, atau memagari kebun salak dengan salak-salak jantan yang rapat. Akan lebih baik lagi kalau memagari kebun salak dengan kawat berduri; (2) untuk memberantas Tikus, digunakan Zink phosphit, klerat dan lainlain; (3) untuk memberantas Luwak dan Tupai, dapat digunakan umpan buah pisang yang dimasuki Furadan 3 G. Caranya: buah pisang dibelah, kurang lebih 0,5 gram Furadan dimasukkan ke dalamnya, kemudian buah pisang tersebut dijahit dan dijadikan umpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.2. Penyakit&lt;br /&gt;1. Penyakit yang sering menyerang salak adalah sebangsa cendawan putih,&lt;br /&gt;Gejala: busuknya buah. Buah yang terserang penyakit ini kualitasnya jadi menurun, karena warna kulit salak jadi tidak menarik.&lt;br /&gt;Pengendalian: mengurangi kelembaban tanah, yaitu mengurangi pohon-pohon pelindung.&lt;br /&gt;2. Noda hitam&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Pestalotia sp.&lt;br /&gt;Gejala: adanya bercak-bercakhitam pada daun salak.&lt;br /&gt;3. Busuk merah (pink)&lt;br /&gt;Penyebab:cendawan Corticium salmonicolor.&lt;br /&gt;Gejala:adanya pembusukan pada buah dan batang.&lt;br /&gt;Pengendalian: tanaman yang sakit dan daun yang terserang harus dipotong dan dibakar di tempat tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7.3. Gulma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di beberapa tempat di Pulau Jawa, lahan salak dibangun di bekas persawahan. Sehingga otomatis gulma yang merajai kebun adalah gulma-gulma yang biasa terdapat di sawah. Karena lahan sawah yang biasa tergenang air dikeringkan dan dibumbun tanahnya maka gulma yang mampu bertahan adalah gulma berdaun sempit dan tumbuh menjalar yang sedikit sekali terdapat di sawah. Gulma yang berbatang kurus tegak, berdaun panjang yang umumnya di persawahan kurang mampu bertahan. Itulah sebabnya mengapa gulma di lahan bekas persawahan relatif lebih sedikit. Pengendalian secara manual dengan dikored atau dicangkul pun sudah memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberantasan gulma secara kimia di kebun-kebun salak belum lazim dilaksanakan. Untuk lahan yang tidak seberapa luas, para petani masih menggunakan cara manual (mencabuti rumput-rumputan dengan tangan, dikored atau dicangkul). Bila lahan salak cukup luas, serta baru dibuka, gulma yang terdapat tentu banyak sekali dan sulit diberantas hanya dengan cara manual. Untuk situasi seperti ini perlu menggunakan herbisida, sebab biaya tenaga kerja relatif murah dan hasilnya lebih cepat. Reaksi bahan kimia dalam membunuh tanaman liar juga sangat cepat. Herbisida memiliki pengruh negatif, sebab racun yang dikandungnya dapat membahayakan mahluk hidup lain termasuk ternak dan manusia. Herbisida yang akan digunakan perlu sesuai dengan jenis gulma yang akan diberantas. Pilihan yang kurang tepat akan memboroskan biaya. Gulma dari golongan rumput-rumputan dapat dibasmi dengan herbisida Gramoxone, Gesapas, Basta atau Diuron. Dari golongan teki-tekian dapat diberantas dengan Goal. Alang-alang dapat dibasmi dengan Round-up atau Sun-up. Sedangkan tanaman yang berdaun lebar dapat diatasi dengan Fernimine. Ada juga herbisida yang dapat memberantas beberapa jenis gulma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. P A N E N&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mutu buah salak yang baik diperoleh bila pemanenan dilakukan pada tingkat kemasakan yang baik. Buah salak yang belum masak, bila dipungut akan terasa sepet dan tidak manis. Maka pemanenan dilakukan dengancara petik pilih, disinilah letak kesukarannya. Jadi kita harus benar-benar tahu buah salak yang sudah tua tetapi belum masak.&lt;br /&gt;8.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;PBuah salak dapat dipanen setelah matang benar di pohon, biasanya berumur 6 bulan setelah bunga mekar (anthesis). Hal ditandai oleh sisik yang telah jarang, warna kulit buah merah kehitaman atau kuning tua, dan bulu-bulunya telah hilang. Ujung kulit buah (bagian buah yang meruncing) terasa lunak bila ditekan. Tanda buah yang sudah tua, menurut sumber lain adalah: warnanya mengkilat (klimis), bila dipetik mudah terlepas dari tangkai buah dan beraroma salak.&lt;br /&gt;8.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Cara memanen: karena buah salak masaknya tidak serempak, maka dilakukan petik pilih. Yang perlu diperhatikan dalam pemetikan apakah buah salak tersebut akan disimpan lama atau segera dimakan. Bila akan disimpan lama pemetikan dilakukan pada saat buah salak tua (Jawa: gemadung), jadi jangan terlalu tua dipohon. Buah salak yang masir tidak tahan lama disimpan. Pemanenan buah dilakukan dengan cara memotong tangkai tandannya.&lt;br /&gt;8.3. Periode Panen&lt;br /&gt;Tanaman salak dalam masa panennya terdapat 4 musim:&lt;br /&gt;1) Panen raya pada bulan Nopember, Desember dan Januari&lt;br /&gt;2) Panen sedang pada bulan Mei, Juni dan Juli&lt;br /&gt;3) Panen kecil pada bulan-bulan Pebruari, Maret dan April.&lt;br /&gt;4) Masa kosong/istirahat pada bulan-bulan Agustus, September dan Oktober. Bila pada bulan-bulan ini ada buah salak maka dinamakan buah slandren. Menurut sumber lain panen besar buah salak adalah antara bulan Oktober - Januari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8.3. Perkiraan Produksi&lt;br /&gt;Dalam budidaya tanaman salak, hasil yang dapat dicapai dalam satu musim tanam adalah 15 ton per hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. PASCA PANEN&lt;br /&gt;Seperti buah-buahan lainnya, buah salak mudah rusak dan tidak tahan lama. Kerusakan ditandai dengan bau busuk dan daging buah menjadi lembek serta berwarna kecoklat-coklatan. Setelah dipetik buah salak masih meneruskan proses hidupnya berupa proses fisiologi (perubahan warna, pernafasan, proses biokimia dan perombakan fungsional dengan adanya pembusukan oleh jasad renik). Sehingga buah salak tidak dapat disimpan lama dalam keadaan segar, maka diperlukan penanganan pascapanen.&lt;br /&gt;9.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Gudang pengumpulan berfungsi sebagai tempat penerima buah salak yang berasal dari petani atau kebun. Dalam gudang pengumpulan ini dilakukan: sortasi, grading dan pengemasan.&lt;br /&gt;9.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;Sortasi/pemilihan bertujuan untuk memilih buah yang baik, tidak cacat, dan layak ekspor. uga bertujuan untuk membersihkan buah-buah dari berbagai bahan yang tidak berguna seperti tangkai, ranting dan kotoran. Bahan-bahan tersebut dipotong dengan pisau, sabit, gunting pangkas tajam tidak berkarat sehinga tidak menimbulkan kerusakan pada buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grading/penggolongan bertujuan untuk:&lt;br /&gt;a) mendapat hasil buah yang seragam (ukuran dan kualitas)&lt;br /&gt;b) mempermudah penyusunan dalam wadah/peti/alat kemas&lt;br /&gt;c) mendapatkan harga yang lebih tinggi&lt;br /&gt;d) merangsang minat untuk membeli&lt;br /&gt;e) agar perhitungannya lebih mudah&lt;br /&gt;f) untuk menaksir pendapatan sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggolongan ini dapat berdasarkan pada : berat, besar, bentuk, rupa, warna, corak, bebas dari penyakit dan ada tidaknya cacat/luka. Semua itu dimasukkan kedalam kelas dan golongan sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;a) Salak mutu AA (betul-betul super, kekuningan, 1kg= 12 buah)&lt;br /&gt;b) Salak mutu AB (tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil, dan sehat)&lt;br /&gt;c) Salak mutu C (untuk manisan, 1kg = 25 - 30 buah)&lt;br /&gt;d) Salak mutu BS (busuk atau 1/2 pecah), tidak dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9.3. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Tujuan pengemasan adalah untuk melindungi buah salak dari kerusakan, mempermudah dalam penyusunan, baik dalam pengangkutan maupun dalam gudang penyimpanan dan untuk mempermudah perhitungan. Ada pengemasan untuk buah segar dan untuk manisan salak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemasan untuk buah segar:&lt;br /&gt;a) alat pengemas harus berlubang&lt;br /&gt;b) harus kuat, agar buah salak terlindung tekanan dari luar&lt;br /&gt;c) dapat diangkut dengan mudah&lt;br /&gt;d) ukuran pengemas harus disesuaikan dengan jumlah buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemasan untuk manisan salak: dikemas dalam kaleng yang ditutup rapat yang telah dipastursasi sehingga semua mikroba seperti jamur, ragi, bakteri dan enzim dapat mati dan tidak akan menimbulkan proses pembusukan. Untuk manisan yang dikeringkan, umumnya dikemas dalam plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengangkutan merupakan mata rantai penting dalam penanganan, penyimpanan dan distribusi buah-buahan. Syarat-syarat pengangkutan untuk buah-buahan:&lt;br /&gt;a) Pengangkutan harus dilakukan dengan cepat dan tepat.&lt;br /&gt;b) Pengemasan dan kondisi pengangkutan yang tepat untuk menjamin terjaganya mutu yang tinggi.&lt;br /&gt;c) Harapan adanya keuntungan yang cukup dengan menggunakan fasilitas pengangkutan yang memadai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;10.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan salak.&lt;br /&gt;10.2. Diskripsi&lt;br /&gt;Salak adalah buah dari tanamn salak (Salacca adulia Reinw) dalam keadaan cukup tua, utuh, segar dan bersih. Standar mutu salak di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-3167-1992.&lt;br /&gt;10.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;Jenis mutu salak dalam tiga ukuran, yaitu ukuran besar, sedang dan kecil. Berdasarkan berat, masing-masing digolongkan menjadi dua jenis mutu yaitu Mutu I dan Mutu II, ukuran besar, berat 61 gram atau lebih per buah, ukuran sedang, berat 33 – 60 gram per buah dan ukuran kecil, berat 32 gram atau kurang per buah.&lt;br /&gt;a) Tingkat Ketuaan: mutu I seragam tua, mutu II tidak terlalu matang, cara uji organoleptik&lt;br /&gt;b) Kekerasan: mutu I keras, mutu II keras, cara uji organoleptik&lt;br /&gt;c) Kerusakan Kulit Buah: mutu I kulit buah utuh, mutu II utuh , cara uji Organoleptik&lt;br /&gt;d) Ukuran: mutu I seragam, mutu II seragam, cara uji SP-SMP-310-1981&lt;br /&gt;e) Busuk (bobot/bobot) : mutu I 1%, mutu II 1 %, cara uji SP-SMP-311-1981&lt;br /&gt;f) Kotoran: mutu I bebas, mutu II bebas, cara uji organoleptik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;1) Salak Dalam Kemasan&lt;br /&gt;Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat d bawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 2 kg dari bagian atas,tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 2 kg untuk dianalisa.&lt;br /&gt;1. Jumlah kemasan dalam partai (lot): s/d100, contoh yang diambil 5.&lt;br /&gt;2. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 101-300 contoh yang diambil 7.&lt;br /&gt;3. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 301-500 contoh yang diambil 9.&lt;br /&gt;4. Jumlah kemasan dalam partai (lot): 501-1000 contoh yang diambil 10.&lt;br /&gt;5. Jumlah kemasan dalam partai (lot) &gt;1000 contoh yang diambil min 15.&lt;br /&gt;2) Salak dalam Curah (in bulk)&lt;br /&gt;Contoh diambil secara acak sesuai dengqan jumlah berat total seperti terlihat di bawah ini. Contoh-contoh tersebut yang diambil bagian atas, tengah, bawah serta berbagai sudut dicampur, kemudian diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 2 kg untuk dianalisa.&lt;br /&gt;1. Jumlah berat lot (kg): &lt;&gt; 5.000, contoh yang diambil min. 100.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.5 Pengemasan&lt;br /&gt;Salak dikemas dalam besek, keranjang bambu, peti kayu ataupun kemasan lain yang sesuai dengan berat bersih maksimum 40 kg. Daun kering, kertas atau bahan lain dapat dipakai sebagai penyekat. Isi dari kemasan tidak melebihi tutupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibagian luar keranjang/kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain :&lt;br /&gt;a) Nama barang&lt;br /&gt;b) Jenis mutu&lt;br /&gt;c) Nama/kode perusahaan/eksportir&lt;br /&gt;d) Golongan ukuran&lt;br /&gt;e) Berat bersih&lt;br /&gt;f) Produksi Indonesia&lt;br /&gt;g) Negara/tempat tujuan&lt;br /&gt;h) Daerah asal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;1. Balai Informasi Pertanian. (1992). Budidaya Tanaman Salak. LIPTAN Lembar Informasi Pertanian. Palangkaraya-Kalimantan Tengah. Nopember.&lt;br /&gt;2. Balai Informasi Pertanian (1994-1995). Pembibitan Tanaman Salak. LIPTAN. Lembar Informasi Pertanian. Sumatera Barat.&lt;br /&gt;3. Departemen Pertanian. (1995). Salak Pondoh. Proyek Informasi Pertanian. Daerah Istimewa Yogyakarta.&lt;br /&gt;4. Sunarjono, Hendro. (1998). Prospek Berkebun Buah. Jakarta, Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;5. Tim Penulis Penebar Swadaya. (1998). 18 Varietas Salak: Budidaya, Prospek Bisnis, Pemasaran. Jakarta, Penebar Swadaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-5937073017877397022?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/5937073017877397022/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=5937073017877397022' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5937073017877397022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5937073017877397022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-salak.html' title='Budidaya Salak'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-2043101047592284489</id><published>2009-06-10T14:29:00.002+07:00</published><updated>2009-06-15T21:24:04.570+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Kembang Kol</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kembang Kol / Blum Kol&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brassica oleracea&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;var. botrytis&lt;/span&gt; L. subvar. cauliflora DC)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;Kol bunga putih merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae (jenis kol dengan bunga putih kecil) berupa tumbuhan berbatang lunak. Masyarakat di Indonesia menyebut kubis bunga sebagai kol kembang atau blumkol (berasal dari bahasa Belanda Bloemkool). Tanaman ini berasal dari Eropa subtropis di daerah Mediterania. Kubis bunga yang berwarna putih dengan massa bunga yang kompak seperti yang ditemukaan saat ini dikembangkan tahun 1866 oleh Mc.Mohan ahli benih dari Amerika. Diduga kubis bunga masuk ke Indonesia dari India pada abad ke XIX.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;Walaupun tanaman ini adalah tanaman dataran tinggi triopka dan wilayah dengan lintang lebih tinggi, beberapa kultivar dapat membentuk bunga di dataran rendah sekitar khatulisiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah dataran tinggi (pegunungan) adalah pusat budidaya kubis bunga. Pusat Produksi tanaman ini terletak di Jawa Barat yaitu di Lembang, Cisarua, Cibodas. Tetapi saat ini kubis bunga mulai ditanam di sentra-sentra sayuran lainnya seperti Bukit Tinggi (Sumatera Barat), Pangalengan, Maja dan Garut (Jawa Barat), Kopeng (Jawa Tengah) dan Bedugul (Bali). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;Klasifikasi botani tanaman kubis bunga adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Divisi : Spermatophyta&lt;br /&gt;b) Sub divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;c) Kelas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;d) Keluarga : Cruciferae&lt;br /&gt;e) Genus : Brassica&lt;br /&gt;f) Spesies : Brassica oleracea var. botrytis L.&lt;br /&gt;g) Sub var : cauliflora DC&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brassica oleracea varitas botrytis terdiri atas 2 subvaritas yaitu cauliflora DC. yang kita kenal sebagai kubis bunga putih dan cymosa Lamn. yang berbunga hijau dan terkenal sebagai brokoli. Penentuan kultivar berdasarkan ukuran, kemampatan dan warna massa bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultivar lokal adalah kultivar Cirateun yang banyak ditanam di Lembang, sedangkan kultivar introduksi adalah kultivar Farmers Early No 2 (umur panen 63 hari) dan Fengshan Extra Early (umur panen 59 hari) asal Taiwan untuk dataran rendah sampai medium, Snown Crown asal Jepang untuk dataran menengah dan dataran tinggi serta Tropical Early asal jepang untuk dataran rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;Walaupun biasanya hanya bagian massa bunga yang dimanfaatkan sebagai sayuran yang mengandung mineral cukup lengkap, daun tanaman ini bisa dimakan dan rasanya manis tanpa ada rasa pahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Kubis bunga merupakan tanaman sayuran yang berasal dari daerah sub tropis. Di tempat itu kisaran temperatur untuk pertumbuhan kubis bunga yaitu minimum 15.5-18 derajat C dan maksimum 24 derajat C&lt;br /&gt; 2. Kelembaban optimum bagi tanaman blumkol antara 80-90%.&lt;br /&gt; 3. Dengan diciptakannya kultivar baru yang lebih tahan terhadap temperatur tinggi, budidaya tanaman kubis bunga juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-200 m dpl) dan menengah (200-700 m dpl). Di dataran rendah, temperatur malam yang terlalu rendah menyebabkan terjadinya sedikit penundaan dalam pembentukan bunga dan umur panen yang lebih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Tanah lempung berpasir lebih baik untuk budidaya kubis bunga daripada tanah berliat. Tetapi tanaman ini toleran pada tanah berpasir atau liat berpasir.&lt;br /&gt; 2. Kemasaman tanah yang baik antara 5,5-6,5 dengan pengairan dan drainase yang memadai.&lt;br /&gt; 3. Tanah harus subur, gembur dan mengandung banyak bahan organik. Tanah tidak boleh kekurangan magnesium (Mg), molibdenum (Mo) dan Boron (Bo) kacuali jika ketiga unsur hara mikro tersebut ditambahkan dari pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Di Indonesia, sebenarnya kubis bunga hanya cocok dibudidayakan di daerah pegunungan berudara sejuk sampai dingin pada ketinggian 1.000-2.000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1. Persyaratan Benih&lt;br /&gt;Benih yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Benih utuh, artinya tidak luka atau tidak cacat.&lt;br /&gt;b) Benih harus bebas hama dan penyakit.&lt;br /&gt;c) Benih harus murni, artinya tidak tercampur dengan biji-biji atau benih lain serta bersih dari kotoran.&lt;br /&gt;d) Benih diambil dari jenis yang unggul atau stek yang sehat.&lt;br /&gt;e) Mempunyai daya kecambah 80% sehingga untuk satu hektar kebun diperlukan 100-250 gram tergantung pada ukuran benih&lt;br /&gt;f) Benih yang baik akan tenggelam bila direndam dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Penyiapan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiapan benih dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan benih dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Cara-cara penyiapan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Sterilisasi benih, dengan merendam benih dalam larutan fungisida dengan dosis yang dianjurkan atau dengan merendam benih dalam air panas 55 derajat C selama 15-30 menit.&lt;br /&gt; 2. Penyeleksian benih, dengan merendam biji dalam air, dimana benih yang baik akan tenggelam.&lt;br /&gt; 3. Rendam benih selama ± 12 jam atau sampai benih terlihat pecah agar benih cepat berkecambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih harus disemai dan dibumbun sebelum dipindahtanam ke lapangan. Penyemaian dapat dilakukan di bedengan atau langsung di bumbung (koker). Bumbung dapat dibuat dari daun pisang, kertas makanan berplastik atau polybag kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3. Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi persemaian antara lain: (1) tanah tidak mengandung hama dan penyakit atau faktor-faktor lain yang merugikan; (2) lokasi mendapat penyinaran cahaya matahari cukup; dan (3) dekat dengan sumber air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyemaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Penyemaian di bedengan&lt;br /&gt;    Sebelum bedengan dibuat, lahan diolah sedalam 30 cm lalu dibuat bedengan selebar 110-120 cm memanjang dari arah utara ke selatan. Tambahkan ayakan pupuk kandang halus dan campurkan dengan tanah dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Bedengan dinaungi dengan naungan plastik, jerami atau daun-daunan setinggi 1,25-1,50 m di sisi timur dan 0,8-1,0 m di sisi Barat. Penyemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disebar merata di atas bedengan atau disebar di dalam barisan sedalam 0,2-1,0 cm. Cara pertama memerlukan benih yang lebih sedikit daripada cara kedua. Sekitar 2 minggu setelah semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbung. Bumbung dapat dibuat dari daun pisang atau kertas berplastik dengan ukuran diameter 4-5 cm dan tinggi 5 cm atau berupa polibag 7x10 cm yang memiliki dua lubang kecil di kedua sisi bagian bawahnya. Bumbung diisi media campuran ayakan pupuk kandang matang dan tanah halus dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Keuntungannya adalah hemat waktu, permukaan petak semaian sempit dan jumlah benih persatuan luas banyak. Sedangkan kelemahannya adalah penggunaan benih banyak, penyiangan gulma sukar, memerlukan tenaga kerja terampil terutama saat pemindahan bibit ke lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Penyemaian di bumbung (koker atau polybag)&lt;br /&gt;    Dengan cara ini, satu per satu benih dimasukkan ke dalam bumbung yang dibuat dengan cara seperti di atas. Bumbung dapat terbuat dari daun pisang atau daun kelapa dengan ukuran diameter dan tinggi 5 cm atau dengan polybag kecil yang berukuran 7-8 cm x 10 cm. Media penyemaian adalah campuran tanah halus dengan pupuk kandang (2:1) sebanyak 90%. Sebaiknya media semai disterilkan dahulu dengan mengkukus media semai pada suhu udara 55-100 derajat C selama 30-60 menit atau dengan menyiramkan larutan formalin 4%, ditutup lembar plastik (24 jam), lalu diangin-anginkan. Cara lain dengan mencampurkan media semai dengan zat fumigan Basamid-G (40-60 gram/m2) sedalam 10-15 cm, disiram air sampai basah dan ditutup dengan lembaran plastik (5 hari), lalu plastik dibuka, dan lahan diangin-anginkan (10-15 hari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Kombinasi cara a) dan b).&lt;br /&gt;    Pertama benih disebar di petak persemain, setelah berumur 4-5 hari (berdaun 3-4 helai), dipindahkan ke dalam bumbung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Penanaman langsung.&lt;br /&gt;    Yaitu dengan menanam benih langsung ke lahan. Kelebihannya adalah waktu, biaya dan tenaga lebih hemat, tetapi kelemahannya adalah perawatan yang lebih intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan persemaian dapat diganti dengan kotak persemaian dan dilakukan dengan cara sebagai berikut: (1) buat medium terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1); (2) buat kotak persemaian kayu (50-60 cm x 30-40 cm x 15-20 cm) dan lubangi dasar kotak untuk drainase;(3) masukkan medium kedalam kotak dengan tebalan 10-15 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari tergantung cuaca.&lt;br /&gt; 2. Pengatur naungan persemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan sore mulai pukul 15.00. Diluar waktu diatas, cahaya matahari terlalu panas dan kurang menguntungkan bagi bibit.&lt;br /&gt; 3. Penyiangan dilakukan terhadap tanaman lain yang dianggap mengganggu pertumbuhan bibit, dilakukan dengan mencabuti rumput-rumput/gulma lainnya yang tumbuh disela-sela tanaman pokok.&lt;br /&gt; 4. Dilakukan pemupukan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gram/liter dan penyemprotan pestisida 1/2 dosis jika diperlukan.&lt;br /&gt; 5. Hama yang menyerang biji yang belum tumbuh dan tanaman muda adalah semut, siput, bekicot, ulat tritip, ulat pucuk, molusca dan cendawan. Sedangkan, penyakit adalah penyakit layu. Pencegahan dan pemberantasan digunakan Insektisida dan fungisida seperti Furadan 3 G, Antrocol, Dithane, Hostathion dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.5. Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;Bibit dipindahtanam ke lapangan setelah memiliki 3-4 helai daun atau kira-kira berumur 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1. Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Lahan dibersihkan dari tanaman liar dan sisa-sisa akar, dicangkul sedalam 40-50 cm, lalu dibuat bedengan selebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dengan jarak antar bedengan 40 cm. Pada lahan miring perlu dibuat parit di antara bedengan tetapi jika lahan datar, parit ini tidak perlu dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Pengapuran&lt;br /&gt;Pengapuran hanya dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dosis kapur yang sesuai dengan nilai pH tanah tetapi umumnya berkisar antara 1-2 ton/ha dalam bentuk kalsit atau dolomit. Kapur dicampurkan merata dengan tanah pada saat pembuatan bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Pemupukan&lt;br /&gt;Pada saat pembuatan bedengan berlangsung, campurkan 12,5-17,5 ton/ha pupuk kandang matang ditambahkan dengan asumsi populasi tanaman per hektar antara 25.000-35.000. Selain itu juga diberikan pupuk dasar berupa ZA, urea, SP-36 dan KCl dengan dosis masing-masing 250 kg disebar merata dan dicampur dengan tanah di bedengan. Setelah itu lubang tanam dibuat dengan menggunakan cangkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;Jarak tanam kubis bunga adalah 50 x 50 cm untuk kultivar yang tajuknya melebar dan 45 x 65 cm untuk kultivar tegak. Waktu tanam terbaik di pagi hari antara jam 06.00-09.00 atau sore hari antara jam 03.00-05.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2. Cara Penanaman&lt;br /&gt;Bibit di dalam bumbung daun pisang ditanam langsung tanpa membuang bumbungnya. Jika digunakan bumbung kertas berplastik atau polibag, bibit dikeluarkan dengan cara membalikkan bumbung dan mengeluarkan bibit dengan hati-hati tanpa merusak akar. Satu bibit di tanam di dalam lubang tanam dan segera disiram sampai tanah menjadi basah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1. Penyulaman&lt;br /&gt;Jika ada tanaman yang rusak atau mati, penyulaman dapat dilakukan sampai sebelum tanaman berumur kira-kira 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan yang bersamaan dengan penggemburan dilakukan bersama-sama dengan pemupukan susulan yaitu pada 7-10 hari setelah tanam (hst), 20 hst dan 30-35 hst. Penyiangan dan penggemburan harus dilaksanakan dengan hati-hati dan jangan terlalu dalam agar tidak merusak akar kubis bunga yang dangkal. Pada akhir pertumbuhan vegetatif (memasuki masa berbunga) penyiangan dihentikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3. Perempalan&lt;br /&gt;Perempelan tunas cabang dilakukan seawal mungkin supaya ukuran dan kualitas massa bunga yang terbentuk optimal. Segera setelah terbentuk massa bunga, daun-daun tua diikat sedemikian rupa sehingga massa bunga ternaungi dari cahaya matahari. Penutupan ini berfungsi untuk mempertahankan warna bunga supaya tetap putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.4. Pemupukan&lt;br /&gt;Selama masa pertumbuhan tanaman diberi pupuk susulan sebanyak 3 kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Pupuk susulan I diberikan 7-10 hst terdiri atas ZA 150 kg/ha, Urea 75 kg/ha, SP-36 150 kg/ha dan KCl 75 kg/ha di sekeliling tanaman sejauh 10-15 cm dari batangnya lalu ditimbun tanah.&lt;br /&gt; 2. Pupuk susulan II diberikan 20 hst terdiri atas ZA 150 kg/ha, Urea 75 kg/ha, SP-36 75 kg/ha dan KCl 150 kg/ha di larikan sejauh 20 cm dari batangnya lalu ditimbun tanah.&lt;br /&gt; 3. Pupuk susulan III diberikan 30-35 hst terdiri atas ZA 150 kg/ha, Urea 100 kg/ha, dan KCl 150 kg/ha di larikan sejauh 25 cm dari batangnya lalu ditimbun tanah. Bersamaan dengan pupuk susulan III tanaman disemprot dengan pupuk daun dengan N dan K tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengairan dilakukan secara rutin di pagi atau sore hari. Pada musim kemarau penyiraman dilakukan 1-2 kali sehari terutama pada saat tanaman berada pada fase pertumbuhan awal dan pembentukan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Ulat Plutella (Plutella xylostella L.)&lt;br /&gt;    Ulat yang berwarna hijau ini memakan permukaan daun bagian bawah dengan meninggalkan tulang-tulang daun sehinggn daun berlubang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Ulat Croci (Crocidolomia binotalis Zeller)&lt;br /&gt;    Ulat berwarna hijau bergaris punggung hijau muda dan berwarna kuning di sisi perut. Akibat serangan ulat ini, massa bunga atau daun disekelilingnya menjadi bolong-bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.)&lt;br /&gt;    Ulat menyerang tanama kubis dengan cara memotong titik tumbuh atau pangkal batang tanaman sehingga tangkai daun atau batang rebah dan layu terutama di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Kutu daun (Aphis brassicae)&lt;br /&gt;    Kutu daun menghisap cairan sel sehingga daun menguning dan massa bunga berbintik-bintik kotor. Biasanya, kutu ini hidup berkelompok di permukan bawah daun atau pada massa bunga. Serangan yang hebat biasanya terjadi di musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Ulat jengkal (Trichoplusiana sp.) dan ulat grayak (Spodoptera sp.)&lt;br /&gt;    Ulat jengkal berukuran 4 cm, hijau pucat dan berpita merah muda pada tiap sisi badannya sedangkan ulat grayak memiliki bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris-garis kekuning-kuningan pada sisinya. Keduanya menyerang daun pada musim kemarau sehingga daun rusak, bolong-bolong meninggalkan tulang daunnya saja. Ulat grayak menyerang tanaman beramai-ramai dalam satu kelompok besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian hama dilakukan dengan cara terpadu: melakukan pergiliran tanaman dengan tanaman selain famili Cruciferae, menyebarkan mikroba yang menjadi musuh alami dan menggunakan pestisida baik yang biologis maupun kimiawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Busuk hitam&lt;br /&gt;    Penyebab: bakteri Xanthomonas campestris Dows. Penyakit ini bersifat tular benih (seed born) yang menyerang semua fase pertumbuhan kubis bunga. Infeksi di lapangan melalui bekas gigitan serangga atau luka. Gejala: terdapat bercak coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, tangkai, bunga maupun massa bunga. Batang dan massa bunga menjadi busuk sehingga tidak dapat dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 2. Busuk lunak&lt;br /&gt;    Penyebab: bakteri Erwinia carotovora Holland. Penyakit ini menyebabkan busuk lunak pada tanaman di kebun dan pasca panen. Infeksi terjadi setelah busuk hitam melalui luka pada pangkal bunga yang hampir dipanen atau melalui akar yang terluka. Gelaja: busuknya batang atau pangkal bunga dengan tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 3. Akar bengkak&lt;br /&gt;    Penyebab: jamur Plasmodiophora brassicae Wor. Gejala: tanaman layu seperti kekurangan air dan segar kembali di malam hari, lama-lama pertumbuhan terhambat dan kerdil serta tidak bisa berbunga. Selain akar tanaman membengkak terlihat pula ada bercak hitam di akar tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 4. Bercak hitam&lt;br /&gt;    Penyebab: jamur Alternaria sp. Penyakit tular benih ini menyerang daun dan bagian tanaman lainnya. Gejala: daun menjadi berbercak coklat muda atau tua bergaris konsentris. Pada akar, batang dan tangkai terdapat bercak bergaris berwarna kehitam-hitaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 5. Semai roboh (damping off)&lt;br /&gt;    Penyebab: jamur Rhizoctonia sp. dan Phytium sp. Penyakit ini biasanya menyerang persemaian menyebabkan busuknya pangkal batang. Pengendalian: dapat dilakukan dengan melakukan bibit yang bebas penyakit, merendam benih di air panas (50 derajat C) atau di dalam fungisida/bakterisida selama 15 menit, sanitasi kebun, rotasi tanaman, menanam kultivar tahan penyakit, menghindari tanaman dari kerusakan mekanis atau gigitan serangga, melakukan sterilisasi media semai atau lahan kebun (khusus untuk akar bengkak), pengapuran pada tanah masam dan mencabut tanaman yang telah terserang penyakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mencegah serangan hama dan penyakit, penyemprotan pestisida telah dilakukan walaupun belum ada gejala serangan. Penyemprotan dilakukan setiap 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;Pemanenan dilakukan saat massa bunga mencapai ukuran maksimal dan mampat. Umur panen antara 55-100 hari tergantung dari kultivar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Sebaiknya panen dilakukan di pagi atau sore hari dengan cara memotong tangkai bunga bersama sebagian batang dan daunnya sepanjang 25 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.3. Perkiraan Produksi&lt;br /&gt;Hasil panen per hektar antara 15-40 ton tergantung dari kultivar, populasi tanaman dan pemeliharaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Pascapanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Setelah bunga kubis dipanen, hasil panen disimpan di tempat yang teduh untuk dilakukan sortasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2. Penyortiran&lt;br /&gt;Sortasi dilakukan berdasarkan diameter kepala bunga yang dibagi menjadi 4 kelas yaitu &gt; 30 cm, 25-30 cm, 20-25 cm dan 15-20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;Penyimpanan terbaik di ruang gelap pada temperatur 20 derajat C, kelembaban 75-85% atau kamar dingin dengan temperatur 4.4 derajat C dengan kelembaban 85-95%. Pada ruangan-ruangan tersebut kubis akan tetap segar selama 2-3 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Pengemasan dilakukan dalam peti kayu dengan kapasitas 25-30 kg. Untuk transportasi jarak jauh, sertakan kira-kira 6 helai daun dan daun yang berada di atas massa bunga dipatahkan untuk menutupi bunga. Untuk transportasi jarak dekat ujung-ujung daun dipotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia, kubis bunga termasuk salah satu sayuran yang dikonsumsi oleh kalangan terbatas karena harganya yang relatif lebih tinggi daripada sayuran lainnya. Budi daya tanaman kubis bunga dalam skala yang lebih besar agaknya cukup menjanjikan mengingat saat ini Indonesia sudah mengekspor bunga kol ke Hongkong, Jepang, Singapura dan Brunei.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai gizi yang dikandung kubis bunga dapat dikatakan istimewa terutama kandungan mineralnya. Dengan demikian sayuran ini dapat menarik perhatian konsumen terutama dari kalangan menengah atas yang telah sadar akan arti kualitas makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Deskripsi&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;Menurut persetujuan pembeli dan penjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5. Pengemasan&lt;br /&gt;Warna bunga putih bersih, mampat, ukuran bunga sedang 20-25 cm, pengepakan dalam kadus karton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Rahmat Rukmana, Ir. 1994. Budidaya Kubis Bunga dan Brokoli. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.&lt;br /&gt; 2. Williams, C.N., J.O. Uzo, &amp;amp; W.T.H. Peregrine. 1993. Produksi Sayuran di Daerah Tropika. Gajah Mada University Press. Diterjemahkan oleh Ronoprawiro, S. &amp;amp; Tjitrosoepomo, G.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-2043101047592284489?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/2043101047592284489/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=2043101047592284489' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/2043101047592284489'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/2043101047592284489'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kembang-kol.html' title='Budidaya Kembang Kol'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-1095041271433129854</id><published>2009-06-10T14:25:00.002+07:00</published><updated>2009-06-15T21:25:13.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Kol / Kubis</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kol atau Kubis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Brassica oleracea&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kol atau kubis merupakan tanaman sayur famili Brassicaceae berupa tumbuhan berbatang lunak yang dikenal sejak jaman purbakala (2500-2000 SM) dan merupakan tanaman yang dipuja dan dimuliakan masyarakat Yunani Kuno.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulanya kol merupakan tanaman pengganggu (gulma) yang tumbuh liar disepanjang pantai laut Tengah, di karang-karang pantai Inggris, Denmark dan pantai Barat Prancis sebelah Utara. Kol mulai ditanam di kebun-kebun Eropa kira-kira abad ke 9 dan dibawa ke Amerika oleh emigran Eropa serta ke Indonesia abad ke 16 atau 17. Pada awalnya kol ditanam untuk diambil bijinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kol banyak ditanam di dataran tinggi dengan sentra terdapat di Dieng, Wonosobo, Tawangmangu, Kopeng, Salatiga, Bobot Sari, Purbalingga, Malang, Brastagi, Argalingga, Tosari, Cipanas, Lembang, Garut, Pengalengan dan beberapa daerah lain di Bali, Timor Timur, Nusa Tenggara Timur dan Irian Jaya, tetapi beberapa varietas dapat ditanam di dataran rendah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan klasifikasinya, kol/kubis termasuk dalam:&lt;br /&gt;a) Divisi : Spermatophyta&lt;br /&gt;b) Sub Divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;c) Klas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;d) Famili : Cruciferae&lt;br /&gt;e) Genus : Brassica&lt;br /&gt;f) Spesies : Brassica oleracea&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari klasifikasi ini turunlah varietas-varietas tanaman kol yang dibudidayakan, berikut ini merupakan kol varietas unggul:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Kubis putih (B.o. var. capitata L. f.alba DC.)&lt;br /&gt;        1. Kubis kepala bulat: krop bulat dan kompak, ukuran daun kecil sampai sedang, mempunyai daun luar berwarna hijau muda, memiliki teras atau hati kecil dan mempunyai batang pendek. Beberapa varietas unggul kubis putih kepala bulat:&lt;br /&gt;           - Globe Master: umur panen 75 hari, produksi 2-2,5 kg/tanaman&lt;br /&gt;           - Emerald Cross Hybrid: umur panen 45 hari, produksi 1,2 kg/tanaman&lt;br /&gt;           - Copenhagen Market: umur panen 72 hari, produksi 1,8-2 kg/tanaman&lt;br /&gt;           - K-K Cros: umur panen 58 hari, produksi 1,6 kg/tanaman&lt;br /&gt;           - Green Cup: umur panen 73 hari, produksi 1,5 kg/tanaman&lt;br /&gt;           - Ecarliana: umur panen 60 hari, produksi 1 kg/tanaman&lt;br /&gt;        2. Kubis kepala bulat runcing: Krop kubis berbentuk bulat dengan ujung bagian atas meruncing sehingga nampak berbentuk elips. Contoh varietas komersial:&lt;br /&gt;           - Early Jersey Wakefield: umur panen 63 hari, produksi 1 kg/tanaman&lt;br /&gt;           - Green point: umur panen 50 hari, produksi 1 kg/tanaman&lt;br /&gt;        3. Kubis kepala bulat datar: Krop kubis berbentuk bulat, bagian atasnya mendatar dan nampak gepeng (baca "kol gepeng", krop kurang kompak dan berongga, ukuran sedang sampai besar dan memiliki daun luar yang melengkung ke arah dalam menutupi kepala. Beberapa jenis komersial adalah:&lt;br /&gt;           - Premium Flat Dutch: umur panen 100 hari, produksi 4,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Early Flat Dutch: umur panen 83 hari, produksi 2,4-2,7 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - O-S Cross: umur panen 80 hari, produksi 2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Surehead: umur panen 93 hari, produksi 3-4,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Kubis 632 Spring Light: umur panen 65 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Kubis 633 Summer Autumn: umur panen 60 hari, produksi 2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Kubis 634 Good Season: umur panen 45 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Kubis 635 Summer Summit: umur panen 50 hari, produksi 2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Kubis 636 Tropical Delight: umur panen 50-55 hari, produksi 2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;           - Kubis 637 Summit: umur panen 50 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;  2. Kubis merah (B.o. var. capitata L. f. rubra.)&lt;br /&gt;     Krop berbentuk bulat kompak berwarna merah keunguan dan permukaan luar daun tertutup lapisan. Beberapa varietas yang mempunyai nilai ekonomi:&lt;br /&gt;     - Ruby perfection: warna krop merah cerah, umur panen 80 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Mammoth Red Rock: warna krop merah tua keunguan dan keras, umur panen 100 hari, produksi 3,4 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Rubby ball: warna krop merah tua, umur panen 65 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Res Acre: warna krop merah tua, umur panen 76 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.&lt;br /&gt;  3. Kubis Savoy (B.o. var. sabauda L.)&lt;br /&gt;     Ciri-ciri memiliki daun keriting berbentuk babad/perut daging sapi, berwarna hijau, krop berbentuk bermacam-macam, bulat dan kerucut. Kubis ini biasa disebut kubis keriting/kubis babat. Contoh beberapa varietas komersial:&lt;br /&gt;     - Perfection Drumhead: umur panen 90 hari, produksi 2,7-3,2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Vorbote: produksi 1-2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Savoy King Hybrid: umur panen 80 hari, produksi 1,8 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Savoy Ace: umur panen 80 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Langedijk Early Yellow: produksi 1,5-2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;     - Langedijk Storage Yellow: produksi 2-3 kg/tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain jenis kubis diatas masih terdapat jenis lain yang cukup komersial yaitu kubis brussel (B.o. var. gemmivera DC.).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bahan pangan untuk keperluan masakan seperti sup, sayur lodeh, pecel, lotek dan lain-lain atau dimakan langsung (lalapan) bersama menu lain. Manfaat lain dapat dibuat produk makanan instan seperti mie, makanan ringan dan makanan cepat saji lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang kesehatan, dapat digunakan sebagai pencegah dan obat sariawan, penyakit beri-beri, penyakit Xerophthalmia, radang syaraf, lemahnya otot-otot, luka-luka pada tepi mulut, dermatitis bibir menjadi merah dan radang lidah, kandungan niacin dapat mencegah penyakit palagra dan pembentuk tulang dan gigi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Pengaruh angin dirasakan pada evaporasi lahan dan evapotranspirasi tanaman. Laju angin yang tinggi dalam waktu lama (kontinyu) mengakibatkan keseimbangan kandungan air antara tanah dan udara terganggu, tanah kering dan keras, penguraian bahan-bahan organik terhambat, unsur hara berkurang dan menimbulkan racun akibat tidak ada oksidasi gas-gas beracun di dalam tanah.&lt;br /&gt;  2. Disebutkan jumlah curah hujan 80% dari jumlah normal (30 cm) memberikan hasil rata-rata 12% dibawah rata-rata normal.&lt;br /&gt;  3. Stadia pembibitan memerlukan intensitas cahaya lemah sehingga memerlukan naungan untuk mencegah cahaya matahari langsung yang membahayakan pertumbuhan bibit. Sedangkan pada stadia pertumbuhan diperlukan intensitas cahaya yang kuat, sehingga tidak membutuhkan naungan.&lt;br /&gt;  4. Tanaman kubis dapat hidup pada suhu udara 10-24 derajat C dengan suhu optimum 17 derajat C. Untuk waktu singkat, kebanyakan varietas kubis tahan dingin (minus 6-10 derajatC), tetapi untuk waktu lama, kubis akan rusak kecuali kubis berdaun kecil (&lt;3&gt; 9), merupakan racun bagi akar-akar tanaman.&lt;br /&gt;  4. Kandungan air tanah yang baik adalah pada kandungan air tersedia, yaitu pF antara 2,5-4. Dengan demikian lahan tanaman kol memerlukan pengairan yang cukup baik (irigasi maupun drainase).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Tanaman kubis dapat tumbuh optimal pada ketinggian 200-2000 m dpl. Untuk varietas dataran tinggi, dapat tumbuh baik pada ketinggian 1000-2000 m dpl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1. Persyaratan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Benih utuh, artinya tidak luka atau tidak cacat.&lt;br /&gt;b) Benih harus bebas hama dan penyakit.&lt;br /&gt;c) Benih harus murni, artinya tidak tercampur dengan biji-biji atau benih lain serta bersih dari kotoran.&lt;br /&gt;d) Benih diambil dari jenis yang unggul atau stek yang sehat.&lt;br /&gt;e) Mempunyai daya kecambah 80%.&lt;br /&gt;f) Benih yang baik akan tenggelam bila direndam dalam air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Penyiapan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiapan benih dimaksudkan untuk mempercepat perkecambahan benih dan meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan penyakit. Cara-cara penyiapan adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Sterilisasi benih, dengan merendam benih dalam larutan fungisida dengan dosis yang dianjurkan atau dengan merendam benih dalam air panas 55 derajat C selama 15-30 menit.&lt;br /&gt;  2. Penyeleksian benih, dengan merendam biji dalam air, dimana benih yang baik akan tenggelam.&lt;br /&gt;  3. Rendam benih selama ± 12 jam atau sampai benih terlihat pecah agar benih cepat berkecambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan benih per hektar tergantung varietas dan jarak tanam, umumnya dibutuhkan 300 gram/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih harus disemai dan dibumbun sebelum dipindahtanam ke lapangan. Penyemaian dapat dilakukan di bedengan atau langsung di bumbung (koker). Bumbung dapat dibuat dari daun pisang, kertas makanan berplastik atau polybag kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3. Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi persemaian antara lain: (1) tanah tidak mengandung hama dan penyakit atau faktor-faktor lain yang merugikan; (2) lokasi mendapat penyinaran cahaya matahari cukup; dan (3) dekat dengan sumber air bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyemaian dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Penyemaian di bedengan&lt;br /&gt;     Sebelum bedengan dibuat, lahan diolah sedalam 30 cm lalu dibuat bedengan selebar 110-120 cm memanjang dari arah utara ke selatan. Tambahkan ayakan pupuk kandang halus dan campurkan dengan tanah dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Bedengan dinaungi dengan naungan plastik, jerami atau daun-daunan setinggi 1,25-1,50 m di sisi timur dan 0,8-1,0 m di sisi Barat. Penyemaian dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu disebar merata di atas bedengan atau disebar di dalam barisan sedalam 0,2-1,0 cm. Cara pertama memerlukan benih yang lebih sedikit daripada cara kedua. Sekitar 2 minggu setelah semai, bibit dipindahkan ke dalam bumbung. Bumbung dapat dibuat dari daun pisang atau kertas berplastik dengan ukuran diameter 4-5 cm dan tinggi 5 cm atau berupa polibag 7x10 cm yang memiliki dua lubang kecil di kedua sisi bagian bawahnya. Bumbung diisi media campuran ayakan pupuk kandang matang dan tanah halus dengan perbandingan 1:2 atau 1:1. Keuntungannya adalah hemat waktu, permukaan petak semaian sempit dan jumlah benih persatuan luas banyak. Sedangkan kelemahannya adalah penggunaan benih banyak, penyiangan gulma sukar, memerlukan tenaga kerja terampil terutama saat pemindahan bibit ke lahan.&lt;br /&gt;  2. Penyemaian di bumbung (koker atau polybag)&lt;br /&gt;     Dengan cara ini, satu per satu benih dimasukkan ke dalam bumbung yang dibuat dengan cara seperti di atas. Bumbung dapat terbuat dari daun pisang atau daun kelapa dengan ukuran diameter dan tinggi 5 cm atau dengan polybag kecil yang berukuran 7-8 cm x 10 cm. Media penyemaian adalah campuran tanah halus dengan pupuk kandang (2:1) sebanyak 90%. Sebaiknya media semai disterilkan dahulu dengan mengkukus media semai pada suhu udara 55-100 derajat C selama 30-60 menit atau dengan menyiramkan larutan formalin 4%, ditutup lembar plastik (24 jam), lalu diangin-anginkan. Cara lain dengan mencampurkan media semai dengan zat fumigan Basamid-G (40-60 gram/m2) sedalam 10-15 cm, disiram air sampai basah dan ditutup dengan lembaran plastik (5 hari), lalu plastik dibuka, dan lahan diangin-anginkan (10-15 hari).&lt;br /&gt;  3. Kombinasi cara a) dan b).&lt;br /&gt;     Pertama benih disebar di petak persemain, setelah berumur 4-5 hari (berdaun 3-4 helai), dipindahkan ke dalam bumbung.&lt;br /&gt;  4. Penanaman langsung.&lt;br /&gt;     Yaitu dengan menanam benih langsung ke lahan. Kelebihannya adalah waktu, biaya dan tenaga lebih hemat, tetapi kelemahannya adalah perawatan yang lebih intensif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan persemaian dapat diganti dengan kotak persemaian dan dilakukan dengan cara sebagai berikut;&lt;br /&gt;1. Buat medium terdiri dari tanah, pasir dan pupuk kandang (1:1:1).&lt;br /&gt;2. Buat kotak persemaian kayu (50-60 cm x 30-40 cm x 15-20 cm) dan lubangi dasar kotak untuk drainase.&lt;br /&gt;3. Masukkan medium kedalam kotak dengan tebalan 10-15 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari tergantung cuaca.&lt;br /&gt;  2. Pengatur naungan persemaian dibuka setiap pagi hingga pukul 10.00 dan sore mulai pukul 15.00. Diluar waktu diatas, cahaya matahari terlalu panas dan kurang menguntungkan bagi bibit.&lt;br /&gt;  3. Penyiangan dilakukan terhadap tanaman lain yang dianggap mengganggu pertumbuhan bibit, dilakukan dengan mencabuti rumput-rumput/gulma lainnya yang tumbuh disela-sela tanaman pokok.&lt;br /&gt;  4. Dilakukan pemupukan larutan urea dengan konsentrasi 0,5 gram/liter dan penyemprotan pestisida ½ dosis jika diperlukan.&lt;br /&gt;  5. Hama yang menyerang biji yang belum tumbuh dan tanaman muda adalah semut, siput, bekicot, ulat tritip, ulat pucuk, molusca dan cendawan. Sedangkan, penyakit adalah penyakit layu. Pencegahan dan pemberantasan digunakan Insektisida dan fungisida seperti Furadan 3 G, Antrocol, Dithane, Hostathion dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.5. Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemindahan dilakukan bila bibit telah mempunyai perakaran yang kuat. Bibit dari benih/biji siap ditanam setelah berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai, sedangkan bibit dari stek dapat dipindahkan setelah berumur 28 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemindahan bibit dilakukan dengan cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Sistem cabut, bibit dicabut dengan hati-hati agar tidak merusak akar. Bila disemai pada polybag, pengambilan bibit dilakukan dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk perlahan hingga bibit keluar. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau daun kelapa, bibit dapat ditanam bersama bumbungnya.&lt;br /&gt;  2. Sistem putaran, caranya tanah disiram dan bibit dengan diambil beserta tanahnya 2,5-3 cm dari batang dengan kedalaman 5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1. Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan sebaiknya bukan lahan bekas ditanami tanaman famili Cruciferae lainnya. Dilakukan pengukuran pH dan analisa tanah tentang kandungan bahan organiknya untuk mengetahui kecocokan lahan ditanami kol/kubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah digemburkan dan dibalik dengan dicangkul atau dibajak sedalam 40-50 cm, dibersihkan dari sisa-sisa tanaman dan diberi pupuk dasar. Setelah itu, dibiarkan terkena sinar matahari selama 1-2 minggu untuk memberi kesempatan oksidasi gas-gas beracun dan membunuh sumber-sumber patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Pembuatan Bedengan&lt;br /&gt;Bedengan dibuat dengan arah Timur-Barat, lebar 80-100 cm, tinggi 35 cm dan panjang tergantung keadaan lahan. Lebar parit antar bedengan ± 40 cm (parit pembuangan air PPA 60 cm) dengan kedalaman 30 cm (PPA 60 cm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Pengapuran&lt;br /&gt;Fungsi untuk menaikkan pH tanah dan mencegah kekurangan unsur hara makro maupun mikro. Dosis pengapuran bergantung kisaran angka pH-nya, umumnya antara 1-2 ton kapur per hektar. Jenis kapur yag digunakan antara lain: Captan (calcit) dan Dolomit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.4. Pemupukan&lt;br /&gt;Bedengan siap tanam diberi pupuk dasar yang banyak mengandung unsur Nitrogen dan Kalium, yaitu Za, Urea, TSP dan KCl masing-masing 250 kg, serta Borax atau Borate 10-20 kg/ha. Pemberian pupuk kandang dilakukan sebanyak 0,5 kg per tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan pola tanam tanaman sangat bergantung kesuburan tanah dan varietas tanaman dengan jarak tanam 50 x 50 cm. Pola penanaman ada dua yaitu larikan dan teratur seperti pola bujur sangkar; pola segi tiga sama sisi; pola segi empat dan pola barisan (barisan tunggal dan barisan ganda). Pola segi tiga sama sisi dan bujur sangkar tergolong baik karena didapatkan jumlah tanaman lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam sedalam cangkul atau dengan ukuran garis tengan 20-25 cm sedalam 10-15 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.3. Cara Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Waktu tanam yang baik yaitu pada pagi hari antara pukul 06.00-10.00 atau sore hari antara pukul 15.00-17.00, karena pengaruh sinar matahari dan temperatur tidak terlalu tinggi.&lt;br /&gt;  2. Pilih bibit yang segar dan sehat (tidak terserang penyakit ataupun hama).&lt;br /&gt;  3. Bila bibit disemai pada bumbung daun pisang atau, ditanam bersama dengan bumbungnya, bila disemai pada polybag plastik maka dikeluarkan terlebih dahulu dengan cara membalikkan polybag dengan batang bibit dijepit antara telunjuk dan jari tengah, kemudian polybag ditepuk-tepuk secara perlahan hingga bibit keluar dari polybag.&lt;br /&gt;  4. Bila disemai dalam bedengan diambil dengan solet (sistem putaran), caranya menggambil bibit beserta tanahnya sekitar 2,5-3 cm dari batang sedalam 5 cm.&lt;br /&gt;  5. Bibit segera ditanam pada lubang dengan memberi tanah halus sedikit-demi sedikit dan tekan tanah perlahan agar benih berdiri tegak.&lt;br /&gt;  6. Siram bibit dengan air sampai basah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjarangan dilakukan saat pemindahan bibit ke lahan, yaitu saat bibit berumur 6 minggu atau telah berdaun 5-6 helai (semaian biji) atau berumur 28 hari (semaian stek). Bila bibit disemai pada bumbung maka penjarangan tidak dilakukan. Sedangkan penyulaman hampir tidak dilakukan karena umur tanaman yang pendek (2-3 bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan bersama dengan penggemburan tanah sebelum pemupukan atau bila terdapat tumbuhan lain yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Penyiangan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam karena dapat merusak sistem perakaran tanaman, bahkan pada akhir penanaman sebaiknya tidak dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3. Pembubunan&lt;br /&gt;Pembumbunan dilakukan bersama penyiangan dengan mengangkat tanah yang ada pada saluran antar bedengan ke arah bedengan berfungsi untuk menjaga kedalaman parit dan ketinggian bedeng dan meningkatkan kegemburan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.4. Perempelan&lt;br /&gt;Perempelan cabang/tunas-tunas samping dilakukan seawal mungkin untuk menjaga tanaman induk agar pertumbuhan sesuai harapan, sehingga zat makanan terkonsentrasi pada pembentukan bunga seoptimal mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan susulan I dilakukan dengan urea 1gram per tanaman melingkari tanaman dengan jarak 3 cm disaat tanaman kelihatan hidup untuk mendorong pertumbuhan. Pemupukan kedua dilakukan pada umur 10-14 hari dengan dosis 3-5 gram, dengan jarak 7-8 cm. Pemupukan ketiga dilakukan pada umur 3-4 minggu dengan dosis 5 gram pada jarak 7-8 cm. Bila pertumbuhan belum optimal dapat dilakukan pemupukan lagi pada umur 8 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.6. Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;Waktu pemberian air sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari. Pada musim kemarau, pengairan perlu dilakukan 1-2 hari sekali, terutama pada fase awal pertumbuhan dan pembentukan bunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pencegahan, penyemprotan dilakukan sebelum hama menyerang tanaman atau secara rutin 1-2 minggu sekali dengan dosis ringan. Untuk penanggulangan, penyemprotan dilakukan sedini mungkin dengan dosis tepat, agar hama dapat segera ditanggulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis dan dosis pestisida yang digunakan dalam menanggulangi hama sangat beragam tergantung dengan hama yang dikendalikan dan tingkat populasi hama tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.8. Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal-hal yang penting dalam merawat tanaman adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Menghindari pelukaan pada tanaman karena luka pada tanaman merupakan salah satu jalan yang efektif dalam penularan penyakit dan sangat disukai oleh hama.&lt;br /&gt;  2. Dalam pemupukan, pupuk tidak boleh mengenai tanaman dan harus selalu diikuti dengan penyiraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Ulat Plutella (Plutella xylostella L.)&lt;br /&gt;     Dikenal dengan nama ulat tritip, Diamond-black moth, hileud keremeng, ama bodas, ama karancang (Sunda), omo kapes, kupu klawu (Jawa). Ciri: (1) siklus hidup 2-3 minggu tergantung temperatur udara; (2) ngengat betina panjang 1,25 cm berwarna kelabu, mempunyai tiga buah titik kuning pada sayap depan, meletakkan telur dibagian bawah permukaan daun sebanyak 50 butir dalam waktu 24 jam; (3) telurnya berbentuk oval, ukuran 0,6-0,3 mm, berwarna hijau kekuningan, berkilau, lembek dan menetas ± 3 hari; (4) larva Plutella berwarna hijau, panjang 8 mm, lebar 1 mm, mengalami 4 instar yang berlangsung selama 12 hari, ngengat kecil berwarna coklat keabu-abuan; (5) ngengat aktif dimalam hari, sedangkan siang hari bersembunyi dibawah dibawah sisa-sisa tanaman, atau hinggap dibawah permukaan daun bawah. Gejala: (1) biasanya menyerang pada musim kemarau; (2) daun berlubang-lubang terdapat bercak-bercak putih seperti jendela yang menerawang dan tinggal urat-urat daunnya saja; (3) umumnya menyerang tanaman muda, tetapi kadang-kadang merusak tanaman yang sedang membentuk bunga. Pengendalian: (1) mekanis: mengumpulkan ulat-ulat dan telurnya, kemudian dihancurkan. (2) Kultur teknik: pergiliran tanaman (rotasi) dengan tanaman yang bukan famili Cruciferae; pola tumpang sari brocolli dengan tomat, bawang daun, dan jagung; dengan tanaman perangkap (trap crop) seperti Rape/Brassica campestris ssp. Oleifera Metg. (3) Hayati/biologi: menggunakan musuh alami, yaitu parasitoid (Cotesia plutella Kurdj, Diadegma semiclausum, Diadegma eucerophaga) ataupun predatornya. (4) Sex pheromone : adalah "Ugratas Ungu" dari Taiwan. Bentuk sex pheromone ini seperti benang nilon berwarna ungu sepanjang ± 8 cm. Cara penggunaan : Ugratas ungu dimasukkan botol bekas agua, kemudian dipasang dilahan perkebunan pada posisi lebih tinggi dari tanaman. Daya tahan ugratas terpasang ±3 minggu, dan tiap hektar kebun memerlukan 5-10 buah perangkap.(5) Kimiawi: menyemprotkan insektisida selektif berbahan aktif Baccilus thuringiensis seperti Dipel WP, Bactospeine WP, Florbac FC atau Thuricide HP pada konsentrasi 0,1-0,2%, Agrimec 18 FC, pada konsentrasi 1-2 cc/liter.&lt;br /&gt;  2. Ulat croci (Crocidolomia binotalis Zeller)&lt;br /&gt;     Ulat croci disebut hileud bocok (sunda). Ciri: (1) siklus hidup 22-32 hari, tergantung suhu udara; (2) ulat berwarna hijau, pada punggung terdapat garis hijau muda dan perut kuning, panjang ulat 18 mm, berkepompong di dalam tanah dan telur diletakkan dibawah daun secara berkelompok berbentuk pipih menyerupai genteng rumah; (3) menyerang tanaman yang sedang membentuk bunga. Pengendalian: sama dengan ulat Prutella, parasitoid yang paling cocok adalah Inareolata sp.&lt;br /&gt;  3. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn)&lt;br /&gt;     Ulat tanah disebut ulat taneuh, hileud orok (Sunda) atau uler lettung (Jawa).&lt;br /&gt;     Ciri: (1) siklus hidup 6-8 minggu; (2) kupu-kupu ataupun ulatnya aktif pada senja dan malam hari, pada siang hari bersembunyi di bawah daun (kupu-kupu) dan permukaan tanah (ulat). Gejala: memotong titik tumbuh atau pangkal batang tanaman, sehingga tanaman muda rebah dan pada siang hari tampak layu. Pengendalian: (1) mekanis: mencabut ulat-ulat tanah dan membunuhnya; (2) kultur teknis: pembersihan kebun dari rerumputan atau sisa-sisa tanaman yang dijadikan tempat bertelur hama tanah; (3) kimiawi: dengan umpan beracun dan semprotan insektisida.Campuran dari 125-250 gram Dipertex 95 SL, 10 kg dedak, 0,5-1,0 kg gula merah dan 10 liter air untuk tanaman seluas 0,25-0,5 hektar. Umpan tersebut disebarkan disekeliling tanaman pada senja dan malam hari. dapat juga disemprotkan insektisida Dursban 20 EC 1 cc/liter air. Waktu penyemprotan sehabis tanam dan dapat diulang 1-2 kali seminggu.&lt;br /&gt;  4. Kutu daun (Aphis brassicae)&lt;br /&gt;     Hidup berkelompok dibawah daun atau massa bunga (curd), berwarna hijau diliputi semacam tepung berlilin. Gejala: menyerang tanaman dengan menghisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun menguning dan massa bunga berbintik-bintik tampak kotor. Menyerang hebat dimusim kemarau. Pengendalian: menyemprotkan insektisida ORTHENE 75 SP atau Hostathion 40 EC 1-2 cc/liter air.&lt;br /&gt;  5. Ulat daun&lt;br /&gt;     Misalnya ulat jengkal (Trichoplusiana sp., Chrysodeixis chalcites Esp., Chrysodeixis orichalcea L.) dan ulat grayuk (Spodoptera sp. S. litura), Ciri: (1) Ulat-ulat jengkal (Trichoplusiana sp.): Cara berjalannya aneh dan melipat dua bila merangkak. Panjang 4 cm, berwarna hijau pucat dan berpita warna muda pada tiap sisi badan. Kupu-kupu ulat jengkal berwarna coklat keabu-abuan dan berbintik-bintik berwarna perak pada setiap sayap depannya, telur berwarna putih kehijau-hijauan diletakkan di bawah daun dan menetas dalam 3-20 hari. (2) Chrysodzeixis chalcites Esp. dan Chrysodeixis orichalcea L.: Berwarna gelap dan terdapat bintik-bintik keemasan berbentuk "Y" pada sayap depan. Telur berukuran kecil berwarna keputih-putihan, diletakkan secara tunggal ataupun berkelompok. Larva berwarna hijau bergaris-garis putih di sisinya dan jalannya menjengkal. (3) Ulat-ulat grayak (S. litura): Ciri khas memiliki bintik-bintik segitiga berwarna hitam dan bergaris kekuning-kuningan pada sisinya dengan siklus hidup 30-61 hari. Kupu-kupunya berwarna agak gelap dengan garis agak putih pada sayap depan. Telurnya berjumlah 25-500 butir diletakkan secara berkelompok di atas tanaman dan ditutup dengan bulu-bulu. Gejala: daun rusak, berlubang-lubang atau kadang kala tinggal urat-urat daunnya saja. Pengendalian: (1) mengatur pola tanam; (2) menjaga kebersihan kebun; (3) penyemprotan insektisida seperti Orthene 75 SP 1 cc/liter air, Hostathion 1-2 cc/liter air, Curacron 500 EC atau Decis 2,5 EC; (4) khusus untuk ulat grayak dapat digunakan sex pheromena (Ugratas Merah); (5) bila terjadi serangan Spodoptera exiqua dapat digunakan Ugratas Biru.&lt;br /&gt;  6. Bangsa siput&lt;br /&gt;     Bangsa siput yang biasa menyerang antara lain: (1) Achtina fulica Fer., yaitu siput yang mempunyai cangkang atau rumah, dikenal dengan bekicot; (2) Vaginula bleekeri Keferst, yaitu siput yang tidak bercangkang, warna keabu-abuan; (3) Parmarion pupilaris Humb, yaitu siput yang tidak bercangkang berwarna coklat kekuningan. Gejala: menyerang daun terutama saat baru ditanam dikebun. Pengendalian: dengan menyemprotkan racun Helisida atau dengan dikumpulkan lalu dihancurkan dengan garam atau untuk makanan ternak.&lt;br /&gt;  7. Cengkerik dan gangsir (Gryllus mitratus dan Brachytrypes portentosus).&lt;br /&gt;     Gejala: menyerang daun muda (memotong) pada malam hari; terdapat banyak lubang di dalam tanah. Pengendalian: dengan insektisida atau menangkap dengan menyirami lubang dengan air agar hama keluar.&lt;br /&gt;  8. Orong-orong.&lt;br /&gt;     Hidup dalam tanah terutama yang lembab dan basah. Bagian yang diserang adalah sistem perakaran tanaman. Gejala: pertumbuhan terhambat dan daun menguning. Pengendalian: pemberian insektisida ke liang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Busuk hitam (Xanthomonas campestris Dows.)&lt;br /&gt;     Penyebab: bakteri, dan merupakan patogen tular benih (seed borne), dan dapat dengan mudah menular ketanah atau ke tanaman sehat lainnya. Gejala: (1) tanaman semai rebah (damping off), karena infeksi awal terjadi pada kotiledon, kemudian menjalar keseluruh tanaman secara sistematik; (2) bercak coklat kehitam-hitaman pada daun, batang, tangkai, bunga maupun massa bunga yang diserang; (3) gejala khas daun kuning kecoklat-coklatan berbentuk huruf "V", lalu mengering. Batang atau massa bunga yang terserang menjadi busuk berwarna hitam atau coklat, sehingga kurang layak dipanen. Pengendalian: (1) memberikan perlakuan pada benih seperti telah dijelaskan pada poin pembibitan sub poin penyiapan benih; (2) pembersihan kebun dari tanaman inang alternatif; (3) rotasi tanaman selama ± 3 tahun dengan tanaman tidak sefamili.&lt;br /&gt;  2. Busuk lunak (Erwinia carotovora Holland.)&lt;br /&gt;     Penyebab: bakteri yang mengakibatkan busuk lunak pada tanaman sewaktu masih di kebun hingga pasca panen dan dalam penyimpanan. Gejala: (1) luka pada pangkal bunga yang hampir siap panen; (2) luka akar tanaman scara mekanis, serangga atau organisme lain; (3) luka saat panen; (4) penanganan atau pengepakan yang kurang baik. Pengendalian: (1) Pra panen: membersihkan sisa-sisa tanaman pada lahan yang akan ditanami; menghindari kerusakan tanaman oleh serangga pengerek atau sewaktu pemeliharaan tanaman; menghindari bertanam kubis-kubisan pada musim hujan di daerah basis penyakit busuk lunak. (2) Pasca panen: menghindari luka mekanis atau gigitan serangga menjelang panen; menyimpan hasil panen dalam keadaan kering, atau kalau dicuci dengan air bersih, harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan; berhati-hati dalam membawa atau mengangkut hasil panen ketempat penyimpanan untuk mencegah luka atau memar; menyimpan hasil ditempat sejuk dan mempunyai sirkulasi udara baik.&lt;br /&gt;  3. Akar bengkak atau akar pekuk (Plasmodiophora brassicae Wor.)&lt;br /&gt;     Penyebab: cendawan Plasmodiophora brassicae. Gejala: (1) pada siang hari atau cuaca panas, tanaman tampak, tetapi pada malam atau pagi hari daun tampak segar kembali; (2) pertumbuhan terlambat, tanaman kerdil dan tidak mampu membentuk bunga bahkan dapat mati; (3) akar bengkak dan terjadi bercak-bercak hitam. Pengendalian: (1) memberi perlakuan pada benih seperti poin penyiapan benih; (2) menyemai benih di tempat yang bebas wabah penyakit; (3) melakukan sterilisasi media semai ataupun tanah kebun dengan Besamid-G 40-60 gram/m2 untuk arel pembibitan atau 60 gram/m2untuk kebun; (4) melakukan pengapuran untuk menaikkan pH; (5) mencabut tanaman yang terserang penyakit; (6) pergiliran atau rotasi tanaman dengan jenis yang tidak sefamili&lt;br /&gt;  4. Bercak hitam (Alternaria sp.)&lt;br /&gt;     Penyebab: cendawan Alternaria brassica dan Alternaria brassicicola. Gejala: (1) bercak-bercak berwarna coklat muda atau tua bergaris konsentris pada daun; (2) menyerang akar, pangkal batang, batang maupun bagian lain. Pengendalian: (1) menanam benih yang sehat; (2) perlakuan benih seperti pada poin penyiapan benih.&lt;br /&gt;  5. Busuk lunak berair&lt;br /&gt;     Penyebab: cendawan Sclerotinia scelerotiorumI, menyerang batang dan daun terutama pada luka-luka tanaman akibat kerusakan mekanis dan dapat menyebar melalui biji dan spora. Gejala: (1) pertumbuhan terhambat, membusuk lalu mati; (2) bila menyerang batang, maka daun akan menguning, layu dan rontok; (3) bila menyerang daun, maka daun akan membusuk dan berlendir; (4) gejala lain terdapat rumbai-rumbai cendawan yang berwarna putih dan lama-kelamaan menjadi hitam. Pengendalian: (1) gunakan biji sehat dan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sejenis. (2) pemberantasan dengan insektisida.&lt;br /&gt;  6. Semai roboh (dumping off)&lt;br /&gt;     Penyebab: cendawan Rhizitonia sp. dan Phytium sp. Gejala: (1) bercak-bercak kebasahan pada pangkal batang atau hipokotil; (2) pangkal batang busuk sehingga menyebabkan batang rebah dan mudah putus; (3) menyerang tanaman di semaian, tetapi dapat pula menyerang tanaman di lahan. Pengendalian: perlakuan benih sebelum ditanam, sterilisasi media semaian dan rotasi tanaman dengan jenis selain kubis-kubisan.&lt;br /&gt;  7. Penyakit Fisiologis&lt;br /&gt;     Penyebab: Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) disebut penyakit fisiologis. Kekurangan Nitrogen: bunga kecil-kecil seperti kancing atau disebut "Botoning". Kelebihan Nitrogen warna bunga kelabu dan berukuran kecil. Kekurangan Kalium massa bunga tidak kompak (kurang padat) dan ukurannya mengecil. Kelebihan Kalium tumbuh kerdil dan bunganya kecil. Pengendalian: dengan pemupukan yang berimbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur masak petik atau panen tanaman kubis tergantung pada varietasnya, berumur pendek (genjah) dan berumur panjang (dalam).&lt;br /&gt;a) Premium Flat Dutch: umur panen 100 hari, produksi 4,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;b) Early Flat Dutch: umur panen 83 hari, produksi 2,4-2,7 kg/tanaman.&lt;br /&gt;c) O-S Cross: umur panen 80 hari, produksi 2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;d) Surehead: umur panen 93 hari, produksi 3-4,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;e) Globe Master: umur panen 75 hari, produksi 2-2,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;f) Emerald Cross Hybrid: umur panen 45 hari, produksi 1.2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;g) Copenhagen Market: umur panen 72 hari, produksi 1.8-2 kg/tanaman.&lt;br /&gt;h) K-K Cros: umur panen 58 hari, produksi 1,6 kg/tanaman.&lt;br /&gt;i) Green Cup: umur panen 73 hari, produksi 1,5 kg/tanaman.&lt;br /&gt;j) Ecarliana: umur panen 60 hari, produksi 1 kg/tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri kemasakan kubis adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Krop kubis mengeras dengan cara menekan krop kubis.&lt;br /&gt;b) Daun berwarna hijau mengkilap.&lt;br /&gt;c) Daun paling luar sudah layu.&lt;br /&gt;d) Besar krop kubis telah terlihat maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemetikan yang kurang baik akan menimbulkan kerusakan mekanis yang menyebabkan krop kubis terinfeksi patogen sehingga mudah pembusukan. Langkah-langkah dalam memetik kubis:&lt;br /&gt;a) Pilih kubis yang telah tua dan siap dipetik.&lt;br /&gt;b) Petik kubis dengan menggunakan pisau yang tajam dan bersih. Pemotongan dilakukan pada bagianpangkal batang kubis.&lt;br /&gt;c) Urutan pemetikan adalah dimulai dengan kubis yang sehat baru kemudian dilakukan pemetika pada kubis yang telah terkena infeksi patogen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.3. Periode Panen&lt;br /&gt;Broccoli merupakan tanaman sekali panen, sehingga periode panen sama dengan periode tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.4. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;Produksi kubis bergantung dengan varietas. Secara umum per tanaman menghasilkan 0,75-4 Kg, daerah tadah hujan dengan pemeliharaan semi intensif 25-35 ton per hektar dan dengan pemeliharan intensif 85 ton per hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Pascapanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Setelah dipetik, kubis dikumpulkan pada tempat yang teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung agar laju respirasi berkurang sehingga didapatkan kubis yang tinggi kwalitas dan kwantitasnya. Pengumpulan dilakukan dengan hati-hati dan jangan ditumpuk dan dilempar-lempar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyortiran untuk memisahkan krop kubis baik dan bermutu dari yang kurang baik atau rusak, seperti retak, lecet dan kerusakan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggolongan bertujuan untuk mengolongkan krop ke dalam mutu kelas I, kelas II dan seterusnya berdasarkan jumlah daun pembungkus krop, keseragaman bentuk, keseragaman ukuran, kepadatan krop, kadar kotoran maksimum, kecacatan kubis maksimum dan panjang batang kubis maksimum.&lt;br /&gt;a) Jumlah daun pembungkus: mutu I=4 helai; mutu II=4 helai.&lt;br /&gt;b) Homoginetas bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;c) Homogenitas ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;d) Kepadatan krop: mutu I=padat; mutu II=kurang padat.&lt;br /&gt;e) Kadar kotoran maksimum: mutu I=2,5%; mutu II=2,5%.&lt;br /&gt;f) Kubis cacat maksimum: mutu I=5%; mutu II=10%.&lt;br /&gt;g) Panjang batang kubis maksimum: mutu I=2,5 cm; mutu II=2,5 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;Penyimpanan kubis harus memperhatikan varietas kubis, suhu, kelembaban dan kadar air. Pada suhu 32-35 derajat F dan kelembaban udara 92-95%, kubis dapat disimpan 4-6 bulan (kubis kadar air tinggi) dan 12 bulan (kubis kadar air rendah) dengan kehilangan berat sebesar 10%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Pengemasan dilakukan dengan plastik polyethylene dan dalam pengangkutan kemasan perlu dimasukkan ke dalam kotak atau peti kayu (field boxes) dengan kapasitas 25-30 kg/peti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat banyaknya manfaat kubis dalam kesehatan bagi masyarakat, dan ditunjang harga yang murah, maka potensi pasar untuk kubis sangat terbuka. Peluang pasar komoditi ini tidak hanya terbatas didalam negeri, namun juga telah menjangkau ke beberapa negara lain seperti taiwan, Malaysia, Hongkong, Singapura, Jepang, Jerman dan lain-lain. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan volume ekspor kubis dari 16.107 ton dengan nilai US$ 218.000 pada tahun 1987 hingga mencapai 28.625 ton (US$3.867.028) pada tahun 1991(Biro Pusat Statistik, 1991).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kenyataan diatas, dapat diperkirakan bahwa akan terjadi peningkatan permintaan terhadap komoditi ini dari tahun ke tahun, apalagi jika melihat kenyataan peningkatan jumlah penduduk dunia, sehingga peluang pasar komoditi ini masih sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kondisi perekonomian seperti sekarang ini membuat pengembangan komoditi ini terganggu bahkan menurun. Hal ini terjadi karena meningkatnya biaya produksi akibat meningkatnya harga pupuk dan pestisida dan terjadinya over produksi yang tidak diikuti dengan upaya untuk mempertahankan kondisi komoditi untuk sasaran ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari analisis budidaya tampak jelas keuntungan yang diraih sangat besar (1994), pada kondisi sekarang terjadi penurunan keuntungan yang cukup besar (bandingkan data tahun 1994 dengan perkiraan 1999). Kondisi ini membuat banyak petani meninggalkan komoditi ini. Tetapi pada kondisi normal komoditi ini sangan komersial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan kol/kubis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Diskripsi&lt;br /&gt;Standar mutu kubis/kol tercantum pada Standar Nasional Indonesia SNI 01-317-19921.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Jumlah daun pembungkus: mutu I=4 helai; mutu II=4 helai.&lt;br /&gt;b) Keseragaman bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;c) Keseragaman ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;d) Kepadatan: mutu I=padat; mutu II=kurang padat .&lt;br /&gt;e) Warna: mutu I=hijau ; mutu II=agak kuning.&lt;br /&gt;f) Kadar kotoran maksimum: mutu I=2,5 %; mutu II=2,5 %.&lt;br /&gt;g) Kadar cacat maksimum: mutu I=5,0 %; mutu II=10,0 %.&lt;br /&gt;h) Panjang batang kubis maksimum: mutu I=2,5 %; mutu II=2,5 %.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengambilan contoh satu partai/lot maksimumn 1000 kemasan. Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan dalam 1 (satu) partai/lot seperti berikut ini.&lt;br /&gt;a) Untuk jumlah kemasan dalam partai 1 sampai 100, jumlah contoh 5.&lt;br /&gt;b) Untuk jumlah kemasan dalam partai 101 sampai 300, jumlah contoh 7.&lt;br /&gt;c) Untuk jumlah kemasan dalam partai 301 sampai 500, jumlah contoh 9.&lt;br /&gt;d) Untuk jumlah kemasan dalam partai 501 sampai 1000, jumlah contoh 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5. Pengemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubis disajikan dalam bentuk untuh dan segar dikemas dalam keranjang bambu yang berpengyangga dengan berat netto 10 kg, 5 kg atau 20 kg, atau kotak karton dengan berat netto 10-20 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengemasan produk biasanya dilakukan dengan polyetiline yang diberi lubang-lubang kecil. Kemasan krop ini kemudian dimasukkan ke dalam doos karton atau keranjang plastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Anonymous. 1993. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta.&lt;br /&gt;b) Arief, Arifin. 1990. Hortikultura. Andy Offset. Yogyakarta.&lt;br /&gt;c) Cahyono, Bambang. 1995. Cara Meningkatkan Budidaya Kubis. D), Pustaka Nusatama. Yogyakarta.&lt;br /&gt;d) Pracaya. 1981. Kol Alis Kubis. Penebar Swadaya. Jakarta.&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-1095041271433129854?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/1095041271433129854/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=1095041271433129854' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/1095041271433129854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/1095041271433129854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kol-kubis.html' title='Budidaya Kol / Kubis'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-5637001956190937895</id><published>2009-06-10T14:20:00.004+07:00</published><updated>2009-06-15T21:27:26.589+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Wortel</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;WORTEL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daucus carrota&lt;/span&gt; L )&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel/carrots (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia, berasal dari negeri yang beriklim sedang (sub-tropis) yaitu berasal dari Asia Timur Dekat dan Asia Tengah. Ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu. Rintisan budidaya wortel pada mulanya terjadi di daerah sekitar Laut Tengah, menyebar luas ke kawasan Eropa, Afrika, Asia dan akhirnya ke seluruh bagian dunia yang telah terkenal daerah pertaniannya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Indonesia budidaya wortel pada mulanya hanya terkonsentrasi di Jawa Barat yaitu daerah Lembang dan Cipanas. Namun dalam perkembangannya menyebar luas ke daerah-daerah sentra sayuran di Jawa dan Luar Jawa. Berdasarkan hasil survei pertanian produksi tanaman sayuran di Indonesia (BPS, 1991) luas areal panen wortel nasional mencapai 13.398 hektar yang tersebar di 16 propinsi yaitu; Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, NTT, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku dan Irian Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam taksonomi tumbuhan, wortel diklasifikasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kingdom : Plantae (tumbuh-tumbuhan)&lt;br /&gt;Divisi : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)&lt;br /&gt;Sub-Divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;Klas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;Ordo : Umbelliferales&lt;br /&gt;Famili : Umbelliferae (Apiaceae)&lt;br /&gt;Genus : Daucus&lt;br /&gt;Spesies : Daucus carrota L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman wortel banyak ragamnya, tetapi bila dilihat bentuk umbinya dapat dipilih menjadi 3 golongan, yakni :&lt;br /&gt;a) Tipe Chantenay, berbentuk bulat panjang dengan ujung yang tumpul.&lt;br /&gt;b) Tipe Imperator, berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing.&lt;br /&gt;c) Tipe Nantes, merupakan tipe gabungan antara imperator dan chantenay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel merupakan bahan pangan (sayuran) yang digemari dan dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Bahkan mengkonsumsi wortel sangat dianjurkan, terutama untuk menghadapi masalah kekurangan vitamin A. Dalam setiap 100 gram bahan mengandung 12.000 S.I vitamin A. Merupakan bahan pangan bergizi tinggi, harga murah dan mudah mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain sebagai "gudang vitamin A serta nutrisi", juga berkhasiat untuk penyakit dan memelihara kecantikan. Wortel ini mengandung enzim pencernaan dan berfungsi diuretik. Meminum segelas sari daun wortel segar ditambah garam dan sesendok teh sari jeruk nipis berkhasiat untuk mengantisipasi pembentukkan endapan dalam saluran kencing, memperkuat mata, paru-paru, jantung dan hati. Bahkan dengan hanya mengunyah daun wortel dapat menyembuhkan luka-luka dalam mulut/nafas bau, gusi berdarah dan sariawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Tanaman wortel merupakan sayuran dataran tinggi. Tanaman wortel pada permulaan tumbuh menghendaki cuaca dingin dan lembab. Tanaman ini bisa ditanaman sepanjang tahun baik musim kemarau maupun musim hujan.&lt;br /&gt; 2. Tanaman wortel membutuhkan lingkungan tumbuh dengan suhu udara yang dingin dan lembab. Untuk pertumbuhan dan produksi umbi dibutuhkan suhu udara optimal antara 15,6-21,1 derajat C. Suhu udara yang terlalu tinggi (panas) seringkali menyebabkan umbi kecil-kecil (abnormal) dan berwarna pucat/kusam. bila suhu udara terlalu rendah (sangat dingin), maka umbi yang terbentuk menjadi panjang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Keadaan tanah yang cocok untuk tanaman wortel adalah subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus), tata udara dan tata airnya berjalan baik (tidak menggenang).&lt;br /&gt; 2. Jenis tanah yang paling baik adalah andosol. Jenis tanah ini pada umumnya terdapat di daerah dataran tinggi (pegunungan).&lt;br /&gt; 3. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada keasaman tanah (pH) antara 5,5-6,5 untuk hasil optimal diperlukan pH 6,0-6,8. Pada tanah yang pH-nya kurang dari 5,0, tanaman wortel akan sulit membentuk umbi.&lt;br /&gt; 4. Demikian pula tanah yang mudah becek atau mendapat perlakuan pupuk kandang yang berlebihan, sering menyebabkan umbi wortel berserat, bercabang dan berambut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Di Indonesia wortel umunya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian 1.000-1.200 m dpl. tetapi dapat pula ditanam di dataran medium (ketinggian lebih dari 500 m dpl.), produksi dan kualitas kurang memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1. Persyaratan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan hasil yang optimal, sumber benih yang menjadi bibit harus memenuhi syarat sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Tanaman tumbuh subur dan kuat.&lt;br /&gt;b) Bebas hama dan penyakit/sehat.&lt;br /&gt;c) Bentuknya seragam.&lt;br /&gt;d) Dari jenis yang berumur pendek.&lt;br /&gt;e) Berproduksi tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Penyiapan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel diperbanyak secara generatif dengan biji-bijinya. Biji (benih) wortel dapat dibeli di toko-toko saran produksi pertanian terdekat, tetapi dapat pula membenihkan sendiri, terutama atas jenis/varietas wortel lokal dan non hibrida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para petani di sentra produksi sayuran sudah umum mempraktekan pembenihan (pembijian) wortel lokal dengan tahap-tahap pekerjaan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Pilih tanaman wortel yang umurnya cukup tua (± 3 bulan), tumbuhnya subur dan sehat. Bongkar (cabut) tanaman wortel pilihan tadi, kemudian amati umbinya Umbi wortel yang baik dan sehat jadikan pohon induk, bentuk normal (tidak cacat), warna kulit mengkilap kuning/jingga dan halus.&lt;br /&gt; 2. Potong ujung umbi wortel maksimal sepertiga bagian, pangkas pula tangkai daun bersama daunnya, sisakan 10 cm yang lekat pada umbi.&lt;br /&gt; 3. Siapkan lahan untuk kebun pembibitan wortel dapat bentuk bedengan-bedengan yang diolah secara sempurna (dipupuk kandang optimal).&lt;br /&gt; 4. Buat lubang tanam dengan alat bantu cangkul/tunggal pada jarak tanam 40-60 cm x 40-60 cm.&lt;br /&gt; 5. Tanam umbi wortel pada lubang tanam, padatkan tanahnya perlahan-lahan hingga menutup bagian leher batang.&lt;br /&gt; 6. Buat alur-alur dangkal disepanjang barisan tanaman (umbi) wortel sejauh ± 5 cm dari batang (dalam bentuk lubang pupuk oleh tugal).&lt;br /&gt; 7. Lakukakan pemberian pupuk buatan berupa campuran ZA+SP+KCL (1:2:2) sebanyak 10 gr/tanaman, kemudian pupuk tersebut segera ditutup dengan tanah tipis .&lt;br /&gt; 8. Pelihara kebun bibit wortel selama ± 3 bulan hingga menghasilkan tangkai buah dan biji dalam jumlah banyak.&lt;br /&gt; 9. Petik tangkai buah wortel yang sudah tua (kering), lalu jemur hingga kering untuk diambil biji-bijinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatacara penyiapan benih wortel adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Pilih benih wortel yang baik, yakni berasal dari varietas unggul, murni, dan daya kecambahnya tinggi (lebih dari 90%).&lt;br /&gt; 2. Gosok-gosokan benih wortel dengan kedua belah telapak tangan agar diantara benih satu sama lain tidak berlekatan.&lt;br /&gt; 3. Rendam benih wortel dalam air dingin selama 12-24 jam atau dalam air hangat suam-suam kuku (60 derajat C) selama 15 menit. Tujuan dari perendaman benih adalah mempercepat proses perkecambahannya.&lt;br /&gt; 4. Tiriskan benih wortel dalam suatu wadah, misal tampah hingga menjadi cukup kering. Benih wortel sudah siap ditanam (disebar) di lahan kebun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3. Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biji wortel di taburkan langsung di tempat penanaman, dapat disebarkan merata di bedengan atau dengan dicicir memanjang dalam barisan. Jarak barisan paling tidak 15 cm, kemudian kalau sudah tumbuh dapat dilakukan penjarangan sehingga tanaman wortel itu berjarak 3-5 cm satu sama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan benih untuk penanaman setiap are antara 150-200 gram. Para petani sayuran jarang menggunakan lebih dari 10 kg benih untuk tiap hektar. Biji wortel akan mulai berkecambah setelah 8-12 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ditanam, pemeliharaan wortel relatif mudah, yakni penyiangan bersamaan dengan pemupukan pada waktu tanaman berumur 1 bulan sejak tanam. Pupuk yang diberikan berupa ZA 2 kuintal dan ZK 1 kuintal/hektar diletakkan sejauh 5 cm dari batangnya, baik sejajar dengan barisan maupun dilarutkan dalam air untuk disiramkan kepada tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merangsang pembentukkan umbi yang optimal perlu ditunjang pembubunan dan pengguludan sekaligus memperjarang tanaman yang tumbuhnya sangat rapat. Sisakan tanaman yang pertumbuhannya baik dan sehat pada jarak 5-10 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengendalikan hama serangga Semiaphis aphid dan S. daucisi penyerang daun serta lalat Psilarosae pelubang umbi wortel perlu disemprot insektisida yang dianjurkan, misal Folidol 0,2%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1. Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mula-mula tanah dicangkul sedalam 40 cm, dan diberi pupuk kandang atau kompos sebanyak 15 ton setiap hektarnya. Tanah yang telah diolah itu diratakan dan dibuat alur sedalam 1 cm dan jarak antara alur 15-20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Areal yang akan dijadikan kebun wortel, tanahnya diolah cukup dalam dan sempurna, kemudian diberi pupuk kandang 20 ton/ha, baik dicampur maupun menurut larikan sambil meratakan tanah. Idealnya dipersiapkan dalam bentuk bedengan-bedengan selebar 100 cm dan langsung dibuat alur-alur/larikan jarak 20 cm, hingga siap ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Membuka Lahan&lt;br /&gt;       1. Babat pohon-pohon atau semak-semak maupun tanaman lain yang tidak berguna.&lt;br /&gt;       2. Bersihkan lahan dari rumput-rumput liar (gulma), batu kerikil dan sisa tanaman lain.&lt;br /&gt; 2. Mengolah Tanah&lt;br /&gt;       1. Olah tanah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan alat bantu cangkul, bajak/traktor.&lt;br /&gt;       2. Biarkan tanah di kering anginkan selama minimal 15 hari, agar kelak keadaan tanah benar-benar matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Olah tanah untuk kedua kalinya dengan cangkul hingga struktur tanah bertambah gembur.&lt;br /&gt; 2. Buat bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 120-150 cm, tinggi 30-40 cm, jarak antar bedengan 50-60 cm dan panjang tergantung pada keadaan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.4. Pengapuran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Lakukan pengapuran bila pH tanah asam di bawah 5 dengan cara menaburkan bahan kapur seperti Calcit, Dolomit atau Zeagro 1 secara merata di permukaan tanah. Dosis kapur yang diberikan berkisar antara 0,75-10,24 ton/ha.&lt;br /&gt; 2. Campurkan kapur dengan lapisan tanah atas (top soil) sambil dibalikan hingga benar-benar merata. Bila tidak turun hujan, tanah yang telah dikapur sebaiknya disiram (diairi) hingga cukup basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.5. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Sebarkan pupuk kandang yang telah matang (jadi) sebanyak 15-20 ton/ha di permukaan bedengan, kemudian campurkan dengan lapisan tanah atas secara merata. Pada tanah yang masih subur (bekas kubis atau kentang), pemberian pupuk dapat ditiadakan.&lt;br /&gt; 2. Ratakan permukaan bedengan hingga tampak datar dan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanaman&lt;br /&gt;Tanah kebun dicangkul sedalam 30-40 cm dan digemburkan. Setelah itu di buat bedengan tanaman selebar kurang lebih 100 cm dan dibuat guritan dengan jarak kurang lebih 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2. Pembuatan Lobang Tanam&lt;br /&gt;Tanah diolah sedalam 30-40 cm hingga strukturnya gembur dengan menggunakan traktor/bajak dan alat cangkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.3. Cara Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tata cara penanaman (penaburan) benih wortel melalui tahap-tahap sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Sebarkan (taburkan) benih wortel secara merata dalam alur-alur/garitan-garitan yang tersedia.&lt;br /&gt; 2. Tutup benih wortel dengan tanah tipis sedalam 0,5-1 cm.&lt;br /&gt; 3. Buat alur-alur dangkal sejauh 5 cm dari tempat benih arah barisan (memanjang) untuk meletakkan pupuk dasar. Jenis pupuk yang diberikan adalah campuran TSP ± 400 kg (± 200 kg P2 O5/ha) dengan KCl 150 kg (± 75 kg K2O/ha).&lt;br /&gt; 4. Sebarkan pupuk tersebut secara merata, kemudian tutup dengan tanah tipis.&lt;br /&gt; 5. Tutup tiap garitan (alur) dengan dedaunan kering atau pelepah daun pisang selama 7-10 hari untuk mencegah hanyutnya benih wortel oleh percikan (guyuran) air sekaligus berfungsi menjaga kestabilan kelembaban tanah. Setelah benih wortel tumbuh di permukaan tanah, penutup tadi segera di buka kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;Penjarangan tanaman wortel dilakukan pada saat tanaman berumur 1 bulan setelah tanam. Tujuan penjarangan adalah untuk memperoleh tanaman wortel cepat tumbuh dan subur, sehingga hasil produksinya dapat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh disekitar kebun merupakan pesaing tanaman wortel dalam kebutuhan air, sinar matahari, unsur hara dan lain-lain, sehingga harus disiangi. Waktu penyiangan biasanya saat tanaman wortel berumur 1 bulan, bersamaan dengan penjarangan tanaman dan pemupukan susulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara menyiangi yang baik adalah membersihkan rumput liar dengan alat bantu kored/cangkul. Rumput liar yang tumbuh dalam parit dibersihkan agar tidak menjadi sarang hama dan penyakit. Tanah di sekitar barisan tanaman wortel digemburkan, kemudian ditimbunkan ke bagian pangkal batang wortel agar kelak umbinya tertutup oleh tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3. Pembubunan&lt;br /&gt;Pendangiran dilakukan pada saat umur tanaman 1 bulan, yaitu pada saat tanaman akan membentuk umbi, terutama sehabis hujan. Saat pendangiran ini dilakukan juga pembubunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.4. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis pupuk yang digunakan untuk pemupukan susulan adalah urea atau ZA. Dosis pupuk yang adalah urea 100 kg/ha atau ZA 200 kg/ha. Waktu pemberian pupuk susulan dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan, yakni pada saat tanaman wortel berumur 1 bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemupukan yang baik adalah dengan menyebarkan secara merata dalam alur-alur atau garitan-garitan dangkal atau dimasukkan ke dalam lubang pupuk (tugal) sejauh 5-10 cm dari batang wortel, kemudian segera ditutup dengan tanah dan disiram atau diairi hingga cukup basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada fase awal pertumbuhannya, tanaman wortel memerlukan air yang memadai, sehingga perlu disiram (diairi) secara kontinue 1-2 kali sehari, terutama pada musim kemarau. Bila tanaman wortel sudah tumbuh besar, maka pengairan dapat dikurangi. Hal penting yang harus diperhatikan adalah agar tanah tidak kekeringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.6. Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida Furadan 3 G atau Indofuran 3 G pada saat tanam atau disemprot Hostathion 40 EC dan lain-lain pada konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Ulat tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)&lt;br /&gt;    Hama ini sering disebut uler lutung (Jawa) atau hileud taneuh (Sunda) dan "Cutworms" (Inggris). Serangga dewasa berupa kupu-kupu berwarna coklat tua, bagian sayap depannya bergaris-garis dan terdapat titik putih. Stadium hama yang merugikan tanaman adalah ulat atau larva. Ciri: ulat tanah adalah berwarna coklat sampai hitam, panjangnya antara 4-5 cm dan bersembunyi di dalam tanah. Gejala: ulat tanah menyerang bagian pucuk atau titik tumbuh tanaman wortel yang masih muda. Akibat serangan, tanaman layu atau terkulai, terutama pada bagian tanaman yang dirusak hama. Pengendalian non kimiawi: dilakukan dengan mengumpulkan ulat pada pagi atau siang hari, dari tempat yang dicurigai bekas serangannya untuk segera dibunuh, menjaga kebersihan kebun dan pergiliran tanaman. Pengendalian kimiawi: dengan menggunakan insektisida Furadan 3G atau Indofuran 3G pada saat tanam atau disemprot Hostathion 40 EC dan lain-lain pada konsentrasi yang dianjurkan.&lt;br /&gt; 2. Kutu daun (Aphid, Aphis spp.)&lt;br /&gt;    Ciri: kutu daun dewasa berwarna hijau sampai hitam, hidup berkelompok di bawah daun atau pada pucuk tanaman. Gejala: menyerang tanaman dengan cara mengisap cairan selnya, sehingga menyebabkan daun keriting atau abnormal. Pengendalian: mengatur waktu tanam secara serempak dalam satu hamparan lahan untuk memutus siklus hidupnya.&lt;br /&gt; 3. Lalat atau magot (Psila rosae)&lt;br /&gt;    Gejala: stadium hama yang sering merusak tanaman wortel adalah larvanya. Larva masuk ke dalam umbi dengan cara menggerek atau melubanginya. Pengendalian: pergiliran tanaman dengan jenis yang tidak sefamili atau disemprot insektisida Decis 2,5 EC dan lain-lain dengan dosis yang dianjurkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Bercak daun Cercospora&lt;br /&gt;    Penyebab: cendawan (jamur) Cercospora carotae (Pass.) Solheim. Gejala: pada daun-daun yang sudah tua timbul bercak-bercak berwarna coklat muda atau putih dengan pinggiran berwarna coklat tua sampai hitam. Pengendalian: (1) disinfeksi benih dengan larutan fungisida yang mengandung tembaga klorida satu permil selama 5 menit; (2) pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili; (3) pembersihan sisa-sisa tanaman dari sekitar kebun; (4) penyemprotan fungisida yang mangkus dan sangkil seperti Dithane M-45 0,2%.&lt;br /&gt; 2. Nematoda bintil akar&lt;br /&gt;    Penyebab: mikro organisme nematoda Sista (Heterodera carotae). Gejala: umbi dan akar tanaman wortel menjadi salah bentuk, berbenjol-benjol abnormal. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman dengan jenis lain yang tidak sefamili, pemberaan lahan dan penggunaan nematisida seperti Rugby 10 G atau Rhocap 10 G.&lt;br /&gt; 3. Busuk alternaria&lt;br /&gt;    Penyebab: cendawan Alternaria dauci Kuhn. Gejala: Pada daun terjadi bercak-bercak kecil, berwarna coklat tua sampi hitam yang dikelilingi oleh jaringan berwarna hijau-kuning (klorotik). Pada umbi ada gejala bercak-bercak tidak beraturan bentuknya, kemudian membusuk berwarna hitam sampai hitam kelam. Pengendalian: sama dengan cara yang dilakukan pada Cercospora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri tanaman wortel sudah saatnya dipanen adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. Tanaman wortel yang telah berumur ± 3 bulan sejak sebar benih atau tergantung varietasnya. Varietas Ideal dipanen pada umur 100-120 hari setelah tanam (hst). Varietas Caroline 95 hst., Varietas All Season Cross 120 hst., Varietas Royal Cross 110 hst., Kultivar lokal Lembang 100-110 hst.&lt;br /&gt; 2. Ukuran umbi telah maksimal dan tidak terlalu tua. Panen yang terlalu tua (terlambat) dapat menyebabkan umbi menjadi keras dan berkatu, sehingga kualitasnya rendah atau tidak laku dipasarkan. Demikian pula panen terlalu awal hanya akan menghasilkan umbi berukuran kecil-kecil, sehingga produksinya menurun (rendah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus bila dipanen umur muda atau "Baby Carrot" dapat dilakukan dengan kriteria sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; 1. umur panen sekitar 50-60 hari setelah tanam.&lt;br /&gt; 2. ukuran umbi sebesar ibu jari tangan, panjangnya antara 6-10 cm dan diameternya sekitar 1-2 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Cara panen wortel relatif gampang, yaitu dengan mencabut seluruh tanaman bersama umbinya. Tanaman yang baik dan dipelihara secara intensif dapat menghasilkan umbi antara 20-30 ton/hektar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Pascapanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Kumpulkan seluruh rumpun (tanaman) wortel yang usai dipanen pada suatu tempat yang strategis, misalnya di pinggir kebun yang teduh, atau di gudang penyimpanan hasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pilih umbi yang baik sambil memisahkan umbi yang rusak, cacat, atau busuk secara tersendiri.&lt;br /&gt;b) Klasifikasikan umbi wortel yang baik berdasarkan ukuran dan bentuknya yang seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.3. Penyimpanan&lt;br /&gt;Simpan hasil panen wortel dalam wadah atau ruangan yang suhunya dingin dan berventilasi baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Ikat umbi wortel menjadi ikatan-ikatan tertentu sehingga praktis dalam pengangkutan dan penyimpanannya.&lt;br /&gt;b) Potong sebagian tangkai daun untuk disisakan sekitar 15-20 cm.&lt;br /&gt;c) Angkut hasil wortel ke pasar dengan menggunakan alat angkut yang tersedia di daerah setempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk sasaran pasar Swalayan, Gelael, Hero, dan lain-lain di kota-kota besar, umbi wortel biasanya dikemas dalam kantong plastik atau kontainer polietilin bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prospek pengembangan budidaya wortel di Indonesia amat cerah. Selain keadaan agroklimatologis wilayah nusantara cocok untuk wortel, juga akan berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan petani, perbaikan gizi masyarakat, perluasan kesempatan kerja, pengembangan agribisnis, pengurangan impor dan peningkatan ekspor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Produktivitas wortel di Indonesia masih rendah. Pada tahun 1985 hasil rata-rata nasional baru mencapai 9,43 ton/hektar, kemudian tahun 1986 hanya 8,90 ton/hektar, dan tahun 1991 sekitar 12,89 ton/hektar. Rendahnya hasil rata-rata tersebut antara lain dikarenakan masih terbatasnya varietas wortel unggul dan tehnik budidaya yang belum intensif. Disamping itu, paket teknologi budidaya hasil penelitian komoditas wortel relatif masih terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha tani wortel secara intensif sistem agribisnis memberikan keuntungan yang memadai. Potensi daya hasil wortel varietas unggul dapat mencapai antara 20-25 ton/ha. Bila harga jual rata-rata Rp 500,-/kg keuntungan bersih usahatani wortel selama ± 3 bulan dapat mencapai lebih dari Rp 5 juta/hektar. Bahkan akhir-akhir ini peluang pasar wortel makin luas dan beragam, diantaranya adalah bentuk umbi segar, umbi beku segar dan umbi muda segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar mutu: Jjnis dan standar mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Diskripsi&lt;br /&gt;Standar mutu wortel tercantum dalam standar Nasional Indonesia SNI 01-3163-1992.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wortel segar digolongkan dalam dua jenis mutu yaitu mutu I dan mutu II diantaranya :&lt;br /&gt;a) Keasaman sifat varietas : mutu I= seragam; mutu II= seragam; cara pengujian= organoleptik.&lt;br /&gt;b) Kekerasan : mutu I= keras; mutu II= keras; cara pengujian= organoleptik.&lt;br /&gt;c) Warna : mutu I : normal; mutu II= normal; cara pengujian= organoleptik.&lt;br /&gt;d) Kerataan permukaan : mutu I= cukup rata; mutu II= cukup rata.&lt;br /&gt;e) Tekstur : mutu I = tidak mengayu; mutu II= tidak mengayu; cara pengujian= organoleptik.&lt;br /&gt;f) Kerusakan (% ): mutu I= 5; mutu II= 10; cara pengujian =SP-SMP-301-1981.&lt;br /&gt;g) Busuk (%) : mutu I = 2; mutu II= 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengambilan contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat pada daftar dibawah ini. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 20 umbi dari bagian atas tengah dan bawah. Khusus untuk pengujian kerusakan dan yang busuk, jumlah contoh akhir yang diuji adalah 100 umbi. Pelaksanaan dapat dilakukan di lapangan. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot adalah:&lt;br /&gt;a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.&lt;br /&gt;b) Jumlah kemasan 101 sampai 300, contoh yang diambil=7.&lt;br /&gt;c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil=9.&lt;br /&gt;d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.&lt;br /&gt;e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5. Pengemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pengemasan wortel disajikan dalam bentuk utuh dan segar, dikemas dengan keranjang atau bahan lainnya yang berat bersih maksimum 65 Kg, di tutup dengan anyaman bambu atau bahan lain kemudian diikat dengan tali rotan. Isi tidak melebihi permukaan kemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk pemberian merek di bagian luar keranjang diberi label yang dituliskan antara lain:&lt;br /&gt;a) Nama barang.&lt;br /&gt;b) Jenis mutu.&lt;br /&gt;c) Nama/kode perusahaan/ eksportir.&lt;br /&gt;d) Berat bersih.&lt;br /&gt;e) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;f) Negara/tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Rukmana, Rahmat. Bertanam wortel. Yogyakarta : Kanisius, 1995.&lt;br /&gt;b) Anonymous. Kumpulan kliping wortel. Jakarta : Trubus, 1997.&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-5637001956190937895?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/5637001956190937895/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=5637001956190937895' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5637001956190937895'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5637001956190937895'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/wortel-daucus-carrota-l-i.html' title='Budidaya Wortel'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-4529962868428466349</id><published>2009-06-10T14:15:00.002+07:00</published><updated>2009-06-15T21:26:22.073+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Bawang Bombay</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA BAWANG BOMBAY&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;Bawang bombay diperkirakan berasal dari daerah Asia Tengah (Palestina) yang beriklim subtropis dan mulai menyebar ke daratan Eropa dan India. Sekitar abad ke-16 menyebar ke Benua Amerika, kira-kira bersamaan dengan awal perburuan rempah-rempah oleh bangsa Eropa ke Timur Jauh, yang akhirnya berbuntut dengan pendudukan dan penjajahan negara-negara di Asia termasuk Indonesia oleh bangsa Eropa.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;di Indonesia, bawang bombay banyak ditemukan di daerah Tanah Karo (Sumatera Utara), percobaan penanaman di dataran tinggi Karo dengan ketinggian sekitar 2000 m dpl, memperoleh hasil sangat memuaskan. Umbi cukup besar dan pertumbuhannya baik. Bibit yang digunakan untuk penanaman didatangkan dari Belanda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;Bawang bombay yang disebut juga bawang timur berada dalam satu garis keturunan dengan bawang merah dengan nama ilmiah Allium cepa L. Perbedaan antara bawang merah dan bawang bombay tidak terlalu menyolok, kecuali bentuknya dan bau/aromanya.&lt;br /&gt;Varietas bawang bombay yang dikenal antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Hari pendek&lt;br /&gt;1. Yellow Granex, ciri-ciri: umbi bulat pipih kekuning-kuningan, beraroma sedang.&lt;br /&gt;2. Texas Yellow, Grano, ciri-ciri: bulat gasing kekuning-kuningan, aroma sedang.&lt;br /&gt;3. Grano, ciri-ciri: kekuning-kuningan agak kecoklatan, aroma sedang.&lt;br /&gt;4. Red Creole, ciri-ciri: bulat pipih merah, aroma/bau tajam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Hari panjang&lt;br /&gt;1. Zittauer, ciri-ciri: bulat pipih kecoklatan, slit berbunga, banyak anakan.&lt;br /&gt;2. Rijosbuiger "Oporto", ciri-ciri: bulat merah kekuning-kuningan, produksi sangat tinggi.&lt;br /&gt;3. Ebenezer Yellow, ciri-ciri: bulat pipihkuning tua, banyak anakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Varietas jenis hari pendek yang sudah pernah dicoba di Indonesia dan hasilnya cukup baik antara lain: Red Creole, Burmuda Yellow, Burmuda White, Farly Grano dan Patna Early. Jenis hari panjang yang lain yang cukup terkenal di antaranya Globe Danvers, Yellow Globe, Silver King dan sebagainya. Masih banyak lagi varietas-varietas bawang bombay yang ada diantaranya adalah Exel dan White Creole yang termasuk kelompok hari pendek, kemudian Crystal Grano, San Yoaquin dan California Early Red, yang ter-masuk kelompok hari sedang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;Di Indonesia tanaman bawang bombay ini kurang/tidak populer, maka penggunaannya belum banyak terungkapkan. Penggunaan utama bawang ini adalah untuk bumbu penyedap masakan dan umumnya terbatas pada jenis-jenis masakan tertentu, yaitu masakan Eropa dan Cina. Namun demikian, akhir-akhir ini penggunaan bawang bombay di Indonesia makin menyebar dan makin memasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tanaman bawang bombay menyukai curah hujan yang merata sepanjang tahun.&lt;br /&gt;  2. Bawang bombay termasuk tanaman yang memerlukan penyinaran matahari cukup panjang, kira-kira lebih dari 4 jam/hari. Apabila terlalu pendek atau berada di tempat yang teduh/terlindung sehingga tidak cukup mendapat penyinaran matahari maka hasil produksinya rendah, rasanya agak tawar dan tidak tahan disimpan lama.&lt;br /&gt;  3. Bawang bombay sangat cocok di tempat yang udaranya sejuk. Suhu udara yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini antara 18-20 derajat C. Pada suhu udara yang lebih rendah antara 1-1,5 derajat C, bawang bombay masih mampu membentuk bunga.&lt;br /&gt;  4. Kondisi udara dengan kelembaban relatif berkisar 80-90% (cukup lembab) sangat baik untuk pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  1. Tanah untuk tanaman bawang bombay adalah tanah yang subur, banyak humus dan gembur. Tanah hendaknya bersifat mudah meneruskan air sehingga tidak mudah becek dan memadat.&lt;br /&gt;  2. Jenis tanah yang paling baik adalah tanah lempung berpasir atau lempung berdebu, yaitu tanah yang memiliki perbandingan seimbang antara fraksi liat, pasir dan debu. Tanah yang banyak mengandung pasir atau tanah alluvial dapat digunakan untuk bawang bombay. Tetapi karena tanah seperti ini sangat cepat meneruskan air, sehingga perlu diberi pupuk kandang atau bahan organik lainnya untuk meningkatkan daya simpan air dan meningkatkan kesuburannya.&lt;br /&gt;  3. Keasaman tanah yang paling baik adalah sedikit agak asam sampai netral, yaitu pH antara 6-6,8. Pada pH tanah kurang dari 5, garam Aluminium yang terlarut dalam tanah dapat bersifat racun yang dapat menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Sedangkan pada pH yang terlalu tinggi, garam Mangan tidak dapat diserap tanaman bawang sehingga umbi menjadi kecil dan produksinya rendah. Apabila tanahnya terlalu masam, perlu dilakukan pengapuran terlebih dulu untuk mengurangi keasamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Ketinggian optimum yang cocok untuk budidaya bawang bombay adalah berada pada ± 1500&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1. Persiapan Pembibitan&lt;br /&gt;Bibit bawang bombay sangat sulit untuk didapat. Hal ini disebabkan karena pembudidayaannya masih belum populer seperti bawang merah dan putih. Pengadaan bibit dari jenis bibit impor merupakan salah satu alternatif yang dapat dipilih. Tentu saja perlu dicari jenis-jenis yang sesuai dengan kondisi alam dan iklim Indonesia. Alternatif lain dapat pula mengadakan bibit sendiri, baik berupa biji maupun umbinya yang disebut sets.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Bibit dari Biji&lt;br /&gt;Penanaman bawang bombay dapat dilakukan dengan menggunakan biji yang dipersemaikan lebih dulu. Dengan biji ini, biasanya dapat dihasilkan umbi tunggal dan merupakan cara murah karena harga bibitnya relatif murah. Akan tetapi, di iklim tropis seperti Indonesia ini bawang bombay sangat sulit berbunga dan membentuk biji. Untuk dapat berbunga dan membentuk biji, diperlukan suhu udara rata-rata ± 0,1-0 derajat C. Di dataran tinggi seperti Cipanas Jawa Barat dengan ketinggian 1.100 m dpl, pada musim tertentu yang di malam hari beberapa jenis bawang bombay dapat berbunga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi kesulitan tersebut, ditempuh cara berikut ini. Umbi bawang bombay yang akan ditanam untuk menghasilkan biji disimpan dulu pada suhu rendah yaitu 5-10 derajat C selama kira-kira 3-4 minggu. Setelah itu, umbi tersebut ditanam di daerah yang sejuk, kemudian agar penyerbukan berjalan dengan baik maka perlu dibantu. Pembantu penyerbukan yang baik adalah serangga, misalnya lebah madu. Oleh karena itu, pemeliharaan lebah madu di daerah pembibitan bawang sangat menguntungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain untuk mendapatkan biji bawang bombay adalah dengan mendatangkan dari luar negeri. Apabila membeli bibit impor di pasaran, biji yang dipilih merupakan varietas yang bersifat hari pendek alias genjah. Kemudian biji tersebut belum kadaluwarsa karena jika kadaluwarsa daya tumbuhnya sangat rendah dan bahkan dapat gagal sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3. Bibit dari Umbi&lt;br /&gt;Pertama siapkan lahan untuk membuat persemaian. Tanahnya yang benar-benar subur dan gembur. kemudian di tempat persemaian tersebut dibuat alur-alur tebar 7,5-10 cm. Jarak antar alur sekitar 30-35 cm. Kemudian bawang bombay disebarkan pada alur tersebut dengan tebaran yang sedikit agak padat. Untuk tanah yang subur dibutuhkan biji +100 kg/ha tetapi kalau kesuburan tanahnya sedang cukup dengan 75 kg/ha. Sedangkan bila tanahnya kurang subur, sebaiknya jangan menyebarkan terlalu banyak biji, cukup dengan 50 kg/ha saja. Semaian ini dibiarkan tumbuh sesuai dengan ketentuan persemaian biasa namun tidak dilakukan penjarangan semai. Hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi berlangsungnya seleksi secara alami. Biji yang bagus dan kuat akan tumbuh dengan baik dan biji yang lemah pertumbuhannya tidak baik akan mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semai bawang bombay membentuk umbi muda dengan ukuran tertentu, semai dipanen untuk dipakai sebagai bibit. Ukuran umbi muda (umbi sets) ini dapat dikelompokkan dalam tiga ukuran. Yang pertama adalah kelompok umbi sets besar yang diameter umbinya sekitar 2-2,5 cm atau beratnya 6,3 gram. Kelompok kedua adalah umbi sets sedang yang diameternya 1,5-2 cm dengan berat rata-rata 1,4 gram. Yang terakhir, umbi sets berukuran kecil dengan diameter 0,5-1,5 cm dengan beratnya 0,5 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya, umbi sets yang berukuran di atas 2,5 cm tidak digunakan untuk bibit. Umbi set yang kecil, di bawah ukuran 1,75 cm, sebaiknya juga tidak dipakai untuk bibit karena dapat menghasilkan tanaman yang produksinya rendah. Ukuran 1,75-2,5 cm adalah pilihan untuk bibit yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4. Bibit dengan Umbi Tua&lt;br /&gt;Pilihan lain untuk pengadaan bibit bawang bombay adalah umbinya sendiri. Dengan menggunakan umbi ini dapat dihasilkan tanaman yang berumpun. Dapat juga menggunakan umbi samping untuk bibit. Untuk bibit, dipilih umbi dengan ukurannya sedang dan seragam dengan beratnya antara 10-25 gram. Umbi ini dapat diperoleh dengan membeli di pasaran atau dengan memproduksi sendiri. Umbi untuk bibit harus dipilih yang bermutu bagus, tidak terserang penyakit atau ada tanda-tanda terserang penyakit maupun hama. Jangan menggunakan umbi yang cacat, luka, rusak ataupun yang pecah. Pilihlah umbi yang sudah tua, tidak mengkerut, padat, menthes dan mengkilap. Di samping itu, umbi-umbi untuk bibit tersebut harus berasal dari tanaman yang dipanen sudah tua dan telah disimpan cukup lama, yaitu umbi kawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.5. Pembuatan Media Semai&lt;br /&gt;Lahan persemaian digemburkan dengan dicangkul dalam sekitar 30 cm, lalu diberi pupuk kandang atau kompos yang telah tua sehingga tanah mengandung banyak bahan organis. Kemudian dibentuk bedengan-bedengan yang lebarnya sekitar 1 meter dan tingginya 10-15 cm. Permukaan bedengan dihaluskan bongkahan-bongkahan tanahnya sampai halus benar dan diratakan. Kalau pinggiran bedengan mudah merosot atau longsor, dapat diperkuat dengan papan atau bilah-bilah bambu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya bedengan persemaian dibentuk dengan arah utara-selatan untuk mendapatkan cukup banyak cahaya matahari. Sedangkan untuk melindungi semai dari air hujan, perlu dibuat peneduhnya. Peneduh dapat dibuat dari lembaran plastik untuk atapnya. Atap ini dipasang di atas kerangka peneduh, dengan tingginya dibuat 1,25 m di sebelah Timur dan 1 m di sebelah Barat. Dengan cara ini, cahaya matahari di pagi hari yang sangat diperlukan bagi pertumbuhan bawang dapat masuk lebih banyak ke persemaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk tiap bedengan dibuat tiga alur dengan jarak antar alur sekitar 25 cm dan dalamnya alur kira-kira 5 cm. Setelah siap, bedengan dibasahi dulu sampai lembab. Kemudian biji ditabur dalam alur dengan taburan agak jarang, lalu ditutup tanah halus. Untuk tiap hektar penanaman dibutuhkan kira-kira dibutuhkan 2-2,5 kg biji. dimana tiap hektarnya perlu sekitar 300 m2 bedengan persemaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.6. Pemeliharaan Persemaian&lt;br /&gt;Persemaian disiram 3 kali dalam sehari, yaitu pagi, siang dan sore hari dengan emrat atau sprayer yang halus lubangnya. Hal terpenting adalah persemaian jangan sampai kekeringan, tetapi tidak sampai becek. Agar persemaian tidak cepat kering, dapat ditutup jerami untuk mengurangi laju penguapan air dari permukaan bedengan persemaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu minggu kemudian, semai sudah mulai tumbuh. Pada saat itu persemaian dapat disiangi untuk menghilangkan rumput-rumput dan gulma lainnya. Sekitar umur 4 minggu, dapat dilakukan penjarangan semai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.7. Pemindahan Bibit&lt;br /&gt;Setelah berumur 10 minggu, semai dapat dicabut dan ditanam di lahan. sebelum dicabut, bedengan disiram dulu untuk memudahkan pencabutan semai. Semai/bibit dicabut dengan hati-hati dan sebaiknya digunakan pencukil, untuk mencukil tanah berikut semainya. Pada saat tersebut, semai kira-kira berukuran sebesar pensil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1. Persiapan&lt;br /&gt;Bagi bawang bombay, kondisi tanah yang hendak dicapai dalam pengolahan adalah tanah yang gembur, subur, tidak becek, tidak asam, bebas gulma dan sebagainya. Untuk mencapai kondisi tersebut beberapa perlakuan perlu dikemukakan, di antaranya pengapuran tanah asam kalau diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Pembukaan untuk budidaya bawang bombay sebaiknya sudah dilakukan sejak 2-4 minggu sebelum penanaman dan dikerjakan saat tidak ada hujan sehingga tanahnya cukup keras dan kering, agar tidak mempersulit pengerjaan dan tidak merusak struktur tanah. Lahan untuk tanaman bawang bombay ini digemburkan dulu dengan penggemburan ringan dengan cangkul, bajak atau traktor. Kemudian sekeliling lahan dibuat saluran irigasi keliling yang mengelilingi lahan. Saluran ini dalamnya sekitar 50 cm dan lebarnya 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, lahan digemburkan lagi agak dalam sedikit. Sambil digemburkan dalam lahan dibuat saluran melintang dan memotong lahan yang dalam dan lebarnya sekitar 40 cm. Saluran ini disebut saluran drainase. Lalu tanah bongkahan hasil cangkulan dari hasil galian saluran dibentuk bedengan, dengan parit-parit kecil di antara bedengan tersebut. Saluran drainase boleh ditiadakan, sebagai gantinya dibentuk parit-parit antar bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Lebar bedengan dibuat sekitar 80-100 cm dan panjangnya dapat disesuaikan dengan panjang-pendeknya lahan. Panjang bedengan antara 3-5 m. Kalau lahan agak sulit mendapatkan air, bedeng tidak perlu terlalu tinggi, cukup 15-25 cm saja. Kalau cukup banyak air atau sedikit berlebihan, bedengan perlu sedikit agak tinggi, yaitu 25-35 cm. Lalu parit-parit antar bedengan dibuat dengan lebar 35-40 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1 Penentuan Jarak Tanam&lt;br /&gt;Karena umbi bawang bombay cukup besar, jarak tanamnya sedikit lebih renggang. Batasan jarak tanam bawang bombay adalah 25-40 cm, untuk antar baris tanaman dan 10-40 cm antar tanaman dalam baris. Ada yang menggunakan jarak tanam 10 x 25 cm, 30 x 30 cm, 40 x 40 cm. Kalau bibitnya berupa semai, biasanya dipakai jarak tanam 10 x 25 cm. Tetapi jika bibitnya berupa umbi sets atau umbi tua, jarak tanamnya kira-kira 30 x 30 cm atau 40 x 40 cm. Jarak tanam terlalu rapat kurang baik, dan terlalu renggang pun tidak ekonomis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2 Pembuatan Lubang Tanaman&lt;br /&gt;Kalau dipakai bibit semai, mula-mula dibuat lubang dengan penugal yang dalamnya kira-kira 5-7,5 cm, kalau tanahnya berpasir. Tetapi jika tanahnya berupa lempung atau yang lain, kedalaman lubang sekitar 5 cm sudah cukup. Selanjutnya, bibit semai ditanamkan ke dalam lubang dengan akar tegak ke bawah dan tanah ditimbunkan ke pangkal batang sambil sedikit ditekan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.3. Cara Penanaman&lt;br /&gt;Jika digunakan bibit berupa umbi atau sets, mula-mula dibuat lubang dengan penugal untuk membantu menancapkan bibit ke bedengan. Umbi bibit lalu dimasukkan ke dalam lubang, sampai kira-kira bagian bekas potongan pada umbi rata dengan permukaan tanah bedengan. Posisi umbi diusahakan tegak ke atas dengan bagian potongan berada di permukaan tanah bedengan. Jangan sampai meletakkan umbi bibit dalam posisi terbalik. Setelah itu, ditutup tanah tipis-tipis. Setelah penanaman selesai, bedengan dibasahi secukupnya sampai lembab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelaksanaan penanaman bawang bombay usahakan dapat dikerjakan saat tidak ada hujan. Sebaiknya dipilih waktu pagi hari, saat matahari belum terlalu tinggi dan selagi cuaca cerah. Kalau lagi hujan atau cuaca kurang bersahabat, sebaiknya penanaman ditangguhkan dulu sampai cuaca memungkinkan untuk penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan rumput hendaknya dikerjakan dengan hati-hati agar tidak sampai merusak perakaran bawang bombay. Sambil menyiangi sekaligus dapat dilakukan penggemburan tanah agar permukaan bedengan tidak memadat. Bedengan yang longsor atau rusak dibenahi kembali. Juga saluran dan parit-paritnya. Kalau umbi yang mulai tumbuh nampak terangkat oleh akarnya sampai muncul di permukaan, hendaknya segera dibenahi kedudukannya sehingga umbi tertutup tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya, penyiangan rumput dilakukan 2 kali, yaitu saat berumur 3 minggu dan setelah berumur 6 minggu. Sering pula saat penyiangan atau penggemburan tanah dilakukan bersamaan dengan pemupukan susulan, sekaligus untuk membenamkan pupuk susulan ke dalam tanah. Jangan menggemburkan tanah selagi bedengan masih basah karena dapat memadatkan tanah. Sebaiknya dikerjakan sebelum pengairan diberikan sehingga tanah bedengan masih kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2. Pemupukan&lt;br /&gt;Bongkahan tanah di atas bedengan dihancurkan sambil diratakan sampai halus dan merata. Kira-kira seminggu sebelum tanam, diberikan pupuk kandang/kompos yang telah tua sebanyak 10-15 ton/ha. Pupuk ini dicampurkan pada tanah bedengan sambil menggemburkan dan meratakan bedengan lagi. Dengan pemberian pupuk ini akan dapat membantu memperbaiki struktur tanah, memperbaiki daya tampung air, kesuburan dan kegemburan tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu lahan perlu dibasahi secukupnya dengan memakai emrat atau sprayer. Lalu kira-kira 2-3 hari sebelum penanaman diberi pupuk lagi yaitu pupuk buatan yang berfungsi sebagai pupuk dasar. Tanah bedengan diratakan lagi sekaligus sambil membenamkan pupuk ke dalam tanah. Selanjutnya bedengan dibasahi lagi secukupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3. Pengairan&lt;br /&gt;Bawang bombay banyak memerlukan air, terutama saat pembentukan umbi. Menjelang pertumbuhan tua, kebutuhan akan air makin menurun dan menjelang panen lebih baik apabila tidak diberi air. Dengan kondisi sistem perakarannya berupa akar serabut yang tidak terlalu panjang, pengairan yang diberikan harus dapat mencapai dan dapat diserap oleh perakarannya. Sementara itu, penanaman bawang bombay umumnya dilakukan pada musim kemarau yang justru tidak banyak tersedia air. Karena itu, peranan pengairan dalam budidaya bawang bombay menjadi sangat penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengairan dapat dilakukan pula dengan sistem leb, yaitu dengan menggenangi parit-parit dan saluran-saluran. Sistim ini membutuhkan banyak air yang pada saat penanaman, air akan sulit diperoleh (musim kering). Di samping itu, sistim leb dapat menyebabkan memadatnya tanah. Beberapa hal perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pengairan sistim leb adalah usahakan agar pengairan dapat mencapai sistem perakaran dan dapat diserapnya. Setelah pengairan dirasa cukup air dalam parit dan saluran perlu segera dituras/dibuang sehingga tidak menyebabkan lahan menjadi becek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara lain yang lebih baik adalah dengan menyiramkan air melalui emrat/sprayer/sprinkler. Penggunaan emrat lebih cocok untuk mengairi lahan yang tidak begitu luas. Untuk lahan luas, penggunaan sprinkler lebih sesuai. Meski begitu penggunaan alat ini membutuhkan perlengkapan khusus, yaitu pompa air dan sprinkler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengairan pertama dilakukan segera setelah bibit ditanam. Bedengan dibasahi secukupnya. Setelah itu, pengairan dapat dilakukan setiap dua hari sekali yang dikerjakan pagi dan sore hari. Yang perlu diperhatikan adalah tanah-tanah bedengan jangan sampai kekeringan dan juga tidak menjadi becek. Pengairan ini diberikan sampai pembentukan umbi mencapai ukuran maksimum atau sudah menjelang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;Hama yang menyerang bawang bombay adalah hama bodas, penggerek daun dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;Penyakit yang menyerang bawang bombay adalah penyakit embun upas, penyakit busuk, bercak ungu dan sebagainya. Sebagai tindakan pengendalian ada yang melakukan penyemprotan tiap 7-10 hari sekali. Apabila terjadi hujan siang hari (musim kemarau), tanaman harus segera disemprot. Demikian pula jika malam harinya cuaca berembun atau hujan, maka pagi harinya segera disemprot fungisida untuk mencegah timbulnya berbagai penyakit. Selain itu, dijaga agar tanah bedengan tidak becek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur panen&lt;br /&gt;Umur panen bawang bombay berkisar 4-5 bulan. Jenis yang berumur panjang dapat mencapai 5 bulan, sedang yang berumur pendek biasanya kurang/sampai dari 4 bulan. Kalau tanaman digunakan untuk menghasilkan umbi untuk bibit, pemanenan dilakukan pada umur yang lebih tua daripada panen untuk umbi konsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri yang dapat digunakan untuk mengamati saat panen yang baik adalah perubahan warna daun dan batang leher umbinya. Kalau ujung-ujung daun mulai menguning dan batang leher umbi sudah mengempis, berarti saat panen sudah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;Apabila 30% dari seluruh tanaman sudah mengulai daunnya, maka tanaman dapat dirobohkan untuk mempercepat menuanya umbi dan beberapa hari kemudian bawang bombay sudah dapat dipanen. Jangan dibiarkan terlalu lama karena umbi-umbi dalam tanah pada keadaan demikian dapat menurunkan mutu umbi. Jangan memanen umbi yang terlalu muda karena umbi kurang padat dan jika disimpan akan banyak susut, mudah membusuk dan berkeriput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemanen adalah dengan cara mencabut. Apabila sulit dicabut atau daunnya mudah patah, dapat dibantu dengan membongkar bedengan. Panenlah sebelum batang benar-benar kering dan cukup liat untuk dicabut. Pemanenan sebaiknya dikerjakan saat cuaca cerah, tidak mendung apalagi hujan. Sebaiknya waktu pagi hari selagi matahari belum terik dan embun telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dicabut, untuk sementara biarkan umbi-umbi serta batangnya tersebut disimpan di atas bedengan agar sedikit lebih kering. Onggokkan sejajar sedemikian rupa sehingga umbi-umbinya tertimbun daun-daunnya. Dengan demikian, umbi akan terhindar dan terpaan panas matahari langsung. Selanjutnya umbi dapat diangkut ke tempat pengeringan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Pascapanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.1. Penyortiran dan Penggolongan&lt;br /&gt;Sebelum dijual ada baiknya jika umbi-umbi disortasi dulu. Umbi-umbi yang rusak, luka atau terkena serangan hama-penyakit dipisahkan dalam kelompok tersendiri. Tanah yang masih menempel di akar dibersihkan. Bagian batangnya dipotong kira-kira 2 cm di atas batang leher umbi. Jangan memotong terlalu pendek agar tidak mengenai umbi yang dapat menyebabkan luka dan memudahkan terkena hama atau penyakit. Kulit terluar yang sudah nampak terkelupas dibuang sehelai sehingga umbi nampak mengkilap, bersih dan cerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, umbi dikelompokan menurut besarnya, yaitu dalam kelompok berukuran besar, sedang dan kecil. Untuk pengepakan dapat digunakan karung atau wadah yang memberikan sirkulasi udara bersih dalam wadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2. Penyimpanan&lt;br /&gt;Di para-para di atas perapian dapur atau dalam gudang dapat digunakan untuk menyimpan bawang bombay. Namun demikian, karena belum banyak petani yang menanam bawang bombay, maka untuk sementara ini mungkin hasil produksi dapat cepat terjual habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.3. Pengeringan&lt;br /&gt;Pengeringan bawang bombay dilakukan dengan cara menjemur atau dengan menggunakan pengering buatan. Usahakan agar pengeringan dapat berjalan cepat sehingga kemungkinan kerusakan karena belum kering dapat terhindarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;keatas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkiraan analisis budidaya bawang bombay per musim tanam (5 bulan) di Jawa Timur dengan luas lahan 1 hektar pada tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Biaya produksi&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   1. Sewa lahan 1 ha per musim tanam&lt;br /&gt;   2. Bibit: 300 kg @ Rp. 7.000,-&lt;br /&gt;   3. Pupuk&lt;br /&gt;       - Pupuk kandang: 20 ton&lt;br /&gt;       - Urea: 267 kg @ Rp. 1.500,-&lt;br /&gt;       - TSP: 312,5 kg @ Rp. 1.800,-&lt;br /&gt;       - KCl: 200 kg @ Rp. 1.700,-&lt;br /&gt;   4. Obat dan pestisida&lt;br /&gt;       - Furadan: 20 kotak @ Rp. 31.000,-&lt;br /&gt;       - Insektisida lain&lt;br /&gt;       - Fungisida&lt;br /&gt;       - Herbisida&lt;br /&gt;       - Perekat: 2 liter @ Rp. 24.000,-&lt;br /&gt;   5. Tenaga kerja&lt;br /&gt;       - Membuat bedengan (borongan)&lt;br /&gt;       - Memipil bibit: 20 OH @ Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;       - Tanam: 30 OH&lt;br /&gt;       - Penyulaman: 10 OH&lt;br /&gt;       - Penyiraman: 260 OH&lt;br /&gt;       - Pemupukan dasar: 25 OH&lt;br /&gt;       - Pemupukan susulan: 30 OH&lt;br /&gt;       - Penyemprotan: 30 OH&lt;br /&gt;   6. Panen dan pascapanen&lt;br /&gt;       - Panen: 25 OH&lt;br /&gt;       - Pengeringan: 20 OH&lt;br /&gt;       - Sortasi: 20&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-4529962868428466349?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/4529962868428466349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=4529962868428466349' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/4529962868428466349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/4529962868428466349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-bawang-bombay.html' title='Budidaya Bawang Bombay'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-2987310246857582264</id><published>2009-06-02T20:35:00.002+07:00</published><updated>2009-06-09T14:05:53.445+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Kangkung</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:130%;" &gt;Kangkung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ipomoea reptans&lt;/span&gt; )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung tergolong sayur yang sangat populer, karena banyak peminatnya. Kangkung disebut juga Swamp cabbage, Water convovulus, Water spinach. Berasal dari India yang kemudian menyebar ke Malaysia, Burma, Indonesia, China Selatan Australia dan bagian negara Afrika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung banyak ditanam di Pulau Jawa khususnya di Jawa Barat, juga di Irian Jaya di Kecamatan Muting Kabupaten Merauke kangkung merupakan lumbung hidup sehari-hari. Di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar tanaman kangkung darat banyak ditanam penduduk untuk konsumsi keluarga maupun untuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;dijual ke pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung termasuk suku Convolvulaceae (keluarga kangkung-kangkungan). Kedudukan tanaman kangkung dalam sistematika tumbuh-tumbuhan diklasifikasikan ke dalam:&lt;br /&gt;a) Divisio : Spermatophyta&lt;br /&gt;b) Sub-divisio : Angiospermae&lt;br /&gt;c) Kelas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;d) Famili : Convolvulaceae&lt;br /&gt;e) Genus : Ipomoea&lt;br /&gt;f) Species : Ipomoea reptans&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung merupakan tanaman yang tumbuh cepat yang memberikan hasil dalam waktu 4-6 minggu sejak dari benih. Kangkung yang dikenal dengan nama Latin Ipomoea reptans terdiri dari 2 (dua) varietas, yaitu Kangkung Darat yang disebut Kangkung Cina dan Kangkung Air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa atau parit-parit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna bunga.&lt;br /&gt;Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunga putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk daun dan batang.&lt;br /&gt;Kangkung air berbatang dan berdaun lebih besar dari pada kangkung darat. Warna batang berbeda. Kangkung air berbatang hijau, sedangkan kangkung darat putih kehijau-hijauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan berbiji.&lt;br /&gt;Kangkung darat lebih banyak berbiji dari pada kangkung air. Itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat biji, sedangkan kangkung air dengan stek pucuk batang.&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan pucuk-pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Kangkung selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disamping itu hewan juga menyukai kangkung bila dicampur dalam makanan ayam, itik, sapi, kelinci dan babi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pakar kesehatan Filipina: Herminia de Guzman Ladion memasukkan kangkung dalam kelompok "Tanaman Penyembuh Ajaib", sebab berkhasiat untuk penyembuh penyakit "sembelit" juga sebagai obat yang sedang "diet". Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit "wasir"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah curah hujan yang baik untuk pertumbuhan tanaman ini berkisar antara 500-5000 mm/tahun. Pada musim hujan tanaman kangkung pertumbuhannya sangat cepat dan subur, asalkan di sekelilingnya tidak tumbuh rumput liar. Dengan demikian, kangkung pada umumnya kuat menghadapi rumput liar, sehingga kangkung dapat tumbuh di padang rumput, kebun/ladang yang agak rimbun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus-kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat, setiap naik 100 m tinggi tempat, maka temperatur udara turun 1 derajat C. Apabila kangkung ditanam di tempat yang terlalu panas, maka batang dan daunnya menjadi agak keras, sehingga tidak disukai konsumen.&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung darat menghendaki tanah yang subur, gembur banyak mengandung bahan organik dan tidak dipengaruhi keasaman tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kangkung darat tidak menghendaki tanah yang tergenang, karena akar akan mudah membusuk. Sedangkan kangkung air membutuhkan tanah yang selalu tergenang air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kangkung membutuhkan tanah datar bagi pertumbuhannya, sebab tanah yang memiliki kelerengan tinggi tidak dapat mempertahankan kandungan air secara baik.&lt;br /&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi (pegunungan) ± 2000 meter dpl. Baik kangkung darat maupun kangkung air, kedua varietas tersebut dapat tumbuh di mana saja, baik di dataran rendah maupun di dataran tinggi. Hasilnya akan tetap sama asal jangan dicampur aduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.1. Persyaratan Bibit Kangkung Darat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Karena kalau kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit kangkung sebaiknya berasal dari kangkung muda, berukuran 20 -30 cm. Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang, kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.2. Penyiapan Benih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Benih kangkung yang akan ditanam adalah stek muda, berukuran 20-30 cm, dengan jarak tanam 1,5 x 15 cm.&lt;br /&gt;b) Untuk benih dari biji kangkung diambil dari tanaman yang tua.&lt;br /&gt;c) Benih yang diperlukan untuk seluas 10 m2 atau 2 bedengan ± 300 gram, jika tiap lubang diisi 2-3 butir biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.3. Teknik Penyemaian Benih&lt;br /&gt;Biji dengan ukuran diameter 3 mm, disebar dalam baris-baris berjarak 15 cm dengan jarak kira-kira 5 cm antara masing-masing biji. Kultivar yang berbiji dapat tahan tanah lembab dan tumbuh baik dalam musim hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1.4. Pemeliharaan Pembenihan/Penyemaian&lt;br /&gt;Agar diperoleh hasil panen yang baik, dalam pemeliharaan pembenihan kangkung diperlukan penyiraman teratur dan kerap pada cuaca kering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.1. Persiapan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung air membutuhkan tempat-tempat yang ada genangan air. Bertanam kangkung memerlukan tanah yang diberi pupuk kompos, kemudian dibuatkan petak-petak/bedengan seperti tanaman sayuran lain. Tentang panjang bedengan, tergantung kondisi lahan. Kemudian siapkan tugal dan tancapkan di atas bedengan dengan jarak 20 x 20 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.2. Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Tiga minggu sebelum melakukan penanaman kangkung, sebaiknya tanah diolah terlebih dahulu. Kemudian tanah dicampur dengan pupuk kompos atau pupuk kandang sebanyak 10 ton per hektar, diberi air dengan ketinggian 5 cm, dibiarkan tergenang air dan diberi urea 1 kuintal per hektar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.3. Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembentukan bedengan untuk tanaman kangkung dapat dilakukan dengan ukuran lebar 0,8-1,2 m, panjang 3-5 m, dalam ± 15-20 cm dan jarak antar bedeng 50 cm dengan membuat selokan. Ukuran tersebut dapat disesuaikan, tergantung keadaan lahan yang tersedia. Bedengan dibuat untuk kelancaran pemasukan dan pembuangan air yang berlebih serta untuk memudahkan pemeliharaan dan kegiatan lain. Ada pula yang membuat bedengan dengan ukuran panjang kali lebar: 2x1 m dengan kedalaman drainase 30x30 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.4. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan bagi tanaman kangkung terdiri dari pupuk dasar yaitu pupuk kandang, yang diberikan seminggu sebelum tanam (setelah selesai pembuatan bedengan). Selain itu juga diberikan pupuk urea, seminggu setelah tanam, kemudian 2 minggu setelah tanam. Pemberian pupuk urea dicampur dengan air kemudian disiram pada pangkal tanaman dengan ember penyiram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu melakukan pemupukan, lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4 sampai 5 hari. Kemudian diairi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk yang diperlukan adalah sebagai berikut: 10-20 ton/ha rabuk organik dan 100-250 kg/ha urea, diberikan selama 2 minggu pertama, dengan cara disiramkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2.5. Lain-lain&lt;br /&gt;Agar tanaman kangkung dapat berproduksi secara memuaskan, perlu dilakukan pergiliran tanaman dengan tanaman kacang tanah, kacang hijau, kacang buncis, kecipir atau ketimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanam&lt;br /&gt;Penentuan pola tanam dapat disesuaikan dengan luas lahan yang akan ditanami. Apabila bedengan dibuat dengan ukuran 2x1 m, maka bila jarak tanamnya ditentukan 20x20 cm, maka dalam satu bedengan terdapat sebanyak 50 lubang atau 50 rumpun kangkung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam&lt;br /&gt;Pembuatan lubang tanam dapat dilakukan dengan cara ditugal, yang berjarak 20x20 cm, sedalam ± 5 cm. Setiap bedengan dapat ditentukan jumlah lubangnya (tergantung ukuran bedengan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.3. Cara Penanaman&lt;br /&gt;Penanaman kangkung darat dilakukan pada sore hari yaitu jam 16.00 sampai 18.00. Hal ini bertujuan agar benih setelah ditanam tidak langsung mendapat udara kering sehingga benih cepat berkecambah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman&lt;br /&gt;Bila tanaman kangkung terlalu lebat/sangat berdesakan dalam satu rumpun maka diperlukan penjarangan. Apabila tanaman banyak yang mati, maka segera dilakukan penyulaman (diganti dengan bibit yang baru yang telah disiapkan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;br /&gt;Penyiangan dilakukan bila terdapat rumput liar (tanaman pengganggu). Penyiangan dilakukan setiap 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3. Pembubunan&lt;br /&gt;Pembumbunan dilakukan untuk mendekatkan unsur hara bagi tanaman kangkung sehingga dapat mempermudah akar tanaman untuk mentransfernya. Pembumbunan dilakukan pada saat tanaman berumur 2 minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.4. Perempalan&lt;br /&gt;Bagi tanaman kangkung sebagai penghasil daun dan batang, perempalan tidak dibutuhkan, sebab perempalan adalah penyortiran dan pengambilan tunas-tunas muda yang tidak berguna, yang akan menghambat pertumbuhan tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemupukan dilakukan dengan menggunakan pupuk urea. Pupuk urea diberikan hanya sekali dengan cara dilarutkan dalam air lalu disiram pada tanaman kangkung. Perlu diperhatikan agar pada waktu menebar pupuk jangan sampai ada butir pupuk yang tersangkut atau menempel pada daun, sebab akan menyebabkan daun menjadi layu. Gunakan sapu lidi setiap selesai menabur pupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.6. Pengairan dan Penyiraman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama tidak ada hujan, perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman gunanya untuk mencegah tanaman kangkung terhadap kekeringan. Penyiraman dilakukan dua kali sehari yaitu pagi (jam 07.00) dan sore (jam 17.00). Penyiraman dilakukan dengan gembor penyiram. Tanaman kangkung membutuhkan banyak air dalam pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.7. Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kangkung darat yang terkena ulat berwarna putih yang berada pada helai daun sebelah bawah sehingga menyebabkan warna daun menjadi kuning. Untuk penanggulangannya disemprotkan Baysudin dengan dosis 2 cc per liter air, yang disemprotkan sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memberantas ulat daun yang sering menyerang tanaman kangkung, digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.8. Pemeliharaan Lain&lt;br /&gt;Agar pertumbuhan subur, sebaiknya seminggu setelah atau sebelum panen, tanaman dipupuk urea kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hama yang banyak menyerang tanaman kangkung umumnya relatif tidak ganas, antara lain: belalang dan ulat daun. Pengendalian: untuk mencegah terjadi over populasi, semprotkan Sevin atau sejenisnya. Untuk memberantas ulat daun ini digunakan Insektisida Diazinon 60 EC, dengan dosis sebesar 2 cc per liter air dan disemprotkan pada tanaman. Pada waktu membasmi hama, sebaiknya lahan dikeringkan terlebih dahulu selama 4-5 hari. Kemudian diairi kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kangkung tahan terhadap penyakit dan hanya memerlukan sedikit perlindungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit jamur yang lazim menyerang tanaman kangkung adalah karat putih (Albugo Ipomoea panduratae). Penyakit ini peka terhadap Dithane M-45 atau Benlate, tetapi bila benih diperlakukan dengan penyiraman dan higiene umumnya baik, penyakit tidak menjadi masalah. Serangga pemakan daun dikendalikan dengan penyemprotan strategis senyawa organofosfat jauh sebelum pemanenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;Panen pertama sudah bisa dilakukan pada hari ke 12. Saat ini kangkung sudah tumbuh dengan panjang batang kira-kira 20-25 cm. Ada pula yang mulai memangkas sesudah berumur 1,5 bulan dari saat penanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pemanenan kangkung air hampir sama dengan kangkung darat. Cara memanen, pangkas batangnya dengan menyisakan sekitar 2-5 cm di atas permukaan tanah atau meninggalkan 2-3 buku tua. Panen dilakukan pada sore hari. Panenan dilakukan dengan cara memotong kangkung yang siap panen dengan ciri batang besar dan berdaun lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan menggunakan alat pemotong. Pemungutan hasil kangkung darat dapat pula dilakukan dengan cara mencabutnya sampai akar, kemudian dicuci dalam air. Panen kangkung darat dilakukan pada umur 27 hari. Selama panen, lahan penanaman harus tetap basah tapi tidak berair (lembab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.3. Periode Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen dilakukan 2-3 minggu sekali. Setiap kali habis panen, biasanya akan terbentuk cabang-cabang baru. Setelah 5 kali panen atau 10-11 kali panen maka produksi kangkung akan menurun baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Jika sudah terlihat berbunga, sisakan ± 2 m2 untuk dikembangkan terus menjadi biji yang kira-kira memakan waktu 40 hari sampai dapat dikeringkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.4. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;Pertanaman kangkung secara komersial menghasilkan sekitar 15 ton/ha sepanjang beberapa panenan berturut-turut atau sekitar 160 kg/tahun/10 m2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Pascapanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.1. Pengumpulan&lt;br /&gt;Kangkung yang baru dipanen dikumpulkan dan kemudian disatukan sebanyak 15-20 batang kangkung dalam satu ikatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2 Penyimpanan&lt;br /&gt;Dalam penyimpanan (sebelum dipasarkan), agar tidak cepat layu, kangkung yang telah diikat celupkan dalam air tawar bersih dan tiriskan dengan menggunakan anjang-anjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis budidaya kangkung dengan luas lahan 30 m2 selama 3 bulan di daerah Bogor pada tahun 1999. Kangkung dipanen 2 kali/bulan. Rata-rata produksi 200 ikat/panen; produksi total selama 3 bulan=1.200 ikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewa lahan (3m x 10 m)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit: 50 ikat @ Rp. 300,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk&lt;br /&gt;- TSP: 2 kg @ Rp. 1.800,-&lt;br /&gt;- Urea: 5 kg @ Rp. 1.500,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pestisida/pembasmi ulat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alat&lt;br /&gt;- Cangkul: 1 buah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Cangkul lahan: 1 OH @ Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;- Tanam bibit: 1 OH @ Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;- Panen : 6 kali @ Rp. 10.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transportasi&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapatan: 1.200 ikat @ Rp. 400,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;- B/C rasio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp. &lt;br /&gt;50.000,-&lt;br /&gt;15.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.600,-&lt;br /&gt;7.500,-&lt;br /&gt;15.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10.000,-&lt;br /&gt;10.000,-&lt;br /&gt;60.000,-&lt;br /&gt;25.000,-&lt;br /&gt;216.100,-&lt;br /&gt;480.000,-&lt;br /&gt;263.900,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= 2,221&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;4.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Menurut data statistik tahun 1983, produksi kangkung di Indonesia sebesar 59.110 ton, sedangkan sayuran lain seperti bayam yaitu 50.382 ton dan petsai/sawi 134.804 ton. Harga kangkung di pasar saat ini sekitar Rp.400,- per ikat (tahun 1999).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;Standar ini meliputi syarat mutu, cara pengujian mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Diskripsi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;Menurut persetujuan pembeli dan penjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan yang ada. Dari setiap kemasan diambil contoh sebanyak 3 kg dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut diacak bertingkat (stratified random sampling) sampai diperoleh minimum 3 kg untuk dianalisis. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh dalam lot adalah :&lt;br /&gt;a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.&lt;br /&gt;b) Jumlah kemasan 101 sampai 300 , contoh yang diambil=7.&lt;br /&gt;c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil= 9.&lt;br /&gt;d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.&lt;br /&gt;e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5. Pengemasan&lt;br /&gt;Menurut persetujuan pembeli dan penjual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kangkung darat dan kangkung air. Trubus, no. 186, tahun XVI - Mei '85.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adiwidjaja, Rahmat, dkk. (1997). Pengaruh Jenis dan Dosis Pupuk Kandang terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kangkung Darat (Ipomoeae reptans) kultivar sutera pada Inceptisols Laporan Penelitian. Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran Fakultas Pertanian UNPAD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anonim. (199?). Kangkung. ASRI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eko Widiyanto. (1991). Sinar Tani. Bercocok Tanam Kangkung Darat. Sinar Tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Git. (1993). Kangkung Darat Dua Puluh Hari Sudah Bisa Dipanen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hieronymus Budi Santoso (1990). Kangkung Darat Kangkung Air. Suara Karya Minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulya, Sarja (1979). Kangkung Darat. Majalah Trubus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupon. (1992). Manfaat Tanaman Kangkung Darat. Sinar Tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rahmat. (1992). Meningkatkan Pendapatan Petani Melalui Budidaya Kangkung. Sinar Tani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidi; Aji. (1993). Membudidayakan Kangkung Secara Intensif. Minggu Pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zailani, Kadir, dkk. (1993). Estimasi Penggunaan Pupuk Urea pada Percobaan Penanaman Kangkung Darat (Ipomoea reptans POIR) di Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Laporan Penelitian. Universitas Syiah Kuala Darussalam Banda Aceh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-2987310246857582264?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://warintek.progressio.or.id' title='Budidaya Kangkung'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/2987310246857582264/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=2987310246857582264' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/2987310246857582264'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/2987310246857582264'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kangkung.html' title='Budidaya Kangkung'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-5350000269758536849</id><published>2009-06-02T20:24:00.004+07:00</published><updated>2009-06-24T23:41:50.539+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Kacang Tunggak</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;BUDIDAYA KACANG TUNGGAK&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Teknik budidaya tanaman kacang tunggak meliputi beberapa kegiatan pokok seperti berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Penyiapan Benih&lt;br /&gt;Tanaman kacang tunggak diperbanyak secara generatif dengan biji (benih). Benih kacang tunggak yang baik dan bermutu harus memenuhi kriteria sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Berasal dari varietas unggul&lt;br /&gt;2.Tampilan biji bernas (tidak keriput) dan tidak berlubang karena gigitan hama gudang&lt;br /&gt;3.Daya kecambahnya tinggi, diatas 90%&lt;br /&gt;4.Tidak mengandung wabah infeksi hama dan penyakit.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benih kacang tunggak dapat diperoleh dengan menbeli dari toko pertanian, atau dapat pula diperoleh dari pertanaman sebelumnya. Cara memproduksi benih kacang tunggak adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Polong dipanen pada stadium masak fisiologis, yaitu setelah polong kering atau berumur 80-100 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;2.Polong dijemur di lapang hingga kering, kemudian kulit polongnya dilepas secara manual dengan cara diinjak-injak dalam karung, atau dengan menggunakan alat bantu mesin perontok.&lt;br /&gt;3.Biji kacang tunggak dibersihkan dari kulit polong dan kotoran-kotoran yang tercampur.&lt;br /&gt;4.Biji harus segera dijemur ulang hingga kering dengan kadar air biji berkisar antara 10%-12%.&lt;br /&gt;5.Biji dikemas dalam kantung atau kertas aluminium foil berkapasitas 1 kg/bungkus. Kemudian disimpan dalam ruang pendingin bersuhu dibawah 100C yang dilengkapi dengan sarana pengatur kelembaban udara (humidity meter) dan pengatur temperatur (thermometer). Apabila biji tidak sempet dikemas dapat disimpan sementara dalam kaleng-kaleng bekas minyak tanah atau drum plastik yang bagian bawahnya diberikan kapur tohor (CaO).&lt;br /&gt;Kebutuhan benih kacang tunggak per satuan luas lahan sangat ditentukan oleh jarak tanam, sistem tanam, dan jumlah benih per lubang tanam. Pedoman umum kebutuhan benih kacang tunggak berkisar antara 20kg-30kg/ha. Daya kecambah benih kacang tunggak cepat menurun, sehingga sebelum benih ditanam sebaiknya daya kecambahnya diuji terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Penyiapan Lahan&lt;br /&gt;Penyiapan lahan bagi kacang tunggak dapat dilakukan tanpa pengolahan tanah. Penyiapan lahan tanpa pengolahan tanah ini biasanya dipraktekkan pada lahan swah tudah hujan bekas tanaman padi. Hasil penelitian Balittan malang menunjukkan bahwa penanaman kacang tunggak dengan tanpa pengolahan tanah dapat memberikan hasil yang cukup tinggi apabila diikuti dengan perbaikan teknologi budidaya, misalnya pembuatan drainase, pemberian mulsa jerami 5 ton/ha, penanaman dengan cara tugal, penyiangan dua kali, pengairan dua kali, dan pemupka berimbang.&lt;br /&gt;Tata cara penyiapan lahan tanpa pengolahan tanah adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Lahan dibersihkan dari jerami dan rumput-rumput liar.&lt;br /&gt;2.Dibuat saluran keliling (drainase) selebar 20-30 cm.&lt;br /&gt;3.Dibuat petakan-petakan ukuran 4 m x 5 m atau disesuaikan dengan keadaan lahan, tanpa mengolah atau menggemburkan tanah.&lt;br /&gt;Namun, hasil penelitian Balittan Malang menunjukkan bahwa pengolahan tanah tetap merupakan komponen yang penting pada budidaya kacang tunggak untuk dapat meningkatkan hasil panen. Tata cara penyiapan lahan dengan pengolahan tanah adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;1.Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar dan pepohonan lain.&lt;br /&gt;2.Tanah diolah dengan cangkul sedalam 20 cm – 30 cm. Kemudian sambil diratakan, dibuat petakan-petakan berukuran 6 m x 5 m atau bedengan-bedengna selebar 120 – 150 cm dengan panjang disesuaikan keadaan lahan. Dibuat pula parit atau saluran antarpetakan atau antar bedengan selebar 30 – 40 cm.&lt;br /&gt;Penyiapan lahan biasanya dilakukan minimal 2 minggu sebelum benih kacang tunggak ditanam, yaitu pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Penanaman&lt;br /&gt;Penanaman benih kacang tunggak dapat dilakukan dengan cara disebar atau ditugal. Hasil penelitian Balittan Malang menunjukkna bahwa penanaman dengan cara ditugal memberikan hasil panen kacang tunggak yang lebih tinggi daripada penanaman cara disebar.&lt;br /&gt;Tata cara penanaman benih kacang tunggak sistem tugal adalah, mula-mula dibuat lubang tanam dengan alat bantu tugal pada jarak 40 cm x 20 cm. Kemudian, tiap lubang tanam diisi dengan 1-2 butir benih sambil ditutup dengan tanah tipis. Hasil penelitian Balittan Malang menunjukkan pula bahwa untuk meningkatkan populasi  tanaman per satuan satuan luas lahan, jarak tanam dapat divariasi, misalnya 25 cm x 15 cm, diisi 1-2 butir benih/lubang, atau 25 cm x 10 cm, diisi 1 butir benih/ lubang.&lt;br /&gt;Selain sistem tanam secara tunggal (monokultur), kacang tunggak juga dapat ditumpangsarikan dengan jagung, ubi kayu, sorgum, kapas, dan tanaman lain yang tidak sefamili. Misalnya, pada sistem tumpangsari ubi kayu dengan kacang tunggak, dapat digunakan jarak tanam 80 cm x 60 cm bagi ubi kayu dan 40 cm x 20 cm bagi kacang tunggak.&lt;br /&gt;Bersamaan dengna penanaman benih, dilakukan pemupukan dasar. Dosis dan jenis pupuk dasar yang digunakan adalah 100 kg TSP (SP-36) + 50 kg KCl per ha. Pemupukan dilakukan dengan memasukkan pupuk pupuk ke dalam lubang pupuk yang telah dibuat terlebih dahulu dengan bantuan tugal. Lubang pupuk dibuat kurang lebih 5 cm di kiri kanan lubang tanah. Setelah pupuk dimasukkan, lubang pupuk ditutup dengan tanah tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;Kegiatan pemeliharaan tanaman meliputi penyulaman, pengairan, pemulsaan, penyiangan, pemupukan susulan, dan pengendalian organisme pengganggu tanaman.&lt;br /&gt;1. Penyulaman&lt;br /&gt;Penyulaman dilakaukan seawal mungkin, maksiamal 15 hari setelah tanam. Penyulaman dilakukan mula-mula dengan membuat lubang tanam yang baru pada bekas lubang yang sama. Kemudian memasukkan 1-2 butir benih kacang tunggak pada lubang tanam tersebut sambil menutupnya dengan tanah tipis.&lt;br /&gt;2. Pengairan&lt;br /&gt;Meski tanaman kacang tunggak tahan terhadap kondisi kering, tetapi pada stadium pertumbuhan awal dan fase pertumbuhan vegetatif, tetap membutuhkan air tanah yang cukup. Apabila tidak turun hujan, sebaiknya dilakukan pengairan minimal 2 kali selama pertanaman. Pengairan dapat dilakukan sistem di-leb atau dengan menyiram tanahnya hingga cukup basah (lembab).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pemulsaan&lt;br /&gt;Jerami padi dapat digunakan sebagai penutup tanah (mulsa) pada pertanaman kacang tunggak. Mulsa selain dapat menekan pertumbuhan gulma, juga dapat menjaga kelembaban tanah, dan kegemburan tanah, menekan penguapan air tanah, serta menjadi bahan organik penyubur tanah.&lt;br /&gt;Mulsa jerami dipasang dengan cara dihamparkan merata setebal 5 cm pada permukaan tanah. Pemasangan mulsa jerami sebaiknya dilakukan segera setelah tanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pemupukan Susulan&lt;br /&gt;Respon tanaman kacang tunggak terhadap pupuk Nitrogen (N) sangat tinggi. Pemberian pupuk N yang berlebihan terutama pada tanah yang subur dapat menyebabkan bakteri Rhizobium yang pada mulanya bersifat simbiosis mutualistik, berubah menjadi simbiosis parasitis sehingga menyebabkan produksi kacang tunggak menurun.&lt;br /&gt;Untuk meningkatkan kesuburan tanaman kacang tunggak diperlukan pupuk tambahan. Dosis dan jenis pupuk dasar yang diberikan adalah Urea 50kg/hektar. Pupuk urea diberikan dua kali, yaitu 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam. Pemupukan dilakukan mula-mula dengan membuat parit-parit dangkal di antara barisan tanaman kacang tunggak, kemudian menyebarkan pupuk secara merata ke dalam parit-parit tersebut, dan menutupnya kembali dengan tanah tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Penyiangan&lt;br /&gt;Rumput-rumput liar (gulma) yang tumbuh di areal (lahan) kacang tunggak akan menjadi pesaing dalam mendapatkan unsur hara, air, dan sinar matahari. Rumput liar harus disiangi dengan cara mencabutnya dengan tangan atau dengan kored, kemudian menimbunnya dalam lubang tanah atau membuangnya ke tempat penampungan limbah.&lt;br /&gt;Selama pertanaman dilakukan dua kali penyiangan, yaitu saat tanaman berumur 2 minggu dan 4 minggu setelah tanam. Kegiatan penyiangan biasanya dilakukan bersamaan dengan pemupukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perlindungan Tanaman&lt;br /&gt;Perlindungan (proteksi) tanaman diarahkan pada pengendalian hama dan penyakit. Prinsip perlindungan tanaman adalah mempraktekkan pengendalian secara terpadu. Komponen pengendalian terpadu adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;a.Perlakuan benih sebelum tanam dengan pestisida selektif.&lt;br /&gt;b.Perbaikan drainase tanah dengan membuat parit atau saluran antarbedengan atau antarpetakan.&lt;br /&gt;c.Pemberian mulsa jerami.&lt;br /&gt;d.Pemupukan berimbang sesuai dengan dosis anjuran.&lt;br /&gt;e.Pemantauan (monitoring) tanaman secara kontinu (berkala).&lt;br /&gt;f.Penyemprotan pestisida bila ditemukan serangan hama dan penyakit di atas ambang ekonomi atau ambang kendali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;E. Paket Teknologi Budidaya&lt;br /&gt;Perbaikan budidaya kacang tunggak diarahkan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas. Paket teknologi budidaya kacang tunggak berdasarkan hasil penelitian Balittan Malang dapat dilihat pada Tabel berikut :&lt;br /&gt;No.&lt;br /&gt;Komponen Teknologi&lt;br /&gt;Keterangan&lt;br /&gt;1.&lt;br /&gt;Varietas unggul&lt;br /&gt;KT-1, KT-2, KT-3, KT-4, KT-5&lt;br /&gt;2.&lt;br /&gt;Rotasi tanaman pada lahan sawah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Tadah hujan&lt;br /&gt;kedelai-padi-kacang tunggak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Setengah teknis&lt;br /&gt;padi-kedelai-kacang tunggak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Teknis&lt;br /&gt;padi-padi-kacang tunggak&lt;br /&gt;3.&lt;br /&gt;Pengolahan tanah&lt;br /&gt;Tidak dilakukan pengolahan tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;di lahan sawah sesudah padi&lt;br /&gt;4.&lt;br /&gt;Jarak tanam dan populasi tanam&lt;br /&gt;40cm x 10 cm, 1 biji/lubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;atau 40cm x 20 cm, 2 biji/lubang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(populasi 250.000tanaman/hektar),&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kebutuhan benih 25-30 kg/ha.&lt;br /&gt;5.&lt;br /&gt;Pemupukan&lt;br /&gt;Pada tanah subur, tidak perlu pe-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mupukan. Pada tanah kurang subur&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;diberikan pemupukan:22,5kg urea+&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;45kg TSP + 45kg KCl/ha.&lt;br /&gt;6.&lt;br /&gt;Perlindungan tanaman&lt;br /&gt;Penggunaan pestisida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan selanjutnya, penerapan paket teknologi disesuaikan dengan kondisi lahan, sehingga dikenal adanya paket teknologi budidaya kacang tunggak di lahan sawah tadah hujan, lahan kering, dan lahan marginal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-5350000269758536849?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/5350000269758536849/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=5350000269758536849' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5350000269758536849'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5350000269758536849'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/teknik-budidaya-kacang-tunggak-teknik.html' title='Budidaya Kacang Tunggak'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-6046358967990823455</id><published>2009-06-02T20:12:00.002+07:00</published><updated>2009-06-09T14:11:10.372+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Kentang</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Budidaya Kentang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Solanun tuberosum&lt;/span&gt; L. )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; I. UMUM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;br /&gt;Tanaman ini berasal dari daerah subtropis di Eropa yang masuk ke Indonesia pada saat bangsa Eropa memasuki Indonesia di sekitar abad ke 17 atau 18.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;br /&gt;Sentra tanaman yang utama adalah Lembang dan Pangalengan (Jawa Barat), Magelang (Jawa Timur), Bali. Produksi kentang pada tahun 1998 mencapai 1.011.316 ton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang (Solanum tuberosum L) termasuk jenis tanaman sayuran semusim, berumur pendek dan berbentuk perdu/semak. Kentang termasuk tanaman semusim karena hanya satu kali berproduksi, setelah itu mati. Umur tanaman kentang antara 90-180 hari.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tumbuhan, kentang diklasifikasikan sebagai berikut:&lt;br /&gt;a) Divisi : Spermatophyta&lt;br /&gt;b) Subdivisi : Angiospermae&lt;br /&gt;c) Kelas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;d) Famili : Solanaceae&lt;br /&gt;e) Genus : Solanum&lt;br /&gt;f) Species : Solanun tuberosum L.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tanaman ini dikenal pula spesies-spesies lain yang merupakan spesies liar, di antaranya Solanum andigenum L, Solanum anglgenum L, Solanum demissum L dan lain-lain. Varitas kentang yang banyak ditanam di Indonesia adalah kentang kuning varitas Granola, Atlantis, Cipanas dan Segunung .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat kandungan gizinya, kentang merupakan sumber utama karbohidrat. Kentang menjadi makanan pokok di banyak negara barat. Zat-zat gizi yang terkandung dalam 100 gram bahan adalah kalori 347 kal, protein 0,3 gram, lemak 0,1 gram, karbohidrat 85,6 gram, kalsium (Ca) 20 gram, fosfor (P) 30 mg, besi (Fe) 0,5 mg dan vitamin B 0,04 mg&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.1. Iklim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daerah dengan curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun sangat sesuai untuk membudidayakan kentang. Daerah yang sering mengalami angin kencang tidak cocok untuk budidaya kentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama penyinaran yang diperlukan tanaman kentang untuk kegiatan fotosintesis adalah 9-10 jam/hari. Lama penyinaran juga berpengaruh terhadap waktu dan masa perkembangan umbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 18-21 derajat C. Pertumbuhan umbi akan terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10 derajat C dan lebih dari 30 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelembaban yang sesuai untuk tanaman kentang adalah 80-90%. Kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabkan tanaman mudah terserang hama dan penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.2. Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik, tanah yang baik untuk bercocok tanaman kentang adalah yang berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam. Sifat fisik tanah yang baik akan menjamin ketersediaan oksigen di dalam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanah yang memiliki sifat ini adalah tanah Andosol yang terbentuk di pegunungan-pegunungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan pH tanah yang sesuai untuk tanaman kentang bervariasi antara 5,0-7,0, tergantung varietasnya. Untuk produksi yang baik pH yang rendah tidak cocok ditanami kentang. Pengapuran mutlak diberikan pada tanah yang memiliki nilai pH sekitar 7.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Daerah yang cocok untuk menanam kentang adalah dataran tinggi/daerah pegunungan, dengan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl. Ketinggian idealnya berkisar antara 1000-1300 m dpl. Beberapa varitas kentang dapat ditanam di dataran menengah (300-700 m dpl).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.1. Pembibitan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit Tanaman kentang dapat berasal dari umbi, perbanyakan melalui stek batang dan stek tunas daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram. Pilih umbi yang cukup tua antara 150-180 hari, umur tergantung varietas, tidak cacat, umbi baik, varitas unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umbi disimpan di dalam rak/peti di gudang dengan sirkulasi udara yang baik (kelembaban 80-95%). Lama penyimpanan 6-7 bulan pada suhu rendah dan 5-6 bulan pada suhu 25 derajat C.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilih umbi dengan ukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunakan umbi yang akan digunakan sebagai bibit hanya sampai generasi keempat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertunas sekitar 2 cm, umbi siap ditanam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila bibit diusahakan dengan membeli, (usahakan bibit yang kita beli bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa dan dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi yang dibelah harus direndam dulu di dalam larutan Dithane M-45 selama 5-10 menit. Walaupun pembelahan menghemat bibit, tetapi bibit yang dibelah menghasilkan umbi yang lebih sedikit daripada yang tidak dibelah. Hal tersebut harus diperhitungkan secara ekonomis.&lt;br /&gt;Stek Batang dan stek tunas&lt;br /&gt;Cara ini tidak biasa dilakukan karena lebih rumit dan memakan waktu lebih lama. Bahan tanaman yang akan diambil stek batang/tunasnya harus ditanam di dalam pot. Pengambilan stek baru dapat dilakukan jika tanaman telah berumur 1-1,5 bulan dengan tinggi 25-30 cm. Stek disemaikan di persemaian. Apabila bibit menggunakan hasil stek batang atau tunas daun, ambil dari tanaman yang sehat dan baik pertumbuhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan dibajak sedalam 30-40 cm sampai gembur benar supaya perkembangan akar dan pembesaran umbi berlangsung optimal. Kemudian tanah dibiarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada lahan datar, sebaiknya dibuat bedengan memanjang ke arah Barat-Timur agar memperoleh sinar matahari secara optimal, sedang pada lahan berbukit arah bedengan dibuat tegak lurus kimiringan tanah untuk mencegah erosi. Lebar bedengan 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan jarak antar bedengan 30 cm. Lebar dan jarak antar bedengan dapat diubah sesuai dengan varietas kentang yang ditanam. Di sekeliling petak bedengan dibuat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.1. Pemupukan Dasar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Pupuk dasar organik berupa kotoran ayam 10 ton/ha, kotoran kambing sebanyak 15 ton/ha atau kotoran sapi 20 ton/ha diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam, dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam.&lt;br /&gt;b) Pupuk anorganik berupa SP-36=400kg/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.3.2. Cara Penanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit yang diperlukan jika memakai jarak tanam 70 x 30 cm adalah 1.300-1.700 kg/ha dengan anggapan umbi bibit berbobot sekitar 30-45 gram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jarak tanaman tergantung varietas. Dimanat dan LCB 80 x 40 sedangkan varietas lain 70 x 30 cm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu tanam yang tepat adalah diakhir musim hujan pada bulan April-Juni, jika lahan memiliki irigasi yang baik/sumber air kentang dapat ditanam dimusim kemarau. Jangan menanam dimusim hujan. Penanaman dilakukan dipagi/sore hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lubang tanam dibuat dengan kedalaman 8-10 cm. Bibit dimasukkan ke lubang tanam, ditimbun dengan tanah dan tekan tanah di sekitar umbi. Bibit akan tumbuh sekitar 10-14 hst.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulsa jerami perlu dihamparkan di bedengan jika kentang ditanam di dataran medium.&lt;br /&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.1. Penyulaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengganti tanaman yang kurang baik, maka dilakukan penyulaman. Penyulaman dapat dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari. Bibit sulaman merupakan bibit cadangan yang telah disiapkan bersamaan dengan bibit produksi. Penyulaman dilakukan dengan cara mencabut tanaman yang mati/kurang baik tumbuhnya dan ganti dengan tanaman baru pada lubang yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;br /&gt;Lakukan penyiangan secara kontinyu dan sebaiknya dilakukan 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan. Jadi penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman. Penyiangan harus dilakukan pada fase kritis yaitu vegetatif awal dan pembentukan umbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.3. Pemangkasan Bunga&lt;br /&gt;Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara untuk pembentukan umbi dan pembungaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.4. Pemupukan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pupuk organik, maka pemberian pupuk anorganik juga sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Pupuk yang biasa diberikan Urea dengan dosis 330 kg/ha, TSP dengan dosis 400 kg/ha sedangkan KCl 200 kg/ha. Secara keseluruhan pemberian pupuk organik dan anorganik adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk kandang: saat tanam 15.000-20.000 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk anorganik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urea/ZA: 21 hari setelah tanam 165/350 kg dan 45 hari setelah tanam 165/365 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SP-36: saat tanam 400 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KCl: 21 hari setelah tanam 100 kg dan 45 hari setelah tanam 100 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk cair: 7-10 hari sekali dengan dosis sesuai anjuran.&lt;br /&gt;Pupuk anorganik diberikan ke dalam lubang pada jarak 10 cm dari batang tanaman kentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.4.5. Pengairan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanaman kentang sangat peka terhadap kekurangan air. Pengairan harus dilakukan secara rutin tetapi tidak berlebihan. Pemberian air yang cukup membantu menstabilkan kelembaban tanah sebagai pelarut pupuk. Selang waktu 7 hari sekali secara rutin sudah cukup untuk tanaman kentang. Pengairan dilakukan dengan cara disiram dengan gembor/embrat/dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.1. Hama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulat grayak (Spodoptera litura)&lt;br /&gt;Gejala: ulat menyerang daun dengan memakan bagian epidermis dan jaringan hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) mekanis dengan memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) kimia dengan Azordin, Diazinon 60 EC, Sumithion 50 EC.&lt;br /&gt;Kutu daun (Aphis Sp)&lt;br /&gt;Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus bagi tanaman kedelai. Pengendalian: dengan cara memotong dan membakar daun yang terinfeksi, menyemprotkan Roxion 40 EC, Dicarzol 25 SP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orong-orong (Gryllotalpa Sp)&lt;br /&gt;Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: menggunakan tepung Sevin 85 S yang dicampur dengan pupuk kandang.&lt;br /&gt;Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)&lt;br /&gt;Gejala: pada daun yang berwarna merah tua dan terlihat adanya jalinan seperti benang yang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, akan terlihat adanya lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian: secara kimia menggunakan Selecron 500 EC, Ekalux 25 EC, Orthene &amp;amp;5 SP, Lammnate L.&lt;br /&gt;Hama trip ( Thrips tabaci )&lt;br /&gt;Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, selanjutnya berubah menjadi abu-abu perak dan kemudian mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) secara mekanis dengan cara memangkas bagian daun yang terserang; (2) secara kimia menggunakan Basudin 60 EC, Mitac 200 EC, Diazenon, Bayrusil 25 EC atau Dicarzol 25 SP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.5.2. Penyakit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit busuk daun&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah, lalu bercak-bercak ini akan berkembang dan warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium. Selanjutnya daun akan membusuk dan mati. Pengendalian: menggunakan Antracol 70 WP, Dithane M-45, Brestan 60, Polyram 80 WP, Velimek 80 WP dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit layu bakteri&lt;br /&gt;Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: dengan cara menjaga sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pemberantasan secara kimia dapat menggunkan bakterisida, Agrimycin atu Agrept 25 WP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit busuk umbi&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Pada bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: dengan cara pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik.&lt;br /&gt;Penyakit fusarium&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: infeksi pada umbi menyebabkan busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: dengan menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pengendalian kimia dengan Benlate.&lt;br /&gt;Penyakit bercak kering (Early Blight)&lt;br /&gt;Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang biak di daerah kering. Gejala: daun terinfeksi berbercak kecil yang tersebar tidak teratur, berwarna coklat tua, lalu meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: dengan pergiliran tanaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyakit karena virus&lt;br /&gt;Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, memberantas vektor dan pergiliran tanaman.&lt;br /&gt;3.6. Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Pada varietas kentang genjah, umur panennya 90-120 hari; varietas medium 120-150 hari; dan varietas dalam 150-180 hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen apabila daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan dan agak mengering. Selain itu tanaman yang siap panen kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu memanen sangat dianjurkan dilakukan pada waktu sore hari/pagi hari dan dilakukan pada saat hari cerah. Cara memanen yang baik adalah sebagai berikut: cangkul tanah disekitar umbi kemudian angkat umbi dengan hati hati dengan menggunakan garpu tanah. Setelah itu kumpulkan umbi ditempat yang teduh. Hindari kerusakan mekanis waktu panen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.6.3. Prakiraan Produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Granola/Atlantis: produksi 35-40 ton/ha.&lt;br /&gt;b) Red Pontiac: produksi 15 ton/ha.&lt;br /&gt;c) Desiree: produksi 18 ton/ha.&lt;br /&gt;d) DTO: produksi 20 ton/ha.&lt;br /&gt;e) Klon no. 17: produksi 30-40 ton/ha.&lt;br /&gt;f) Klon no. 08: produksi 25-30 ton/ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7. Pascapanen&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.1. Penyortiran dan Pengolongan&lt;br /&gt;Umbi yang baik dan sehat dipisahkan dengan umbi yang cacat dan terkena penyakit. Kegiatan ini akan mencegah penularan penyakit kepada umbi yang sehat. Kentang di sortir berdasarkan ukuran umbi (tergantung varitas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.2. Penyimpanan&lt;br /&gt;Simpan umbi kentang dalam rak-rak yang tersusun rapi, sebaiknya ruangan tempat penyimpanan dibersihkan dan disterilisasi dahulu agar terbebas dari bakteri. Simpan di tempat yang tertutup dan berventilasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.3. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;br /&gt;Alat pengemas harus bersih dan terbuat dari bahan yang ringan. Pengemas harus berventilasi dan di bagian dasar dan tepi diberi bahan yang mengurangi benturan selama pengangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.7.4. Pembersihan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani konvensional hampir tidak pernah membersihkan umbi. Untuk memasarkan kentang di pasar swalayan/ke luar negeri, kentang harus dibersihkan terlebih dulu. Bersihkan umbi dari segala kotoran yang menempel dengan lap. Lakukan perlahan-lahan jangan sampai menimbulkan lecet-lecet. Selain itu umbi dapat dibersihkan dengan cara dicuci di air mengalir yang tidak terlalu deras kemudian dikeringanginkan. Umbi yang bersih akan memperpanjang keawetan umbi selain itu juga akan menarik konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya produksi 1 hektar kentang Granola adalah Rp. 15.500.000,-. Dalam satu musim tanam dihasilkan kentang :&lt;br /&gt;a) Mutu ABC 18.000 kg (Rp.1.000/kg).&lt;br /&gt;b) Apkir 1.000 kg (Rp. 450/kg).&lt;br /&gt;c) Kecil 4.000 kg (Rp. 550/kg).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan dari satu periode tanam adalah sekitar Rp. 5.100.000,-Perkiraan biaya produksi dan keuntungan budidaya 1 hektar kentang untuk satu musim tanam (6 bulan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analisis budidaya kentang granola dengan luas lahan 1 ha untuk satu musim tanam (6 bulan) di daerah Bandung, Jawa Barat tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahan&lt;br /&gt;- Sewa lahan permusim tanam (6 bulan)&lt;br /&gt;- Pembuatan gudang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibit kentang 1.600 kg x Rp. 9.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pupuk&lt;br /&gt;- Urea: 400 kg @ Rp. 1.100,-&lt;br /&gt;- SP-36: 400 kg (a) Rp. 1.900,-&lt;br /&gt;- KCl: 200 kg @ Rp. 1.650,-&lt;br /&gt;- Pupuk daun: 3 liter&lt;br /&gt;- Pupuk kandang: 5 truk @ Rp. 300.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat dan pestisida&lt;br /&gt;- Furadan 3G": 20 kg @ Rp. 16.000,-&lt;br /&gt;- Dithane M-45": 45 liter @ Rp. 50.000,-&lt;br /&gt;- Insektisida: 2,5 liter&lt;br /&gt;- Perekat (agristik): 3 liter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peralatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tenaga kerja&lt;br /&gt;- Pengolahan tanah I dengan traktor&lt;br /&gt;- Pengolahan tanah II dengan cangkul: 70 HKP @ Rp.10.000,-&lt;br /&gt;- Pembuatan bedengan dan parit: 100 HKP&lt;br /&gt;- Penanaman: 115 HKP&lt;br /&gt;- Pemupukan: 47 HKP&lt;br /&gt;- Penyiangan dan pembumbunan: 45 HKP&lt;br /&gt;- Penyemprotan pestisida: 30 HKP&lt;br /&gt;- Pemangkasan bunga: 6 HKP&lt;br /&gt;- Tenaga tetap 1 orang selama 3 bulan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panen :&lt;br /&gt;- Panen dan pengangkutan: 36 HKP&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya tak terduga&lt;br /&gt;Jumlah biaya produksi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapatan: 80% x 20.000 tanaman x 1,5 kg @ Rp. 2.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keuntungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B/C rasio&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.000.000,-&lt;br /&gt;250.000,-&lt;br /&gt;14.400.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;440.000,-&lt;br /&gt;760.000,-&lt;br /&gt;330.000,-&lt;br /&gt;100.000,-&lt;br /&gt;1.500.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;320.000,-&lt;br /&gt;2.250.000,-&lt;br /&gt;450.000,-&lt;br /&gt;60.000,-&lt;br /&gt;900.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;500.000,-&lt;br /&gt;700.000,-&lt;br /&gt;1.000.000,-&lt;br /&gt;1.150.000,-&lt;br /&gt;470.000,-&lt;br /&gt;450.000,-&lt;br /&gt;300.000,-&lt;br /&gt;60.000,-&lt;br /&gt;600.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;360.000,-&lt;br /&gt;3.000.000,-&lt;br /&gt;31.350.000,-&lt;br /&gt;48.000.000,-&lt;br /&gt;16.650.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= 1,531&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangan: HKP hari kerja pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4.2. Gambaran Peluang Agribisnis&lt;br /&gt;Di awal krisis ekonomi harga komoditi kentang meningkat sampai lebih dari dua kalinya. Saat ini ketika harga komoditi hortikultur lainnya seperti bawang daun dan cabe menurun drastis, harga kentang di pasaran relatif masih sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang adalah salah satu komoditi hortikultura yang harganya relatif stabil dan tidak terlalu tergantung musim. Harga yang stabil ini lebih menjamin masa depan agribisnis kentang daripada komoditi hortikultura lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun Indonesia sudah mengekspor kentang ke Malaysia melalui Brastagi, peluang ekspor ke negara lainnya harus diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.1. Ruang lingkup&lt;br /&gt;Standar ini meliputi klasifikasi dan syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara pengujian contoh, syarat penandaan dan pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.2. Diskripsi&lt;br /&gt;Kentang yang segar adalah umbi batang dari tanaman kentang dalam keadaan utuh bersih dan segar, sesuai dengan SNI-01-3175-1992&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut ukuran berat, kentang segar digolongkan dalam:&lt;br /&gt;a) Kecil: 50 gram kebawah.&lt;br /&gt;b) Sedang: 51-100 gram.&lt;br /&gt;c) Besar: 101-300 gram.&lt;br /&gt;d) Sangat besar: 301 gram ke atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut jenis mutunya kentang segar digolongkan dalam 2 jenis mutu, yaitu mutu I dan mutu II.&lt;br /&gt;a) Keseragaman warna dan bentuk: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;b) Keseragaman ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;c) Kerataan permukaan kentang: mutu I=rata; mutu II=tidak disyaratkan.&lt;br /&gt;d) Kadar kotor (bobot/bobot): mutu I=maksimum 2,5%; mutu II=maksimum 2,5%.&lt;br /&gt;e) Kentang cacat (bobot/bobot): mutu I=maksimum 5%; mutu II=maksimum 10%.&lt;br /&gt;f) Ketuaan kentang: mutu I=tua; mutu II=cukup tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan hasil kentang yang sesuai dengan standar maka dilakukan pengujian Yang meliputi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan keseragaman ukuran kentang&lt;br /&gt;Timbang seluruh cuplikan, kemudian timbang tiap butir dalam cuplikan. Pisahkan butir-butir yang beratnya diatas/dibawah ukuran berat yang telah ditentukan dan timbanglah semuanya. Bila presentase berat butir yang diatas/dibawah ukuran berat masing-masing sama/kurang dari 5% maka contoh dianggap seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan kerataan permukaan kentang&lt;br /&gt;Timbang seluruh cuplikan dan ukur benjolan yang terdapat pada tiap butir dalam cuplikan. Pisahkan butir-butir cuplikan yang mempunyai benjolan lebih dari 1 cm sama/kurang dari 10% jumlah cuplikan maka cuplikan dianggap mempunyai permukaan rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan kadar kotoran&lt;br /&gt;Timbanglah sampai mendekati 0,1 gram sebanyak lebih kurang 500 gram cuplikan dalam wadah yang telah ditera sebelumnya dan tuanglah kedalalam sebuah bak kayu yang disediakan khusus untuk itu. Pilihlah kotoran-kotoran dan timbanglah berat masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan cacat pada kentang segar&lt;br /&gt;Timbang seluruh cuplikan dan tentukan butir-butir kentang yang cacat. Pisahkan butir-butir yang cacat dan timbanglah semuanya. Bila presentase berat butir-butir yang cacat sama/kurang dari 50%, maka cuplikan dianggap Mutu I dan bila sama/kurang dari 10% maka cuplikan dianggap Mutu II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penentuan ketuaan pada kentang segar&lt;br /&gt;Timbanglah seluruh cuplikan dan tentukan butir contoh yang tua/cukup tua. Pisahkan butir yang tua/cukup tua dan timbanglah semuanya. Bila presentase berat butir contoh yang kulitnya mengelupas beratnya lebih dari ¼ bagian permukaannya sama/kurang dari 5%, maka cuplikan dianggap tua dan bila sama/kurang dari 10%, maka cuplikan dianggap cukup tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh diambil secara acak dari jumlah kemasan seperti terlihat berikut ini. Tiap kemasan diambil contoh sebanyak 10 kg dari bagian atas, tengah dan bawah. Contoh tersebut dicampur merata tanpa menimbulkan kerusakan, kemudian dibagi menjadi empat dan dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan beberapa kali sampai contoh mencapai 10 kg.&lt;br /&gt;a) Untuk jumlah kemasan dalam lot 1 sampai 3, contoh yang diambil semua.&lt;br /&gt;b) Untuk jumlah kemasan dalam lot 4 sampai 25, contoh yang diambil 3.&lt;br /&gt;c) Untuk jumlah kemasan dalam lot 26 sampai 50, contoh yang diambil 6.&lt;br /&gt;d) Untuk jumlah kemasan dalam lot 51 sampai 100, contoh yang diambil 8.&lt;br /&gt;e) Untuk jumlah kemasan dalam lot 101 sampai 150, contoh yang diambil 10.&lt;br /&gt;f) Untuk jumlah kemasan dalam lot 151 sampai 200, contoh yang diambil 12.&lt;br /&gt;g) Untuk jumlah kemasan dalam lot 201 atau lebih, contoh yang diambil 15.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu orang yang berpengalaman atau dilatih lebih dahulu dan mempunyai ikatan dengan badan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.5. Pengemasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentang disajikan dalam bentuk utuh dan segar. Dikemas dengan keranjang/bahan lain dengan berat netto maksimum 80 kg dan ditutup dengan anyaman bambu kemudian diikat dengan tali rotan/bahan lain. Isi kemasan tidak melebihi permukaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam keranjang atau kemasan diberi label yang bertuliskan :&lt;br /&gt;a) Nama barang.&lt;br /&gt;b) Jenis mutu.&lt;br /&gt;c) Nama/kode perusahaan/eksportir.&lt;br /&gt;d) Berat netto.&lt;br /&gt;e) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;f) Negara/tempat tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;VI. REFERENSI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6.1. Daftar Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Budi Samadi, Ir. 1997. Usaha Tani Kentang. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.&lt;br /&gt;b) Bonus Trubus no. 342. 1998. Analisis Komoditas Kebal Resesi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-6046358967990823455?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://warintek.progressio.or.id' title='Budidaya Kentang'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/6046358967990823455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=6046358967990823455' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/6046358967990823455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/6046358967990823455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/06/budidaya-kentang.html' title='Budidaya Kentang'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-1615338110037824145</id><published>2009-05-29T16:19:00.003+07:00</published><updated>2009-05-29T16:39:15.601+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Jamur Tiram</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center; font-weight: bold;" align="center"&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:180%;" &gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;Budidaya Jamur Tiram&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:arial,helvetica,sans-serif;"&gt;&lt;i&gt;(Pleurotus ostreatus)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);font-size:10;" &gt;&lt;span style="color: rgb(0, 128, 0);"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;img src="http://www.bbpp-lembang.info/images/stories/Artikel/Budidaya/jamur%20tiram.jpg" alt="jamur tiram.jpg" title="jamur tiram.jpg" style="margin: 5px; float: left; width: 180px; height: 203px;" class="jce_tooltip" width="180" height="203" /&gt;Indonesia termasuk salah satu negara yang dikenal sebagai gudang jamur terkemuka di dunia. Jamur-jamur yang telah dibudidayakan dan telah populer atau memasyarakat sebagai makanan dan sayuran serta banyak diperdagangkan di pasar adalah jamur merang &lt;i&gt;(Volvariella volvacea)&lt;/i&gt;, Jamur champignon&lt;i&gt; (Agaricus bitorquis)&lt;/i&gt; jamur kayu seperti jamur kuping &lt;i&gt;(Auricularia, Sp.)&lt;/i&gt; Jamur Shiitake/payung &lt;i&gt;(Lentinus edodes)&lt;/i&gt; dan jamur tiram &lt;i&gt;(Pleurotus ostreatus)&lt;/i&gt;.&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;   &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:worddocument&gt; &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt; &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt; &lt;w:trackmoves/&gt; &lt;w:trackformatting/&gt; &lt;w:punctuationkerning/&gt; &lt;w:validateagainstschemas/&gt; &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt; &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt; &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt; &lt;w:donotpromoteqf/&gt; &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt; &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt; &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt; &lt;w:compatibility&gt; &lt;w:breakwrappedtables/&gt; &lt;w:snaptogridincell/&gt; &lt;w:wraptextwithpunct/&gt; &lt;w:useasianbreakrules/&gt; &lt;w:dontgrowautofit/&gt; &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt; &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt; &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt; &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt; &lt;w:word11kerningpairs/&gt; &lt;w:cachedcolbalance/&gt; &lt;/w:Compatibility&gt; &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt; &lt;m:mathpr&gt; &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt; &lt;m:brkbin val="before"&gt; &lt;m:brkbinsub val=""&gt; &lt;m:smallfrac val="off"&gt; &lt;m:dispdef&gt; &lt;m:lmargin val="0"&gt; &lt;m:rmargin val="0"&gt; &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt; &lt;m:wrapindent val="1440"&gt; &lt;m:intlim val="subSup"&gt; &lt;m:narylim val="undOvr"&gt; &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Default Paragraph Font"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt; &lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face {font-family:"Arial Narrow"; panose-1:2 11 6 6 2 2 2 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:647 2048 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} /* List Definitions */ @list l0 {mso-list-id:205336322; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1321402984 67698703 67698713 67698715 -167236868 1846601300 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l0:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level3 {mso-level-number-format:roman-lower; mso-level-tab-stop:108.0pt; mso-level-number-position:right; text-indent:-9.0pt;} @list l0:level4 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:144.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l0:level5 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:-; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt; font-family:"Arial Narrow","sans-serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l1 {mso-list-id:1124927586; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:857004732 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l1:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level2 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l1:level5 {mso-level-number-format:alpha-lower; mso-level-tab-stop:180.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2 {mso-list-id:1367487882; mso-list-type:hybrid; mso-list-template-ids:-1368889864 67698703 589048350 -302607436 67698703 67698713 67698715 67698703 67698713 67698715;} @list l2:level1 {mso-level-tab-stop:36.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level2 {mso-level-number-format:alpha-upper; mso-level-tab-stop:72.0pt; mso-level-number-position:left; text-indent:-18.0pt;} @list l2:level3 {mso-level-number-format:bullet; mso-level-text:&amp;#61623;; mso-level-tab-stop:117.0pt; mso-level-number-position:left; margin-left:117.0pt; text-indent:-18.0pt; font-family:Symbol; color:windowtext;} ol {margin-bottom:0cm;} ul {margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt; &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;  &lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:worddocument&gt; &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt; &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt; &lt;w:trackmoves/&gt; &lt;w:trackformatting/&gt; &lt;w:punctuationkerning/&gt; &lt;w:validateagainstschemas/&gt; &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt; &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt; &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt; &lt;w:donotpromoteqf/&gt; &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt; &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt; &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt; &lt;w:compatibility&gt; &lt;w:breakwrappedtables/&gt; &lt;w:snaptogridincell/&gt; &lt;w:wraptextwithpunct/&gt; &lt;w:useasianbreakrules/&gt; &lt;w:dontgrowautofit/&gt; &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt; &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt; &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt; &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt; &lt;w:word11kerningpairs/&gt; &lt;w:cachedcolbalance/&gt; &lt;/w:Compatibility&gt; &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt; &lt;m:mathpr&gt; &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt; &lt;m:brkbin val="before"&gt; &lt;m:brkbinsub val=""&gt; &lt;m:smallfrac val="off"&gt; &lt;m:dispdef&gt; &lt;m:lmargin val="0"&gt; &lt;m:rmargin val="0"&gt; &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt; &lt;m:wrapindent val="1440"&gt; &lt;m:intlim val="subSup"&gt; &lt;m:narylim val="undOvr"&gt; &lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt; &lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt; &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Default Paragraph Font"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt; &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt; &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:roman; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman","serif"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt; /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin:0cm; mso-para-margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:10.0pt; font-family:"Times New Roman","serif";} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt; &lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt; Jamur tiram adalah jenis jamur kayu yang memiliki kandungan nutrisi lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur kayu lainnya. Jamur tiram mengandung protein, lemak, fospor, besi, thiamin dan riboflavin lebih tinggi dibandingkan dengan jenis jamur lain. Jamur tiram mengandung 18 macam asam amino yang dibutuhkan oleh tubuh manusia dan tidak mengandung kolesterol. &lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Ditinjau dari aspek biologinya, jamur tiram relatif lebih mudah dibudidayakan. Pengembangan jamur tiram tidak memerlukan lahan yang luas. Masa produksi jamur tiram relatif lebih cepat sehingga periode dan waktu panen lebih singkat dan dapat kontinu. &lt;/p&gt; &lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt; Budidaya jamur tiram dapat dikelola sebagai usaha sampingan ataupun usaha ekonomis skala kecil, menengah dan besar (Industri). Negara-negara yang telah mengembangkan budidaya jamur tiram sebagai agrobisnis andalan dan unggulan adalah Cina, belanda, Spanyol, Prancis, Belgia dan Thailand. Negara-negara tersebut trermasuk produsen jamur terbesar di dunia. &lt;/p&gt; &lt;div align="center"&gt; &lt;/div&gt; &lt;p align="justify"&gt; Seiring dengan popularitas dan memasyarakatnya jamur tiram sebagai bahan makanan yang lezat dan bergizi, maka permintaan konsumen dan pasar jamur tiram di berbagai daerah terus meningkat. Kebutuhan konsumsi jamur tiram meningkat sebanding dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan pendapatan serta perubahan pola konsumsi makanan penduduk dunia. Negara-negara konsumen penduduk jamur terbesar adalah Amerika Serikat (AS), Kanada, Jerman, Jepang, Hongkong, Belgia Inggris, Belanda dan Italia. Rata-rata konsumsi jamur per kapita penduduk Kanada dan negara-negara Eropa melibihi 1,5 kg/kapita/tahun. Sedangkan konsumsi rata-rata penduduk inggris dan AS masing-masing sekitar 1 kg/kapita/tahun dan 0,5/kapita/tahun. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;   &lt;img src="http://www.bbpp-lembang.info/images/stories/Artikel/Budidaya/Jamur_trm4.jpg" alt="Jamur_trm4.jpg" title="Jamur_trm4.jpg" style="margin: 5px; width: 180px; height: 240px;" class="jce_tooltip" width="180" align="middle" height="240" /&gt;&lt;img src="http://www.bbpp-lembang.info/images/stories/Artikel/Budidaya/Jamur_trm3.jpg" alt="Jamur_trm3.jpg" title="Jamur_trm3.jpg" style="margin: 5px; width: 180px; height: 135px;" class="jce_tooltip" width="180" align="middle" height="135" /&gt; &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;INFORMASI POKOK&lt;/m:defjc&gt;&lt;br /&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/div&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;p align="justify"&gt; Pemeliharaan jamur tiram sangat praktis dan sederhana, yaitu dengan cara menciptakan dan menjaga kondisi lingkungan pemeliharaan (cultivation) yang memenuhi syarat pertumbuhan jamur tiram. Langkah-langkah pemeliharaan atau penanaman jamur tiram meliputi persiapan sarana produksi dan tahapan budidaya. &lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;" align="justify"&gt;Persiapan Sarana Produksi&lt;/p&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;m:defjc style="font-weight: bold;" val="centerGroup"&gt; &lt;/m:defjc&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;  &lt;p align="justify"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; &lt;/span&gt;Bangunan&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Bangunan jamur sederhana dapat dibuat dari kerangka kayu (bambu) beratap daun rumbia, anyaman bambu atau anyaman jerami padi. Ukuran kumbung yang ideal adalah 84 m2 (panjang 12m dan lebar 7m) dan tinggi 3,5 m. Bentuk kumbung bisa bervariasi, bisa mirip gembong kereta api atau seperti rumah. Pada umumnya kumbung atau bangunan jamur terdiri dari beberapa ruangan, diantaranya: &lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Ruang persiapan&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;div align="justify"&gt;  Ruang persiapan adalah ruangan yang  berfungsi untuk melakukan kegiatan Pengayakan, Pencampuran, Pewadahan, dan  Sterilisasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;  Ruang Inokulasi:&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;div align="justify"&gt;  Ruang Inokulasi adalah ruangan  yang berfungsi untuk menanam bibit pada media tanam, ruang ini harus mudah  dibersihkan, tidak banyak ventilasi untuk menghindari kontaminasi (adanya  mikroba lain).&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ruang Inkubasi&lt;br /&gt; &lt;div align="justify"&gt;  Ruangan ini memiliki fungsi untuk menumbuhkan miselium  jamur pada media tanam yang sudah di inokulasi (Spawning). Kondisi ruangan  diatur pada suhu 22 – 28OC dengan kelembaban 60% – 80%, Ruangan ini  dilengkapi dengan rak-rak bambu untuk menempatkan media tanam dalam kantong plastic  (baglog) yang sudah di inokulasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Ruang Penanaman :&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;div align="justify"&gt;  Ruang penanaman (growing) digunakan untuk menumbuhkan tubuh  buah jamur. Ruangan ini dilengkapi juga dengan rak-rak penanaman dan alat  penyemprot/pengabutan. Pengabutan berfungsi untuk menyiram dan mengatur suhu  udara pada kondisi optimal 16 – 22OC dengan kelembaban 80 – 90%.  &lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Peralatan&lt;br /&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;p align="justify"&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt;Peralatan yang digunakan pada budidaya jamur diantaranya, Mixer, cangkul, sekop, filler, botol, boiler, gerobak dorong, sendok bibit, centong. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahan - Bahan&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bahan-bahan yang digunakan dalam budidaya jamur tiram adalah Serbuk kayu, bekatul (dedak), kapur (CaCO3), gips (CaSO4), tepung jagung (biji-bijan), glukosa, kantong plastik, karet, kapas, cincin plastik. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;   &lt;/p&gt;&lt;p style="font-weight: bold;"&gt;Tahapan Budidaya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Beberapa tahapan dalam budidaya jamur tiram yang perlu diperhatikan, yaitu: &lt;/p&gt; &lt;!--[if !supportLists]--&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;  &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Persiapan Bahan&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Bahan yang harus dipersiapkan diantaranya serbuk gergaji,  bekatul, kapur, gips, tepung jagung, dan glukosa&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Pengayakan&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Serbuk kayu yang diperoleh dari penggergajian mempunyai tingkat  keseragaman yang kurang baik, hal ini berakibat tingkat pertumbuhan miselia  kurang merata dan kurang baik. Mengatasi hal tersebut maka serbuk gergaji perlu  di ayak. Ukuran ayakan sama dengan untuk mengayak pasir (ram ayam), pengayakan  harus mempergunakan masker karena dalam serbuk gergaji banyak tercampur debu  dan pasir&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Pencampuran&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Bahan-bahan yang telah ditimbang sesuai dengan kebutuhan  dicampur dengan serbuk gergaji selanjutnya disiram dengan air sekitar 50 – 60 %  atau bila kita kepal serbuk tersebut menggumpal tapi tidak keluar air. Hal ini  menandakan kadar air sudah cukup.&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Pengomposan&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Pengomposan adalah proses pelapukan bahan yang dilakukan  dengan cara membumbun campuran serbuk gergaji kemudian menutupinya dengan  plastic&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Pembungkusan (Pembuatan Baglog)&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Pembungkusan menggunakan plastik polipropilen (PP) dengan  ukuran yang dibutuhkan. Cara membungkus yaitu dengan memasukkan media ke dalam  plastik kemudian dipukul/ditumbuk sampai padat dengan botol atau menggunakan  filler (alat pemadat) kemudian disimpan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Sterilisasi&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;Sterilisasi dilakukan dengan mempergunakan alat sterilizer  yang bertujuan menginaktifkan mikroba, bakteri, kapang, maupun khamir yang  dapat mengganggu pertumbuhan jamur yang ditanam. Sterilisasi dilakukan pada  suhu 90 – 100OC selama 12 jam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Inokulasi&lt;/b&gt;&lt;/span&gt; (Pemberian Bibit)&lt;br /&gt; &lt;div align="justify"&gt;  Inokulasi adalah kegiatan memasukan bibit jamur ke dalam  media jamur yang telah disterilisasi. Baglog ditiriskan selama 1 malam setelah  sterilisasi, kemudian kita ambil dan ditanami bibit diatasnya dengan  mempergunakan sendok makan/sendok bibit sekitar + 3 sendok makan  kemudian diikat dengan karet dan ditutup dengan kapas. Bibit yang baik yaitu:  &lt;/div&gt;  &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Varitas unggul &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Umur bibit optimal 45   – 60 hari&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;Warna bibit merata &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tidak terkontaminasi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;  &lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Inkubasi (masa pertumbuhan miselium)&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Inkubasi dilakukan dengan cara menyimpan di ruangan  inkubasi dengan kondisi tertentu. Inkubasi dilakukan hingga seluruh media  berwarna putih merata, biasanya media akan tampak putih merata antara 40 – 60  hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;b&gt;Panen&lt;br /&gt; &lt;/b&gt;&lt;/span&gt;  &lt;div align="justify"&gt;  Panen dilakukan setelah pertumbuhan jamur  mencapai tingkat yang optimal, pemanenan ini biasanya dilakukan 5 hari setelah  tumbuh calon jamur. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada pagi hari untuk  mempertahankan kesegarannya dan mempermudah pemasaran.  &lt;/div&gt;  &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-1615338110037824145?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://www.bbpp-lembang.info/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=155&amp;Itemid=186' title='Budidaya Jamur Tiram'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/1615338110037824145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=1615338110037824145' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/1615338110037824145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/1615338110037824145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/05/budidaya-jamur-tiram.html' title='Budidaya Jamur Tiram'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-5703826927035338403</id><published>2009-05-29T13:13:00.004+07:00</published><updated>2009-05-29T13:59:29.857+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Tomat</title><content type='html'>&lt;span class="ver12bld"&gt;Budidaya Tomat ( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lycopersicon esculentum&lt;/span&gt; Mill. )&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; &lt;!-- #EndEditable --&gt;        &lt;table class="ver3" width="100%" background="budidaya%20tomat_files/page.gif" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;      &lt;td class="ver3" valign="top" width="10"&gt;&lt;img src="file:///C:/Documents%20and%20Settings/Dimas/Desktop/buat%20bloG/budidaya%20tomat_files/spacer1.gif" width="10" height="1" /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td rowspan="2" class="ver9" valign="top" width="100%"&gt;&lt;!-- #BeginEditable "isi" --&gt;        &lt;p&gt;&lt;span class="judul"&gt;I. UMUM&lt;/span&gt; &lt;a name="1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Kata tomat berasal dari bahasa Aztek, salah satu suku Indian yaitu xitomate          atau xitotomate. Tanaman tomat berasal dari negara Peru dan Ekuador, kemudian          menyebar ke seluruh Amerika, terutama ke wilayah yang beriklim tropik,          sebagai gulma. Penyebaran tanaman tomat ini dilakukan oleh burung yang          makan buah tomat dan kotorannya tersebar kemana-mana. Penyebaran tomat          ke Eropa dan Asia dilakukan oleh orang Spanyol. Tomat ditanam di Indonesia          sesudah kedatangan orang Belanda. Dengan demikian, tanaman tomat sudah          tersebar ke seluruh dunia, baik di daerah tropik maupun subtropik. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;1.2. Sentra Penanaman &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Sentra penanaman tomat di dunia adalah di Taiwan, sedangkan di Indonesia          adalah daerah Malang. &lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tanaman tomat termasuk tanaman semusim yang berumur sekitar 4 bulan.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Klasifikasi tanaman tomat adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       Divisi : Spermatophyta&lt;br /&gt;       Anak divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;       Kelas : Dicotyledonae&lt;br /&gt;       Ordo : Solanales&lt;br /&gt;       Famili : Solanaceae&lt;br /&gt;       Genus : Lycopersicon (Lycopersicum)&lt;br /&gt;       Species : Lycopersicon esculentum Mill.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Dari sekian banyak varietas tomat yang ada, yang banyak ditanam petani          adalah tomat varietas ratna, berlian, precious 206, kingkong dan intan.          Sedangkan dari hasil survei yang telah dilakukan di lapangan varietas          yang digunakan adalah varietas Artaloka.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tomat sangat bermanfaat bagi tubuh karena mengandung vitamin dan mineral          yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan. Buah tomat juga mengandung          karbohidrat, protein, lemak dan kalori. Buah tomat juga adalah komoditas          yang multiguna berfungsi sebagai sayuran, bumbu masak, buah meja, penambah          nafsu makan, minuman, bahan pewarna makanan, sampai kepada bahan kosmetik          dan obat-obatan.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt; &lt;/p&gt;       &lt;p class="judul"&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;a name="2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;2.1. Iklim&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Curah hujan yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman tomat adalah 750            mm-1.250 mm/tahun. Keadaan ini berhubungan erat dengan ketersediaan            air tanah bagi tanaman, terutama di daerah yang tidak terdapat irigasi            teknis. Curah hujan yang tinggi (banyak hujan) juga dapat menghambat            persarian.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kekurangan sinar matahari menyebabkan tanaman tomat mudah terserang            penyakit, baik parasit maupun non parasit. Sinar matahari berintensitas            tinggi akan menghasilkan vitamin C dan karoten (provitamin A) yang lebih            tinggi. Penyerapan unsur hara yang maksimal oleh tanaman tomat akan            dicapai apabila pencahayaan selama 12-14 jam/hari, sedangkan intensitas            cahaya yang dikehendaki adalah 0,25 mj/m2 per jam.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Suhu udara rata-rata harian yang optimal untuk pertumbuhan tanaman            tomat adalah suhu siang hari 18-29 derajat C dan pada malam hari 10-20            derajat C.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kelembaban relatif yang tinggi sekitar 25% akan merangsang pertumbuhan            untuk tanaman tomat yang masih muda karena asimilasi CO2 menjadi lebih            baik melalui stomata yang membuka lebih banyak. Tetapi, kelembaban relatif            yang tinggi juga merangsang mikro organisme pengganggu tanaman.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;2.2. Media Tanam&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Tanaman tomat dapat ditanam di segala jenis tanah, mulai tanah pasir            sampai tanah lempung berpasir yang subur, gembur, banyak mengandung            bahan organik serta unsur hara dan mudah merembeskan air. Selain itu            akar tanaman tomat rentan terhadap kekurangan oksigen, oleh karena itu            air tidak boleh tergenang.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tanah dengan derajat keasaman (pH) berkisar 5,5-7,0 sangat cocok            untuk budidaya tomat.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Dalam pembudidayaan tanaman tomat, sebaiknya dipilih lokasi yang            topografi tanahnya datar, sehingga tidak perlu dibuat teras-teras dan            tanggul.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tanaman tomat dapat tumbuh di berbagai ketinggian tempat, baik di dataran          tinggi maupun di dataran rendah, tergantung varietasnya. Tanaman tomat          yang sesuai untuk ditanam di dataran tinggi misalnya varietas berlian,          varietas mutiara, varietas kada. Sedangkan varietas yang sesuai ditanam          di dataran rendah misalnya varietas intan, varietas ratna, varietas berlian,          varietas LV, varietas CLN. Selain itu, ada varietas tanaman tomat yang          cocok ditanam di dataran rendah maupun di dataran tinggi antara lain varietas          tomat GH 2, varietas tomat GH 4, varietas berlian, varietas mutiara.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt; &lt;/p&gt;       &lt;p class="judul"&gt;III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;a name="3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.1. Pembibitan&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.1.1. Persyaratan Benih&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Kriteria-kriteria teknis untuk seleksi biji/benih tanaman tomat adalah:&lt;br /&gt;       a) Pilih biji yang utuh, tidak cacat atau luka, karena biji yang cacat          biasanya sulit tumbuh.&lt;br /&gt;       b) Pilih biji yang sehat, artinya biji tidak menunjukkan adanya serangan          hama atau penyakit.&lt;br /&gt;       c) Benih atau biji bersih dari kotoran.&lt;br /&gt;       d) Pilih benih atau biji yang tidak keriput.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.1.2. Penyiapan Benih&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pengadaan benih tomat dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu dengan          cara membeli benih yang telah siap tanam atau dengan membuat benih sendiri.          Apabila pengadaan benih dilakukan dengan membeli, hendaknya membeli pada          toko pertanian yang terpercaya menyediakan benih-benih yang bermutu baik          dan telah bersertifikat.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.1.3. Teknik Penyemaian Benih&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Benih atau biji-biji tomat yang telah terpilih sebelum disemaikan didesinfektan.          Caranya, dengan merendam benih kedalan larutan fungisida agar mikroorganisme          yang dapat menimbulkan penyakit mati.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Ada beberapa cara menyemai pada bedeng persemaian. Cara pertama, benih          tomat ditaburkan merata pada permukaan bedeng, kemudian ditutup tanah          tipis-tipis. Bedeng dibuat guritan sedalam 1 cm dengan jarak antar guritan          5 cm, lalu biji ditaburkan kedalan guritan secara merata dan tidak saling          tumpuk, kemudian ditutup kembali dengan tanah tipis-tipis. Cara kedua,          dengan menanamkan benih pada lubang-lubang tanam yang dibuat dengan jarak          5 cm dan kedalaman lubang tanam sekitar 1 cm. Dalam satu lubang tanam          dapat diisikan 1 atau 2 benih, kemudian ditutup tanah tipis-tipis. Cara          ketiga, penyemaian dapat langsung dilakukan pada kantong-kantong polybag          yang telah diisi media tanam berupa tanah dan pupuk kandang dengan perbandingan          1:1. Setiap kantong polybag diisi satu benih saja dan tanamkan benih dengan          kedalaman sekitar 1 cm. Setelah biji ditanam, media semai sebaiknya dibasahi          dengan air.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.1.4. Pemeliharaan Pembibitan/Penyemaian&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Selama awal pertumbuhan, pemeliharaan bibit tanaman di persemaian harus          dilakukan secara intensif dengan pengawasan kontinyu. Pemeliharaan bibit          meliputi kegiatan-kegiatan:&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Penyiraman&lt;br /&gt;         Penyiraman dilakukan sejak benih ditaburkan ke bedeng pesemaian sampai            tanaman siap dipindah ke kebun. Penyiraman dilakukan 2 kali sehari,            yaitu pagi dan sore hari. Penyiraman sebaiknya dilakukan dengan menggunakan            alat/gembor yang memiliki lubang halus, agar tidak merusak bibit tanaman            yang sudah atau baru tumbuh.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyiangan&lt;br /&gt;         Penyiangan dapat dilakukan dengan cara langsung mencabuti tanaman pengganggu            tanpa peralatan. Penyiangan sebaiknya dilakukan seperlunya saja dengan            melihat keadaan tanaman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pemupukan&lt;br /&gt;         Pada media persemaian selain diberikan pupuk kandang, sebaiknya juga            diberikan pupuk kimia NPK secukupnya sebagai pupuk tambahan yang diberikan            setelah benih tumbuh menjadi bibit. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pencegahan dan pemberantasan hama penyakit&lt;br /&gt;         Hama yang umumnya menyerang benih atau bibit di pesemaian berasal dari            golongan serangga, seperti semut dan golongan nematoda, seperti cacing            tanah. Penyakit yang sering menyerang dari golongan cendawan. Untuk            mencegah berkembangnya hama dan penyakit dapat dilakukan sterilisasi            tanah. Untuk memberantas hama dan penyakit yang menyerang dapat disemprotkan            obat-obatan. Insektisida untuk memberantas hama dari golongan serangga            dan fungisida untuk memberantas penyakit yang disebabkan oleh golongan            jamur. Nama-nama formulasi yang dapat digunakan antara lain Furadan            3 g, Dithane Hostathion dan Antracol.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.1.5. Pemindahan Bibit&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Bibit tomat dapat dipindahkan ke kebun setelah berumur 30-45 hari di          persemaian. Pada saat dilakukan penanaman ke kebun, sebaiknya dilakukan          lagi terhadap bibit-bibit yang telah berumur 30-45 hari agar diperoleh          tanaman yang baik pertumbuhannya dan memiliki daya produktivitas tinggi          dalam menghasilkan buah. Untuk itu, bibit yang dipilih sebaiknya yang          berpenampilan menarik dan baik., yaitu penampakannya segar dan daun-daunnya          tidak rusak. Pilihlah bibit yang kuat, yaitu tegak pertumbuhannya dan          pilihlah bibit yang sehat, artinya bibit tidak terserang hama dan penyakit.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Waktu yang baik untuk menanam bibit tomat di kebun adalah pagi atau sore          hari. Pada saat itu keadaan cuaca belum panas sehingga mencegah kelayuan          pada tanaman.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Ketika memindah bibit di kebun, hendaknya memperhatikan cara-cara yang          baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran          tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan          dalam pertumbuhan bahkan mati.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Ada beberapa cara pemindahan bibit dari persemaian yaitu :&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Sistem cabut, yakni bibit yang telah tumbuh di persemaian dan cukup            umur dicabut dengan hati-hati. Namun, sebelum dilakukan pencabutan bedeng            persemaian harus dibasahi dengan air untuk memudahkan pencabutan dan            tidak merusak akar.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sistem putaran, yaitu bibit diambil beserta tanahnya. Namun, sebelum            bibit diambil tanah dibasahi dengan air telebih dahulu.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p&gt;Kedua cara tersebut terutama ditujukan untuk pembibitan yang secara langsung          dilakukan pada bedeng tanah persemaian sedangkan untuk bibit yang disemaikan          dalam bumbung atau polybag cara pemindahannya adalah basahi bumbung terlebih          dahulu, kemudian keluarkan bibit dari bumbung beserta tanahnya dengan          menyobek kantong polybag.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.1. Persiapan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pengolahan tanah untuk penanaman bibit di kebun produksi harus memperhitungkan          waktu, antara lain lamanya bibit di persemaian hingga dapat dipindah ditanam          ke kebun dengan lamanya proses pengolahan tanah sampai siap tanam. Lamanya          waktu pembibitan sekitar 30-45 hari, sedangkan lamanya pengolahan tanah          yang intensif sampai siap tanam adalah 21 hari. Oleh karena itu, agar          tepat waktu penanamannya di kebun, jadwal pengolahan tanahnya sebaiknya          dilakukan 1-2 minggu setelah benih disemaikan.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.2. Pembukaan Lahan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pengolahan tanah yang intensif pada dasarnya melalui 3 tahap.&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Tahap pertama adalah membalik agregat tanah sehingga tanah yang berada            pada lapisan dalam dapat terangkat ke permukaan. Pengolah tanah tahap            ini sebaiknya dilakukan dengan bajak yang ditarik oleh tenaga hewan            atau dengan menggunakan traktor. Tanah diolah dengan kedalaman 25 cm-30            cm. Setelah dibajak, tanah dibiarkan selama 1 minggu agar bongkahan-bongkahan            tanah hasil pembajakan cukup terkena angin, terkena cahaya matahari,            dan supaya terjadi proses oksidasi (pemasaman) zat-zat beracun dari            dalam tanah seperti asam sulfida yang sangat membahayakan kehidupan            tanaman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tahap kedua, tanah digemburkan dengan cara dicangkul tipis-tipis            sehingga diperoleh struktur tanah yang gembur atau remah, sekaligus            untuk meratakannya. Selanjutnya, tanah hasil pengolahan tahap ini dibiarkan            selama 1 minggu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tahap ketiga, dilakukan pemupukan dasar dengan pupuk kandang yang            masak sebanyak 15-20 ton/ha. Pemberian pupuk kandang yang belum masak            dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman, bahkan dapat mematikan tanaman            karena akar tanaman tidak kuat menahan panas. Pada tahap ini, tanah            yang telah ditaburi pupuk kandang dicangkul kembali tipis-tipis dan            diratakan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.3. Pembentukan Bedengan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Setelah pengolahan tanah selesai dilakukan, selanjutnya dibuat bedeng-bedeng          membujur ke arah Timur Barat agar penyebaran cahaya matahari dapat merata          ke seluruh tanaman. Disamping pembuatan bedeng, juga dibuat parit-parit          atau selokan untuk irigasi. Bedengan dapat dibuat lebar dengan ukuran          lebar 1-1,2 m, panjang disesuaikan dengan keadaan lahannya dan tinggi          bedeng 30 cm. Jika penanaman tomat dilakukan pada musim penghujan, bedengan          dapat dibuat lebih tinggi yaitu 40-45 cm. Sedangkan ukuran parit dibuat          lebar 20-30 cm dan kedalamannya 30 cm. Dengan demikian jarak antar bedeng          adalah 20-30 cm. Kemudian pada sekeliling petak-petak bedengan dibuat          saluran pembuangan air dengan ukuran lebar 50 cm, dan kedalamannya 50          cm.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;br /&gt;       &lt;span class="ver10bld"&gt;3.2.4. Pengapuran&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pengolahan lahan atau penyiapan          lahan adalah pengapuran pada tanah-tanah yang terlalu asam dan tidak sesuai          dengan persyaratan tumbuh tanaman. Pengapuran ini diberikan bersamaan          dengan saat pengolahan tanah, sebab pada umumnya akar tanaman tidak kuat          terhadap pengapuran secara langsung, tanaman dapat menderita gangguan          pertumbuhan bahkan dapat mati. Kapur yang dapat digunakan adalah kapur          tohor, kapur karbonat, atau kapur tembok. Pengapuran, selain menaikkan          nilai pH tanah juga dapat memperbaiki struktur tanah, mendorong aktivitas          mikroorganisme tanah dalam membantu proses penguraian bahan organik tanah          dan menurunkan zat yang bersifat racun tanpa menghilangkan zat-zat penting          yang lain. Dosis pengapuran harus memperhatikan nilai pH tanah setempat.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.5. Pemupukan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Sebelum tanaman tomat ditanam, lahan harus diberi pupuk dasar. Pemupukan          dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Kompos atau pupuk kandang yang telah jadi tanah dan TSP ditabur secara            merata ke seluruh bedengan. Selanjutnya, tanah dicangkul sampai homogen            agar kompos atau pupuk kandang dan TSP tercampur merata dengan tanah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pada jarak yang telah ditentukan dibuat lubang sedalam + 15 cm dan            bergaris tengah + 20 cm. Lubang-lubang tersebut kemudian diberi pupuk            kandang atau kompos sebanyak 0,5 kg (satu genggam besar) dan diberi            TSP sebanyak + 5 gram. Lubang ditimbun tanah, kemudian diaduk-aduk sehingga            kompos atau pupuk kandang, TSP dan tanah tercampur rata.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.6. Pemberian Mulsa&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Dewasa ini penggunaan plastik hitam-perak sebagai mulsa (penutup tanah)          telah banyak dipergunakan oleh para petani. Penggunaan plastik hitam-perak          sebagai mulsa lebih praktis dibandingkan dengan penggunaan sisa-sisa tanaman          yang telah mati, misalnya jerami padi.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanam&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tomat dapat ditanam dengan 2 macam jarak tanam yaitu dengan sistem dirempel          dan sistem bebas.&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Sistem dirempel&lt;br /&gt;         Jarak tanam sistem ini adalah 50 cm x 50 cm atau 60 cm x 60 cm, bujur            sangkar atau segitiga sama sisi. Cara menanam dengan sistem ini maksudnya            yaitu tunas-tunas yang tumbuh diambil (dipotong) sedini mungkin, sehingga            tanaman hanya memiliki satu batang tanpa cabang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Sistem bebas&lt;br /&gt;         Ukuran jarak tanam sistem bebas adalah 80 cm x 100 cm; 80 cm x 80 cm;            80 cm x 100 cm; 100 cm x 100 cm. Bentuk yang digunakan dapat berupa            bujur sangkar, segipanjang atau segitiga sama sisi. Selain itu dapat            juga dibuat antar barisan berjarak 100 cm, dan dalam barisan berjarak            50-60 cm. Cara menanam dengan sistem ini bertujuan membiarkan tunas-tunas            yang tumbuh menjadi cabang-cabang besar dan dapat berubah.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Bedengan yang telah dipersiapkan untuk penanaman bibit, sehari sebelumnya          hendaknya diairi terlebih dahulu supaya basah. Kemudian pada bedeng yang          telah tertutup mulsa plastik dibuat lubang tanam dengan diameter 7-8 cm          sedalam 15 cm. Lubang-lubang tanam dibuat sesuai dengan jarak tanam yang          telah ditentukan.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.3.3. Cara Penanaman&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Penanaman dapat dilakukan pada musim kemarau dan musim hujan. Apabila          penanaman dilakukan pada musim kemarau pakailah mulsa plastik hitam perak          atau kertas alumunium.Mulsa tersebut harus sudah dipasang di bedengan          sebelum bibit ditanam. Apabila tomat ditanam pada musim hujan pasanglah          lebih dahulu atap plastik transparan (tembus cahaya) pada bedengan yang          akan ditanami.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Penyulaman adalah mengganti tanaman yang mati, rusak atau yang pertumbuhannya          tidak normal, misalnya tumbuh kerdil. Penyulaman sebaiknya dilakukan seminggu          setelah tanam. Namun jika satu minggu sudah terlihat adanya tanaman yang          mati, layu, rusak atau pertumbuhannya tidak normal, penyulaman sebaiknya          segera dilakukan. Hal lain yang juga harus diperhatikan dalam penyulaman          adalah bibit yang digunakan. Bibit yang digunakan untuk menyulam diambil          dari bibit cadangan yang telah dipersiapkan sebelumnya bersamaan dengan          bibit lain yang bukan bibit cadangan. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Cara penyulamannya adalah apabila tanaman yang telah mati, rusak, layu,          atau pertumbuhannya tidak normal dicabut, kemudian dibuat lubang tanam          baru ditempat tanaman terdahulu, dibersihkan dan diberi Furadan 0,5 gram          bila dipandang perlu. Setelah itu, bibit yang baru ditanam pada tempat          tanaman terdahulu dengan cara penanaman bibit terdahulu.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Gulma yang tumbuh di areal penanaman tomat harus disiangi agar tidak          menjadi pesaing dalam mengisap unsur hara. Gulma yang terlalu banyak akan          mengurangi unsur hara sehingga tanaman tomat menjadi kerdil. Gulma juga          dapat menjadi sarang hama dan penyakit yang akan menyerang tanaman tomat.          Pemberian mulsa plastik atau daun-daunan akan mengurangi gulma.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Waktu penyiangan dapat dilakukan 3-4 kali tergantung kondisi kebun.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.3. Pembubunan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tujuan pembubunan adalah memperbaiki peredaran udara dalam tanah dan          mengurangi gas-gas atau zat-zat beracun yang ada di dalam tanah sehingga          perakaran tanaman akan menjadi lebih sehat dan tanaman akan menjadi cepat          besar. Tanah yang padat harus segera digemburkan. Pembubunan dilakukan          dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran          tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.4. Perempalan&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Tunas yang tumbuh di ketiak daun harus segera dirempel/dipangkas            agar tidak menjadi cabang. Perempalan paling lambat dilakukan 1 minggu            sekali. Pada tanaman tomat yang tingginya terbatas, perempalannya harus            dilakukan dengan hati-hati agar tunas terakhir tidak ikut dirempel supaya            tanaman tidak terlalu pendek. &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Perempalan yang baik dilakukan pada pagi hari agar luka bekas rempalan            cepat kering dengan cara: ujung tunas dipegang dengan tangan yang bersih,            lalu digerakkan ke kanan kiri sampai tunas tersebut lepas. Apabila terlambat            merempel, tunas akan cabang yang besar dan sukar putus.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tunas yang terlanjur menjadi cabang besar harus dipotong dengan pisau            atau gunting tajam yang bersih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Ketinggian tanaman tomat dapat dibatasi dengan memotong ujung tanaman            apabila jumlah dompolan buah sudah mencapai 5-7 buah. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.5. Pemupukan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pemupukan bertujuan merangsang pertumbuhan tanaman. Tata cara pemupukan          adalah:&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Setelah tanaman hidup sekitar 1 minggu setelah ditanam, harus segera            diberi pupuk buatan. Dosis pupuk Urea dan KCl dengan perbandingan 1:1            untuk setiap tanaman antara 1-2 gram. Pemupukan dilakukan di sekeliling            tanaman pada jarak ± 3 cm dari batang tanaman tomat kemudian            pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air. Pupuk Urea dan KCl tidak            boleh mengenai tanaman karena dapat melukai tanaman.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pemupukan kedua dilakukan ketika tanaman berumur 2-3 minggu sesudah            tanam berupa campuran Urea dan KCl sebanyak ± 5 gr. Pemupukan            dilakukan di sekeliling batang tanaman sejauh ± 5 cm dan dalamnya            ± 1 cm kemudian pupuk ditutup tanah dan disiram dengan air.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bila pada umur 4 minggu tanaman masih kelihatan belum subur dapat            dipupuk lagi dengan Urea dan KCl sebanyak 7 gram. Jarak pemupukan dari            batang dibuat makin jauh yaitu ± 7 cm.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.6. Penyiraman dan Pengairan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Kebutuhan air pada budidaya tanaman tomat tidak terlalu banyak, namun          tidak boleh kekurangan air. Pemberian air yang berlebihan pada areal tanaman          tomat dapat menyebabkan tanaman tomat tumbuh memanjang, tidak mampu menyerap          unsur-unsur hara dan mudah terserang penyakit. Kelembaban tanah yang tinggi          dapat mendorong pertumbuhan dan perkembangan patogen sehingga tanaman          tomat dapat mati keracunan karena kandungan oksigen dalam tanah berkurang.          Pori-pori yang terisi oleh air mendesak oksigen keluar dari dalam tanah          sehingga tanah menjadi anaerob yang menyebabkan proses oksidasi berubah          menjadi proses reduksi. Keadaan tanah yang demikian menyebabkan kerontokan          bunga dan menyebabkan pertumbuhan vegetatif berlebihan sehingga mengurangi          pertumbuhan dan perkembangan generatif (buah).&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Kekurangan air yang berkepanjangan pada pertanaman tomat dapat mengganggu          pertumbuhan tanaman pada stadia awal, mengakibatkan pecah-pecah pada buah          apabila kekurangan air terjadi pada stadia pembentukan hasil dan dapat          menyebabkan kerontokan bunga apabila kekurangan air terjadi selama periode          pembungaan.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.7. Pemasangan Ajir&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pemasangan ajir dimaksudkan untuk mencegah tanaman tomat roboh. Hal-hal          yang perlu diperhatikan:&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Ajir (lanjaran) terbuat dari bambu atau kayu dengan panjang antara            100-175 cm, tergantung dari varietasnya.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pemasangan ajir dilakukan sedini mungkin, ketika tanaman masih kecil            akar masih pendek, sehingga akar tidak putus tertusuk ajir. Akar yang            luka akan memudahkan tanaman terserang penyakit yang masuk lewat luka.            Jarak ajir dengan batang tomat ± 10-20 cm.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Cara memasang ajir bermacam-macam, misalnya ajir dibuat tegak lurus            atau ujung kedua ajir diikat sehingga membentuk segitiga. Agar tidak            dimakan rayap, ajir diolesi dengan ter atau minyak tanah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tanaman tomat yang telah mencapai ketinggian 10-15 cm harus segera            diikat pada ajir. Pengikatan jangan terlalu erat yang penting tanaman            tomat dapat berdiri. Pengikatan dilakukan dengan model angka 8 sehingga            tidak terjadi gesekan antara batang tomat dengan ajir yang dapat menimbulkan            luka. Tali pengikat, misalnya tali plastik harus dalam keadaan bersih.            Setiap bertambah tinggi ± 20 cm, harus dilakukan pengikatan lagi            agar batang tomat selalu berdiri tegak.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.5. Hama dan Penyakit&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.5.1 Hama&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Ulat buah tomat (Heliothis armigera Hubner)&lt;br /&gt;         Ciri: panjang ulat ± 4 cm dan akan makin panjang pada temperatur            rendah. Warna ulat bervariasi dari hijau, hijau kekuning-kuningan, hijau            kecoklat-coklatan, kecoklat-coklatan sampai hitam. Pada badan ulat bagian            samping ada garis bergelombang memanjang, berwarna lebih muda. Pada            tubuhnya kelihatan banyak kutil dan berbulu. Telur berbentuk bulat berwarna            kekuning-kuningan mengkilap dan sesudah 2-4 hari berubah warna menjadi            coklat. Panjang sayap ngengat bila dibentangkan ± 4 cm dan panjang            badan antara 1,5-2,0 cm. Sayap bagian muka berwarna coklat dan sayap            belakang berwarna putih dengan tepi coklat. Gejala: ulat ini menyerang            daun, bunga dan buah tomat. Ulat ini sering membuat lobang pada buah            tomat secara berpindah-pindah. Buah yang dilubangi pada umumnya terkena            infeksi sehingga buah menjadi busuk lunak. Pengendalian: (1) ngengat            tertarik pada cahaya ultraviolet sehingga dengan sinar tersebut diadakan            perangkap; (2) telur dan ulat adapat dikumpulkan dan dibakar atau dimatikan;            (3) ditepi kebun ditanam jagung untuk mengurangi serangan pada tanaman            tomat; (4) tanaman liar disekitar areal pertanaman tomat dibersihkan;            (5) disemprot dengan insektisida misalnya Diazinon dan Cymbush.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kutu daun apish hijau&lt;br /&gt;         Kutu ini termasuk famili Aphididae dari ordo Hemiptera yang sering disebut            aphis tomat, aphis tembakau atau aphis kentang. Kutu hijau ini menjadi            vektor (penyalur) virus sehingga tomat dapat terserang penyakit virus.            Ciri: kutu ada yang bersayap dan ada yang tidak bersayap. Panjang kutu            yang bersayap antara 2-2,5 mm, kepala dan dadanya berwarna coklat sampai            hitam dan perutnya hijau kekuning-kuningan. Ukuran antena sepanjang            badannya. Panjang kutu yang tidak bersayap antara 1,8-2,3 mm berwarna            hijau kekuning-kuningan. Gejala: daun tomat yang diserang bentuknya            jelek, keriting, kerdil, melengkung ke bawah, menyempit seperti pita,            klorosis, mosaik dan daun menjadi rapuh. Pengendalian: (1) penggunaan            mulsa kertas dapat mengusir kutu karena memantulkan sinar matahari;            (2) tanaman liar maupun gulma di sekitar areal tanaman tomat harus dibersihakn            krena dapat menjadi tempat berlindung kutu; (3) pengendalian secara            mekanis dapat dilakukan dengan cara dipijit sehingga kutu aphis tersebut            mati; (4) pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan dengan penyemprotan            insektisida.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Lalat putih (kutu kabut, kutu kepul)&lt;br /&gt;         Kutu ini termasuk famili Aleyrodidae dari ordo Hemiptera. Kutu ini bila            terganggu akan berhamburan seperti kabut atau kepul putih. Ciri: Panjang            kutu putih dewasa hanya ± 1 mm berwarna putih kekuning-kuningan,            tertutup tepung seperti lilin putih, memiliki 2 pasang sayap berwarna            putih dengan bentangan ± 2 mm, dan bermata merah. Lalat putih            betina berukuran lebih besar daripada lalat jantan. Telur berbentuk            elips sepanjang antara 0,2-0,3 mm. Panjang pulpa ± 0,7 mm, berbentuk            oval serta datar dan badannya seperti sisik pada daun. Gejala: tanaman            tomat yang terserang seperti diselimuti tepung putih yang bila dipegang            akan berterbangan. Serangan mengakibatkan pertumbuhan tanaman terhambat/kerdil,            daun mengecil, dan menggulung ke atas. Pengendalian: (1) digunakan musuh            alami hama, misalnya beberapa jenis tabuhan yang merupakan parasit lalat            putih dan beberapa jenis lembing guna memakan telur lalat putih; (2)            gulma di sekitar tanaman tomat harus dibersihkan supaya tidak menjadi            inang lalat putih; (3) tanaman tomat terserang virus harus segera dicabut            dan dibakar; (4) pertanaman tomat dapat diberi mulsa jerami atau mulsa            plastik kuning; (5) disemprot dengan Diazinon, Malathion, Azinpos-methyl            dan lain-lain.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kutu daun thrips&lt;br /&gt;         Kutu daun thrips termasuk famili Thripidae dari ordo Thysanoptera. Ciri:            panjang thrips antara 1-1,2 mm, berwarna hitam, bergaris merah atau            tidak bercak merah. Nimfa (thrips muda) berwarna putih atau putih kekuningan,            tidak bersayap dan kadang-kadang berbercak merah. Thrips dewasa bersayap            dan berambut berumbai-rumbai. Telur thrips berbentuk seperti ginjal            atau oval. Gejala: Thrips mengisap cairan pada permukaan daun dimana            daun yang telah diisap menjadi berwarna putih seperti perak karena udara            masuk ke dalamnya. Bila terjadi serangan hebat, daun menjadi kering            dan mati. Tanaman muda yang terserang akan layu dan mati. Pengendalian:            (1) tanaman yang kekurangan air lebih banyak diserang thrips. Untuk            itu, tanaman tomat harus disiram dengan air yang cukup; (2) gulma di            areal tanaman tomat harus dibersihkan agar tidak menjadi tempat berlindung            thrips; (3) disemprot dengan insektisida, misalnya Diazinon, Malathion            dan Monocrotophos.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Lalat buah&lt;br /&gt;         Lalat ini termasuk famili Trypetidae (Tephritidae) dari ordo Diptera.            Ciri: mempunyai sayap transparan sepanjang 5-7 mm, panjang badan 6-8            mm. Perut berwarna coklat muda dengan garis melintang berwarna coklat            tua, dada berwarna coklat tua dengan bercak kuning atau putih. Belatung            muda berwarna putih, tetapi bila dewasa berwarna kekuning-kuningan.            Panjang belatung ± 1 cm. Belatung ini terletak di dalam daging            buah. Telur lalat berukuran kecil-kecil, panjangnya ± 1,2 mm,            kedua ujungnya runcing, dan berwarna putih. Gejala: buah tomat menjadi            busuk karena terserang cendawan atau bakteri. Bila buah dibuka akan            kelihatan ada berenga berwarna putih. Berenga dewasa berwarna kekuning-kuningan            dan bila disentuh akan melenting sejauh ± 30 cm untuk menyelamatkan            diri. Pengendalian: (1) pada waktu mencangkul, tanah harus dibalik dan            dibiarkan beberapa hari sampai beberapa minggu agar terkena sinar matahari            sehingga pupa lalat mati; (2) ditangkap dengan menggunakan umpan yang            dapat memikat lalat jantan; (3) buah yang terserang segera dipetik dan            dibakar; (4) gulma di daerah pertanaman tomat harus selalu dibersihkan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tungau bercak dua&lt;br /&gt;         Tungau ini termasuk famili Tetranychidae dari ordo Acarina, disebut            tungau bercak dua karena pada punggungnya terdapat bercak yang letaknya            sedikit ke samping dan berwarna hitam. Tungau ini memakan berbagai macam            tanaman (kosmopolitan dan polyphag). Tungau ini terdapat dibalik permukaan            daun dengan sarang labah-labahnya. Tungau ini dapat menularkan virus.            Serangannya dapat terjadi pada musim kemarau. Ciri: bentuk luar tungau            berbentuk lonjong, berkaki delapan, panjang antara 0,3-0,4 mm dan berwarna            kuning pucat dengan bercak hitam pada kedua sisi samping punggung. Mulutnya            dapat untuk menusuk dan mengisap cairan tanaman. Telurnya berukuran            kecil-kecil bergaris tengah ± 0,15 mm. Gejala: daun dan tunas            menguning, selanjutnya menjadi coklat dan kering. Pengendalian: (1)            bila banyak hujan populasinya akan berkurang; (2) gulma di areal pertanaman            tomat harus selalu dibersihkan; (3) menanam varietas tomat yang tahan            tungau; (4) disemprot dengan Akarisida misalnya, Omite, Kelthane, Bubur            Kalifornia atau dihembus dengan tepung belerang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tungau merah&lt;br /&gt;         Tungau ini termasuk famili Tetranychidae dari ordo Acarina., disebut            tungau merah/hama merah karena daun tanaman yang diserangnya menjadi            berwarna merah karat. Ciri: tungau berkaki 8 dan besarnya 0,3-0,5 mm.            Tungau betina berwarna merah tua atau merah kecoklat-coklatan dengan            beberapa bercak hitam. Kaki dan mulutnya kelihatan putih transparan.            Kepala menjadi satu dengan dada. Mulutnya dapat untuk menusuk dan mengisap            cairan dari sel tanaman. Selain itu mulut dapat juga menggigit dan menggergaji.            Telurnya berukuran kecil, dengan diameter 0,15 mm, dan berwarna kuning            pucat atau sedikit kemerahan. Gejala: daun menjadi bercak-bercak merah            karat. Serangan sering terjadi pada musim kemarau. Serangan yang hebat            menyebabkan tanaman menjadi kerdil. Dibalik daun tomat akan kelihatan            anyaman benang halus yang merupakan sarang tungau. Selanjutnya, daun            menjadi kering karena daun diisap cairannya. Pengendalian: (1) gulma            di areal pertanaman tomat harus dibersihakan agar tidak menjadi tempat            berlindung tungau; (2) menanam varietas tomat yang tahan tungau merah;            (3) alami, tungau akan dimangsa oleh predatornya, yaitu thrips predator            dan kumbang macan; (4) populasi tungau akan berkurang bila banyak turun            hujan; (5) disemprot dengan akarisida, misalnya Omite, Kelthan, atau            dihembus dengan tepung belerang.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Nematoda bengkak akar&lt;br /&gt;         Ciri: bentuk nematoda bisul akar seperti cacing kecil sepanjang antara            200-1000 m. Untuk mengamati hama ini harus digunakan mikroskop. Pada            mulutnya terdapat stylet yang berbentuk seperti jarum runcing, untuk            menusuk dan menarik kembali cairan dalam mulut. Ukuran badan nematoda            betina sedikit lebih gemuk. Gejala: akar tanaman membengkak memanjang            atau bulat, akibatnya tanaman (akar) akan mengalami kesulitan mengambil            air dari tanah sehingga terjadi klorosis, yakni warna daun tidak normal,            pertumbuhan terhambat, layu, buah kecil serta sedikit dan cepat menjadi            tua. Serangan nematoda ini dapat mengurangi produksi sampai 50% atau            lebih. Pengendalian: (1) dilakukan rotasi tanaman dengan Tagetes patula            atau Tagetes ercta yang menghasilkan tiophen guna mematikan nematoda;            (2) tanah dicangkul dan dibiarkan beberapa waktu agar terkena sinar            matahari; (3) tanah digenangi air yang cukup lama supaya nematoda mati;            (4) menggunakan bahan kimia Nematisida, misalnya Furadan, Curater, Petrofur,            Indofuran, dan Temik; (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6)            tanaman yang terserang harus segera dicabut dan dibakar; (7) gulma di            areal tamanan tomat dibersihkan; (8) diberi pupuk organik (pupuk kandang            atau kompos).&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.5.2. Penyakit karena Cendawan&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Penyakit layu fusarium&lt;br /&gt;         Infeksi terjadi lewat akar, kemudian menyerang jaringan pembuluh. Jaringan            xylem yang terserang warnanya menjadi coklat dan serangan ini dengan            cepat menuju ke atas. Aliran air ke daun akan terhambat sehingga daun            akan layu dan menguning. Cendawa ini membentuk polipeptida (likomarasmin)            yang menggangu permeabilitas membran plasma, sehingga perjalanan air            dari bawah ke atas terhambat. Gejala: pada malam hari sampai pagi masih            kelihatan segar, tetapi setelah ada sinar matahari dan terjadi penguapan,            tanaman tersebut menjadi layu. Sore hari mungkin masih dapat segar lagi            tetapi keesokan harinya mulai layu lagi. Akhirnya, tanaman layu akan            mati. Pengendalian: (1) menanam varietas tomat yang resisten (tahan);            (2) diberi mulsa plastik transparan untuk menaikkan suhu tanah agar            penyakit fusarium mati; (3) menanam tanaman tomat di tanah yang bebas            nematoda; (4) menggunakan alat yang bersih dari penyakit layu; (5) tanah            yang telah ditanami tomat yang terserang penyakit layu tidak boleh ditanami            tomat dalam waktu lama dan tidak boleh menanam tanman yang termasuk            solanase; (6) tanaman yang layu harus segera dicabut dan dibakar; (7)            tanaman tomat disambung dengan cepokak (Solanum torvum), atau terung            engkol (Solanum macrocarpon).&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bercak daun septoria&lt;br /&gt;         Penyebab: cendawan Septoria Lycopersici Speg. yang merusak daun dan            menyerang tanaman tomat yang masih muda ataupun tua. Gejala: terlihat            bercak bulat kecil berair pada kedua permukaan daun dibagian bawah.            Bercak tersebut berwarna coklat muda, kemudian menjadi kelabu dengan            tepi kehitaman. Garis tengah bercak ± 2 mm. Serangan yang hebat            menyebabkan daun tomat menggulung, mengering dan rontok. Pengendalian            : (1) gulma dan sisa tanaman tomat yang telah mati dibersihkan dan dibakar,            jangan dipendam dalam tanah; (2) dilakukan rotasi tanaman, dengan menanam            tanaman lain yang berbeda famili; (3) menanam tanaman tomat yang resisten;            (4) disemprot dengan fungisida misalnya, zineb dan maneb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit kapang daun&lt;br /&gt;         Penyebab: cendawan Fulvia fulva (Cke) Cif. atau yang menyebut Cladosporum            fulvus Cke. Gejala: mula-mula terlihat pada permukaan daun sebelah atas            terdapat bercak pucat (klorosis) Dibawah daerah klorosis, dibalik daun,            terbentuk spora-spora yang mula-mula berwarna kelabu muda kemudian menjadi            coklat atau hijau kekuning-kuningan. Penyakit ini mula-mula menyerang            daun-daun bagian bawah, kemudian menjalar ke daun sebelah atas dan akhirnya            seluruh tanaman terserang dan mati. Pengendalian: (1) menanam tanaman            tomat yang resisten; (2) jangan menanam pada waktu musim hujan; (3)            disemprot dengan fungisida , misalnya Mancozeb (Dithane M-45), Benemyl;            (4) pengendalian secara biologis dapat menggunakan Penicillium brevicompactum,            Trichoderma viride, Hansfordia pulvinata, dan Acremonium spp.; (5) melakukan            rotasi tanaman.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit bercak coklat&lt;br /&gt;         Penyebab: Alternaria solani Sor. Gejala: daun tomat yang terserang tampak            bulat coklat atau bersudut, dengan diameter 2-4 mm, dan berwarna coklat            sampai hitam. Bercak itu menjadi jaringan nekrosis yang mempunyai garis-garis            lingkaran sepusat. Jaringan nekrosis ini dikelilingi lingkaran yang            berwarna kuning (sel klorosis). Bila serangan mengganas, bercak akan            membesar dan kemudian bersatu sehingga daun menjadi kuning, layu dan            mati. Bunga yang terinfeksi akan gugur. Buah muda atau masak yang terserang            penyakit ini menjadi busuk, berwarna hitam, dan cekung, serta meluas            ke seluruh buah. Penyakit ini biasanya dimulai dari pangkal buah (ujung            tangkai) yang berwarna coklat tua dan cekung, bergaris tengah 5-20 mm            dan tertutup massa spora hitam seperti beledu. Pengendalian: (1) menanam            biji yang bebas penyakit atau biji terdesinfeksi; (2) tanaman yang sakit            segera dicabut dan dibakar; (3) bekas tanaman tomat, terung, kentang,            dan tanaman yang termasuk Solanase tidak boleh dipendam di areal pertanaman            tomat, tapi harus dikumpulkan di tempat lain dan dibakar; (4) melakukan            rotasi tanaman; (5) penyiraman harus menggunakan air bersih yang tidak            tercemar penyakit; (6) drainase harus diatur dengan baik agar tanaman            tidak tergenang air; (7) gulma di areal pertanaman harus selalu dibersihkan;            (8) pembibitan dan penanaman jangan terlalu rapat; (9) disemprot dengan            carbamat, zineb atau maneb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit busuk daun&lt;br /&gt;         Penyebab: cendawan Phytophthora infestans (Mont.) de bary. Gejala: daun            tomat yang terserang berbercak coklat sam,pai hitam. Mula-mula pada            ujung atau sisi daun, hanya tampak beberapa milimeter, tetapi akhirnya            meluas sampai ke seluruh daun dan tangkai daun. Penyakit ini mulai menyerang            pangkal buah, yang menimbulkan bercak berair yang berwarna hijau kelabu            sampai coklat. Pengendalian: (1) tanaman yang telah terserang segera            dicabut dan dibakar; (2) tanaman yang sakit tidak boleh dipendam di            areal pertanaman tomat; (3) menanam varoetas tomat yang resisten; (4)            melakukan rotasi tanaman; (5) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa            waktu agar terkena sinar matahari; (6) disemprot dengan fungisida, misalnya            Dithane M-45, Difolatan, zineb, propineb, atau maneb.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Penyakit busuk buah Rhizoctonia&lt;br /&gt;         Penyebab: cendawan Thanatephorus cucumeris (Frank) Donk. Gejala: muncul            bercak cekung kecil berwarna coklat. Bercak ini membesar dan timbul            lingkaran-lingkaran sepusat. Warna bercak menjadi coklat tua dan bagian            tengahnya sering kali retak. Pengendalian: (1) air pengairan harus bersih            dan bebas penyakit; (2) penanaman jangan terlalu dalam; (3) diberi lanjaran            supaya buah tomat tidak menyentuh tanah; (4) diberi mulsa plastik transparan;            (5) menanam varietas tomat yang resisten; (6) melakukan rotasi tanaman;            (7) gulma dan sisa-sisa tanaman sakit harus dibersihkan dan dibakar;            (8) disemprot dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif chlorothalonil            dengan interval 7-8 hari sekali untuk menanggulangi timbulnya penyakit            busuk buah.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Busuk buah antraknosa&lt;br /&gt;         Penyebab: cendawan Colletotrichum coccodes (Wallr.) Hughes. Penyakit            ini dapat menyerang buah, batang dan akar tanaman tomat. Gejala: buah            tomat tampak ada bercak kecil berair, bulat dan cekung yang makin membesar,            berwarna coklat, kelihatan ada lingkaran-lingkaran sepusat, dan kemudian            menjadi hitam. Pada pangkal buah kelihatan ada bercak ungu yang terletak            dekat tangkai. Bila serangan terjadi pada akar dan batang, warna jaringan            cortex akan menjadi coklat dan daun menjadi layu. Pengendalian: (1)            sisa tanaman sakit tidak boleh dipendam dalam tanah; (2) melakukan rotasi            tanaman selama 1-2 tahun; (3) diberi mulsa dan lanjaran agar buah tidak            menyentuh tanah; (4) menanam tanaman tomat yang resisten; (5) disemprot            dengan fungisida yang mempunyai bahan aktif kaptafol.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;              &lt;p&gt;&lt;br /&gt;       &lt;span class="ver10bld"&gt;3.5.3. Penyakit karena Bakteri&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Penyakit layu (Lendir)&lt;br /&gt;         Penyebab: Pseudomonas solanacearum (E.F. Sm) E.F.Sm. Gejala: tanaman            yang diserang penyakit ini lebih cepat layu. Tanaman yang telah terinfeksi,            daunnya masih hijau tetapi kemudian tiba-tiba layu, terutama pucuk daun            yang masih muda, dan daun bagian bawah menguning. Tanaman yang terinfeksi            menjadi kerdil, daun menggulung ke bawah, dan kadang-kadang terbentuk            akar adventif sepanjang batang tomat. Tanaman yang terserang biasanya            akan roboh dan mati. Pengendalian: (1) melakukan rotasi tanaman dan            tidak boleh menanam jenis-jenis tanaman yang termasuk famili Solanaceae;            (2) gulma di areal pertanaman dibersihkan; (3) menanam varietas tomat            yang resisten; (4) tanaman disambung dengan batang bawah cepokak; (5)            tanaman disemprot dengan antibiotika; (6) tanaman yang sakit dicabut            dan dibakar; (7) tanah yang telah dicangkul dibiarkan beberapa waktu            agar cukup terkena sinar matahari.&lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kerak bakteri, bercak bakteri&lt;br /&gt;         Gejala: adanya bercak berair kecil pada daun dan batang; bercak berair            ini akan mengering, cekung dan berwarna coklat keabu-abuan garis tengah            1-5 mm; tanaman tomat yang terserang daun-daunnya mengeriting ke bawah            dan mengering; batang yang terluka menyerupai kerak panjang dan berwarna            keabu-abuan; daun yang terserang mengalami klorosis dan gugur; pada            buah yang terserang mula-mula kelihatan bercak berair, kemudian berubah            menjadi bercak bergabus. Pengendalian: (1)melakukan rotasi tanaman dengan            tanaman yang berbeda famili; (2) menanam biji dari tanaman tomat yang            sehat; (3) menanam tanaman tomat yang resisten; (4) tanaman yang sakit            harus segera dicabut dan dibakar; (5) tanaman tomat yang mati tidak            boleh dipendam dalam tanah; (6) menyiram tanaman dengan air yang bersih            dan bebas penyakit.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p&gt;Selain penyakit-penyakit diatas ada penyakit-penyakit yang disebabkan          oleh virus seperti penyakit mosaik tomat, penyakit mosaik mentimun dan          penyakit yang disebabkan oleh non-parasit (fisiologis) seperti penyakit          busuk ujung buah, penyakit luka terbakar matahari, penyakit retak, penyakit          kantong dan penyakit kelebihan dan kekurangan unsur hara. Penyakit yang          menyerang tanaman tomat varietas Artaloka adalah penyakit busuk daun.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.6. Panen&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pemetikan buah tomat dapat dilakukan pada tanaman yang telah berumur          60-100 hari setelah tanam tergantung pada varietasnya. Varietas tomat          yang tergolong indeterminatre memiliki umur panen lebih panjang, yaitu          berkisar antara 70-100 hari setelah tanam baru bisa dipetik buahnya&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Penentuan waktu panen hanya berdasarkan umur panen tanaman sering kali          kurang tepat karena banyak faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti:          keadaan iklim setempat dan tanah. Kriteria masak petik yang optimal dapat          dilihat dari warna kulit buah, ukuran buah, keadaan daun tanaman dan batang          tanaman, yakni sebagai berikut :&lt;br /&gt;       a) kulit buah berubah, dari warna hijau menjadi kekuning-kekuningan.&lt;br /&gt;       b) bagian tepi daun tua telah mengering.&lt;br /&gt;       c) batang tanaman menguning/mengering.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Waktu pemetikan (pagi, siang, sore) juga berpengaruh pada kualitas yang          dipanen. Saat pemetikan buah tomat yang baik adalah pada pagi atau sore          hari dan keadaan cuaca cerah. Pemetikan yang dilakukan pada siang hari          dari segi teknis kurang menguntungkan karena pada siang hari proses fotosintesis          masih berlangsung sehingga mengurangi zat-zat gizi yang terkandung. Disamping          itu, keadaan cuaca yang panas di siang hari dapat meningkatkan temperatur          dalam buah tomat sehingga dapat mempercepat proses transpirasi (penguapan          air) dalam buah. Keadaan ini dapat dapat menyebabkan daya simpan buah          tomat menjadi lebih pendek.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.6.2. Cara Panen&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Cara memetik buah tomat cukup dilakukan dengan memuntir buah secara hati-hati          hingga tangkai buah terputus. Pemutiran buah harus dilakukan satu per          satu dan dipilih buah yang sudah matang. Selanjutnya, buah tomat yang          sudah terpetik dapat langsung dimasukkan ke dalam keranjang untuk dikumpulkan          di tempat penampungan. Tempat penampungan hasil panen tomat hendaknya          dipersiapkan di tempat yang teduh atau dapat dibuatkan tenda di dalam          kebun.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.6.3. Periode Panen&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pemetikan buah tomat tidak dapat dilakukan sampai 10 kali pemetikan karena          masaknya buah tomat tidak bersamaan waktunya. Pemetikan buah tomat dapat          dilakukan setiap selang 2-3 hari sekali sampai seluruh tomat habis terpetik.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.7. Pascapanen&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.7.1. Pengumpulan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Buah tomat yang sudah dipetik dan terkumpul harus segera dibersihkan          dari segala kotoran yang menempel dari permukaan kulitnya, baik berupa          debu, percikan tanah, maupun sisa-sisa pestisida dan pupuk daun yang disemprotkan          pada saat pemeliharaan tanaman. Buah tomat dapat dicuci dengan zat kimia          pembersih kotoran dan residu pestisida, yaitu zat neutral cleaner brogdex          dan britex wax. Dengan pencucian buah menjadi bersih dari segala kotoran          dan terlindung dari kuman-kuman penyakit, serta dapat menurunkan temperatur          dalam buah sehingga proses respirasi dalam buah dapat terhambat.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.7.2. Penyortiran dan Penggolongan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Setelah buah tomat dibersihkan dari kotoran, maka selanjutnya yang harus          dilakukan adalah penyortiran dan penggolongan. Penyortiran dilakukan dengan          cara memisah-misahkan buah tomat yang berukuran besar dan sehat dari buah-buah          tomat yang berukuran kecil dan sehat, buah-buah tomat yang berukuran besar          atau kecil tetapi terdapt cacat atau tidak sehat. &lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.7.3. Penyimpanan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Teknik penyimpanan untuk mempertahankan kesegaran buah tomat dalam waktu          yang lama pada prinsipnya adalah menekan sekecil mungkin terjadinya respirasi          (pernafasan) dan transpirasi (penguapan) sehingga menghambat terjadi enzymatis/biokimia          yang terjadi dalam buah. Dengan demikian, kematangan buah dapat tertunda          sampai beberapa hari. &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Cara atau teknik penyimpanan buah tomat yaitu :&lt;br /&gt;       a) Penyimpanan dalam ruangan bertemperatur rendah (48-50 derajat F) dengan          mengatur suhu ruangan (85-90%).&lt;br /&gt;       b) Penyimpanan dalam ruangan berventilasi tanpa pengatur suhu.&lt;br /&gt;       c) Penyimpanan dalam ruangan vakum (tanpa udara).&lt;br /&gt;       d) Penyimpanan dengan meredam kedalam air yang mengalir atau tidak mengalir.&lt;br /&gt;       e) Penyimpanan dengan timbunan es.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.7.4. Pengemasan dan Pengangkutan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pengemasan dan pengangkutan merupakan dua kegiatan yang berkaitan erat          dalam usaha melindungi buah tomat dari kerusakan mekanis (gesekan atau          benturan selama pengangkutan). Oleh karena itu, proses pengemasan dan          pengangkutan harus dilakukan dengan baik dan hati-hati agar buah tomat          yang telah dipertahankan mutunya pada tahapan pembersihan, penyortiran          dan penggolongan, dan penyim-panan, masih tetap dapat dipertahankan pada          tahapan pengemasan dan pengangkutan.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pengemasan adalah:&lt;br /&gt;       a) Alat pengemas harus bersih.&lt;br /&gt;       b) Alat pengemas sebaiknya terbuat dari bahan yang kuat tetapi ringan.&lt;br /&gt;       c) Pengemasan buah tomat tidak boleh melebihi daya tampung alat kemas.&lt;br /&gt;       d) Hindarkan paku yang menonjol keluar atau papan yang tidak rata didalam          alat pengemas.&lt;br /&gt;       e) Berilah pelindung pada dasar dan tepi alat pengemas dengan bahan pelindung          dari bahan jerami yang kering atau guntingan-guntingan kertas.&lt;br /&gt;       f) Alat kemas harus memiliki lubang-lubang ventilasi pada dindingnya.&lt;br /&gt;       g) Susunlah buah tomat serapi mungkin didalam alat pengemas sesuai dengan          daya tampungnya.&lt;br /&gt;       h) Tutuplah peti pengemas dengan diikat atau dipaku agar kuat.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt; &lt;/p&gt;       &lt;p class="judul"&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;a name="4"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;4.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Perkiraaan analisis usaha budidaya tomat seluas 800 m2 per musim tanam          (4 bulan); dengan jarak antar bedeng 40 cm, lebar bedeng 1 m dan panjang          10 m; varietas artaloka 1 pak; dilakukan pada tahun 1999 di daerah Bogor.&lt;br /&gt;     &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;br /&gt;     &lt;/p&gt;       &lt;!-- #EndEditable --&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;   &lt;/tr&gt;   &lt;tr&gt;      &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td valign="top"&gt; &lt;!-- #BeginEditable "ekonomi" --&gt;        &lt;table class="ver9" width="100%" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;         &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td class="ver9" valign="top" width="393" height="12"&gt;              &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Biaya produksi&lt;br /&gt;               &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Sewa lahan 4 bulan&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Bibit : benih 1 pak (1.500 biji)&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pupuk:&lt;br /&gt;                   - Pupuk kandang: 4.125 kg @ Rp. 150,-&lt;br /&gt;                   - TSP: 10 kg @ Rp. 1.800,-&lt;br /&gt;                   - Urea: 5 kg @ Rp. 1.500,-&lt;br /&gt;                   - Za: 10 kg @ Rp. 1.250,-&lt;br /&gt;                   - KCl: 10 kg @ Rp. 1.650,-&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pestisida :&lt;br /&gt;                   - ZPT: 10 cc&lt;br /&gt;                   - Fungisida (Nemisfor): 1 kg&lt;br /&gt;                   - Insektisida (Bravo): 30 cc&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Alat : bambu untuk ajir 1500 batang&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Tenaga kerja: s/d panen&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Biaya tak terduga&lt;br /&gt;                   Jumlah biaya produksi&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pendapatan 5.400 kg @ Rp. 1.600,-&lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Keuntungan&lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Parameter kelayakan usaha&lt;br /&gt;               &lt;ol&gt;&lt;li&gt; B/C Ratio&lt;br /&gt;                 &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;               &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;           &lt;/td&gt;           &lt;td class="ver9" valign="top" width="19"&gt;&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;           Rp.&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;           Rp. &lt;/td&gt;           &lt;td class="ver9" valign="top" width="84"&gt;              &lt;div align="right"&gt;&lt;br /&gt;             200.000,-&lt;br /&gt;             90.000,-&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             618.750,-&lt;br /&gt;             18.000,-&lt;br /&gt;             16.500,-&lt;br /&gt;             20.000,-&lt;br /&gt;             18.500,-&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             50.000,-&lt;br /&gt;             120.000,-&lt;br /&gt;             120.000,-&lt;br /&gt;             150.000,-&lt;br /&gt;             3.500.000,-&lt;br /&gt;             500.000,-&lt;br /&gt;             5.421.750,-&lt;br /&gt;             8.640.000,-&lt;br /&gt;             3.218.250,-&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;             = 1,593&lt;br /&gt;           &lt;/div&gt;           &lt;/td&gt;           &lt;td class="ver9" valign="top" width="21"&gt;&lt;img src="file:///C:/Documents%20and%20Settings/Dimas/Desktop/buat%20bloG/budidaya%20tomat_files/page.gif" width="21" height="1" /&gt;&lt;/td&gt;           &lt;td valign="top" width="265"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;            &lt;td colspan="5" class="ver9" valign="top" height="12"&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;4.2.              Gambaran Peluang Agribisnis &lt;/span&gt;              &lt;p&gt;Buah tomat sebagai salah satu komoditas sayuran mempunyai prospek                pemasaran yang cerah. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya buah                tomat yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Potensi pasa buah tomat                juga dapat dilihat dari harga yang terjangkau oleh seluruh lapisan                masyarakat, sehingga membuka peluang lebih besar terhadap serapan                pasar. Peningkatan jumlah penduduk,bpendidikan, kesadaran gizi dan                meningkatnya pendapatan masyarakat juga akan meningkatkan kebutuhan                buah tomat. Selain itu, meningkatnya kemajuan di bidang industri                pengolahan akan berperan terhadap besarnya serapan pasar buah tomat                dan meningkatnya kemajuan di bidang transportasi akan lebih menunjang                pemasarannya.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt; &lt;/p&gt;             &lt;p class="judul"&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;a name="5"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;5.1. Ruang Lingkup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;             Standar ini meliputi kalsifikasi dan syarat mutu, cara pengujian                mutu, cara pengambilan contoh dan cara pengemasan tomat.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;5.2. Diskripsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;             Standar mutu tomat segar tercantum pada Standar Nasional Indonesia                SNI 01-3162-1992.&lt;/p&gt;             &lt;p class="subjudul"&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Menurut jenis mutunya, tomat segar digolongkan dalam dua jenis                mutu yaitu mutu I dan mutu II.&lt;br /&gt;             1. Keasaman sifat varietes: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;             2. Tingkat ketuaan: mutu I=tua, tidak terlalu lunak; mutu II =tua,                tidak terlalu lunak.&lt;br /&gt;             3. Ukuran: mutu I=seragam; mutu II=seragam.&lt;br /&gt;             4. Kotoran: mutu I=tidak ada; mutu II=tidak ada.&lt;br /&gt;             5. Kerusakan (jml/jml) dalam %: mutu I=maks. 5; mutu II=maks. 10.&lt;br /&gt;             6. Busuk (jml/jml) dalam %: mutu I=maks. 1; mutu II=maks. 1.&lt;/p&gt;             &lt;p class="subjudul"&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Contoh diambil secara acak dari sejumlah kemasan seperti tercantum                berikut ini, setiap kemasan diambil sebanyak 20 krop dari bagian                atas, tengah dan bawah. Khusus untuk pengujian kerusakan dan busuk,                jumlah contoh akhir yang di uji 100 krop. Pelaksanaan dilakukan                di lapangan. Jumlah kemasan yang diambil dalam pengambilan contoh                dalam lot adalah :&lt;br /&gt;             a) Jumlah kemasan 1 sampai 100, contoh yang diambil=5.&lt;br /&gt;             b) Jumlah kemasan 101 sampai 300, contoh yang diambil=7.&lt;br /&gt;             c) Jumlah kemasan 301 sampai 500, contoh yang diambil=9.&lt;br /&gt;             d) Jumlah kemasan 501 sampai 1000, contoh yang diambil=10.&lt;br /&gt;             e) Jumlah kemasan lebih dari 1000, contoh yang diambil=minimum 15.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Petugas pengambil contoh harus memenuhi syarat yaitu: orang yang                berpengalaman atau dilatih terlebih dahulu dan mempunyai ikatan                dengan badan hukum &lt;/p&gt;             &lt;p&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;5.5. Pengemasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;             Pengemasan produk biasanya dilakukan dengan polyetiline yang diberi                lubang-lubang kecil. Kemasan krop ini kemudian dimasukkan ke dalam                doos karton atau keranjang plastik.&lt;/p&gt;                          &lt;p&gt; &lt;/p&gt;             &lt;p class="judul"&gt;VI. REFERENSI&lt;a name="6"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;             &lt;p class="subjudul"&gt;6.1. Daftar Pustaka&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;a) Cahyono, Bambang. Tomat : budidaya dan analisis usaha tani.Yogyakarta                : Kanisius, 1998.&lt;br /&gt;             b) Pracaya. Bertanam tomat. Yogyakarta : Kanisius, 1998.&lt;br /&gt;             c) Balai Penelitian Tanaman Sayuran. Budidaya Tanaman Tomat. Malang                : Balitsa, 1997.&lt;/p&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-5703826927035338403?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://warintek.progressio.or.id' title='Budidaya Tomat'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/5703826927035338403/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=5703826927035338403' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5703826927035338403'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/5703826927035338403'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/05/budidaya-tomat.html' title='Budidaya Tomat'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-8896827691507301592</id><published>2009-05-20T14:22:00.004+07:00</published><updated>2009-05-20T14:27:07.532+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Rosella</title><content type='html'>&lt;h3 style="text-align: justify;" class="post-title entry-title"&gt; &lt;a href="http://budidaya-rosella.blogspot.com/2007/08/budidaya-rosella.html"&gt;Budidaya Rosella&lt;/a&gt; &lt;/h3&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Persemaian&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;SebeLum disemaikan, biji direndam seLama satu hari satu malam LaLu dipilih yang tenggeLam dengan bentuk butiran - butiran yang baik. Biji dapat Langsung disemaikan pada Lahan persemaian yang sudah dioLah dan diairi. SeteLah tumbuh maka bisa Langsung dipindah ke ke poLybag ataupun menunggu cukup besar untuk Langsung dipindah ke Lahan produksi.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Persiapan Lahan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Persiapan lahan dilakukan dengan pembajakan tanah secara membujur dan meLintang. Tanah dicampur pupuk dasar berupa pupuk kandang, Lahan diLarik dengan jarak antar Larik 1,5 m.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Penanaman&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Untuk Lahan yang Langsung dari biji makan penanaman diLakukan dengan ditugaL tiap Lubang tanam diisi 2-3 biji. Sedangkan untuk penanaman bibit yang telah disemaikan di polybag maka setiap Lubang tanam diisi dengan 1-2 bibit.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pemupukan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Pemupukan pada Lahan sebelum tanam dengan pupuk kandang, sedangkan pada umur 3 dan 7-8 minggu seteLah tanam dipupuk Urea sebanyak 30-40 gram tiap tanaman.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Hama dan Penyakit&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Hama dan penyakit yang paling banyak menyerang roseLLe adaLah hama kutu daun dan penyakit Phytopthora. Penanganannya adaLah dengan penyemprotan obat anti kutu ataupun berbagai jenis pestisida yang dijuaL bebas di toko-toko pertanian.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Pemeliharaan&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;SeLama pertumbuhan tanaman perLu diwaspadi keberadaan guLma yang akan berdampak negatif, oLeh karena itu diLakukan penyiangan dengan frekuensi sesuai kondisi Lahan.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Panen&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Tanaman roseLLe mulai menghasiLkan bunga pada umur 120 hari dan dapat dipanen secara terus-menerus daLam jangka waktu 3 buLan sebeLum akhirnya diganti dengan bibit baru. Per batang tanaman roseLLe dapat menghasilkan 1,5 kg bunga basah. Pemanenan menggunakan gunting untuk memotong tangkai bunga, kemudian diLakukan pemisahan biji. Untuk rendemennya daLam bentuk kering 10% sesudah dijemur di bawah terik matahari seLama 3-5 hari, yang akhrinya siap digunakan konsumsi pribadi ataupun dikemas untuk tujuan komersiaL.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Produksi&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Produksi tanaman roseLLe daLam keadaan normaL setiap hektar mampu menghasiLkan 2-3 ton keLopak bunga segar tanpa biji atau setara dengan 200-375 kg keLopak bunga kering.&lt;br /&gt;Kandungan gizi keLopak bunga segar tiap 100 gram adaLah sebagai berikut:&lt;br /&gt;- Protein 1,145 gr&lt;br /&gt;- Lemak 2,61 gr&lt;br /&gt;- Serat 12 gr&lt;br /&gt;- KaLsium 1,263 gr&lt;br /&gt;- Fosfor 273.2 mg&lt;br /&gt;- Zat besi 8,98 mg&lt;br /&gt;- MaLic Acid 3,31 %&lt;br /&gt;- Fruktosa 0,82 %&lt;br /&gt;- Sukrosa 0,24 %&lt;br /&gt;- Karotin 0,029 %&lt;br /&gt;- Tiamin 0,117 mg&lt;br /&gt;- Niasin 3,765 mg&lt;br /&gt;- Vitamin C 244,4 mg &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-8896827691507301592?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://budidaya-rosella.blogspot.com' title='Budidaya Rosella'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/8896827691507301592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=8896827691507301592' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/8896827691507301592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/8896827691507301592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/05/budidaya-rosella.html' title='Budidaya Rosella'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-143032251615516544</id><published>2009-05-20T14:03:00.004+07:00</published><updated>2009-06-09T14:04:33.465+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Buah Naga</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;Apa itu buah Naga?&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;                                                    &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!--[if gte vml 1]&gt;     &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !vml]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Sebagian kalangan menyebutnya buah ini dengan nama Buah Dewa. Hingga saat ini di butuhkan akan buah Naga Indonesia cukup besar dan bukan hanya pasar lokal saja yang ingin mencicipi kedahsyatan buah yang stu ini. Peluang Ekspor juga tidak kalah besarnya, Namun kebutuhan yang besar tersebut belum mampu di penuhi oleh produksi dalam negri asalny (Taiwan) Apalagi kondisi dalam negri Indonesia cukup sulit memenuhi peluang Pasar ini, Karena hal-hal yang berhubungan dengan iklim investasi yang cenderung lesu. Tetapi melihat segi potensi Wialyah lahan pertanian yang luas dan subur,Sangat besar kemungkinannya untuk mengembangkan tanaman jenis ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Tingginya permintaan buah naga ini di sebabkan oleh promosi yang menyebutnya sebagai buah meja (Sangat Menarik dan Menggiurkan bila di sajikan di meja makan) Berkhasiat mujarab untuk berbagai penyakit dan bermanfaat sebagai bahan baku di bidang industri pengolahan Makanan, Minuman, Kosmetik serta produk kesehatan. Berpedoman kepada kondisi petani yang sebagian besar kurang mampu berinvestasi di bidang ini (Mahalnya bibit dan perlengkapan yang harus di sediakan). Merupakan salah satu motivasi bagi pemilik modal untuk bekerja sama dengan kelompok Tani dalam pembudidayaan Komoditas ini. Keadan lain yang mendukung adalh tersedianya lahan yang potensial dan tenaga ahli dalam pembudidayaan jenis Tanaman ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span lang="EN-US"&gt;C&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;span&gt;IRI BUAH NAGA&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Buah naga (Dragon Fruit atau Hylocereus Undatus) masih termasuk komoditi langka di indonesia. Buah yang beasal dari Taiwan ini memiliki bentuk yang sangat unik dan cukup memikat untuk di lihat. Bentuk fisiknya mirip dengan buah nanas hanya saja buah ini memiliki sulur /jumbai di sekujur kulitnya dan buah ini berwarna merah jambu (Pink) dengan daging buah berbagai jenis antara lain berwarna Putih, Kuning dan Merah dengan biji kecil berwarna hitam yang sangat lembut dan lunak. Rasa buah tergantung jenis warna daging buah itu, Bila warna merah cenderung manis dan legit dengan perpaduan rasa yang sangat khas. Warna putih rasanya manisdan segar sedangkan kuning perpaduan antara ke dua warna di atas. Bentuk tanaman hampir mirip dengan pohon kaktus berupa sulur-sulur yang memanjang seperti lidah naga yang menjulur. Berat rata-rata + 600 s.d 800 Gram.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KHASIAT BUAH NAGA&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul  type="disc" style="font-family:verdana;"&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Penyeimbang      kadar gula darah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Membersihkan      darah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menguatkan      ginajal.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menyehatkan      lever.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Perawatan      kecantikan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Menguatkan      daya kerja otak.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Meningkatkan      ketajaman Mata.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengurangi      keluhan panas dalam dan sariawan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mensatbilkan      Tekanan Darah.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengurangi      Keluhan Keputihan.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mengurangi      Kolesterol dan mencegah Kanker usus.&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Mencegah      Sembelit dan Memperlancar Feses. &lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="text-align: justify; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;SISTEM PENANAMAN&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;1. Persyaratan tanam: Tidak berpengaruh terhadap kualitas tanah, Jenis apa saja dapat di lakukan penanaman. Membutuhkan penyinaran penuh. Daerah tropis cocok untuk Tanaman ini.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;2. Penanaman sebaiknya di gunakan parit untuk saluran drainase di areal kebun.Dan gunakan ajir/tiang penyangga tanaman kaktus berukuran 10cm x 10cm x 150cm.Tiang penyangga ini biasa terbuat dari kayu atau beton yang di tancapkan ke tanah sedalam 50cm dengan jarak tanam 2,5 x 3cm.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;3. Jarak tanam bibit yang baik adalah 2,5 x 2 meter dan tiap tiang penyangga di tanami 4 bibit tanaman,Jadi untuk 1Ha membutuhkan 2000 tiang penyangga dan 8000 bibit tanaman buah naga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;4.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Pemeliharaan tanaman meliputi,Perawatan sulur tanaman agar terhindar dari luka,pengecekan rutin kondisi keasamn tanah,dll.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;5. Panen tanaman akan berbunga &lt;/span&gt;&lt;span  lang="EN-US" style="font-size:100%;"&gt;p&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;ada umur 1,5-2 tahun dan dapat di panen saat mencapai umur 30 hari setelah bunga mekar.Tanaman buah naga akan berbuah terus menerus hingga + 10 tahun.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sumber :http://tcplanet.blogspot.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p class="MsoNormal"  style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: normal;font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;TAMBAHAN INFORMASI&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;PENDAHULUAN&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Buah Naga telah lama dikenal oleh rakyat Tionghoa kuno sebagai buah yang membawa berkah. karena biasanya buah naga diletakkan diantara patung naga di altar.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Oleh karena itu orang Vietnam menyebut buah naga atau dalam bahasa Vietnam disebut dengan nama Thang Loy di Thailand diberi nama Keaw Mang Kheon, dalam istiiah Inggris diberi nama DRAGON FRUIT clan di Indonesia dikenal dengan nama BUM NAGA Sebenarnya tanaman ini bukan tanaman asil daratan Asia, tetapi merupakan tanaman ask Meksiko clan Amerika Selatan bagian utara ( Colombia ). Pada awainya buah naga ini dibawa kekawasan Indocina ( Vietnam ) oleh seorang Perancis sekitar tahun 1870. dari Guyama Amerika Selatan sebagai hiasan sebab sosoknya yang unik dan bunganya yang cantik dan berwarna putih. Baru sekitar tahun 1980 setelah dibawa ke Okinawa Jepang tanaman ini mendunia karena sangat menguntungkan. Pada tahun 1977 buah ini dibawa ke Indonesia clan berhasil disemaikan kemudian dibudidayakan. Buah naga kaya akan vitamin dan mineral dengan kandungan serat cukup banyak sehingga cocok untuk diet.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; Beberapa khasiat dari DRAGON FRUIT adalah :&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;1. Penyeimbang kadar gula&lt;br /&gt;2. Pencegah Kolesterol tinggi&lt;br /&gt;3. Pencegah kanker usus&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;strong&gt;1. Persyaratan Tumbuh Tanam&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Ditanam di dataran rendah, pada ketinggian 20 - 500 m diatas permukaan iaut&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Kondisi tanah yang gembur, porous, banyak mengandung bahan organik clan banyak mengandung unsur hara, pH tanah 5 - 7&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Air cukup tersedia, karena tanaman ini peka terhadap kekeringan dan akan membusuk bila kelebihan air Membutuhkan penyinaran cahaya matahari penuh, untuk mempercepat proses pembungaan&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;2. Persiapan Lahan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Persiapkan tiang penopang untuk tegakan tanaman, karena tanaman ini tidak mempunyai batang primer yang kokoh. Dapat menggunakan tiang dari kayu atau beton dengan ukuran 10 cm x 10 cm dengan tinggi 2 meter, yang ditancapikan ke tanah sedalam 50 cm. Ujung bagian atas dari tiang penyangga diberi besi yang berbentulk lingkaran untulk penopang dari cabang tanaman&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Sebulan sebeium tanam, terlebi dahulu dibuatkan Wbang tanan dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm dengan jarak tanam 2 m x 2,5 m, sehingga dalam 1 hektar terdapat sekitar 2000 lubang tanam penyangga&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Setiap tiang/pohon penyangga itu dibuat 3 - 4 Lubang tanarn dengan jarak sekitar 30 cm dari tian penyangga.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Lubang tanam tersebut kemudian diberi pupuk kandang yang masak sebanyak 5 - 10 kg dicampur dengan tanah&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;strong&gt;3. Persiapan bibit dan penanaman&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Buah naga dapat diperbanyak dengan cara :&lt;br /&gt;Stek dan Biji&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Umumnya ditanam dengan stek dibutuhkan bahan batang tanaman dengan panjang 25 - 30 cm yang ditanam dalam polybag dengan media tanam berupa campuran tanah, pasir clan pupuk kandang  dengan perbandingan 1 : 1 : 1.&lt;br /&gt;Setelah bibit berumur ? 3 bulan bibit siap dipindah/ditanam di lahan.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;strong&gt;4. Pemeliharaan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Pengairan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap awal perturnbuhan pengairan dilakukan 1 - 2 hari sekali. pemberian air berlebihan akan menyebabkan terjadinya pembusukan&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Pemupukan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pernupukan tanaman diberikan pupuk kandang, dengan interval pemberian 3 bulan sekali, sebanyak   5 - 10 Kg.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT)&lt;br /&gt;Sementara belum ditemukan adanya serangan hama clan penyakit yang potensial. Pembersilhan lahan atau pengendalian gulma dilakukan agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="text-decoration: underline;"&gt;Pemangkasan&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;atang utama ( primer ) dipangkas, setelah tinggi mencapai tiang penyangga ( sekitar 2 m ), clan ditumbuhkan 2 cabang sekunder, kemudian dari masing-masing cabang sekunder dipangkas lagi clan ditumbuhkan 2cabang tersier yang berfungsi sebagai cabang produksi.&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;strong&gt;5. Panen&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Setelah tanaman umur 1,5 - 2 tahun, mulai berbunga dan berbuah. Pemanenan pada tanaman buah naga dilakukan pada buah yang memiliki ciri - ciri warna kulit merah&lt;br /&gt;mengkilap, jumbai / sisik berubah warna dari hijau menjadi kernerahan. Pemanenan dilakulkan dengan menggunakan gunting, buah dapat dipanen saat buah mencapai umur 50 hari terhitung sejak bunga mekar&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;Dalam 2 tahun pertama. setiap tiang penyangga mampu menghasilkan buah 8 s / d 10 buah naga dengan bobot sekitar antara 400 - 650 gram&lt;/p&gt; &lt;p align="justify"&gt;Musim panen terbesar buah naga terjadi pada bulan September hingga Maret&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Umur produktif tanaman buah naga ini berkisar antara 15 - 20 tahun&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-143032251615516544?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://infokebun.wordpress.com' title='Budidaya Buah Naga'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/143032251615516544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=143032251615516544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/143032251615516544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/143032251615516544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/05/budidaya-buah-naga.html' title='Budidaya Buah Naga'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-7633390868736325052</id><published>2009-04-17T15:21:00.004+07:00</published><updated>2009-06-24T23:39:35.310+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Jagung</title><content type='html'>&lt;a href="file:///C:/Documents%20and%20Settings/Dimas/Desktop/buat%20bloG/insidewinme%20%20BUDIDAYA%20JAGUNG.htm"&gt; &lt;/a&gt;&lt;h3 class="post-title entry-title"&gt; &lt;/h3&gt;   &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;BUDIDAYA JAGUNG&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;( &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Zea mays &lt;/span&gt;)&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm; text-align: center;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;1.1. Sejarah Singkat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang Portugal menyebarluaskannya ke Asia termasuk Indonesia. Orang Belanda menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn. &lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Di Indonesia, daerah-daerah penghasil utama tanaman jagung adalah Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, D.I. Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Khusus di Daerah Jawa Timur dan Madura, budidaya tanaman jagung dilakukan secara intensif karena kondisi tanah dan iklimnya sangat mendukung untuk pertumbuhannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;1.3. Jenis&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Sistimatika tanaman jagung adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;Kingdom  : Plantae (tumbuh-tumbuhan)&lt;br /&gt;Divisio   : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)&lt;br /&gt;Sub Divisio  : Angiospermae (berbiji tertutup)&lt;br /&gt;Classis   : Monocotyledone (berkeping satu)&lt;br /&gt;Ordo   : Graminae (rumput-rumputan)&lt;br /&gt;Familia   : Graminaceae&lt;br /&gt;Genus   : Zea&lt;br /&gt;Species  : Zea mays L.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Jenis jagung dapat dikelompokkan menurut umur dan bentuk biji.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Menurut umur, dibagi menjadi 3 golongan:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Berumur pendek (genjah): 75-90 hari, contoh: Genjah Warangan, Genjah  Kertas, Abimanyu dan Arjuna.&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Berumur sedang (tengahan): 90-120 hari, contoh: Hibrida C 1, Hibrida CP 1 dan CPI 2, Hibrida IPB 4, Hibrida Pioneer 2, Malin,Metro dan Pandu. &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Berumur panjang: lebih dari 120 hari, contoh: Kania Putih, Bastar,  Kuning, Bima dan Harapan.&lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Menurut bentuk biji, dibagi menjadi 7 golongan:&lt;/p&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Dent Corn&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Flint Corn&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Sweet Corn&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Pop Corn&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Flour Corn&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Pod Corn   &lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Waxy Corn   &lt;/p&gt; &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Varietas unggul mempunyai sifat: berproduksi tinggi, umur pendek, tahan serangan penyakit utama dan sifat-sifat lain yang menguntungkan. Varietas unggul ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: jagung hibrida dan varietas jagung bersari bebas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Nama beberapa varietas jagung yang dikenal antara lain: Abimanyu, Arjuna, Bromo, Bastar Kuning, Bima, Genjah Kertas, Harapan, Harapan Baru, Hibrida C 1 (Hibrida Cargil 1), Hibrida IPB 4, Kalingga, Kania Putih, Malin, Metro, Nakula, Pandu, Parikesit, Permadi, Sadewa, Wiyasa, Bogor Composite-2.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;1.4. Manfaat&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Di Daerah Madura, jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan pokok.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Akhir-akhir ini tanaman jagung semakin meningkat penggunaannya. Tanaman jagung banyak sekali gunanya, sebab hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan antara lain:&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Batang dan daun muda: pakan ternak&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Batang dan daun tua (setelah panen): pupuk hijau atau kompos&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Batang dan daun kering: kayu bakar&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Batang jagung: lanjaran (turus)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Batang jagung: pulp (bahan kertas)&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Buah jagung muda (putren, Jw): sayuran, bergedel, bakwan, sambel  goreng&lt;/p&gt;  &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Biji jagung tua: pengganti nasi, marning, brondong, roti jagung, tepung, bihun, bahan campuran kopi bubuk, biskuit, kue kering, pakan ternak, bahan baku industri bir, industri farmasi, dextrin, perekat, industri textil. &lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Tanaman jagung berasal dari daerah tropis yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan di luar daerah tersebut. Jagung tidak menuntut persyaratan lingkungan yang terlalu ketat, dapat tumbuh pada berbagai macam tanah bahkan pada kondisi tanah yang agak kering. Tetapi untuk pertumbuhan optimalnya, jagung menghendaki beberapa persyaratan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;2.1. Iklim&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Iklim yang dikehendaki oleh tanaman jagung adalah daerah-daerah beriklim sedang hingga daerah beriklim sub-tropis/tropis yang basah. Jagung dapat tumbuh di daerah yang terletak antara 0-50 derajat LU hingga 0-40 derajat LS.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Pada lahan yang tidak beririgasi, pertumbuhan tanaman ini memerlukan curah hujan ideal sekitar 85-200 mm/bulan dan harus merata. Pada fase pembungaan dan pengisian biji tanaman jagung perlu mendapatkan cukup air. Sebaiknya jagung ditanam diawal musim hujan, dan menjelang musim kemarau.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Pertumbuhan tanaman jagung sangat membutuhkan sinar matahari. Tanaman jagung yang ternaungi, pertumbuhannya akan terhambat dan memberikan hasil biji yang kurang baik bahkan tidak dapat membentuk buah.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Suhu yang dikehendaki tanaman jagung antara 21-34 derajat C, akan tetapi bagi pertumbuhan tanaman yang ideal memerlukan suhu optimum antara 23-27 derajat C. Pada proses perkecambahan benih jagung memerlukan suhu yang cocok sekitar 30 derajat C.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Saat panen jagung yang jatuh pada musim kemarau akan lebih baik daripada musim hujan, karena berpengaruh terhadap waktu pemasakan biji dan pengeringan hasil. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;2.2. Media Tanam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus. Agar supaya dapat tumbuh optimal tanah harus gembur, subur dan kaya humus. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Jenis tanah yang dapat ditanami jagung antara lain: andosol (berasal dari gunung berapi), latosol, grumosol, tanah berpasir. Pada tanah-tanah dengan tekstur berat (grumosol) masih dapat ditanami jagung dengan hasil yang baik dengan pengolahan tanah secara baik. Sedangkan untuk tanah dengan tekstur lempung/liat (latosol) berdebu adalah yang terbaik untuk pertumbuhannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Keasaman tanah erat hubungannya dengan ketersediaan unsur-unsur hara tanaman. Keasaman tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman jagung adalah pH antara 5,6-7,5.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Tanaman jagung membutuhkan tanah dengan aerasi dan ketersediaan air dalam kondisi baik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Tanah dengan kemiringan kurang dari 8 % dapat ditanami jagung, karena disana kemungkinan terjadinya erosi tanah sangat kecil. Sedangkan daerah dengan tingkat kemiringan lebih dari 8 %, sebaiknya dilakukan pembentukan teras dahulu. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="2"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  Ketinggian Tempat&lt;br /&gt;Jagung dapat ditanam di Indonesia mulai dari dataran rendah sampai di daerah pegunungan yang memiliki ketinggian antara 1000-1800 m dpl. Daerah dengan ketinggian antara 0-600 m dpl merupakan ketinggian yang optimum bagi pertumbuhan tanaman jagung.&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;ol start="3" type="I"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  &lt;b&gt;PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.1. Pembibitan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.1.1. Persyaratan Benih&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Benih yang akan digunakan sebaiknya bermutu tinggi, baik mutu genetik, fisik maupun fisiologinya. Berasal dari varietas unggul (daya tumbuh besar, tidak tercampur benih/varietas lain, tidak mengandung kotoran, tidak tercemar hama dan penyakit). Benih yang demikian dapat diperoleh bila menggunakan benih bersertifikat. Pada umumnya benih yang dibutuhkan sangat bergantung pada kesehatan benih, kemurnian benih dan daya tumbuh benih.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Penggunaan benih jagung hibrida biasanya akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi. Tetapi harga benihnya yang lebih mahal dan hanya dapat digunakan maksimal 2 kali turunan dan tersedia dalam jumlah terbatas. Beberapa varietas unggul jagung untuk dipilih sebagai benih adalah: Hibrida C 1, Hibrida C 2, Hibrida Pioneer 1, Pioneer 2, IPB 4, CPI-1, Kaliangga, Wiyasa, Arjuna, Baster kuning, Kania Putih, Metro, Harapan, Bima, Permadi, Bogor Composite, Parikesit, Sadewa, Nakula. Selain itu, jenis-jenis unggul yang belum lama dikembangkan adalah: CPI-2, BISI-1, BISI-2, P-3, P-4, P-5, C-3, Semar 1 dan Semar 2 (semuanya jenis Hibrida).&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.1.2. Penyiapan Benih&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Benih dapat diperoleh dari penanaman sendiri yang dipilih dari beberapa tanaman jagung yang sehat pertumbuhannya. Dari tanaman terpilih, diambil yang tongkolnya besar, barisan biji lurus dan penuh tertutup rapat oleh klobot, dan tidak terserang oleh hama penyakit. Tongkol dipetik pada saat lewat fase matang fisiologi dengan ciri: biji sudah mengeras dan sebagian besar daun menguning. Tongkol dikupas dan dikeringkan hingga kering betul. Apabila benih akan disimpan dalam jangka lama, setelah dikeringkan tongkol dibungkus dan disimpan dan disimpan di tempat kering. Dari tongkol yang sudah kering, diambil biji bagian tengah sebagai benih. Biji yang terdapat di bagian ujung dan pangkal tidak digunakan sebagai benih. Daya tumbuh benih harus lebih dari 90%, jika kurang dari itu sebaiknya benih diganti. Benih yang dibutuhkan adalah sebanyak 20-30 kg/ha.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.1.3. Pemindahan Benih&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Sebelum benih ditanam, sebaiknya dicampur dulu dengan fungisida seperti Benlate untuk menangkal serangan jamur. Sedangkan bila diduga akan ada serangan lalat bibit dan ulat agrotis, sebaiknya benih dimasukkan ke dalam lubang bersama-sama dengan insektisida butiran dan sistemik seperti Furadan 3 G.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.2.1. Persiapan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Dilakukan dengan cara membalik tanah dan memecah bongkah tanah agar diperoleh tanah yang gembur untuk memperbaiki aerasi. Tanah yang akan ditanami (calon tempat barisan tanaman) dicangkul sedalam 15-20 cm, kemudian diratakan. Tanah yang keras memerlukan pengolahan yang lebih banyak. Pertama-tama tanah dicangkul/dibajak lalu dihaluskan dan diratakan. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;3.2.2. Pembukaan Lahan&lt;br /&gt;Pengolahan lahan diawali dengan membersihkan lahan dari sisa sisa tanaman sebelumnya. Bila perlu sisa tanaman yang cukup banyak dibakar, abunya dikembalikan ke dalam tanah, kemudian dilanjutkan dengan pencangkulan dan pengolahan tanah dengan bajak.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;3.2.3. Pembentukan Bedengan&lt;br /&gt;Setelah tanah diolah, setiap 3 meter dibuat saluran drainase sepanjang barisan tanaman. Lebar saluran 25-30 cm dengan kedalaman 20 cm. Saluran ini dibuat terutama pada tanah yang drainasenya jelek.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;3.2.4. Pengapuran&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Di daerah dengan pH kurang dari 5, tanah harus dikapur. Jumlah kapur yang diberikan berkisar antara 1-3 ton yang diberikan tiap 2-3 tahun. Pemberian dilakukan dengan cara menyebar kapur secara merata atau pada barisan tanaman, sekitar 1 bulan sebelum tanam. Dapat pula digunakan dosis 300 kg/ha per musim tanam dengan cara disebar pada barisan tanaman.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.2.5. Pemupukan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Apabila tanah yang akan ditanami tidak menjamin ketersediaan hara yang cukup maka harus dilakukan pemupukan. Dosis pupuk yang dibutuhkan tanaman sangat bergantung pada kesuburan tanah dan diberikan secara bertahap. Anjuran dosis rata-rata adalah: Urea=200-300 kg/ha, TSP=75-100 kg/ha dan KCl=50-100 kg/ha. Adapun cara dan dosis pemupukan untuk setiap hektar:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Pemupukan dasar: 1/3 bagian pupuk Urea dan 1 bagian pupuk TSP diberikan saat tanam, 7 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 5 cm lalu ditutup tanah; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Susulan I: 1/3 bagian pupuk Urea ditambah 1/3 bagian pupuk KCl diberikan setelah tanaman berumur 30 hari, 15 cm di parit kiri dan kanan lubang tanam sedalam 10 cm lalu di tutup tanah;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Susulan II: 1/3 bagian pupuk Urea diberikan saat tanaman berumur 45 hari.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanaman&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Pola tanam di daerah tropis seperti di Indonesia, biasanya disusun selama 1 tahun dengan memperhatikan curah hujan (terutama pada daerah/lahan yang sepenuhnya tergantung dari hujan. Beberapa pola tanam yang biasa diterapkan adalah sebagai berikut:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Tumpang sari (intercropping), melakukan penanaman lebih dari 1 tanaman (umur sama atau berbeda). Contoh: tumpang sari sama umur seperti jagung dan kedelai; tumpang sari beda umur seperti jagung, ketela pohon, padi gogo.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Tumpang gilir (Multiple Cropping), dilakukan secara beruntun sepanjang tahun dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain untuk mendapat keuntungan maksimum. Contoh: jagung muda, padi gogo, kacang tanah, ubi kayu.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Tanaman Bersisipan (Relay Cropping): pola tanam dengan cara menyisipkan satu atau beberapa jenis tanaman selain tanaman pokok (dalam waktu tanam yang bersamaan atau waktu yang berbeda). Contoh: jagung disisipkan kacang tanah, waktu jagung menjelang panen disisipkan kacang panjang. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Tanaman Campuran (Mixed Cropping): penanaman terdiri atas beberapa tanaman dan tumbuh tanpa diatur jarak tanam maupun larikannya, semua tercampur jadi satu Lahan efisien, tetapi riskan terhadap ancaman hama dan penyakit. Contoh: tanaman campuran seperti jagung, kedelai, ubi kayu. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.3.2. Pembuatan Lubang Tanam&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Lubang tanam dibuat dengan alat tugal. Kedalaman lubang perlu di perhatikan agar benih tidak terhambat pertumbuhannya. Kedalaman lubang tanam antara: 3-5 cm, dan tiap lubang hanya diisi 1 butir benih.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Jarak tanam jagung disesuaikan dengan umur panennya, semakin panjang umurnya, tanaman akan semakin tinggi dan memerlukan tempat yang lebih luas. Jagung berumur dalam/panjang dengan waktu panen ³ 100 hari sejak penanaman, jarak tanamnya dibuat 40x100 cm (2 tanaman /lubang). Jagung berumur sedang (panen 80-100 hari), jarak tanamnya 25x75 cm (1 tanaman/lubang). Sedangkan jagung berumur pendek (panen &lt;&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.3.3. Cara Penanaman&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Pada jarak tanam 75 x 25 cm setiap lubang ditanam satu tanaman. Dapat juga digunakan jarak tanam 75 x 50 cm, setiap lubang ditanam dua tanaman.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Tanaman ini tidak dapat tumbuh dengan baik pada saat air kurang atau saat air berlebihan. Pada waktu musim penghujan atau waktu musim hujan hampir berakhir, benih jagung ini dapat ditanam. Tetapi air hendaknya cukup tersedia selama pertumbuhan tanaman jagung. Pada saat penanaman sebaiknya tanah dalam keadaan lembab dan tidak tergenang. Apabila tanah kering, perlu diairi dahulu, kecuali bila diduga 1-2 hari lagi hujan akan turun. Pembuatan lubang tanaman dan penanaman biasanya memerlukan 4 orang (2 orang membuat lubang, 1 orang memasukkan benih, 1 orang lagi memasukkan pupuk dasar dan menutup lubang). Jumlah benih yang dimasukkan per lubang tergantung yang dikehendaki, bila dikehendaki 2 tanaman per lubang maka benih yang dimasukkan 3 biji per lubang, bila dikehendaki 1 tanaman per lubang, maka benih yang dimasukkan 2 butir benih per lubang.&lt;/p&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  &lt;b&gt;Lain-lain&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di lahan sawah irigasi, jagung biasanya ditanam pada musim kemarau. Di sawah tadah hujan, ditanam pada akhir musim hujan. Di lahan kering ditanam pada awal musim hujan dan akhir musim hujan.&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.4. Pemeliharaan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.4.1. Penjarangan dan Penyulaman&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Dengan penjarangan maka dapat ditentukan jumlah tanaman per lubang sesuai dengan yang dikehendaki. Apabila dalam 1 lubang tumbuh 3 tanaman, sedangkan yang dikehendaki hanya 2 atau 1, maka tanaman tersebut harus dikurangi. Tanaman yang tumbuhnya paling tidak baik, dipotong dengan pisau atau gunting yang tajam tepat di atas permukaan tanah. Pencabutan tanaman secara langsung tidak boleh dilakukan, karena akan melukai akar tanaman lain yang akan dibiarkan tumbuh. Penyulaman bertujuan untuk mengganti benih yang tidak tumbuh/mati. Kegiatan ini dilakukan 7-10 hari sesudah tanam. Jumlah dan jenis benih serta perlakuan dalam penyulaman sama dengan sewaktu penanaman. Penyulaman hendaknya menggunakan benih dari jenis yang sama. Waktu penyulaman paling lambat dua minggu setelah tanam.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Penyiangan bertujuan untuk membersihkan lahan dari tanaman pengganggu (gulma). Penyiangan dilakukan 2 minggu sekali. Penyiangan pada tanaman jagung yang masih muda biasanya dengan tangan atau cangkul kecil, garpu dan sebagainya. Yang penting dalam penyiangan ini tidak mengganggu perakaran tanaman yang pada umur tersebut masih belum cukup kuat mencengkeram tanah. Hal ini biasanya dilakukan setelah tanaman berumur 15 hari.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.4.3. Pembumbunan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan dan bertujuan untuk memperkokoh posisi batang, sehingga tanaman tidak mudah rebah. Selain itu juga untuk menutup akar yang bermunculan di atas permukaan tanah karena adanya aerasi. Kegiatan ini dilakukan pada saat tanaman berumur 6 minggu, bersamaan dengan waktu pemupukan. Caranya, tanah di sebelah kanan dan kiri barisan tanaman diuruk dengan cangkul, kemudian ditimbun di barisan tanaman. Dengan cara ini akan terbentuk guludan yang memanjang. Untuk efisiensi tenaga biasanya pembubunan dilakukan bersama dengan penyiangan kedua yaitu setelah tanaman berumur 1 bulan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.4.4. Pemupukan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Dosis pemupukan jagung untuk setiap hektarnya adalah pupuk Urea sebanyak 200-300 kg, pupuk TSP/SP 36 sebanyak 75-100 kg, dan pupuk KCl sebanyak 50-100 kg. Pemupukan dapat dilakukan dalam tiga tahap. Pada tahap pertama (pupuk dasar), pupuk diberikan bersamaan dengan waktu tanam. Pada tahap kedua (pupuk susulan I), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 3-4 minggu setelah tanam. Pada tahap ketiga (pupuk susulan II), pupuk diberikan setelah tanaman jagung berumur 8 minggu atau setelah malai keluar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;3&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;.4.5. Pengairan dan Penyiraman&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setelah benih ditanam, dilakukan penyiraman secukupnya, kecuali bila tanah telah lembab. Pengairan berikutnya diberikan secukupnya dengan tujuan menjaga agar tanaman tidak layu. Namun menjelang tanaman berbunga, air yang diperlukan lebih besar sehingga perlu dialirkan air pada parit-parit di antara bumbunan tanaman jagung.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.4.6. Waktu Penyemprotan Pestisida&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Penggunaan pestisida hanya diperkenankan setelah terlihat adanya hama yang dapat membahayakan proses produksi jagung. Adapun pestisida yang digunakan yaitu pestisida yang dipakai untuk mengendalikan ulat. Pelaksanaan penyemprotan hendaknya memperlihatkan kelestarian musuh alami dan tingkat populasi hama yang menyerang, sehingga perlakuan ini akan lebih efisien.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  &lt;b&gt;Hama dan Penyakit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.5.1. Hama&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Lalat bibit (Atherigona exigua Stein)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Gejala: daun berubah warna menjadi kekuning-kuningan; di sekitar bekas gigitan atau bagian yang terserang mengalami pembusukan, akhirnya tanaman menjadi layu, pertumbuhan tanaman menjadi kerdil atau mati. Penyebab: lalat bibit dengan ciri-ciri warna lalat abu-abu, warna punggung kuning kehijauan dab bergaris, warna perut coklat kekuningan, warna telur putih mutiara, dan panjang lalat 3-3,5 mm. Pengendalian: (1) penanaman serentak dan penerapan pergiliran tanaman akan sangat membantu memutus siklus hidup lalat bibit, terutama setelah selesai panen jagung; (2) tanaman yang terserang lalat bibit harus segera dicabut dan dimusnahkan, agar hama tidak menyebar; (3) kebersihan di sekitar areal penanaman hendaklah dijaga dan selalu diperhatikan terutama terhadap tanaman inang yang sekaligus sebagai gulma; (4) pengendalian secara kimiawi insektisida yang dapat digunakan antara lain: Dursban 20 EC, Hostathion 40 EC, Larvin 74 WP, Marshal 25 ST, Miral 26 dan Promet 40 SD sedangkan dosis penggunaan dapat mengikuti aturan pakai. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Ulat pemotong&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Gejala: tanaman jagung yang terserang biasanya terpotong beberapa cm diatas permukaan tanah yang ditandai dengan adanya bekas gigitan pada batangnya, akibatnya tanaman jagung yang masih muda itu roboh di atas tanah. Penyebab: beberapa jenis ulat pemotong: Agrotis sp. (A. ipsilon); Spodoptera litura, penggerek batang jagung (Ostrinia furnacalis), dan penggerek buah jagung (Helicoverpa armigera). Pengendalian: (1) bertanam secara serentak pada areal yang luas, bisa juga dilakukan pergiliran tanaman; (2) dengan mencari dan membunuh ulat-ulat tersebut yang biasanya terdapat di dalam tanah; (3) sebelum lahan ditanami jagung, disemprot terlebih dahulu dengan insektisida. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.5.2. Penyakit&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Penyakit bulai (Downy mildew)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Peronosclero spora maydis dan P. spora javanica serta P. spora philippinensis. yang akan merajalela pada suhu udara 27 derajat C ke atas serta keadaan udara lembab. Gejala: (1) pada tanaman berumur 2-3 minggu, daun runcing dan kecil, kaku dan pertumbuhan batang terhambat, warna menguning, sisi bawah daun terdapat lapisan spora cendawan warna putih; (2) pada tanaman berumur 3-5 minggu, tanaman yang terserang mengalami gangguan pertumbuhan, daun berubah warna dan perubahan warna ini dimulai dari bagian pangkal daun, tongkol berubah bentuk dan isi; (3) pada tanaman dewasa, terdapat garis-garis kecoklatan pada daun tua. Pengendalian: (1) penanaman dilakukan menjelang atau awal musim penghujan; (2) pola tanam dan pola pergiliran tanaman, penanaman varietas unggul; (3) dilakukan pencabutan tanaman yang terserang, kemudian dimusnahkan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Penyakit bercak daun (Leaf bligh)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Helminthosporium turcicum. Gejala: pada daun tampak bercak memanjang dan teratur berwarna kuning dan dikelilingi warna coklat, bercak berkembang dan meluas dari ujung daun hingga ke pangkal daun, semula bercak tampak basah, kemudian berubah warna menjadi coklat kekuning-kuningan, kemudian berubah menjadi coklat tua. Akhirnya seluruh permukaan daun berwarna coklat. Pengendalian: (1) pergiliran tanaman hendaknya selalu dilakukan guna menekan meluasnya cendawan; (2) mekanis dengan mengatur kelembaban lahan agar kondisi lahan tidak lembab; (3) kimiawi dengan pestisida antara lain: Daconil 75 WP, Difolatan 4 F. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Penyakit karat (Rust)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Puccinia sorghi Schw dan Puccinia polypora Underw. Gejala: pada tanaman dewasa yaitu pada daun yang sudah tua terdapat titik-titik noda yang berwarna merah kecoklatan seperti karat serta terdapat serbuk yang berwarna kuning kecoklatan, serbuk cendawan ini kemudian berkembang dan memanjang, kemudian akhirnya karat dapat berubah menjadi bermacam-macam bentuk. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban pada areal tanam; (2) menanam varietas unggul atau varietas yang tahan terhadap penyakit; (3) melakukan sanitasi pada areal pertanaman jagung; (4) kimiawi menggunakan pestisida seperti pada penyakit bulai dan bercak daun. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Penyakit gosong bengkak (Corn smut/boil smut)&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Penyebab: cendawan Ustilago maydis (DC) Cda, Ustilago zeae (Schw) Ung, Uredo zeae Schw, Uredo maydis DC. Gejala: pada tongkol ditandai dengan masuknya cendawan ini ke dalam biji sehingga terjadi pembengkakan dan mengeluarkan kelenjar (gall), pembengkakan ini menyebabkan pembungkus terdesak hingga pembungkus rusak dan kelenjar keluar dari pembungkus dan spora tersebar. Pengendalian: (1) mengatur kelembaban areal pertanaman jagung dengan cara pengeringan dan irigasi; (2) memotong bagian tanaman kemudian dibakar; (3) benih yang akan ditanam dicampur dengan fungisida secara merata hingga semua permukaan benih terkena. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Penyakit busuk tongkol dan busuk biji&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Penyebab: cendawan Fusarium atau Gibberella antara lain Gibberella zeae (Schw), Gibberella fujikuroi (Schw), Gibberella moniliforme. Gejala: dapat diketahui setelah membuka pembungkus tongkol, biji-biji jagung berwarna merah jambu atau merah kecoklatan kemudian berubah menjadi warna coklat sawo matang. Pengendalian: (1) menanam jagung varietas unggul, dilakukan pergiliran tanam, mengatur jarak tanam, perlakuan benih; (2) penyemprotan dengan fungisida setelah ditemukan gejala serangan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Panen&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Hasil panen jagung tidak semua berupa jagung tua/matang fisiologis, tergantung dari tujuan panen. Seperti pada tanaman padi, tingkat kemasakan buah jagung juga dapat dibedakan dalam 4 tingkat: masak susu, masak lunak, masak tua dan masak kering/masak mati.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.6.1. Ciri dan Umur Panen&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Ciri jagung yang siap dipanen adalah:&lt;br /&gt;a) Umur panen adalah 86-96 hari setelah tanam.&lt;br /&gt;b) Jagung siap dipanen dengan tongkol atau kelobot mulai mengering yang ditandai dengan adanya lapisan hitam pada biji bagian lembaga.&lt;br /&gt;c) Biji kering, keras, dan mengkilat, apabila ditekan tidak membekas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Jagung untuk sayur (jagung muda, baby corn) dipanen sebelum bijinya terisi penuh. Saat itu diameter tongkol baru mencapai 1-2 cm. Jagung untuk direbus dan dibakar, dipanen ketika matang susu. Tanda-tandanya kelobot masih berwarna hijau, dan bila biji dipijit tidak terlalu keras serta akan mengeluarkan cairan putih. Jagung untuk makanan pokok (beras jagung), pakan ternak, benih, tepung dan berbagai keperluan lainnya dipanen jika sudah matang fisiologis. Tanda-tandanya: sebagian besar daun dan kelobot telah menguning. Apabila bijinya dilepaskan akan ada warna coklat kehitaman pada tangkainya (tempat menempelnya biji pada tongkol). Bila biji dipijit dengan kuku, tidak meninggalkan bekas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;Cara  Panen&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;Cara panen jagung yang matang fisiologis adalah dengan cara memutar tongkol berikut kelobotnya, atau dapat dilakukan dengan mematahkan tangkai buah jagung. Pada lahan yang luas dan rata sangat cocok bila menggunakan alat mesin pemetikan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.6.3. Periode Panen&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Pemetikan jagung pada waktu yang kurang tepat, kurang masak dapat menyebabkan penurunan kualitas, butir jagung menjadi keriput bahkan setelah pengeringan akan pecah, terutama bila dipipil dengan alat. Jagung untuk keperluan sayur, dapat dipetik 15 sampai dengan 21 hari setelah tanaman berbunga. Pemetikan jagung untuk dikonsumsi sebagai jagung rebus, tidak harus menunggu sampai biji masak, tetapi dapat dilakukan ± 4 minggu setelah tanaman berbunga atau dapat mengambil waktu panen antara umur panen jagung sayur dan umur panen jagung masak mati.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.6.4. Prakiraan Produksi&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Produksi jagung di suatu negara sering mengalami pasang surut. Hal ini dapat terjadi sebagai akibat perubahan areal penanaman jagung. Namun demikian dengan ditemukannya varietas-varietas unggul sebagai imbangan berkurangnya lahan, maka totalitas produksi tidak akan terlalu berubah. Irigasi dan pemupukan sangat penting untuk mendapatkan produksi yang baik. Walaupun potensi hasil cukup tinggi, cara untuk mendapatkan produksi pada tingkat optimal yang dilakukan oleh petani, baru memberikan hasil 17 ton/ha.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;ol start="3"&gt;&lt;li&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;  &lt;b&gt;Pascapanen&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Setelah jagung dipetik biasanya dilakukan proses lanjutan yang merupakan serangkaian pekerjaan yang berkaitan dan akhirnya produk siap disimpan atau dipasarkan.&lt;/p&gt;   &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.7.1. Pengupasan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Jagung dikupas pada saat masih menempel pada batang atau setelah pemetikan selesai. Pengupasan ini dilakukan untuk menjaga agar kadar air di dalam tongkol dapat diturunkan dan kelembaban di sekitar biji tidak menimbulkan kerusakan biji atau mengakibatkan tumbuhnya cendawan. Pengupasan dapat memudahkan atau memperingan pengangkutan selama proses pengeringan. Untuk jagung masak mati sebagai bahan makanan, begitu selesai dipanen, kelobot segera dikupas.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.7.2. Pengeringan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Pengeringan jagung dapat dilakukan secara alami atau buatan. Secara tradisional jagung dijemur di bawah sinar matahari sehingga kadar air berkisar 9-11 %. Biasanya penjemuran memakan waktu sekitar 7-8 hari. Penjemuran dapat dilakukan di lantai, dengan alas anyaman bambu atau dengan cara diikat dan digantung.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Secara buatan dapat dilakukan dengan mesin pengering untuk menghemat tenaga manusia, terutama pada musim hujan. Terdapat berbagai cara pengeringan buatan, tetapi prinsipnya sama yaitu untuk mengurangi kadar air di dalam biji dengan panas pengeringan sekitar 38-43 derajat C, sehingga kadar air turun menjadi 12-13 %. Mesin pengering dapat digunakan setiap saat dan dapat dilakukan pengaturan suhu sesuai dengan kadar air biji jagung yang diinginkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.7.3. Pemipilan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Setelah dijemur sampai kering jagung dipipil. Pemipilan dapat menggunakan tangan atau alat pemipil jagung bila jumlah produksi cukup besar. Pada dasarnya "memipil" jagung hampir sama dengan proses perontokan gabah, yaitu memisahkan biji-biji dari tempat pelekatan. Jagung melekat pada tongkolnya, maka antara biji dan tongkol perlu dipisahkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;3.7.4. Penyortiran dan Penggolongan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Setelah jagung terlepas dari tongkol, biji-biji jagung harus dipisahkan dari kotoran atau apa saja yang tidak dikehendaki, sehinggga tidak menurunkan kualitas jagung. Yang perlu dipisahkan dan dibuang antara lain sisa-sisa tongkol, biji kecil, biji pecah, biji hampa, kotoran selama petik ataupun pada waktu pengumpilan. Tindakan ini sangat bermanfaat untuk menghindari atau menekan serangan jamur dan hama selama dalam penyimpanan. Disamping itu juga dapat memperbaiki peredaran udara.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Untuk pemisahan biji yang akan digunakan sebagai benih terutama untuk penanaman dengan mesin penanam, biasanya membutuhkan keseragaman bentuk dan ukuran buntirnya. Maka pemisahan ini sangat penting untuk menambah efisiensi penanaman dengan mesin. Ada berbagai cara membersihkan atau memisahan jagung dari campuran kotoran. Tetapi pemisahan dengan cara ditampi seperti pada proses pembersihan padi, akan mendapatkan hasil yang baik.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;IV. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;4.1. Analisis Usaha Budidaya&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Perkiraan analisis budidaya dengan luas lahan penanaman 1 ha, jenis jagung Hibrida C1 pada tahun 1999 per musim tanam (3 bulan) di daerah Jawa Barat:&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;4.2. Gambaran Peluang Agribisnis &lt;/b&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Berdasarkan statistik yang ada permintaan produk jagung nasional belum dapat memenuhi kebutuhan industri di dalam negeri. Impor jagung jumlahnya sudah cukup besar terutama dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan industri pakan ternak yang sedang berkembang dewasa ini.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;V. STANDAR PRODUKSI&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;5.1. Ruang Lingkup&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Standar produksi tanaman jagung meliputi: standar klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, pengemasan dan rekomondasi.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;5.2. Diskripsi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Standar mutu jagung di Indonesia tercantum dalam Standar Nasional Indonesia SNI 01-03920-1995.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;5.3. Klasifikasi dan Standar Mutu&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Berdasarkan warnanya, jagung kering dibedakan menjadi jagung kuning (bila sekurang-kurangnya 90% bijinya berwarna kuning), jagung putih (bila sekurang-kurangnya bijinya berwarna putih) dan jagung campuran yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Dalam perdagangan internasional, komoditi jagung kering dibagi dalam 2 nomor HS dan SITC berdasarkan penggunaannya yaitu jagung benih dan non benih. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Syarat Umum&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Bebas hama dan penyakit.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Bebas bau busuk, asam, atau bau asing lainnya.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Bebas dari bahan kimia, seperti: insektisida dan fungisida.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Memiliki suhu normal.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; &lt;b&gt;Syarat Khusus&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Kadar air maksimum (%): mutu I=14; mutu II=14; mutu III=15; mutu IV=17.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Butir rusak maksimum (%): mutu I=2; mutu II=4; mutu III=6; mutu IV=8.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Butir warna lain maksimum (%): mutu I=1; mutu II=3; mutu III=7; mutu IV=10.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Butir pecah maksimum (%): mutu I=1; mutu II=2; mutu III=3; mutu IV=3.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Kotoran maksimum (%): mutu I=1; mutu II=1; mutu III=2; mutu IV=2.  &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Untuk mendapatkan standar mutu yang disyaratkan maka dilakukan beberapa pengujian diantaranya:&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Penentuan adanya hama dan penyakit, baru dilakukan dengan cara organoleptik kecuali adanya bahan kimia dengan menggunakan indera pengelihatan dan penciuman serta dibantu dengan peralatan dan cara yang diperbolehkan.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Penentuan adanya rusak, butir warna lain, kotoran dan butir pecah dilakukan dengan cara manual dengan pinset dengan contoh uji 100 gram/sampel. Persentase butir-butir warna lain, butir rusak, butir pecah, kotoran ditetapkan berdasarkan berat masing-masing komponen dibandingkan dengan berat contoh analisa x 100 %&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 1.27cm; text-indent: -0.64cm; margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt; Penentuan kadar air biji ditentukan dengan moisturetester electronic atau "Air Oven Methode" (ISO/r939-1969E atau OACE 930.15). Penentuan kadar aflatoxin adalah racun hasil metabolisme cendawan Aspergilus flavus, Aflatoxin disini adalah jumlah semua jenis aflatoxin yang terkandung dalam biji-biji kacang tanah. &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;5.4. Pengambilan Contoh&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Contoh diambil secara acak sebanyak akar pangkat dua dari jumlah karung maksimum 30 karung dari tiap partai barang, kemudian dari tiap-tiap karung diambil contoh maksimum 500 gram. Contoh-contoh tersebut diaduk/dicampur sehingga merata, kemudian dibagi empat dan dua bagian diambil secara diagonal. Cara ini dilakukan beberapa kali sampai mencapai contoh seberat 500 gram. Contoh ini disegel dan diberi label untuk dianalisa, berat contoh analisa 100 gram.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;&lt;b&gt;5.5 Pengemasan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Pengemasan dengan karung harus mempunyai persyaratan bersih dan dijahit mulutnya, berat netto maksimum 75 kg dan tahan mengalami "handling" baik waktu pemuatan maupun pembongkaran.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-top: 0.18cm; margin-bottom: 0.18cm;" lang="id-ID"&gt;Di bagian luar karung (kecuali dalam bentuk curah) ditulis dengan bahan yang aman yang tidak luntur dan jelas terbaca antara lain:&lt;br /&gt;a) Produksi Indonesia.&lt;br /&gt;b) Daerah asal produksi.&lt;br /&gt;c) Nama dan mutu barang.&lt;br /&gt;d) Nama perusahaan/pengekspor.&lt;br /&gt;e) Berat bruto.&lt;br /&gt;f) Berat netto.&lt;br /&gt;g) Nomor karung.&lt;br /&gt;h) Tujuan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1040698278147293143-7633390868736325052?l=dimasadityaperdana.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/feeds/7633390868736325052/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1040698278147293143&amp;postID=7633390868736325052' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/7633390868736325052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1040698278147293143/posts/default/7633390868736325052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://dimasadityaperdana.blogspot.com/2009/04/budidaya-jagung-zea-mays-1.html' title='Budidaya Jagung'/><author><name>dimasaditya</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09345659380174300069</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://4.bp.blogspot.com/_8DFd7YkVIV8/SR6H93akHrI/AAAAAAAAAAY/4eFhiTPnaUU/S220/PICT0001a.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1040698278147293143.post-8973746699773332243</id><published>2009-04-17T14:59:00.005+07:00</published><updated>2009-04-17T15:28:05.094+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Budidaya'/><title type='text'>Budidaya Kacang Panjang</title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;Budidaya Kacang Panjang&lt;br /&gt;       &lt;span class="ver12bld"&gt;( Vigna spp.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;       &lt;!-- #EndEditable --&gt;        &lt;table class="ver3" width="100%" background="budidaya%20kcpanjang_files/page.gif" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;      &lt;td class="ver3" valign="top" width="10"&gt;&lt;img src="file:///C:/Documents%20and%20Settings/Dimas/Desktop/buat%20bloG/budidaya%20kcpanjang_files/spacer1.gif" width="10" height="1" /&gt;&lt;/td&gt;     &lt;td rowspan="2" class="ver9" valign="top" width="100%"&gt;&lt;!-- #BeginEditable "isi" --&gt;        &lt;p&gt;&lt;span class="judul"&gt;I. UMUM&lt;/span&gt; &lt;a name="1"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;1.1. Sejarah&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Masyarakat dunia menyebutkan dengan nama Yardlong Beans/Cow Peas. Plasma          nutfah tanaman kacang panjang berasal dari India dan Cina. Adapun yang          menduga berasal dari kawasan benua Afrika. Plasma nutfah kacang uci (Vigna          umbellata) diketemukan tumbuh liar di daerah Himalaya India, sedangkan          plasma nutfah kacang tunggak ( Vigna unguiculata) merupakan asli dari          Afrika. Oleh karena itu, tanaman kacang panjang tipe merambat berasal          dari daerah tropis dan Afrika, terutama Abbisinia dan Ethiopia. Perkembangan          paling pesat di negara beriklim panas tropis seperti Indonesia.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;1.2. Sentra Penanaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Sentra penanaman kacang panjang didominasi oleh Pulau Jawa terutama Jawa          Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, DI Aceh, Sumatra Utara,          Lampung dan Bengkulu.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;1.3. Jenis Tanaman&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Klasifikasi botani tanaman kacang panjang adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;       a) Divisi : Spermathophyta&lt;br /&gt;       b) Sub Divisi : Angiospermae&lt;br /&gt;       c) Class : Dycotyledoneae&lt;br /&gt;       d) Ordo : Leguminales&lt;br /&gt;       e) Famili : Papiolinaceae&lt;br /&gt;       f) Genus : Vigna&lt;br /&gt;       g) Spesies : Vigna spp.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tanaman ini membentuk bintil akar yang memfiksasi nitrogen, sehingga          pemupukan N untuk tanaman ini dapat dikurangi.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Spesies kacang panjang yang umum dibudidayakan antara lain:&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Kacang panjang tipe merambat (V. sinensis var. sesquipedalis) yang            kita kenal sebagai kacang panjang biasa. Varietas yang ditanam adalah            varietas unggul KP1 dan KP2, varitas lokal Purwokerto, no 1494 Cikole,            Subang, Super Subang , Usus hijau Subang dll.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kacang panjang tipe tegak yaitu kacang tunggak/tolo/dadap/sapu (V.            unguiculata L.), dan kacang uci/ondel (V. umbellata ). Varitas unggul            adalah KT1, KT2, KT3.&lt;br /&gt;       &lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kacang panjang hibrida (V. sinensis ssp. Hybridus) seperti kacang            bushitao. Varitas yang dirilis adalah No. 10/a, 12/a, 13/a, 14/a, 17/a,            18/a dan EG BS/2. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="subjudul"&gt;1.4. Manfaat Tanaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Buah yang berbentuk polong adalah sumber protein, energi dan mineral yang          berguna untuk memenuhi gizi.&lt;/p&gt;                            &lt;p&gt; &lt;/p&gt;       &lt;p class="judul"&gt;II. SYARAT PERTUMBUHAN&lt;a name="2"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;2.1. Iklim&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;a) Suhu idealnya antara 20-30 derajat C.&lt;br /&gt;       b) Tempat terbuka (mendapat sinar matahari penuh).&lt;br /&gt;       c) Iklimnya kering, curah hujan antara 600-1.500 mm/tahun.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;2.2. Media Tanam&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;a) Hampir semua jenis tanah cocok untuk budidaya kacang panjang, tetapi          yang paling baik adalah tanah Latosol/lempung berpasir, subur, gembur,          banyak mengandung bahan organik dan drainasenya baik.&lt;br /&gt;       b) Tanah kemasaman (pH) sekitar 5,5-6,5. Bila pH terlalu basa (diatas          pH 6,5) menyebabkan pecahnya nodula-nodula akar.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;2.3. Ketinggian Tempat&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Tanaman ini tumbuh dan berproduksi dengan baik di dataran rendah dan          dataran tinggi ± 1500 m dpl, tetapi yang paling baik di dataran          rendah. Penanaman di dataran tinggi, umur panen relatif lama dari waktu          tanam, tingkat produksi maupun produktivitasnya lebih rendah bila dibanding          dengan dataran rendah. Ketinggian optimum adalah kurang dari 800 m dpl.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt; &lt;/p&gt;       &lt;p class="judul"&gt;III. PEDOMAN TEKNIK BUDIDAYA&lt;a name="3"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.1. Pembibitan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.1.1. Persyaratan Bibit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Bibit kacang panjang yang baik dan bermutu adalah sebagai berikut: Penampilan          bernas/kusam, daya kecambah tinggi di atas 85%, tidak rusak/cacat, tidak          mengandung wabah hama dan penyakit. Keperluan benih untuk 1 hektar antara          15-20 kg.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.1.2. Penyiapan Bibit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam          pada lubang tanam yang sudah disiapkan.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.2. Pengolahan Media Tanam&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.1. Pembentukan Bedengan&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Lahan dibersihkan dari rumput-rumput liar, dicangkul/dibajak sedalam          30 cm hingga tanah menjadi gembur. Buat parit keliling, biarkan tanah          dikeringkan selama 15-30 hari. Setelah 30 hari buatlah bedengan dengan          ukuran lebar 60-80 cm, jarak antara bedengan 30 cm, tinggi 30 cm, panjang          tergantung lahan. Untuk sistem guludan lebar dasar 30-40 cm dan lebar          atas 30-50 cm, tinggi 30 cm dan jarak antara guludan 30-40 cm.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.2.2. Pengapuran &lt;/p&gt;       &lt;p&gt;Pengapuran dilakukan jika pH tanah lebih rendah dari 5,5 dengan dosis          tergantung kemasaman tanah. Berikan kapur pertanian dalam bentuk kalsit,          dolomit, atau zeagro sebanyak 1-2 ton/ha tergantung dari pH awal dan jumlah          Alumunium. Kapur dicampur secara merata dengan tanah pada kedalaman 30          cm.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver9"&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.2.3. Pemupukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Pada saat pembentukan bedengan atau guludan tambahkan 10-20 ton/ha pupuk          kandang/pupuk organik Super TW Plus, dengan dosis 4-5 ton/ha dicampur          merata dengan tanah sambil dibalikkan&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.3. Teknik Penanaman&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver9"&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.3.1. Penentuan Pola Tanam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm,          30 x 40 cm. Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.          Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan,          tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.3.2. Cara Penanaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah          tipis/dengan abu dapur.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;3.4. Pemeliharaan Tanaman&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.4.1. Penyulaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Benih kacang panjang akan tumbuh 3-5 hari kemudian. Benih yang tidak tumbuh          segera disulam.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.4.2. Penyiangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam,          tergantung pertumbuhan rumput di kebun. Penyiangan dengan cara mencabut          rumput liar/membersihkan dengan alat kored.&lt;/p&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.4.3. Pemangkasan/Perempalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Kacang panjang yang terlalu rimbun perlu diadakan pemangkasan daun maupun          ujung batang. Tanaman yang terlalu rimbun dapat menghambat pertumbuhan          bunga.&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.4.4. Pemupukan&lt;/p&gt;       &lt;ol type="a"&gt;&lt;li&gt; Pupuk Dasar&lt;br /&gt;         &lt;ol&gt;&lt;li&gt; Kacang panjang tipe merambat: Urea 150 kg + TSP 100 kg + 100                kg/ha.&lt;br /&gt;           &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kacang panjang tipe tegak: Urea 22,5 kg + TSP 45 kg + KCl 45                kg/ha.&lt;br /&gt;           &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Kacang hibrida: 85 kg Urea + 310-420 kg TSP + 210 kg KCl/ha.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;           &lt;p&gt;Pupuk diberikan di dalam lubang pupuk yang terletak di kiri-kanan              lubang tanam. Jumlah pupuk yang diberikan untuk satu tanaman tergantung              dari jarak tanam. &lt;/p&gt;         &lt;/li&gt;&lt;li&gt; Pupuk Susulan&lt;br /&gt;         Pupuk susulan tanaman kacang panjang tipe merambat, diberikan 4 minggu            setelah tanam, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Sedangkan pupuk susulan            untuk kacang panjang tipe tegak diberikan 4 minggu setelah tanam, pupuk            berupa urea 85 kg/ha.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;       &lt;p&gt;&lt;span class="ver10bld"&gt;3.4.5. Pengairan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;       Pada fase awal pertumbuhan benih hingga tanaman muda, penyiraman dilakukan          rutin tiap hari. Pengairan berikutnya tergantung musim.&lt;/p&gt;       &lt;p class="subjudul"&gt;&lt;br /&gt;       3.5. Hama dan Penyakit&lt;/p&gt;       &lt;p class="ver10bld"&gt;3.5.1. Hama&lt;/p&gt;       &lt;
